
Aku sedang merasa bingung, mau lanjut apa gak .
Tidak semudah membalikkan telapak tangan saat ingin melupakan rasa sakit hati terhadap seseorang. Sebagaimana dengan Flora. Rasa sakit hatinya yang dalam pada Daren membuat Flora tidak memiliki kekuatan untuk bisa memaafkan kakak iparnya itu.
Kakak iparnya sudah membuat kehidupannya terombang-ambing selama berbulan-bulan. Apalagi saat Flora mengingat sandiwara yang Daren lakukan, itu sangat membuat Flora semakin merasa muak.
“Flora tunggu, Nak.” Seruni mencoba memanggil Flora, tetapi anaknya terus saja melangkah meninggalkan meja makan.
“Pak Adam, tolong maafkan sikap Flora,” pinta Seruni.
“Tidak masalah, saya mengerti dengan sikap Flora,” ucap Adam. “Memang tidak mudah untuk melupakan apa yang sudah Daren lakukan.”
Pandangan Seruni beralih pada Gio. Seruni meminta pada menantunya untuk menyusul Flora.
“Kamu susul Flora, tenangkan Flora sebelum kamu berangkat ke kantor,” pinta Seruni.
“Baik, Bu.” Gio beranjak dari meja makan dan menyusul Flora yang ada di taman belakang rumah mereka.
Gio melangkahkan kakinya ke taman belakang. Matanya melihat Flora sedang duduk dengan Felicia yang ada di baby strollernya.
Meski tidak melihat, tetapi Gio tahu jika istrinya itu sedang menangis. Gio melangkah secara perlahan dan mencuri satu kecupan di pipi Flora.
“Jangan menangis nanti bisa turun hujan,” ledek Gio.
“Gak lucu,” ucap Flora.
“Duh, galaknya.” Gio tidak menyerah untuk membuat Flora berhenti menangis.
“Tuh, Felicia saja ketawa lihat mamanya menangis,” ledek Gio. “Sudah besar tapi masih doyan nangis ya.”
Flora masih diam dan tidak bergeming sedikitpun.
Gio menarik napasnya lalu menekuk satu lututnya di samping Flora.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Gio.
Flora menolehkan pandangannya kepada Gio. “Kamu masih bertanya?”
“Ya, aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis. Karena kamu tidak mengatakannya padaku,” jawab Gio.
“Kamu ngeselin banget,” ucap Flora. “Kamu gak peka.”
“Aku ngeselin, gak peka, gak punya perasaan, tapi kamu kok mau nikah sama aku,” ucap Gio.
Flora menyipitkan matanya, tetapi Flora masih bisa melihat Gio sedang tersenyum dan menaikturunkan alisnya, seolah sedang meledeknya.
“Gio, kamu kenapa sih menyebalkan sekali,” maki Flora yang justru membuat Gio tergelak.
Gio berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Flora. Gio genggam tangan istrinya lalu ia kecup punggung tangannya.
“Jangan menangis lagi,” ucap Flora seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.
“Semua sudah berlalu. Jangan mengingatnya lagi,” ucap Gio.
“Itu sangat tidak mudah bagiku,” ucap Flora.
“Ya aku tahu itu. Tapi cobalah untuk menghilangkan kebencian itu dari dirimu. Tidak baik menyimpan kebencian apa lagi dendam di dalam dirimu,” ucap Gio.
“Katakan padaku, Gio. Apa kamu sudah memaafkan Daren dengan apa yang sudah dia lakukan kepada kita?” tanya Flora.
__ADS_1
“Bohong jika aku mengatakan sudah memaafkan Daren,” jawab.
“Lalu?”
“Kamu tahu, Sayangku ... saat aku mengingat apa yang sudah Daren lakukan padaku itu hanya akan menambah luka di dalam hatiku. Jadi ... yang bisa aku hanya mencoba untuk melupakannya,” jawab Gio.
Flora mengusap air matanya yang ada di pipinya. Senyumnya mengembang saat melihat wajah suaminya. “Ternyata kamu sudah tambah dewasa ya.”
“Harus dong, aku 'kan sudah punya Felicia,” ucap Gio.
“Tapi kamu masih suka berpikiran mesum,” ledek Flora.
“Mesum sama istri sendiri gak dosa, 'kan?” balas Gio.
Gio mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Flora dan berbisik yang membuat mata Flora melebar.
“Tapi kamu suka, 'kan? Buktinya semalam kamu minta nambah,” bisik Gio.
“Kamu ....” Flora memberikan cubitan di perut Gio. “Yang ngajakin 'kan kamu.”
“Tapi kamu juga gak nolak,” balas Gio.
“Itu juga karena kamu yang maksa,” ucap Flora. “Bilang katanya dosa kalau nolak suami.”
Flora mengerucutkan bibirnya saat mengingat malam yang panjang yang sudah mereka lewati semalam.
“Duh, nih bibir lucu banget. Jadi pengin cium,” goda Gio.
“Jangan macam-macam! Ada ibu sama papa Adam di dalam.” Flora mendelikkan matanya salah sedang memperingati Gio.
Gio menarik Flora masuk ke dalam pelukannya. Kecupan juga Gio berikan di ujung kepala Flora.
“Karena jika kamu menangis, aku akan repot untuk membujukmu,” ledek Gio.
“Jadi kamu tidak ikhlas membujukku?” tanya Flora.
“Ya anggap saja begitu,” sahut Gio.
Dari senyum dan tatapan Gio jelas sekali jika laki-laki itu sedang meledek istrinya.
“Kamu itu memang gak pernah berubah ya, dari dulu selalu senang ngeledek aku.” Flora menggelitik pinggang Gio karena merasa gemas. Tidak ketinggalan Flora menunjukan wajah gemasnya yang terkesan galak.
“Ooo, Sayangku ... aku sangat merindukan wajah galakmu ini,” balas Gio.
Flora dan Gio tertawa bersama.
“Nah, senyum dong, jadi gak jadi turun hujan,” ledek Gio.
Flora tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Suaminya selalu saja mempunyai cara untuk bisa membuatnya tersenyum.
Setelah istrinya kembali tenang Gio memutuskan untuk segera pergi ke kantor. Gio mengangkat Felicia dari baby stolernya.
“Papa berangkat ke kantor dulu ya my princes. Kamu main sama opa Adam dulu,” ucap Gio.
“Iya, Papa.” Flora menyahut dengan menirukan suara anak kecil.
“Ayo aku antar ke teras,” ucap Flora.
“Tidak usah,” ucap Gio. “Kamu di sini saja.”
__ADS_1
“Apa tidak apa-apa?” tanya Flora.
“Hanya untuk kali ini,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
Gio mengecup pipi Felicia sebelum memberikannya kembali pada Flora.
“Aku berangkat dulu ya,” pamit Gio. “Jangan bersedih lagi.”
“Iya,” sahut Flora.
Satu kecupan Gio berikan di ujung kepala Flora sebelum ia berangkat ke kantor.
Flora menyalami lalu mencium punggung tangan Gio.
“Hati-hati di jalan, Papa.” Flora menggerakkan tangan Felicia untuk melambaikan tangannya kepada papanya.
Setelah Gio pergi, Flora kembali bermain dengan Felicia. Flora menoleh saat suara ibunya terdengar di telinganya.
“Flora,” panggil Seruni.
“Iya, Bu,” sahut Flora.
“Papa mertua kamu mau pamit, Nak,” ucap Seruni.
“Pamit? Kok pamit, Bu.” Flora merasa tidak enak hati pada papa mertuanya, ia takut sikapnya sudah melukai hati papa mertuanya.
“Nitip Felicia ya, Bu.” Tidak menunda lagi Flora segera menemui Adam, papa mertuanya.
Flora kembali masuk ke rumah untuk menemui Adam. Flora mengedarkan pandangnya untuk mencari keberadaan papa mertuanya.
Pandangan Flora berhenti saat melihat papa mertuanya berdiri di depan foto. Flora pun segera menghampirinya.
“Papa di sini?” tanya Flora.
Adam menoleh saat mendengar suara Flora. “Saya sedang melihat foto mereka.”
Flora melihat foto keluarga di mana ada Farhan, Gio kecil, juga ibu kandungnya.
“Ini adalah kenangan Gio, Pah,” ucap Flora.
“Ya, kenangan indah.” Adam berucap lirih, tetapi Flora masih bisa mendengarnya.
Di dalam foto itu mereka sangat dan itu sedikit membuka luka lama pada diri Adam.
“Flora, saya pamit dulu,” ucap Adam.
“Papa mau ke mana?” tanya Flora.
“Papa mau ke hotel,” jawab Adam.
“Tinggallah di sini sebelum papa kembali ke Amerika,” pinta Flora.
“Tidak, Nak,” tolak Adam. “Papa tidak mau merepotkan. Lagi pula papa tidak akan lama di Indonesia. Masih ada banyak hal yang harus papa urus di Amerika.”
“Jangan bicara seperti itu, Pah. Ini juga rumah anak papa,” ucap Flora.
“Tinggallah di sini demi Gio dan juga Felicia,” pinta Flora. “Temani mereka sebelum papa kembali ke Amerika.”
“Flora mohon, Pah.” Flora menyatukan tangannya untuk memohon kepada Adam.
__ADS_1
“Baiklah,” sahut Adam.