Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kembali Bersama


__ADS_3

“Karena aku masih mencintaimu, Flora.”


Kata-kata yang selama ini Gio pendam akhirnya bisa ia ungkapan.


“Apa kamu sudah puas?” tanya Gio.


“Belum,” jawab Flora.


Gio menarik napas beratnya, “Apalagi, Flora. Apa yang kamu inginkan lagi.”


“Aku hanya ingin dicintai olehmu seperti dulu,” jawab Flora.


“Ck, Flora ....”


“Aku minta penjelasan, Giovanni. Kamu mengatakan jika kamu membenciku dan sekarang kamu mengatakan jika kamu mencintaiku. Apa kamu sedang mempermainkan perasaanku.” Flora menarik kerah kemeja Gio.


Rasa sakit pada kepala dan tangannya terasa oleh Flora. Namun, Flora peduli. Hatinya lebih sakit saat itu.


“Gio, aku minta penjelasan. Apa kamu tidak mendengarku?” Flora makin erat menarik kerah kemeja Gio, membuat rasa sakit pada siku dan kepalanya tidak tertahankan lagi.


“Awww!” Seketika Flora pun terisak.


“Apa kamu sudah puas menyakiti dirimu sendiri? Jika kamu ingin marah setidaknya tunggu sampai kondisimu benar-benar pulih, dasar bodoh,” maki Gio.


“Aku memang bodoh karena sudah mencintai laki-laki sepertimu,” ucap Flora di sela isak tangisnya.


“Kamu laki-laki yang selalu berlaku seenaknya sendiri. Selalu lari dari masalah dan setiap kali ada masalah kamu memendamnya menjadikan kamu tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak tahu bagaimana laki-laki sepertimu bisa memimpin perusahaan besar itu,” maki Flora.


“Buka mulutmu dan makan. Setelah ini kamu harus meminum obat dan beristirahat,” suruh Gio.


“Tidak mau. Jangan pedulikan aku,” tolak Flora.


Gio menarik napasnya dalam-dalam berharap dirinya diberikan kesabaran ekstra untuk menghadapi ocehan istrinya.


“Baiklah terserah kamu saja. Tapi setelah ini jangan katakan pada orang-orang jika aku tidak mempedulikan dirimu.” Gio meletakan wadah makan malam Flora dan beranjak dari sisi Flora.


Melihat itu Flora langsung mencegahnya. Flora menahan Gio untuk tidak pergi dari sisinya.


“Kamu salah mengganggap aku dan ibuku yang mejadi penyebab kematian ibumu. Ayah mengatakan pada ibu jika ibu kandungmu bahkan tidak tahu mengenai hubungan mereka,” jelas Flora.


Mendengar itu Gio kembali duduk di sisi Flora.


“Aku tidak terima kamu memberikan kebencian padaku atas suatu hal yang sama sekali tidak ada kaitannya denganku,” ucap Flora.


Gio menundukkan wajahnya dengan tangannya menggenggam erat tangan Flora.


“Bisa kita membahas ini nanti. Pulihkan dulu kondisimu.” Gio memberikan kecupan pada kening Flora serta memberikan usapan lembut di pipinya. “Minum obatmu dan beristirahatlah. Aku juga sudah memberitahukan hal ini pada ibumu, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”


Flora memalingkan wajahnya diikuti tetasan cairan bening yang keluar dari matanya. Gio melihat itu dan langsung menyeka air mata yang jatuh ke pipi istrinya. Perlahan Gio menarik tubuh Flora lalu mendekapnya.


Setelah memastikan Flora meminum obatnya, Gio membantu Flora untuk merebahkan tubuhnya kembali. Tangannya kembali mengusap kening istrinya dan mendarat kecupan di keningnya.


“Istirahatlah,” suruh Gio.


“Kamu juga. Wajah kamu terlihat sangat lelah,” ucap Flora yang langsung diangguki oleh Gio.


Flora bergeser untuk memberikan tempat pada Gio.


“Tidurlah di sini.” Flora menepuk sisi sebelahnya.


Gio menunjukan senyumnya lalu merebahkan tubuhnya di samping Flora. Kini posisi tidur mereka saling berhadapan. Tempat yang sempit membuat jarak mereka begitu dekat.


Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama. Gio menggerakkan tangannya untuk mengusap sisi wajah istrinya.

__ADS_1


“Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi,” ucap Gio yang segera diangguki oleh Flora.


“Kamu tahu Gio ... aku sangat merindukanmu? Merindukan Gio ku yang dulu. Setelah kita menikah aku bahkan tidak mengenalimu,” ucap Flora.


“Maaf,” ucao Gio.


“Gio, ceritakan padaku yang sejujurnya. Apa yang membuat kamu berubah seperti ini,” ucap Flora.


“Tidak ada apa-apa, Flora.”


“Gio, please. Jangan simpan beban itu sendiri,” pinta Flora. “Aku ini istrimu, sudah menjadi hakku untuk tahu semua masalahmu.”


Gio menarik napas beratnya lalu kemudian menatap Flora kembali.


“Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, Flora. Ternyata yang selama ini menjadi papaku bukanlah papa kandungku. Aku bahkan tidak tahu di mana papa kandungku,” ucap Gio. “Ditambah lagi saat aku tahu jika ibuku meninggal karena bunuh diri,” lanjut Gio.


“Itu yang membuat aku merasa kecewa dan marah, Flora,”lanjut Gio.


“Gio, apapun yang terjadi ayah Farhan tetaplah papamu. Beliau sangat menyayangimu. Bahkan beliau tidak menikah lagi karena takut tidak ada yang menyayangimu dengan tulus,” lanjut Flora.


“Dan untuk ibumu ... aku bersumpah Gio, ibuku tidak mungkin berbohong,” ucap Flora.


Gio menggeleng kecil, ”Aku tidak tahu mana yang harus aku percaya, Flora. Tante Dini dan ibumu sama-sama sudah aku anggap seperti ibuku.”


“Aku mengerti kebingunganmu, Gio. Tapi tolong jangan berubah,” mohon Flora.


“Tidak akan lagi.” Mendengar itu Flora merasa sangat bahagia.


“Sekarang tidurlah! Aku akan tetap di sini untuk menjagamu,” ucap Gio.


Mungkin karena pengaruh obat yang diminum Flora, tidak lama Flora pun mulai memejamkan matanya. Gio memastikan Flora tertidur sebelum ia beranjak dari tempat tidur itu.


Saat Gio beranjak dari tempat tidur itu, bertepatan juga dengan datangnya Seruni.


“Kata Dokter tidak ada luka yang serius. Hanya perlu beristirahat saja,” jawab Gio.


“Syukurlah, ibu khawatir tadi,” ucap Seruni.


“Kamu sudah makan? Ibu bawakan makanan untukmu,” ucap Seruni.


“Terimakasih, Bu. Tapi aku belum lapar,” ucap Gio.


“Baiklah, makanannya ibu taruh di atas meja. Kalau kamu lapar nanti makan ya,” ucap Seruni dibalas anggukan kepala oleh Gio.


“Bu ... aku minta tolong. Tolong jaga Flora sebentar. Aku ada urusan dan juga aku harus ambil beberapa pakaian Flora. Dokter menyuruhnya untuk dirawat beberapa hari,” ucap Gio.


“Tentu saja. Kamu jangan khawatir, ibu akan jagain Flora,” balas Seruni.


“Terimakasih.” Gio mulai melangkah. Namun langkahnya terhenti saat Seruni memanggilnya.


“Gio ...,” panggil Seruni.


“Ya, ada apa?” tanya Gio.


Seruni melangkah mendekat kepada Gio. Diusapnya pundak Gio seraya berkata, “Jaga dirimu baik-baik.”


Gio menoleh ke arah Seruni lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


“Aku pergi dulu,” pamit Gio.


*****


Pada esok harinya.

__ADS_1


Flora terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. Perlahan Flora mulai membuka matanya. Yang pertama Flora lihat adalah seorang perawat yang akan memeriksanya.


“Pagi, Bu,” sapa perawat itu.


“Selamat pagi,” balas Flora.


Flora mengedarkan pandangannya mencari sosok Gio. Namun, rasa kecewa harus Flora dapatkan ketika tidak mendapati keberadaannya.


“Saya lepas infusnya ya, Bu,” ucap perawat yang langsung mengalihkan perhatian Flora.


“Eh iya, Sus ... silahkan.”


Flora meringis saat jarum infus mulai ditarik dari pergelangan tangannya, karena rasa takutnya bahkan membuat Flora tidak ingin melihat itu.


“Sudah dilepas ya, Bu.”


“Iya, Sus ... terimakasih banyak.”


Setelah perawat itu pergi, Flora duduk dengan menyenderkan punggungnya ke tempat tidur. Pandangannya terus mengitari ruangan itu.


“Ke mana Gio? Apa dia sudah pergi ke kantor,” batin Flora.


Flora mendesah, apa semuanya akan baik-baik saja dan kembali seperti semula setelah mereka bicara semalam?


“Kamu sudah bangun?”


Flora langsung mengalihkan pandangannya ke asal suara. Tenyata Gio baru saja keluar dari kamar mandi.


“Gio ... kamu di sini?” Jika saja Flora tidak ingat dengan kondisinya bisa dipastikan detik itu juga Flora akan melompat-lompat kegirangan.


“Memangnya di mana lagi kalau aku bukan di sini.” Gio menghampiri Flora dan memberikan kecupan selamat pagi di kening Flora. “Sudah merasa lebih baik?”


Flora langsung menganggukkan kepalanya. “Aku kira kamu sudah pergi ke kantor.”


“Tidak, aku ambil cuti sampai kondisi kamu benar-benar pulih,” jawab Gio.


“Benarkah?” Gio langsung mengangguk.


“Cepat sembuh dan masak lagi untukku,” ucap Gio.


“Kapan aku pernah masak untukmu?” Flora berpura-pura tidak tahu.


Gio menarik hidung Flora. “Jangan dikira aku tidak tahu siapa yang sudah menyiapkan sarapan untukku setiap hari ya.”


“Kamu tahu aku yang siapin itu semua?” tanya Flora dan Gio langsung mengangguk. “Apa bibi yang memberitahukan itu padamu?”


“Aku tahu dari rasa masakan itu. Masakan bibi jauh lebih enak dari itu,” cibir Gio dan Flora langsung mencebikan bibirnya.


Gio tertawa kecil melihat tingkah istrinya.


“Flora ....” Gio meraih yang Flora lalu menggenggamnya.


“Ada apa?” tanya Flora.


“Maaf untuk sikapku padamu selama ini. Aku janji akan perbaiki semuanya,” ucap Gio.


“Benarkah! Kamu serius?” tanya Flora dan Gio pun langsung menganggukkan kepalanya.


Flora langsung memeluk Gio dan terisak di sana. Tidak ada lagi yang bisa membuat Flora bahagia selain mendapatkan suaminya kembali. Ini namanya musibah membawa berkah.


“Aku sangat merindukanmu, Gio.”


“Aku juga sangat merindukanmu, Flora.”

__ADS_1


__ADS_2