
Felicia langsung menarik lengan Kenzo saat laki-laki itu mengatakan ingin langsung menikah saja.
"Apa yang Anda katakan." Felicia bicara dengan berbisik di telinga Kenzo.
Felicia menggeram dalam hatinya saat Kenzo tidak menanggapi perkataannya.
"Maaf, kami permisi dulu," izin Felicia.
"Ayo ikut denganku." Felicia berbisik di telinga Kenzo, membawanya pergi dari tempat itu.
Felicia menarik lengan Kenzo dan membawanya ke teras samping rumah itu. Ia harus meminta penjelasan dari laki-laki dingin itu.
Felicia menghentikan langkahnya saat mereka sudah sampai di teras samping. Dengan rasa kesal Felicia bertanya kepada Kenzo kenapa laki-laki itu ingin menikah tanpa bertunangan lebih dulu.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi? Kenapa kamu ingin kita langsung menikah. Bukankah kedua orang tua kita meminta kita untuk bertunangan lebih dulu?" tanya Felicia.
Kenzo yang berdiri di samping Felicia nampak sangat tenang dan tidak peduli dengan ocehan calon istrinya. Bahkan laki-laki itu terkesan tidak ingin menanggapinya.
"Kenzo! Apa kamu tidak mendengarkanku?" Felicia kembali menarik tangan Kenzo, karena merasa kesal Kenzo tidak menanggapi perkataannya.
Kenzo menarik tangannya dari Felicia. Ia arahkan pandangannya ke arah perempuan yang akan menjadi calon istrinya.
"Untuk apa ada pertunangan? Itu hanya akan membuang-buang waktu!" ucap Kenzo.
"Lagi pula nantinya kita juga akan menikah. Jadi untuk apa menunda pernikahan karena adanya pertunangan?" ucap Kenzo.
"Tidak bisa. Pokoknya aku mau kita bertunangan dulu baru menikah," tolak Felicia. "Lagi pula kita belum begitu mengenal satu sama lain. Setidaknya kita pacaran dulu untuk bisa saling mengenal lebih jauh. "
"Pacaran?" Kenzo tersenyum seolah sedang mengejek Felicia. "Kamu dan aku pacaran lebih dulu. Lalu setelah itu aku akan melamarmu dengan mengatakan will you marry me? Jangan bermimpi!"
Felicia melongo mendengar perkataan Kenzo yang terdengar begitu kejam. Namun, apa yang dikatakan oleh Kenzo memang salah satu hal yang sangat diinginkan oleh Felicia. Ia berharap mendapatkan kejutan romantis itu dari seorang pria.
"Keputusanku sudah bulat. Kita akan langsung menikah," ucap Kenzo.
"Tidak bisa," tolak Felicia.
"Aku tidak peduli," balas Kenzo.
Kenzo berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Namun, Felicia menahannya. Felicia kembali menarik lengan Kenzo agar laki-laki itu kembali melihatnya.
"Apa kamu ingin segera menikah denganku untuk menutupi isu tentang dirimu yang tidak normal itu?" tuduh Felicia.
"Jangan bicara sembarangan!" ucap Kenzo penuh dengan penekanannya.
"Jujur saja!" desak Felicia.
__ADS_1
"Dengar gendut, aku—" Kenzo berhenti berucap karena Flora menyelanya.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Berat tubuhku sudah ideal," ucap Flora.
"Aku tidak peduli dengan berat badanmu!" balas Kenzo. "Kamu harus tahu, aku masih normal dan aku masih menyukai lawan jenis."
"Aku tidak mengira orang berpendidikan sepertimu bisa percaya dengan isu murahan seperti itu." Kenzo meninggalkan tanpa memperdulikan Felicia.
"Hei, tunggu aku!" panggil Felicia.
Felicia merasa sangat kesal saat Kenzo pergi begitu saja dan sama sekali tidak memperdulikannya.
"Aku tidak percaya ini! Bagaimana papah sama mamah ingin aku menikah dengan laki-laki menyebalkan itu," ucap Felicia.
Felicia terus memperhatikan tubuh belakang Kenzo. Ia berharap Kenzo kembali dan meminta maaf padanya. Namun, harapan Felicia sia-sia. Kenyataanya Kenzo tidak kembali. Jangankan kembali menoleh pun tidak. Felicia menghentakkan-hentakkan kakinya sebelum menyusul langkah Kenzo.
Felicia berhasil menyusul langkah Kenzo. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui orang tua mereka. Sampai di ruang tamu Felicia dan Kenzo dihadang pertanyaan oleh Evano.
"Apa kalian sudah ada kesepakatan?" tanya Evano.
Felicia melirik ke arah Kenzo sebelum menjawab pertanyaan dari Evano. Dalam pikirannya Felicia harus menjawab pertanyaan itu sebelum Kenzo mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Om ... kami sudah memutuskan —" Ucapan Felicia langsung dipotong oleh Kenzo.
"Kami sudah sepakat untuk langsung menikah, Pah," ucap Kenzo.
"Seenaknya saja dia melakukan ini padaku," batin Felicia.
Ingin rasanya Felicia melakukan protes, tetapi melihat kebahagiaan di wajah kedua orang tuanya membuat Felicia memilih diam.
"Felicia apa kamu juga setuju untuk langsung menikah dengan Kenzo?" tanya Violetta.
"Dia sudah setuju, Mah." Bukan Felicia yang menjawab, melainkan Kenzo.
"Kenzo, mamah bertanya pada Felicia bukan padamu," ucap Violetta. "Bagaimana Felicia, kamu juga setuju, 'kan?"
Felicia menoleh ke arah Kenzo. Ia melihat tatapan mata Kenzo yang mengisyaratkan sesuatu. Setelah itu Felicia mengalihkan pandangannya, ia memperhatikan wajah kedua orang tuanya. Ada kebahagiaan di wajah mereka. Hal itu membuat Felicia bimbang untuk menolak pernikahan itu.
"Felicia, bagaimana Sayang?" tanya Violetta.
Felicia terdiam sejak. Sebelum menjawab pertanyaan calon ibu mertuanya Felicia lebih dulu menarik napasnya. "Iya, Tante ... saya setuju."
"Syukurlah." Semua orang berseru senang.
"Baiklah sudah diputuskan jika Kenzo dan Felicia akan langsung menikah," ucap Evano. "Selamat untuk kalian. Gio, Flora ... kita akan jadi satu keluarga."
__ADS_1
"Selamat untuk kalian juga," ucap Gio.
Semua orang yang ada di tempat itu saling memeluk satu sama lain. Mereka nampak bahagia terkecuali Kenzo dan Felicia.
Diam-diam Felicia memperhatikan raut wajah Kenzo. Ada rasa heran dalam dirinya melihat wajah datar calon suaminya. Padahal Kenzo yang mengusulkan untuk mereka cepat menikah, tetapi sikapnya sepertinya biasa saja.
*****
Pernikahan Felicia dan Kenzo sudah jelas dipastikan. Persiapan untuk itu pun sudah berjalan. Dalam waktu satu bulan lagi mereka akan resmi menjadi suami-istri.
Meskipun mereka akan menikah, tetapi dalam setiap pekerjaan keduanya selalu bersikap profesional dan selalu menunjukkan persaingan. Keduanya masih bisa berebut untuk mendapatkan sebuah tender besar di saat semua orang mengetahui tentang rencana pernikahan mereka.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Selamat ya kamu memenangkan tender ini." Felicia mengulurkan tangannya kepada Kenzo untuk memberikan selamat untuk kemenangannya.
Kenzo memandang uluran tangan Felicia. Tidak ada niatan baginya untuk menyambut uluran tangan dari perempuan yang akan menjadi istrinya.
"Terima kasih," ucap Kenzo tanpa mau menyambut uluran tangan Felicia.
Felicia menurunkan tangannya secara perlahan. Perasaannya menjadi tidak baik saat uluran tangannya tidak disambut oleh Kenzo.
"Sombong sekali," batin Felicia.
"Kamu itu kenapa menyebalkan sekali," gerutu Felicia.
"Jangan cerewet. Aku tunggu di mobil. Jika kamu terlambat aku akan meninggalkanmu," ucap Kenzo.
"Hei, tidak bisakah kamu bersikap manis padaku. Aku ini calon istrimu." Felicia menyusul langkah Kenzo dengan berlari kecil.
"Jangan manja," ucap Kenzo tanpa menghentikan langkahnya.
Sampai di lobi gedung pencakar langit itu, Felicia dan Kenzo berdiri berdampingan. Mereka menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Hari itu rencananya mereka akan membeli cincin pernikahan.
Tidak lama mobil milik Kenzo berhenti tepat di hadapan mereka. Kenzo masuk lebih dulu dan disusul oleh Felicia. Mobil kembali melaju meninggalkan area perkantoran itu setelah mereka sudah ada di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam layaknya orang asing. Hanya saja sesekali Felicia terkadang mencuri pandang pada calon suaminya.
Meskipun beberapa tahun pernah satu sekolah dengannya, tetapi Felicia tidak terlalu dekat dengan Kenzo. Beberapa hari dekat dengan Kenzo membuat rasa penasaran akan Kenzo muncul di dalam diri Felicia. Rasanya Felicia ingin mengenal Kenzo lebih dalam.
"Laki-laki seperti apa dirimu? Sehingga papah sangat ingin aku menikah denganmu?" Felicia membatin sendiri.
Keduanya turun dari dalam mobil saat mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka masih saling diam saat berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
"Kenzo."
__ADS_1
Langkah mereka terhenti saat mendengar seseorang memanggil Kenzo. Keduanya sama-sama menoleh ke asal suara dan melihat ada perempuan cantik berdiri tidak jauh dari mereka.
Pada saat itu Felicia merasakan Kenzo menggenggam tangannya. Felicia melihat Kenzo dan perempuan itu secara bergantian. Ia melihat ada sesuatu yang aneh saat melihat perubahan mimik wajah Kenzo.