
Felicia merasa bosan saat harus menunggu Kenzo di dalam kamar saja. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Waktu juga sudah mulai sore mungkin saja dirinya akan bisa melihat sunset nantinya.
Felicia membuka pintu kamarnya. Ia menyumbulkan kepalanya terlebih dahulu. Felicia ingin memeriksa apakah Vera juga keluar juga dari kamarnya. Dirinya harus melakukan itu, karena Felicia tidak ingin rencanannya berakhir buruk saat harus bertemu dengan Vera kembali.
"Aman."
Felicia membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali setelah dirinya berada di luar kamar. Langkahnya menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Ditekannya tombol untuk membuka lift. Felicia berdiri sejenak untuk menunggu lift sampai di lantai di mana dirinya berada saat itu. Tidak berselang lama pintu lift terbuka. Felicia langsung masuk ke dalamnya.
Felicia bersandar pada dinding lift. Beberapa detik kemudian Felicia merasakan lift yang sedang ia naikin bergerak turun. Lift tersebut juga beberapa kali berhenti saat ada pengunjung lain yang juga ingin menggunakan fasilitas lift. Sampai di lantai dasar semua orang yang ada di dalam lift keluar, termasuk juga Felicia.
Sampai di lantai dasar Felicia bingung harus melangkah ke arah mana. Beruntung ada papan yang menunjukkan semua bagian dari hotel mewah itu. Felicia melanjutkan perjalanannya setelah tahu ke mana dirinya akan melangkah.
Felicia tiba di bagian belakang hotel. Dari tempatnya berdiri Felicia melihat lautan lepas. Sangat indah!
Suaminya sangat pintar memilih tempat.
Rasanya ingin sekali Felicia menyusuri tepian pantai, tetapi tidak adanya Kenzo membuat perjalananya serasa membosankan. Felicia mengurangkan niatnya untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Ia berbelok arah menuju kolam raksasa yang ada di samping hotel.
Felicia melepas alas kakinya lalu berjalan di tepian kolam berenang raksasa. Sengaja kakinya dicelupkan ke tepian kolam dan menikmati sensasi dinginnya air kolam.
Felicia mengedarkan pandangannya, matanya melihat gazebo di tengah kolam. Felicia memutuskan untuk duduk dan menikmati pemandangan di sekitarnya dari tempat itu.
Felicia mendatarkan bokongnya di gazebo. Tempat berbentuk lingkaran di tengah kolam memiliki daya tarik tersendiri bagi Felicia. . Letaknya yang ada di tengah kolam membuat Felicia seakan mengapung di atas air.
Dari tempat itu Felicia bisa melihat pemandangan yang sangat indah.
Tangan kanannya ia celupkan ke dalam air lalu melempar air ke udara dengan tangannya. Melihat air yang berlimpah membuat Felicia ingin menceburkan dirinya. Ia ingin sekali menyalurkan hobinya, tetapi Felicia belum tahu, apakah berenang dalam kondisi hamil muda akan bahaya bagi janinnya atau tidak?
"Sepertinya aku harus menahan diriku untuk berenang," gumam Felicia.
__ADS_1
Felicia akhirnya menerima jika hanya tangannya yang bisa menikmati dinginnya air kolam.
"Di sini tempatnya nyaman, 'kan?"
Felicia menoleh ke asal suara, ia melihat seseorang yang ingin sekali dirinya hindari. Orang itu adalah Vera.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk di situ?" tanya Felicia.
"Ini tempat umum. Siapapun boleh duduk di sini," balas Vera.
Felicia mendengkus kesal, dirinya tidak bisa membalas perkataan Vera karena yang perempuan itu ucapkan benar adanya.
"Ada apa? Kamu sepertinya tidak suka melihatku?" tanya Vera.
"Tebakanmu memang benar," ujar Felicia.
Felicia kembali fokus pada air kolam yang ada di hadapannya dan mencoba untuk tidak memperdulikan keberadaan Vera seperti apa kata Kenzo. Akan tetapi sepertinya Vera tidak terima jika keberadaanya tidak dianggap.
"Aku juga melihat ketakutan dalam dirimu setiap kali melihatku. Aku tahu kamu takut aku akan merebut Kenzo dari sisimu," ujar Vera.
Felicia melihat amarah di mata Vera dan Felicia menyukai itu.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!" Vera berdiri dan bicara dengan menambah volume suaranya.
"Milikmu?" Felicia tersenyum sinis seolah sedang mengejek Vera. "Yang kamu bilang milikmu itu adalah suamiku, ayah dari anak yang sedang aku kandung."
Felicia mencoba untuk tidak terbawa emosi. Dengan sekuat tenaganya Felicia mencoba untuk mengontrol emosi dalam dirinya agar dirinya tetap memiliki ketenangan.
"Kenapa kamu masih saja menginginkan suamiku. Dia bahkan sudah terang-terangan menolak kehadiranmu di depan suamimu sendiri," ucap Felicia.
"Tidak ingatkah kamu saat Kenzo menyebutmu sebagai barang bekas?" sindir Felicia.
__ADS_1
"Aku tahu dia mengatakan itu dalam keadaan marah. Aku tahu masih ada rasa cinta dalam dirinya untukku." Vera mengatakan kalimat itu penuh dengan rasa percaya dirinya.
"Heh, aku merasa kasihan pada bapak Wibowo. Dia begitu mencintaimu tapi sayangnya istrinya justru mencintai pria lain. Dan parahnya pria itu adalah seorang suami yang sebentar akan menjadi seorang ayah." Felicia mulai terbawa emosi. Dirinya merasa tidak terima Vera mengatakan jika Kenzo masih memiliki perasaan kepadanya.
"Jangan bersikap seolah Kenzo sangat mencintaimu," ucap Vera.
"Kenapa dia tidak mencintaiku. Aku istrinya dan aku juga ibu dari calon anaknya," ucap Felicia.
"Felicia, aku sangat mengenal Kenzo. Dia adalah pria yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Sekali dia jatuh cinta maka dia akan sulit untuk melupakannya dan sulit untuk mencari penggantinya," ucap Vera.
"Dengar Vera. Aku tahu Kenzo memang sangat mencintaimu. Dia sangat terluka saat melihatmu menikah dengan laki-laki lain. Saat ini dia sedang mencoba untuk membangun kehidupan baru bersama aku dan calon anak kami. Aku minta tolong jangan siksa dia lagi. Biarkan dia hidup dengan tenang bersamaku," pinta Felicia.
"Bukankah kamu juga sudah memiliki kehidupan yang bahagia. Suami yang baik, harta yang berlimpah, dan kamu juga sebentar lagi akan memiliki seorang anak," tanya Felicia.
"Karena yang aku inginkan adalah Kenzo. Aku merasa hidupku tidak lengkap tanpa Kenzo." Vera mulai berteriak. Hal itu berhasil menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu menginginkan Kenzo? Bukankah kamu sudah membuangnya di saat dia sangat mencintaimu?" ujar Felicia.
"Pada saat itu aku tidak memiliki pilihan lain. Keluargaku terlilit banyak hutang. Aku tidak bisa meminta pada Kenzo untuk membayar semua hutang keluargaku. Aku mengakui akan kebodohanku saat itu. Tapi sekarang aku sudah menyadarinya. Akan aku pastikan Kenzo akan kembali ke sisiku," ucap Vera.
"Aku tidak akan membiarkannya. Saat ini Kenzo adalah suamiku dan ayah dari anak yang sedang aku kandung. Dia milikku dan milik anakku. Tidak akan aku biarkan ada perempuan lain yang ingin mengambilnya. Termasuk kamu!" Felicia berdiri dan menunjuk Vera dengan kemarahannya.
"Aku tidak peduli," ujar Vera. "Aku pasti akan merebut dia darimu."
"Dan ingat ini! Bukan aku yang menyiksa dia. Tapi kamu sendiri! Kamu yang menyiksa dia dengan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan," balas Vera.
Felicia diam, ia merasa ucapan Vera benar. Dirinya yang mengikat Kenzo di dalam pernikahan.
"Tidak! Ini tidak benar. Kenzo sendiri yang memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Aku tidak boleh terpengaruh dengan ucapan wanita ini," batin Felicia.
Felicia menarik napasnya, ia mencoba memberikan dorongan dan rasa percaya diri pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Silahkan saja. Silakan jika kamu mampu untuk merebut Kenzo dari sisiku. Tapi aku peringatkan padamu ... jangan mengkhayal terlalu tinggi, karena jika kamu terjatuh rasanya pasti akan jauh lebih sakit," ucap Felicia.
Setelah mengatakan kalimat itu Felicia memilih untuk meninggalkan gazebo. Felicia merasa dirinya masih memiliki akal sehat membuatnya mengalah untuk mengakhiri perdebatan yang mungkin tidak memiliki ujung.