
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Namun, suasana masih menunjukan layaknya pukul 6 pagi. Mungkin karena cuaca saat itu sedang mendung dan juga turun hujan.
Cuaca itu sangat mendukung untuk Flora dan Gio. Setelah malam harinya mereka melakukan ritual malam pertama mereka. Sampai siang pun mereka belum kunjung bangun.
Rasa lelah dan cuaca dingin membuat Flora malas sekali untuk bangun. Namun, rasa lapar yang Flora rasakan membuat tidurnya terusik.
Flora menggeliat dalam tidurnya sebelum membuka matanya. Saat ingin bangun, Flora merasakan berat di perutnya. Ternyata tangan Gio melingkar di perutnya.
Flora menuntun matanya untuk melihat ke sampingnya, ada Gio tidur tepat di sebelahnya. Senyum tergambar di bibir Flora bersamaan dengan rona merah muncul di kedua sisi wajahnya saat melihat keadaan dirinya dan juga suaminya yang sama-sama polos.
Flora menggerakkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Gio. Meksi bukan pertama kali melihat wajah suaminya saat bangun dari tidurnya, tetapi pagi itu adalah pagi yang spesial. Pagi setelah malam mereka sudah menjadi satu.
“Pagi.”
Flora tersentak saat tiba-tiba suara Gio masuk ke dalam indra pendengarannya.
“Pagi juga. Kamu sudah bangun rupanya?” ucap Flora.
“Aku merasa ada yang sedang mengusap wajahku,” jawab Gio.
Flora sadar dan langsung menyingkirkan tangannya dari wajah Gio. Namun, dengan cepat Gio menahan tangan Flora dan mengecup punggung tangannya.
“Gio ... aku mau mandi?” ucap Flora gugup.
“Apa masih sakit?” tanya Gio.
Wajah Flora kembali menunjukan warna merah saat mendengar pertanyaan dari suaminya.
“Sedikit.” Flora menjawab dengan rasa gugup.
“Sungguh?” Gio kembali mengecup punggung tangan istrinya bermaksud untuk menggodanya.
“Ya,” jawab Flora. “Gio ... tolong lepaskan tanganku. Aku ingin mandi,” pinta Flora.
“Baiklah.” Gio melepaskan tangan Flora dan membiarkan istrinya itu untuk beranjak dari tidurnya.
Flora menggeser tubuhnya dan menurunkan kakinya ke lantai. Saat akan beranjak dari atas tempat tidur, Flora meringis merasakan sakit pada area intinya.
“Bukankah aku sudah bilang ....” Gio menyibakkan selimutnya lalu turun dari atas tempat tidur.
Gio memakai celana pendeknya lalu menghampiri Flora ke sisi sebelahnya.
“Aku sudah mengatakannya ....” Gio mengangkat tubuh Flora yang masih polos tanpa sehelai benang. “Aku akan membantumu tidak bisa bangun.” Gio mengedipkan satu matanya.
Gio berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa tubuh Flora.
“Aku tidak tahu akan sesakit ini,” ucap Flora.
“Kalau sudah sering juga tidak akan sakit lagi,” goda Gio.
“Gio ... bisakah kamu turunkan aku. Aku malu dengan keadaanku,” pinta Flora.
“Untuk apa merasa malu. Aku sudah melihat semuanya. Sampai bagian yang terkecil dari tubuhmu,” ucap Gio.
__ADS_1
Gio mendorong pintu kamar mandi dengan punggungnya. Setelah tiba di dalam kamar mandi, Gio mendudukkan Flora di atas kloset.
Gio berjongkok di depan Flora seraya menggenggam tangan wanita berstatus istrinya.
“Mau aku mandikan?” tanya Gio.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri,” jawab Flora.
“Kamu yakin?” tanya Gio sekali lagi dan Flora langsung menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Aku akan menunggumu di luar.” Gio berdiri lalu mengecup kening Flora sebelum keluar dari kamar mandi.
Sementara di dalam kamar mandi, Flora masih duduk di atas closet. Sesekali Flora mencoba untuk berdiri meski dengan ringisan di bibirnya.
“Teryata rasanya bisa sesakit ini,” gumam Flora.
Sudut bibir Flora tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Mendadak tubuhnya merinding saat mengingat permainan panasnya dengan sang suami. Flora baru merasakan sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan. Rasa nikmat yang membuat tubuhnya serasa melayang.
Flora berjalan tertatih ke tempat mandi. Jika saat ini Flora sedang berlomba lari dengan kura-kura maka Flora lah yang akan kalah.
Sampai di tempat mandi, Flora mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Dinginnya air sampai terasa di sekujur tubuh Flora, rasanya sangat menyejukkan.
Selesai mandi Flora mematikan kran air lalu menyambar handuk yang tidak jauh dari tempatnya mandi. Flora melilitkan handuk berwarna putih ke tubuhnya.
Tok tok tok
Flora mendengar suara ketukan pintu disusul dengan suara suaminya.
“Ya, aku segera keluar,” sahut Flora.
Sebelum Flora sampai pada pintu keluar, pintu kamar mandi lebih dulu terbuka. Gio muncul dari balik pintu dengan senyumnya.
“Mau aku bantu?” tanya Gio seraya menghadang langkah Flora.
Flora menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Kamu kaya gini juga gara-gara aku," ucap Gio.
“Jangan diomongin, aku malu.” Flora menundukkan wajahnya ke pundak Gio.
“Gemesin banget sih kalau lagi imut kaya gini,” ledek Gio.
Gio kembali mengangkat tubuh Flora, membawanya keluar dari kamar mandi.
“Sudah, turunkan aku. Aku akan jalan sendiri,” pinta Flora.
“Jangan membuatku tertawa dengan melihatmu jalan seperti kura-kura,” ledek Gio.
“Aku sudah siapkan pakaian kamu,” ucap Gio setelah mendudukan Flora di atas tempat tidur.
“Terima kasih. Kamu baik sekali,” puji Flora.
“Hanya untuk hari ini. Besok-besok kamu yang harus menyiapkan semua ini untukku, termasuk memandikan aku,” goda Gio.
__ADS_1
“Sudah, diam. Jangan terus menggodaku, pergilah mandi! Aku sudah sangat kelaparan,” ucap Gio.
“Baiklah ratuku. Kamu tenang saja aku sudah memesan sarapan untuk kita,” ucap Gio.
“Pakai pakaianmu, aku akan mandi dulu,” ucap Gio seraya mengusap kepala Flora.
Flora memandang tubuh belakang Gio, sampai tubuh suaminya itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Setelah itu Flora memakai pakaiannya dengan menahan perih di arena intinya.
Bertepatan dengan selesai Flora memakai pakaiannya, telinganya mendengar bunyi ketukan pintu di depan kamarnya.
Flora mencoba berdiri lalu berjalan menuju pintu.
Tok tok tok
“Sebentar,” sahut Flora.
Tangan Flora meraih gagang pintu lalu membukanya. Saat pintu terbuka ada dua orang staf hotel berdiri di depan kamarnya.
“Kami datang membawa sarapan yang dipesan dari kamar ini,” ucap salah seorang dari staf hotel itu.
“Ya, silahkan masuk. Tolong letakan makanannya di meja saja,” suruh Flora.
“Baik, Bu,” ucap salah seorang staf hotel itu.
Beberapa menu sarapan dan minuman sudah tertata rapi di atas meja. Setelah itu dua staf hotel itu pergi dari kamar itu.
“Ck, ya ampun dia memesan banyak makanan,” decak Flora.
Mata Flora memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Flora pun berinisiatif untuk menyiapkan pakaian suaminya.
Flora mengambil baju, celana, dan pakaian dalam milik Gio dari dalam koper mereka. Setelah itu Flora menatanya di atas tempat tidur. Bertepatan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka dan muncul Gio dari baliknya.
“Sudah selesai? Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu,” ucap Flora. “Pakai pakaianmu lalu kita sarapan.”
Gio menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan perempuan berstatus istrinya.
“Kamu memesan sarapan banyak sekali,” tanya Flora.
“Itu untukmu, Sayangku,” jawab Gio seraya memakaikan kaos ke tubuhnya.
“Kamu ingin membuat aku gemuk?”
Gio tersenyum seraya melangkah mendekati Flora. Gio mengambil posisi duduk tepat di samping Flora.
“Kamu harus makan banyak agar memiliki banyak tenaga untuk nanti malam,” bisik Gio.
“Nanti malam?” Flora merasa gugup.
“Tentu, Sayangku.” Gio menarik Flora ke dalam dekapannya.
“Bukankah kita harus bekerja keras.” Gio mengusap perut Flora.
Flora tahu apa yang diinginkan oleh suaminya dan tidak alasan bagi Flora untuk tidak mengangguk.
__ADS_1