
Pesawat yang Gio dan Flora tumpangi mendarat di bandara kota Jakarta tepat pukul 8 malam waktu setempat. Flora, Gio, serta Abi kembali lebih dulu dari yang lainnya.
Ketiganya turun dari pesawat dan langsung ke tempat pengambilan barang.
"Sudah semua?" tanya Gio.
"Sudah," jawab Abi dan Flora.
"Sini biar aku bawakan." Gio mengambil alih koper dari tangan Flora.
"Tidak usah aku bisa membawanya sendiri," tolak Flora.
"Jika kamu yang membawa koper ... aku tidak akan bisa menggandeng tanganmu," ucap Gio nyeleneh.
"Huh modus," cibir Flora.
Kedua kembali menyatukan tangan mereka dan melangkah bersama menuju pintu keluar. Sampai pada pintu keluar, mobil yang menjemput mereka sudah menunggu. Segera mereka masuk ke dalam mobil dan duduk pada masing-masing kursi.
"Pak Edi, ke rumah Flora dulu ya," suruh Gio yang langsung diangguki oleh pak Edi.
"Baik, Mas Gio." Pak Edi kembali menyalakan mesin mobil.
Mobil yang dikendarai oleh pak Edi melaju meninggalkan area bandara.
Rasa lelah setelah seharian menghabiskan waktu di pulau Dewata, membuat Flora tertidur. Gio yang melihat itu menyandarkan kepala Flora ke pundaknya agar lebih merasa nyaman.
Hening mengambil alih suasana di dalam mobil, tidak ada yang bersuara. Abi juga tertidur dan Gio lebih memilih untuk melihat ke luar mobil. Menatap pemandangan malam kota Jakarta.
Tidak lama mobil yang dikendarai oleh pak Edi masuk ke jalan perkampungan. Jalanan yang rusak membuat mobil melaju dengan hati-hati.
Merasa laju mobil tidak nyaman membuat Flora terbangun. Flora mengucek matanya dan mengedarkan pandangannya. Ternyata ia hampir sampai ke rumahnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku jika sudah mau sampai," protes Flora.
"Kamu tidurnya nyenyak banget," ucap Gio.
Akhirnya mobil yang Flora naiki sampai juga di depan rumahnya. Flora manarik napas lega karena sampai ke rumahnya dengan selamat.
Abi dan pak Edi turun lebih dulu dari mobil untuk mengeluarkan barang-barang Flora. Tinggal Flora dan Gio yang ada di dalam mobil.
"Terimakasih untuk semuanya," ucap Flora.
"Aku akan memberikan semuanya yang aku bisa untukmu, Flora. Asalkan aku bisa melihat kebahagiaan dirimu," ucap Flora.
"Ck, kenapa kamu jadi manis seperti ini." Flora menunjukan senyumannya pada Gio.
"Sudah sana turun, atau aku akan membawamu ke rumahku," ucap Gio.
"Kamu tidak mampir?" tanya Flora.
"Aku bahkan ingin menginap dan tidur bersamamu," gurau Gio.
"Gio ...." Flora memberikan tatapan mematikan pada Gio.
"Jangan menatapku seperti itu! Ini sudah malam, aku tidak ingin mengganggu ibumu," ucap Gio.
"Baiklah, tolong berikan oleh-olehku pada papamu, sampaikan salamku untuk beliau," ucap Flora.
__ADS_1
"Ini curang, Flora ... kamu memberikan oleh-oleh untuk papaku, tapi untukku tidak," protes Gio.
"Maaf, aku tidak tahu apa yang harus aku berikan padamu," ucap Flora.
"Tidak masalah, aku sudah mendapatkan hatimu." Gio mengusap sisi wajah Flora dan mendaratkan kecupan pada kening Flora.
"Selamat malam, Flora," ucap Gio.
"Selamat malam juga, Gio," balas Flora.
Flora turun dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah Gio.
"Sampaikan salamku untuk ibumu, Flora," ucap Gio dibalas anggukan kepala oleh Flora.
Flora melambaikan tangannya ke arah mobil Gio yang sudah melaju. Saat mobil itu sudah hilang dari pandangannya, Flora masuk ke dalam rumahnya.
Flora merogoh tasnya untuk mengambil kunci cadangan rumahnya. Setelah pintu terbuka Flora masuk dan menutup pintunya pelan-pelan agar tidak membangunkan tidur ibunya.
"Flora ...." Suara ibunya mengejutkan Flora.
"Ibu, kenapa mengejutkan aku?" Flora menarik napas lalu menghembuskannya kembali.
"Maaf. Ibu kira tadi siapa?"
Flora menyalami dan mencium tangan ibunya. "Tadi Flora diantar sama Gio, tapi dia tidak mampir."
"Ya sudah kamu istirahat sana," suruh Seruni.
Flora mengangguki perkataan ibunya. "Tapi sebelum itu ... karena Ibu sudah bangun jadi aku mau kasih oleh-oleh untuk Ibu."
Flora mengedarkan pandangannya untuk mencari ibunya. Tadi pamit ke kamar mandi, tetapi belum kembali juga. Flora memutuskan untuk pergi ke dapur untuk melihat ibunya.
"Ibu lagi ngapain?" tanya Flora.
"Ini ibu bikin teh hangat buat kamu."
Flora mendekati ibunya dan merangkul pundak ibunya dari belakang.
"Bu ...." Flora menaruh dagunya ke pundak ibunya.
"Ada apa, Nak?" tanya Seruni.
"Gio melamar Flora waktu di Bali." Flora menunjukan cincin yang melingkar pada jari manisnya.
Seruni menutup mulutnya karena merasa terkejut. Hatinya begitu senang mendengar kabar baik dari Flora. Seruni berbalik dan meraih kedua telapak tangan Flora lalu menggenggamnya.
"Selamat ya, Nak. Ibu seneng dengernya." Seruni memperhatikan cincin yang melingkar pada jari manis Flora.
Ada rasa lega pada hatinya, anaknya sudah menemukan orang yang dicintai dan mencintai dirinya.
"Oh iya, Bu ... lusa papanya Gio ngajak kita makan malam. Katanya ada yang mau dibahas sama Ibu," ucap Flora.
"Iya, Nak. Ibu juga tidak sabar untuk bertemu dengan papanya Gio. Ibu penasaran sama beliau," ucap Seruni.
Flora kembali mendekap tubuh ibunya. Ada air mata kebahagiaan yang menetes dari mata Flora.
Seruni pun sama, ia menitihkan air mata untuk kebahagiaan anaknya.
__ADS_1
"Ayo minum teh hangatnya. Habis itu tunjukkan oleh-oleh untuk ibu." Seruni menarik diri setelah mengusap punggung Flora.
*****
Sementara di tempat lain dan pada waktu yang sama.
Kabar Gio melamar Flora sudah sampai ke telinga Daniel. Ia juga sudah melihat video moment itu di acount media sosial milik Gio. Daniel menyunggingkan senyum tipis penuh luka melihat kebahagiaan sepupu dan mantan kekasihnya.
Meskipun hatinya sakit, tetapi Daniel juga merasa bahagia. Akhirnya Flora menemukan orang yang mampu menjaga dan mencintainya.
Daniel memutuskan untuk pergi ke club malam. Mungkin ia akan sedikit minum untuk meredakan rasa sakit pada hatinya.
Daniel duduk di depan meja bar dan memesan minuman dengan kadar alkohol rendah.
"Mas, satu ya," pinta Daniel pada seorang bartender.
Daniel mengetuk-ngetukkan jarinya di meja bar untuk menunggu minuman pesanannya.
"Apa kamu sedang patah hati?"
Daniel menolehkan kepalanya. Di sampingannya ada seorang perempuan.
"Kamu bicara padaku?" tanya Daniel.
"Apa ada orang lain yang duduk di sini selain kamu?" tanya balik perempuan itu.
"Jadi ... apa kamu sedang patah hati?" Perempuan itu mengulangi pertanyaan yang sama pada Daniel.
"Sok tahu," sahut Daniel dengan nada dingin.
"Kamu sendiri ... apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu juga sedang patah hati?" tanya balik Daniel.
"Sok tahu." Perempuan itu mencoba membalas perkataan Daniel.
Daniel mendengkus, tetapi sudut bibirnya menunjukkan senyum.
"Perempuan yang aku pacari selama 5 tahun, akhirnya akan menjadi istri dari kakak sepupuku." Akhirnya Daniel mengungkapkan apa isi hatinya. "Padahal mereka belum lama saling mengenal."
"Aku juga mencintai sahabat kecilku, tetapi dia justru menikahi wanita yang baru saja ia kenal." Perempuan itu pun akhirnya menceritakan masalah yang ia simpan di dalam pikirannya.
Entah apa yang Daniel dan wanita itu rasakan. Baru saja saling mengenal dan mereka sudah menceritakan masalah mereka. Mungkin karena merasa nyaman.
Perempuan itu melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah malam, aku pamit pulang." Wanita itu beranjak dari kursinya. "Sampai jumpa lagi."
"Tunggu!" Daniel mencegah perempuan itu untuk pergi.
"Ada apa?" Perempuan itu menoleh ke arah Daniel.
"Aku Daniel." Daniel mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu.
Perempuan itu melihat tangan Daniel yang terulur ke arahnya.
"Aku Maura." Akhirnya perempuan itu menyambut uluran tangan Daniel.
Besok ayah kandung Flora terungkap ya. Sampai jumpa di bab selanjutnya.
__ADS_1