
Hati Flora sedang dalam kegundahan. Dirinya masih memikirkan tentang perjodohan Gio. Bagaimana jika Gio benar-benar dijodohkan dan dia menerimanya? Lalu bagaimana dengan perasaan cintanya untuk Gio?
Flora sudah menanyakan hal itu pada Gio, tetapi Gio tidak memberinya kepastian dan justru hanya mengatakan untuk tetap mempercayai dirinya. Memikirkan hal itu membuat Flora rasanya ingin mengubur dirinya saja.
"Dasar bodoh! Sudah tahu dia itu seorang playboy, tapi masih saja percaya pada dirinya dan juga mencintainya," gerutu Flora seraya melangkah menuju atap gedung. Entah apa yang membuatnya ingin pergi ke tempat tinggi itu.
Flora membuka pintu yang menghubungkan ke atap gedung. Saat pintu terbuka, Flora melihat pemandangan yang indah di atap gedung itu. Rooftop itu sengaja didesain seperti sebuah taman hijau dan diperuntukan hanya untuk para petinggi di perusahaan itu. Flora pernah ke tempat itu, tetapi saat siang hari. Ternyata pemandangan di tempat itu jauh lebih indah saat malam hari.
Flora melangkah menuju pagar pembatas di gedung itu dan melihat ke bawah. Pemandangan indah, tetapi terlihat sangat mengerikan. Flora bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan jika orang jatuh ke bawah sana.
Flora memejamkan matanya, merasakan udara yang menerpa wajah hingga seluruh tubuhnya. Hingga beberapa saat kemudian Flora membuka mata lalu menarik napasnya dalam-dalam.
"Aku mencintaimu, Revaldo Giovanni Ferdinand," teriak Flora. "Aku mencintaimu, Gio." Flora kembali berteriak.
Napas Flora terasa akan habis setelah berteriak. Flora menarik napas untuk menetralkan napasnya yang tersengal-sengal, lalu kembali ingin berteriak. Namun, tiba-tiba Flora merasa terkejut saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Flora merasa sangat takut, tetapi saat hidungnya mencium parfum yang sangat familiar itu, membuat Flora langsung mengembangkan senyumnya.
"Gio aku mencintaimu," ucap Flora.
"Aku juga sangat mencintaimu, Flora." Gio berbisik di dekat telinga Flora.
Flora mendongakkan kepalanya, senyumnya mengembang saat melihat melihat wajah laki-laki yang sangat ia rindukan. Gio sendiri juga menunjukan senyumnya saat melihat perempuan yang sangat ia rindukan. Gio menundukkan kepalanya untuk mencium kening Flora.
"Apa kamu sedang memberitahukan pada semua orang jika kamu mencintaiku," tanya Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
"Aku pernah berjanji, jika aku jatuh cinta padamu, aku akan berteriak dari sini dan mengatakan jika aku mencintaimu," sahut Flora.
Flora membalikan tubuhnya untuk berhadapan dengan Gio.
"Aku sangat merindukan dirimu, Gio," ucap Flora.
"Aku pun juga," balas Gio.
"Kamu menyatakan cinta padaku, lalu bagaimana dengan Daniel?" tanya Gio.
"Aku dan Daniel sudah mengakhiri hubungan kami. Pada akhirnya kami sama-sama menyerah untuk hubungan itu," ucap Flora.
"Hah! Benarkah? Jadi si pria dingin itu membohongiku?" kesal Gio.
Alis Flora menyatu, tidak mengerti apa maksud dari perkataan Gio.
"Daniel membohongi mu?" Flora nampak bingung.
"Dia mengatakan tidak akan melepaskan dirimu apapun yang terjadi," ujar Gio. "Awas saja aku akan membuat perhitungan dengannya nanti."
Flora terkikik geli setiap melihat wajah kesal Gio yang menurutnya sangat imut.
Bahagia! Itulah yang sedang Flora rasakan pada saat itu. Dengan senyum bahagia Flora langsung memeluk Gio untuk mencurahkan perasaan cinta dan kerinduannya.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Flora.
__ADS_1
"Aku pun sama, Sayangku." Gio membalas pelukan Flora seraya mencium ujung kepala Flora.
Tidak ada lagi yang bersuara, mereka hanya berdiri dalam diam dengan saling memeluk dan membiarkan perasaan mereka yang bicara.
Gio lebih dulu menarik diri lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya. Setelah itu, Gio menarik tangan Flora, menyuruhnya untuk duduk di dekatnya. Kini keduanya duduk saling berhadapan dan saling menatap. Gio masih menatap wajah Flora lalu tangannya bergerak untuk mengusap pipi Flora.
"Ada apa?" tanya Flora saat melihat Gio terus memandang dirinya.
"Tidak ada. Hanya aku sedang mencari sesuatu dalam dirimu yang membuat aku bisa sangat mencintaimu," sahut Flora.
"Gio ...."
Gio terkekeh saat mendengar rengekan Flora. Gio melingkarkan tangannya ke pundak Flora dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Gio soal perjodohan kamu ... bagaimana?" tanya Flora dengan suara lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Gio.
"Kenapa terus bertanya seperti itu? Apa kamu menginginkan hal itu terjadi?" ledek Gio.
"Aku tidak akan memaafkan dirimu jika itu sampai terjadi," ancam Flora dengan wajah galak nya.
"Gadis galakku ... kamu sangat menggemaskan." Gio mengacak-acak rambut Flora.
Malam itu Gio merasa sangat bahagia. Kebahagian yang pernah Gio rasakan seperti dulu, saat sebelum dirinya menjadi seorang playboy.
"Ayo aku antar pulang," tawar Gio dan disambut senang hati oleh Flora.
Flora dan Gio berada di tempat mobil Flora terparkir. Gio mengambil alih kemudi mobil Flora dan melajukan mobilnya meninggalkan area kantor. Sepanjang perjalanan keduanya masih sama seperti biasa, bertengkar dan saling mengejek satu sama lain.
"Jadi kita sekarang benar-benar pacaran?" tanya Gio.
"Tidak! Sebelum kamu putuskan pacar kamu," tolak Flora.
"Pacar yang mana?" ledek Gio.
"Memang kamu punya berapa banyak pacar," ujar Flora.
"Ayolah, Sayang ... pacar boleh banyak yang terpenting di dalam hatiku cuma ada kamu," ledek Gio.
"Awas saja jika kamu berani macam-macam," ancam Flora disambut kekehan geli Gio.
"Cie, sudah bisa cemburu," ledek Gio.
"Kamu ...." Flora mencubit pinggang Gio dan berhasil membuat tawa mereka pecah.
Keduanya bercanda dan tertawa bersama sepanjang perjalan pulang ke rumah Flora. Dan tawa mereka terhenti ketika mereka sampai di rumah Flora. Gio mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil bersamaan dengan Flora. Keduanya kembali menyatukan tangan ketika sudah berada di luar mobil.
"Bu, Flora pulang," ucap Flora saat masuk ke dalam rumah.
"Ya, Nak," sahut Seruni.
__ADS_1
Seruni berjalan dari arah dapur untuk menghampiri Flora dan merasa terkejut saat melihat keberadaan Gio serta melihat tangan Flora menyatu dengan tangan Gio.
"Loh ada Nak Gio juga," ucap Seruni.
"Malam, Bu." Gio melepaskan genggaman tangannya dari Flora lalu menyalami tangan Seruni.
"Sudah lama gak ke sini ... ibu jadi kangen," ucap Seruni.
"Isssh, Ibu ada-ada saja," ucap Flora.
"Biarin saja. Masa kamu cemburu sama ibu kamu sendiri." Gio menarik pipi Flora.
Seruni tertawa melihat kedekatan Gio dan juga Flora. Entah kenapa, tetapi Seruni lebih senang saat melihat Flora bersama dengan Gio dari pada bersama Daniel. Ketiganya duduk bersama dan mengobrol tentang banyak hal termasuk hubungan mereka sampai pada akhirnya obrolan mereka mengarah pada ayah kandung Flora.
"Ibu masih ingat 'kan wajah ayah kaya gimana?" tanya Flora yang langsung diangguki oleh Seruni.
"Iya, Nak ... ibu masih ingat," sahut Flora.
"Kita cari ayah ya, Bu," pinta Flora.
Seruni diam dan raut wajahnya berubah sedih. Sesungguhnya ia juga ingin bertemu dengan laki-laki itu, tetapi ada banyak hal harus dipertimbangkan.
"Ibu minta maaf Flora ... ibu tidak ingin lagi bertemu dengan laki-laki itu lagi," ucap Seruni.
"Kenapa, Bu?" tanya Flora.
"Flora ... ini sudah 25 tahun. Ayah kamu juga pasti sudah punya keluarga baru. Lagipula saat ayah kamu pergi, dia tidak tahu jika kamu ada di dalam kandungan ibu. Jika suatu saat nanti kita menemukan ayah kamu, apa dia bakal menerima kamu, dan itu pasti juga akan menimbulkan masalah pada keluarganya," jelas Seruni. "Kamu mengerti 'kan maksud ibu?"
Meski terasa berat, Flora akhirnya mengangguk untuk menyetujui perkataan ibunya.
"Ibu tinggal dulu, permisi Nak Gio." Seruni masuk ke dalam kamar tanpa menunggu respon dari Flora maupun Gio.
Flora menitihkan air matanya setelah ibunya masuk ke dalam kamar. Jujur ia ingin sekali bertemu dengan ayahnya, tetapi kenapa ibunya sepertinya ingin menginginkan hal itu.
"Jangan menangis, Flora." Gio mengusap air mata pada pipi Flora.
"Kenapa ibu seperti itu? Aku hanya ingin bertemu dengan ayah kandungku saja," ucap Flora.
"Cobalah untuk melihat dari sudut pandang ibu kamu. Ini juga pasti sangat berat untuk beliau." Flora diam sejenak untuk mencerna perkataan Gio.
"Ini sudah malam sebaiknya aku pulang. Kamu juga harus istirahat," ujar Gio.
"Kamu hati-hati di jalan." Flora beranjak dari kursi dan mengantar Gio ke luar rumahnya.
Flora dan Gio keluar dari rumahnya bertepatan dengan datangnya mobil jemputan Gio.
"Aku pulang ya. Jaga diri kamu baik-baik," ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
Gio mendaratkan kecupan pada kening Flora sebelum masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1