
Flora berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, hatinya merasakan kegelisahan setelah membaca pesan dari nomer yang tidak dikenalnya. Flora mencoba menghubungi nomor itu, tetapi nomor itu tidak bisa dihubungi.
Rasa gelisah itu membuat Flora merasa tidak tenang. Flora ingin pergi untuk menyusul suaminya, tetapi kram pada perutnya seolah menghalanginya.
Flora mencoba menarik napas lalu menghembuskanya kembali. Kram perut yang Flora rasakan perlahan mulai mereda. Flora terus mengusap perutnya yang masih rata dan mencoba berpikiran untuk tenang. Flora juga mencoba untuk berpikir positif, ia yakin suaminya akan bisa menjaga dirinya.
*****
Sementara itu di tempat lain, Gio dan kedua bawahannya sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka sampai setengah jam lebih cepat.
Sebelum masuk ke ruangan meeting, mereka lebih dulu memeriksa semua proposal yang akan mereka tunjukkan pada investor.
Saat Gio sedang berbicara dengan dua bawahannya, tiba-tiba ada seseorang yang menyebut namanya.
“Revaldo Giovanni Ferdinand ... kita bertemu lagi.”
Gio, Abi, serta Susan menoleh ke asal suara. Abi dan Susan tidak mengenal laki-laki yang ada di hadapan mereka, tetapi Gio sangat mengenal laki-laki itu.
“Brian Alexander,” guman Gio.
Gio menunjukan senyum sinisnya. Menurut Gio sial bagi dirinya bertemu dengan teman sekampusnya dulu, si pintar yang suka pamer.
“Kamu masih mengenalku rupanya.” Brian tersenyum seolah mengejek Gio. “Jadi kamu sudah memimpin sebuah perusahaan besar rupanya. Oh iya perusahaan itu warisan dari mendiang papamu, aku lupa itu.”
“Jadi kamu diam-diam mencari tahu kehidupanku?” Gio tersenyum mengejek.
“Ya, dan aku juga tahu kamu menikah dengan perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu sepertinya lebih pantas untukku.” Brian mengigit bibir bawahnya, seolah sedang menggoda Gio. “Apa kamu sudah bosan berpetualang dengan banyak perempuan?” ejek Brian.
Gio menggelengkan kepalanya seraya tersenyum mengejek. “Kenapa kamu ingin tahu semua tentang kehidupanku?”
“Karena aku tidak rela melihat hidupmu bahagia setelah apa yang kamu lakukan pada Tina, adikku.” Brian memberikan tatapan kebenciannya pada Gio.
“Aku tidak melakukan apapun pada adikmu itu. Dia yang tidak pernah mau mengerti, aku sudah sering mengatakan untuk menjauh dariku,” terang Gio. “Kalaupun dia merasa sakit hati, itu adalah kesalahannya sendiri.”
“Dengar —” ucapan Brian langsung dipotong oleh Gio.
“Maaf dan Bryan ini sudah saatnya aku untuk pergi. Masih ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku selesaikan,” sela Gio. “Ayo Abi, Susan!” ajak Gio.
Gio berjalan melewati Brian dengan diikuti oleh Abi dan Susan. Gio menepuk pundak Brian seraya menunjukkan senyum sinisnya “Sampai bertemu lagi, Brian.”
Gio terus melangkah meninggalkan Brian yang sedang mencoba menahan amarahnya.
“Lihat saja Gio ... aku pasti bisa meruntuhkan kesombonganmu juga kesuksesanmu itu,” batin Brian.
Sampai di ruang meeting, Gio bukan hanya bertemu kembali dengan Brian, Gio juga bertemu dengan Daren. Gio melirik ke arah Brian p yang sedang melihatnya dengan tatapan kebenciannya.
“Daren ... kamu di sini juga?” tanya Gio.
Gio dan Daren saling memeluk.
__ADS_1
“Ya aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini,” jawab Daren.
“Kita akan bersaing di sini,” ucap Daren. “Dan aku yakin kali ini aku pasti menang,” lanjut Daren.
“Semoga berhasil,” ucap Gio.
Pandangan Gio mengarah pada Brian. “Kamu juga, Brian.”
Brian mendengkus kesal, merasa tidak suka dengan kehadiran Gio di tempat itu.
“Oh iya Daren, setelah ini ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Gio.
“Baiklah,” sahut Daren.
Obrolan mereka terpaksa berhenti saat pemimpin dari salah satu perusahaan besar di negara itu masuk ke ruangan meeting. Orang itulah yang akan menjadi berinvestasi di salah satu perusahaan itu
“Selamat datang semua,” sapa laki-laki bernama Samuel.
Samuel menyalami satu persatu dari tamu-tamunya. Pandangan Samuel tertuju pada Gio.
“Gio, apa kabarmu?” tanya Samuel.
“Baik, Tuan Sam,” jawab Gio. “Bagaimana kabar Anda?” Gio balik bertanya.
“Saya baik,” jawab Samuel. “Saya turut berdukacita untuk Tuan Farhan,” lanjut Samuel.
“Terima kasih, Tuan Sam,” balas Gio.
“Baiklah, ayo kita mulai sekarang,” ucap Samuel.
Beberapa pemimpin perusahaan mulai menunjukkan proposal yang sudah mereka siapkan sebelumnya, termasuk Gio, Brian, dan Daren. Sudah berjam-jam meeting itu belum juga selesai.
Hingga sore hari Samuel pun memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan Gio. Ada yang merasa senang dan ada juga yang merasa kesal.
Brian adalah salah satu orang yang tidak suka dengan keputusan Samuel. Brian menduga jika keputusan Samuel karena memihak.
“Sepertinya Anda memihak Tuan Gio. Mengingat hubungan Anda dengan orangtuanya, Tuan Sam,” protes Brian.
“Kenapa Anda berpikir seperti itu, Tuan Brian? Saya memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan F.G Grup, karena memang proposal dan persentasi yang mereka tunjukkan menarik,” ucap Samuel.
“Dan Anda ingat satu hal, Tuan Brian ... saya bukan orang yang mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis,” tekan Samuel.
Setelah menandatangani perjanjian kontrak, Samuel lebih memilih untuk mengakhiri pertemuan itu, sebelum keadaan semakin memanas.
Brian mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.
“Eheem,” Gio berdehem.
Deheman Gio berhasil membuat Brian mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Aku menang, Brian,” ucap Gio.
“Aku akui dalam hal pelajaran kamulah yang terbaik, tapi dalam hal bisnis ... aku jagonya,” ucap Gio.
“Jangan sombong kamu, Gio!” Brian berdiri dan memberikan tatapan tajam ke arah Gio.
“Bukankah selama ini kamu yang selalu menyombongkan kepintaranmu,” balas Gio.
“Kamu —” Perkataan Brian terpotong oleh Daren.
“Maaf ... sebaiknya sudah cukup sampai di sini saja. Tidak baik untuk tetap melanjutkannya,” sela Daren.
“Ya, kamu benar, Daren,” imbuh Gio.
“Ayo, Daren kita pergi dari sini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ajak Gio.
Daren mengangguk, “Ya, ayo.”
Daren dan Gio keluar dari ruangan meeting disusul oleh bawahan mereka.
“Abi, Susan ...,” panggil Gio. “Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul kalian,” perintah Gio.
“Baik, Pak,” ucap Abi dan Susan secara bersamaan.
“Ayo, Daren kita bicara di tempat lain,” ajak Gio.
Daren dan Gio berjalan bersama ke atap gedung itu. Keduanya berdiri di atap gedung, mereka berdiri berdampingan dengan pandangan yang sama-sama melihat ke seluruh kota New York.
“Apa yang ingin kamu bicarakan, Gio?” Daren membuka suaranya.
“Tentang keluarga kita,” jawab Gio.
“Ada apa dengan keluarga kita?” Daren balik bertanya.
“Aku baru tahu beberapa bulan yang lalu, bahwa kita berbeda ibu tapi satu ayah. Aku bukan anak kandung papa Farhan dan mama Rita,” ucap Gio.
“Aku anak mama Rita dan om Adam ... papamu,” lanjut Gio.
Mendengar perkataan Gio, Daren menggenggam kuat tangannya. “Aku sudah tahu, mamaku sudah menceritakannya padaku.”
Sesaat suasana menjadi hening. Hanya suara angin yang mengisi indra pendengaran mereka.
“Aku tidak menyangka, jika papa dan tante Rita menjalin hubungan di belakang mamah,” ucap Daren dengan wajah tertunduk.
“Aku harap tidak ada perselisihan di antara kita,” ucap Gio seraya menepuk pundak Daren.
“Aku harus pergi, istriku sudah menungguku,” pamit Gio.
“Ya,” sahut Daren.
__ADS_1
Gio pergi meninggalkan atap gedung, meninggalkan Daren yang masih menundukkan wajahnya.
Daren sendiri masih berdiam diri di tempatnya. Dengan tangan yang mengepal, rahang yang mengeras seolah sedang menahan amarahnya yang seperti bom waktu. Yang siap meledak kapanpun.