
Gio dan Flora berjalan menuruni anak tangga. Langkah mereka menuju ke arah ruang tamu. Ternyata di ruang tamu bukan hanya ada Abi dan Susan, melainkan ada Mariana dan juga Seruni.
“Tante, Ibu ... kalian ke sini juga.” Flora sangat senang melihat kedatangan Mariana dan juga Seruni.
“Kami sengaja datang karena ingin mengantar kalian ke bandara,” ucap Seruni.
Flora menjauh dari Gio dan memeluk Seruni juga Mariana secara bergantian.
“Sudah siap semua?” tanya Gio.
“Sudah, Mas,” jawab Abi.
“Berkas yang saya minta juga sudah siap?” Gio bertanya lagi.
“Sudah, Mas,” jawab Abi lagi.
“Oke, kalau begitu kita langsung berangkat saja,” ucap Gio.
Flora memanggil bibi dan pekerja yang lain. Flora pamit untuk pergi dan menitipkan rumah itu pada mereka.
“Kami pergi dulu,” pamit Flora.
“Hati-hati di jalan ya, Bu, Pak,” ucap Bibi.
“Bibi sama yang lain juga hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, hubungi kami atau beritahukan pada tante Mariana atau ibu Seruni,” pesan Flora.
“Baik, Bu.” Para pekerja di rumah itu menyahut secara bersamaan.
“Pak Roni, semua barang-barang saya sudah dimasukkan ke dalam mobil, 'kan?” tanya Flora.
“Sudah, Bu,” jawab Pak Roni.
“Oke, kalau begitu ayo kita berangkat,” ucap Gio.
Flora dan Gio, keluar dari rumah. Mereka masuk ke dalam mobil milik Mariana bersama dengan Seruni dan juga Mariana. Sedangkan Susan dan Abi masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Roni.
Kedua mobil itu melaju dengan cepat menuju bandara. Pesawat mereka akan berangkat pukul 8 malam, yang artinya mereka masih memiliki waktu 4 jam lagi.
Pukul setengah 6 sore, mereka sampai di bandara. Susan dan Abi lebih dulu masuk ke dalam bandara untuk melakukan check in, serta membawa barang-barang mereka untuk dimasukan ke dalam bagasi pesawat.
“Flora, Gio ... jaga diri kalian baik-baik. Terutama kamu Flora,” pesan Mariana.
“Baik, Tante,” sahut Flora dan Gio secara bersamaan.
“Kabari ibu juga jika kalian sudah sampai di sana,” imbuh Seruni.
“Baik, Bu.” Flora dan Gio kembali berucap bersamaan.
Flora dan Gio memeluk Seruni dan Mariana secara bersamaan. Setelah itu mereka masuk ke dalam Bandara.
Keberangkatan pesawat mereka masih sekitar 2 jam lagi. Flora dan Gio lebih dulu mampir ke mini market yang ada di area bandara untuk membeli beberapa makan ringan.
“Apa kita masih punya waktu?Aku rasanya sangat lapar,” tanya Flora.
“Kita masih ada waktu satu jam lagi sebelum kita masuk ke gerbang keberangkatan,” jawab Gio.
__ADS_1
“Aku ingin makan sesuatu dulu,” ucap Flora.
“Kamu ingin makan apa?” tanya Gio dengan suara lembut.
“Sepertinya di sana ada yang menjual bakso. Kita ke sana saja yuk,” ajak Flora.
“Baiklah, ayo.” Gio merangkul pinggang Flora dan membawanya ke tempat yang Flora inginkan.
Keduanya masuk ke dalam cafe dan memesan makanan yang Flora inginkan.
“Kamu tidak makan?” tanya Flora.
Gio menggeleng, “Tidak. Aku masih sangat kenyang.”
“Baiklah.”
Tidak menunggu waktu lama makanan yang Flora pesan datang, satu porsi bakso malang. Sepertinya Flora tidak bohong sangat mengatakan jika dirinya kelaparan. Terbukti dalam sekejap satu porsi bakso malang itu sudah berpindah ke dalam perutnya.
Gio yang melihat itu hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya.
“Kamu begitu kelaparan rupanya,” ledek Gio.
“Bukan aku, tapi anak kita.” Flora tertawa seraya mengusap perutnya.
Gio ikut mengusap perut rata istrinya. “Anak papa sudah kenyang?”
“Sudah, Papa." Flora menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
“Masih ada yang ingin kamu makan? Kita masih ada waktu setengah jam lagi,” tanya Gio.
“Baiklah, ayo kita menyusul Abi juga Susan,” ajak Gio.
Flora dan Gio masuk ke dalam bandara menuju ke gerbang keberangkatan pesawat mereka. Sampai di tempat yang mereka tuju, Flora dan Gio langsung menghampiri Abi serta Susan.
“Susan Abi, ini ada roti untuk kalian.” Flora memberikan kantong plastik berisi roti pada Susan.
“Terimakasih banyak, Bu,” ucap Susan.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Para penumpang dengan tujuan New York dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat, termasuk Flora, Gio, Abi, serta Susan.
Dan tepat pada pukul 8 malam, pesawat mulai bergerak dan akan meninggalkan landasan. Flora menggenggam tangan Gio seraya berdoa semoga mereka semua selamat sampai ke kota tujuan.
*****
Setelah melakukan penebangan selama berpuluh-puluh jam termasuk dengan waktu transit, pesawat yang ditumpangi oleh Flora dan Gio akhirnya mendarat di salah satu bandara di kota New York.
Semua penumpang serta awak pesawat mengucap rasa sukur, karena mereka sampai dengan selamat.
“Kita sudah sampai?” tanya Flora.
“Sudah Sayangku. Ayo kita turun,” ajak Gio.
Flora mengangguk, “Ayo, aku tidak sabar untuk berjalan-jalan di kota ini.”
Gio melingkarkan tangannya di pinggang Flora lalu membawa istrinya keluar dari pesawat. Sampai di gerbang keluar keduanya melihat Abi dan Susan sedang menunggu mereka.
__ADS_1
“Saya akan mengambil barang-barang kita, Mas,” pamit Abi.
“Tunggu, Abi ... aku akan ikut denganmu,” ucap Gio.
“Susan, tolong jaga istri saya,” perintah Gio.
“Baik, Pak,” sahut Susan.
Gio dan Abi melangkah lebih dulu, sedangkan Flora dan Susan berjalan di belakang dua laki-laki itu. Setelah barang-barang mereka berkumpul keempatnya langsung menuju pintu keluar.
Gio mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang. Pandanganya berhenti saat melihat seorang laki-laki yang ia kenal sedang melambaikan tangannya. Gio pun membalas lambaian tangannya.
“Hai, Gio ... apa kabar?” Laki-laki itu memeluk Gio.
“Kabarku baik,” jawab Gio. “Bagaimana dengan kabarmu, Daren?” Gio balik bertanya.
“Kabarku juga baik,” jawab Daren.
Pandangan Gio mengarah pada Flora. “Flora, kenalkan dia sepupuku, Daren ... anaknya Tante Dini.”
Hanya dengan mendengar nama tante Dini, Flora sudah bisa menebak banyak hal.
“Hai, Flora ... maaf aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Aku harus mengurus banyak hal di sini.” Daren mengulurkan tangannya kepada Flora.
“Tidak apa-apa.” Flora menerima uluran tangan Daren.
“Gio ....” Daren meredam ucapannya. “Maaf untuk apa yang telah ibuku lakukan —”
“Lupakan itu semua Daren,” potong Gio.
“Ya, lupakan semua itu,” imbuh Flora.
“Baiklah, tapi aku memohon maaf atas nama ibuku,” ucap Daren.
“Kami sudah memaafkan tante Dini. Jadi ... tolong Daren ... jangan bahas masalah ini lagi,” pinta Gio.
Daren mengangguk dengan wajah tertunduk. “Baiklah, ayo aku akan mengantar kalian ke hotel.”
“Terima kasih, Mas Daren,” ucap Flora.
“Jangan sungkan, Flora,” balas Daren.
Mereka semua melangkah menuju tempat mobil Daren terparkir. Abi memasukan barang-barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil Daren. Setelah semuanya sudah masuk, Abi pun ikut menyusul masuk ke dalam mobil.
Setelah semua sudah masuk ke dalam mobil, Daren melajukan mobilnya meninggalkan area Bandara.
“Gio, kenapa kalian harus menginap di hotel? Kalian 'kan bisa tinggal di rumahku,” tanya Daren.
“Kami tidak ingin merepotkanmu, Daren,” ucap Gio. “Tapi jangan khawatir, kami pasti akan berkunjung ke rumahmu,” lanjut Gio.
“Baiklah, terserah padamu saja. Tapi jika kalian butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku,” ucap Daren.
“Aku pasti akan ingat itu,” ucap Gio.
Tidak ada lagi pembicaraan di dalam mobil. Mereka semua diam, Gio, Abi, dan Susan mereka tertidur karena merasa lelah. Hanya Flora yang masih membuka matanya.
__ADS_1
Flora sibuk memperhatikan keluar mobil itu, melihat pemandangan malam kota New York, tanpa menyadari jika Daren sedang memperhatikan dirinya dari kaca spion yang ada di hadapannya.