Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kenangan Indah


__ADS_3

Untuk sesaat Flora terpana melihat mata milik Elang. Matanya sungguh mengingatkan dirinya pada Gio. Entah mengapa Flora berharap jika Elang adalah Gio, tetapi bagaimana itu mungkin? Sudah jelas wajah mereka saja berbeda.


Rasa sesak di dadanya kembali muncul. Flora lebih dulu memutus pandangannya dengan Elang. Flora menarik napas lalu menghembuskanya kembali, untuk meredam rasa sesak di dalam dadanya.


“Ibu Flora, Anda baik-baik saja?” Susan berbisik di telinga Flora.


“Ya. Saya hanya sedikit gugup,” kilah Flora.


“Baiklah kita langsung mulai saja.” Suara Mahendra mengembalikan fokus pada Flora.


“Ibu Flora, Anda wanita satu-satunya di sini. Jadi saya memberikan kesempatan yang pertama untuk Anda. Untuk menunjukkan pada kami presentasi milik Anda,” ucap Mahendra.


“Terima kasih untuk kesempatannya, Pak Mahendra,” balas Flora.


Flora mulai menunjukkan dan menjelaskan prestasi yang sudah ia siapkan sebelumnya, tentang rencana pembangunan hunian mas a depan.


Setelah Flora, ada tiga orang lagi yang merupakan pimpinan dari perusahaan yang berbeda, mereka juga menunjukkan persentasi milik mereka masing-masing.


“Baiklah, saya sudah melihat semua presentasi kalian. Dan saya sudah memutuskan proyek ini akan saya berikan pada F.G Group,” ucap Mahendra.


Senyum Flora, Susan, serta Abi langsung mengembang, saat mendengar keputusan dari Mahendra. Suara tepukan tangan dari semua orang menjadi pengiring kebahagiaan untuk Flora.


“Selamat, Ibu Flora. Meskipun Anda pemimpin wanita satu-satunya di sini, tapi Anda bisa mengalahkan para laki-laki itu,” ucap Elang.


“Itu benar. Anda sudah membuktikan jika perempuan bisa mengalahkan laki-laki dalam hal berbisnis,” sambung Rizal.


“Terima kasih, semua,” ucap Flora. “Ini rezeki untuk anak saya,” sambung Flora.


Semua orang berdiri untuk mengucapkan selamat pada Flora. Meraka pun mengalami Flora secara bergantian.


Di ruangan itu hanya tinggal ada Flora, Mahendra, Elang, serta dua bawahan Flora yaitu Susan dan Abi. Mahendra kembali memberikan ucapan selamat pada Flora dan ucapan bela sungkawa kepada Flora.


“Saya turut berdukacita dengan apa yang menimpa suami kamu, Ibu Flora. Saya berharap kamu sabar menghadapi ini semua,” ucap Mahendra.


“Terima kasih, Pak,” ucap Flora diiringi tetesan air matanya. Namun, dengan segera Flora mengusap air matanya.


Mahendra mengusap pundak Flora, merasa iba dengan yang terjadi pada Flora. “Saya permisi. Jaga dirimu baik-baik.”


“Baik, Pak.”


Mahendra pergi setelah menandatangani kontrak kerja kedua belah pihak.


Flora dan kedua bawahannya juga keluar dari ruangan meeting. Flora merasa sangat bahagia karena memenangkan proyek besar itu. Proyek yang menjadi incaran suaminya dulu.


“Abi, Susan ... aku ingin beristirahat. Untuk selanjutnya kalian urus berdua saja?” ucap Flora.


“Baik, Bu. Kami akan mengurus semuanya. Ibu silakan beristirahat,” ucap Susan.


“Mari saya antar, Bu,” tawar Susan.


“Tidak usah, aku bisa sendiri,” tolak Flora.


“Jika Mbak membutuhkan sesuatu, hubungi saya,” sambung Abi yang langsung dianggukki oleh Flora.

__ADS_1


“Kalau begitu, tolong pesankan aku makan siang dan jangan lupa ... es cream kesukaan aku,” pinta Flora.


“Baik, Mbak,” sahut Abi.


Flora melangkah lebih dulu meninggalkan Susan dan Abi. Flora melangkah menuju kamarnya menginap. Flora duduk di atas sofa di dalam kamarnya, menatap lautan lepas sambil menunggu makan siangnya datang.


Mata Flora terpejam sejenak. Namun, Flora kembali membukanya saat mata milik Elang melintas di benaknya. Rasa penasaran muncul di benak Flora, siapa sebenarnya laki-laki itu?


Flora membuang napasnya secara kasar untuk menghilangkan Elang dari pikirannya. Mendadak senyum Flora mengembang saat merasakan pergerakan bayi dalam perutnya.


Diusapnya perut buncitnya seraya berucap seolah bayi dalam perutnya bisa meresponnya.


“Kamu lapar, Nak? Sebentar lagi makanannya pasti datang,” ucap Flora.


Benar saja setelah itu terdengar ketukan pintu di depan kamarnya. Flora beranjak dari sofa untuk membuka pintu kamarnya.


Setelah pintu terbuka Flora melihat ada petugas dari room servis, dia mengantar makanan yang dipesan oleh Abi sebelumnya.


“Silakan masuk! Tolong taruh semua makanannya di atas meja,” perintah Flora.


“Baik, Bu,” sahut petugas room service itu.


Flora memberikan jalan pada petugas room service itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan semua makanan ke atas meja petugas room service itu pergi meninggalkan kamar Flora.


“Ayo, Sayang ... kita makan.” Flora berucap pada bayi yang ada di dalam kandungannya.


Rasa sedih karena kehilangan Gio masih bersemayam di hatinya. Namun, sebisa mungkin Flora mengendalikan rasa sedih itu demi bayi dalam kandungnya. Karena kata orang perasaan apapun yang sedang ibunya rasakan, bayi dalam kandungannya pun ikut merasakannya.


Makan siangnya sudah Flora habiskan. Rasa kantuk pun sudah datang. Flora memutuskan untuk beristirahat sejenak. Flora melangkah ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.


Jika saja Susan tidak membangunkannya mungkin Flora bisa tertidur sampai esok hari.


“Bu Flora ....” Susan menepuk-nepuk lengan Flora untuk membangunkannya.


Flora menggerakkan tubuhnya dan hanya menggeliat saja. Nampak sekali jika Flora malas untuk bangun.


“Bu Flora.” Susan memanggil lagi.


Kali ini Flora merespon panggilan Susan. “Ada apa, Susan. Aku masih mengantuk.”


“Sudah jam 7 malam, Bu. Lebih baik Ibu Flora makan malam dulu lalu setelah itu tidur kembali,” ucap Susan.


Mata Flora langsung terbuka lebar saat Susan mengatakan jika sudah pukul tujuh malam.


Flora berbalik, menatap Susan yang berdiri tepat di sampingnya.


“Sekarang jam tujuh?” tanya Flora seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Susan.


“Iya, Bu.” Susan mengangguk.


Flora bangun dan mengambil posisi duduk. Flora menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


“Kenapa kamu tidak membangunkan aku dari tadi?” tanya Flora.

__ADS_1


“Ibu tidurnya pules banget, saya tidak tega untuk membangunkannya,” jawab Susan. “Oh iya, tadi ibu Seruni telepon. Beliau berpesan untuk menelpon balik beliau.”


“Baiklah. Susan tolong ambilkan ponselku,” suruh Flora.


“Baik, Bu.” Susan mengambil ponsel milik Flora kemudian memberikannya pada Flora.


Flora menerima ponselnya yang diberikan oleh Susan. Disentuhnya layar ponselnya untuk mencari nomor ponsel ibunya. Setelah menemukannya Flora lalu menekannya.


Flora menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya dan mulai mengobrol dengan Seruni setelah panggilannya tersambung.


Puas mengobrol dengan ibunya, Flora mengakhiri sambungan telepon itu. Flora meletakkan ponselnya di meja nakas di sebelah tempat tidur.


Flora beranjak dari tempat tidur, langkahnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Flora keluar dari kamar mandi setelah berada sekitar setengah jam di kamar mandi.


“Susan, ayo kita turun untuk makan malam,” ajak Flora.


“Ibu tidak makan di kamar saja, biar saya pesankan,” tawar Susan.


“Tidak usah. Aku juga ingin berjalan-jalan. Besok sore kita harus kembali ke Jakarta, 'kan?” ucap Flora.


“Baik, Bu,” sahut Susan.


Setelah keduanya bersiap Flora dan Susan keluar dari kamar mereka dan melangkah menuju restoran di hotel itu.


Selesai dengan makan malamnya, Flora memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar pantai. Susan sebelumnya sudah melarangnya, karena hari sudah malam, tetapi Flora tidak mau mendengarkannya. Bukan hanya itu saja, Flora bahkan hanya ingin berjalan-jalan sendiri saja.


“Jangan khawatir Susan ... aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini saja,” ucap Susan.


“Tapi, Bu ... angin malam gak baik untuk Ibu,” ucap Susan.


“Saya sudah pake jacket kok,” ucap Flora.


“Tapi, Bu —”


“Kamu kebanyakan tapi-tapian deh,” omel Flora.


“Saya hanya takut Ibu kenapa-napa,” ucap Susan. “Kalau Ibu kenapa-kenapa saya sama mas Abi yang akan diomelin sama keluarga Ibu.”


“Ck, gini deh kalau selama satu jam saya belum kembali ... kamu susul aku ke tepi pantai sana saja.” Flora menunjuk arah pantai di sebelah kanan hotel itu.


Susan pun akhirnya mengalah, apalagi saat melihat mata Flora berkaca-kaca seperti akan menangis.


Perempuan hamil sensitif sekali!


“Baiklah, Bu. Kalau begitu saya akan menunggu Ibu di sini saja,” ucap Susan.


“Kamu hubungi mas Abi saja untuk menemanimu di sini. Jadi ...kamu tidak bosan.” Ucapan Flora terkesan sedang meledek Susan.


Flora pergi meninggalkan restoran dan juga Susan. Flora melangkahkan kakinya di tepi pantai, tempat di mana Gio melamarnya dulu.


Kini Flora berdiri tepat di mana Gio pernah melamarnya. Matanya terpejam untuk mengingat kenangan indah itu.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Angin malam tidak baik untuk wanita hamil.”

__ADS_1


Flora langsung membuka matanya saat mendengar suara yang sangat familiar. Jantung Flora berdebar kencang, dengan segera ia membalik tubuhnya seraya menyebut satu nama.


“Gio ....”


__ADS_2