Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Maura


__ADS_3

Selesai membereskan bekas makan malam mereka, Maura dan Daniel duduk di ruang tengah. Keduanya mengobrol, saling mengucapkan kata rindu, dan juga cinta. Hingga dari ucapan itu menarik mereka untuk saling mengecup bibir satu sama lain.


Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi lebih menuntut. Keduanya terlihat tidak ingin mengakhiri kebersamaan mereka hingga hasrat berhasil menguasai diri mereka.


Daniel mengangkat tubuh Maura membawanya ke kamar tidur. Sampai di kamar Daniel merebahkan tubuh Maura di atas ranjang. Di tempat itu keduanya kembali bercumbu, memuaskan rasa kerinduan mereka.


Daniel yang selalu bisa mengendalikan dirinya, kini sudah tidak lagi bisa menguasai tubuhnya. Maura pun sama, ia bahkan terkesan sangat menikmati setiap sentuhan yang Daniel berikan di tubuhnya.


Hingga saat mereka sadar semuanya sudah terlambat, Daniel sudah berhasil menembus selaput dara milik Maura.


Rasa sakit tidak bisa Maura hindari saat merasa tubuhnya seperti terbelah menjadi dua.


"Sakit," rintih Maura.


Daniel pun merasakan sakit. Itu adalah pertama kalinya ia memasuki tubuh seorang perempuan dan perempuan itu juga masih suci.


"Maaf, Maura," ucap Daniel. "Maafkan aku." Daniel mengusap air mata yang mengalir di pipi Maura.


Maura mengangguk di sela isak tangisnya. Ia tidak bisa menyalahkan Daniel atas apa yang terjadi. Karena ia sadar dirinya juga membiarkan itu terjadi.


Sungguh mereka tidak mengerti pada diri mereka sendiri. Kenapa pada saat itu meraka tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Tubuh mereka benar-benar sudah mengkhianati mereka.Tembok pertahanan yang mereka bangun runtuh pada malam itu.


Daniel merasa dirinya tidak bisa mundur lagi setelah tubuhnya menyatu dengan Maura. Daniel merasa harus segera menuntaskan hasrat yang sudah menguasai dirinya.


Setelah Maura lebih tenang Daniel menggerakkan tubuhnya, itu pun atas izin Maura.


Rasa sakit yang keduanya rasakan sudah tergantikan oleh rasa nikmat yang baru pertama kali mereka rasakan. Daniel masih mengatur ritme gerakan tubuhnya agar tidak menyakiti Maura.


Rasa rindu, cinta, dan hasrat melebur menjadi satu di dalam diri Maura dan Daniel. Hingga rasanya mereka tidak ingin mengakhiri kebersamaan mereka yang pertama kali itu.


Namun, rasa lelah menghancurkan segalanya. Daniel harus segera mengakhiri percintaan mereka. ******* panjang yang lolos dari mulut keduanya menjadi akhir dari pergulatan panas itu.


Napas yang sama-sama tidak beraturan. Membuat keduanya berlomba meraup udara sebanyak mungkin. Untuk kembali mengisi pasokan oksigen di rongga paru-paru mereka.


Satu kecupan Daniel berikan di kening Maura, menjadi pertanda ucapan terima kasih dari dirinya. Setelah itu Daniel mengakhiri penyatuan mereka dengan memisahkan tubuhnya dengan Maura.


Daniel berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa percintaannya dengan Maura.


Maura sendiri masih ada di atas tempat tidur. Ia masih menetralkan napasnya. Saat napasnya mulai normal ia beranjak dari tempat tidur.


Hal yang pertama Maura rasakan adalah rasa sakit dan perih di area intinya.


"Ternyata rasanya seperti ini," guman Maura.

__ADS_1


Maura meraih pakaian dalamnya lalu memakainya kembali. Pandangnya tidak sengaja melihat noda merah yang tercipta di atas sprei.


"Hilang sudah," batinnya.


Keperawanan yang ia jaga selama hidupnya sudah hilang sebelum hari pernikahannya. Ada penyesalan dalam diri Maura kenapa harus terjadi malam itu. Namun, setidaknya ada kebahagiaan di dalam dirinya. Karena ia melakukannya bersama orang yang sangat ia cintai dan juga laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.


Kaos Daniel yang besar Maura pakai ke tubuh rampingnya, membuatnya terkesan sangat seksi. Ia ajak kakinya untuk melangkah ke arah jendela.


Untuk pertama kalinya Maura melihat pemandangan malam dari ketinggian. Tenyata sangat indah.


Rasa terpesona pada pemandangan malam membuat Maura tidak menyadari sedari tadi Daniel sudah keluar dari dalam kamar mandi dan sedang memperhatikannya.


Renungan Maura buyar saat ia merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Daniel.


"Kamu mengejutkanku," ucap Maura.


"Aku sengaja ingin mengejutkanmu," ucap Daniel.


"Tenyata melihat pemandangan dari ketinggian itu sangat menyenangkan," ucap Maura.


Maura menunjuk ke luar jendela. Lampu-lampu yang menerangi gedung dan jalanan kota seperti bintang bertaburan.


"Aku takut melihat dari atas ketinggian," aku Maura.


"Benarkah? Ini aneh kamu takut ketinggian tapi tidak takut naik pesawat," ledek Daniel.


"Itulah mengapa aku tidak mau duduk di dekat jendela ketika naik pesawat," jawab Maura.


Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Keduanya tengah larut pada pemandangan malam kota itu. Hingga Daniel memilih untuk mengakhiri keheningan itu.


"Maura ...," panggil Daniel.


"Hmmm, ada apa?" tanya Maura tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.


"Maaf untuk apa yang aku lakukan padamu tadi," ucap Daniel. "Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku."


Maura terdiam sejenak sebelum berbalik. Kini ia dan Daniel berdiri saling berhadapan.


"Aku tidak akan marah, Daniel. Aku pun salah karena aku juga tidak bisa menolaknya," aku Maura.


"Aku sangat mencintaimu, Daniel. Hingga rasanya aku tidak kuasa menolaknya," ucap Maura.

__ADS_1


Daniel menangkup kedua sisi wajah Maura. Lalu memberikan kecupan pada kening Maura dalam jeda waktu yang cukup lama.


"Aku pun sama. Aku sangat mencintaimu, Maura," ucap Daniel.


Maura masuk ke dalam pelukan Daniel. Pipinya merasakan dingin saat menempel pada dada telanjang Daniel. Daniel langsung membalas pelukan Maura dengan sangat erat.


"Kamu tahu Maura ... aku sangat menikmatinya tadi," ucap Daniel.


"Aku pun juga," balas Maura.


"Benarkah?" tanya Daniel.


"Daniel ... apa kamu sedang menggodaku." Maura merengek karena merasa malu. Pertanyaan Daniel terdengar seperti sedang menggodanya.


Daniel tertawa kecil memang ia sengaja menggoda perempuan yang sudah meruntuhkan dinding pertahanannya.


"Maura, ada satu hal yang mau aku katakan," ucap Daniel.


Maura mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Daniel dengan jelas. Ada keseriusan di wajah Daniel yang membuat Maura mendadak cemas.


"Ada apa Daniel? Jangan membuat aku merasa cemas," ucap Maura.


"Tadi aku tidak memakai pengaman dan kamu tahu apa artinya, 'kan?" tanya Daniel yang langsung diangguki oleh Maura.


"Tapi itu tidak mungkin, Daniel. Kita baru melakukannya satu kali. Dan aku tidak akan secepat itu hamil hanya dengan melakukannya satu kali," ucap Maura.


Daniel menjepit dagu Maura di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Ia angkat wajah Maura agar bisa dengan jelas melihat wajah cantiknya.


"Itu artinya kita harus kembali melakukan itu," ucap Daniel.


"Hah! Lagi?" Maura sangat gugup. "Kita belum menikah."


"Empat bulan lagi kontrak kerjamu selesai. Dan akan aku pastikan kamu menjadi istriku dan juga ibu dari anakku," ucap Daniel.


Maura menganggukkan kepalanya seperti anak kecil yang penurut.


"Tapi rasanya masih sakit." Maura menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Kalau sering melakukannya tidak akan terasa sakit." Daniel mengedipkan satu matanya untuk menggoda Maura.


"Kata siapa?"


"Kata Gio."

__ADS_1


__ADS_2