
Flora duduk di depan ruang dengan rasa cemasnya. Flora masih menunggu Elang yang masih diperiksa di dalam ruang UGD.
Flora masih ingat betul kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dirinya tiba di tempat Elang kecelakaan, laki-laki itu masih sadar meski menderita luka di bagian kepalanya. Tidak lama setelah itu Elang langsung tidak sadarkan diri.
“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya,” harap Flora.
Pandangan Flora mengarah ke pintu ruangan UGD yang mulai terbuka. Muncul Dokter dari dalam ruang UGD itu membuat Flora beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter itu.
“Dokter bagaimana keadaan Elang?” tanya Flora saat seorang Dokter keluar dari ruang UGD.
“Maksudnya laki-laki tadi yang mengalami kecelakaan itu?” tanya balik dokter.
Flora mengangguk, “Ya, Dok.”
“Anda istrinya?” tanya Dokter itu lagi.
“Bukan ... saya temannya. Tapi saya sudah menghubungi keluarganya dan mereka bilang sudah dalam perjalanan menuju ke mari,” jawab Flora.
“Saya sudah memeriksa kondisi pasien. Tidak ada luka yang serius,” jawab Dokter.
“Tapi tadi sebelum dia pingsan ... dia mengeluh jika kepalanya sakit,” terang Flora.
“Saya sudah memeriksa dan mengobati luka di kepalanya dan lukanya tidak serius. Beberapa hari juga nanti sembuh,” jelas Dokter. “Tapi untuk sementara dia harus di rawat di rumah sakit agar kami bisa memantau keadaannya lebih lanjut.”
“Baik, Dok,” balas Flora. “Apa boleh saya menemuinya?” tanya Flora.
“Silahkan,” jawab Dokter. “Saya permisi dulu,” pamit dokter itu.
Flora masuk ke dalam ruang UGD setelah dokter pergi. Napas Flora merasa lega saat Elang sudah sadar. Meksi kepalanya dibalut perban, tetapi laki-laki itu masih bisa tersenyum.
“Hai, apa kabarmu? Kamu baik-baik saja?” tanya Elang.
Flora heran kenapa justru Elang yang bertanya tentang kondisi dirinya.
“Apa kecelakaan tadi membuat kepalamu bermasalah?” ledek Flora. “Kamu yang baru saja mengalami kecelakaan, tetapi kamu justru bertanya tentang kondisiku?”
Elang terkekeh mendengar ocehan Flora.
“Kamu baik-baik saja, 'kan?” tanya Flora.
Flora duduk pada kursi di samping brankar yang Elang tiduri.
“Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing,” jawab Elang.
“Baguslah. Aku juga sudah menghubungi Bella. Mungkin sebentar lagi calon istrimu itu akan datang,” ucap Flora.
__ADS_1
“Hmmm,” guman Elang.
“Ada urusan apa kamu tiba-tiba datang ke rumahku?” tanya Flora.
“Aku datang ke kantormu untuk mengantarkan berkas yang om Mahendra minta untuk kamu tandatangani. Tapi saat aku datang ke sana, sekertarismu mengatakan jika kamu sedang tidak enak badan. Jadi ... aku berinisiatif untuk menjengukmu,” jelas Elang.
“Lalu kenapa kamu langsung pergi? Saat aku sampai ke ruang tamu untuk menemuimu, kamu sudah tidak ada di sana? Kenapa kamu pergi secepat itu?” tanya Flora.
“Waktu itu aku berpikir jika aku sudah menganggumu, dan juga kepalaku mendadak sakit. Jadi ... aku memutuskan untuk pergi saja dari rumahmu. Tetapi—”
“Tetapi kamu pergi dan tenyata justru kamu mengalami kecelakaan,” potong Flora.
“Ya ....” Elang tertawa kecil. “Tapi aku bersyukur karena aku mengalami kecelakaan ini,” ucap Elang lirih, tetapi Flora masih bisa mendengarnya.
“Apa aku tidak salah dengar? Kamu bersyukur mengalami kecelakaan ini?” Mata Flora melebar mendengar perkataan Elang. “Apa kamu sudah gila?” maki Flora.
“Mana ada orang tertimpa musibah seperti ini merasa bersyukur? Mungkin telinga kamu yang bermasalah,” ucap Elang.
Flora melebarkan matanya, dengan rasa kesal yang bersiap meledak, karena tidak terima dengan ejekan Elang.
“Telingaku masih beres.” Flora menyelipkan rambut ke belakang telinga menunjukan telinganya kepada Elang.
“Dan satu lagi ... tidak ada yang berani mengejekku kecuali ....” Flora meredam perkataanya.
“Kecuali suamimu?” sambung Elang.
Flora mengangguk, “Ya.”
Pesan yang masuk ke dalam ponsel Flora mengalihkan perhatian mereka. Flora mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Di layar ponselnya menunjukkan ada pesan dari Daren. Flora sebenarnya malas untuk membaca pesan dari Daren, tetapi dirinya harus bisa memancing Daren untuk keluar dari sarangnya.
Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kemarahan, dan senyum sinisnya, Flora membalas pesan dari Daren.
Wajah penuh amarah Flora disadari oleh Elang. Elang yang merasa penasaran, akhirnya bertanya kepada Flora.
“Siapa yang mengirimmu pesan?” tanya Elang.
“Seseorang yang sangat aku benci,” jawab Flora.
“Jika kamu membencinya ... kenapa kamu harus membalas pesan darinya. Kamu 'kan bisa langsung mem-block nomornya,” ucap Elang.
“Aku tidak bisa mengatakan kenapa aku meladeni orang ini. Tapi aku hanya bisa mengatakan ... jika kita ingin menangkap ikan yang besar maka itu dibutuhkan sebuah pengorbanan,” ucap Flora.
“Tapi jika itu melukai dirimu ... maka lepaskan saja! Jangan sampai kamu melukai dirimu sendiri,” ucap Elang.
__ADS_1
“Akan aku ingat itu,” balas Flora.
“Baiklah, lupakan tentang aku. Kata Dokter kamu harus dirawat di rumah sakit ini beberapa hari ... untuk memantau kondisimu,” ucap Flora.
“Sayang kamu tidak apa-apa?”
Elang dan Flora mengalihkan pandangan mereka ke asal suara, ternyata Bella dan Mahendra sudah datang. Flora langsung menyingkir dari tempatnya untuk memberikan tempat itu pada Bella.
“Kamu tidak apa-apa, 'kan?” tanya Bella lagi.
Elang menggeleng, “Tidak. Jangan khawatir.”
“Kata Dokter tidak ada luka yang serius. Tapi dia harus dirawat di sini untuk —” Ucapan Flora dipotong oleh Bella.
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Lebih baik sekarang kamu pergi saja,” usir Bella.
“Apa yang kamu katakan, Bella? Jangan bicara seperti itu padanya. Flora yang sudah menolongku!” ucap Elang.
“Tapi kamu seperti ini juga karena dia. Jika saja kamu tidak datang ke tempatnya,” ucap Bella. “Aku tidak suka kamu dekat dan membela dia.”
“Emm ... sebaiknya aku pulang. Elang jaga kondisimu,” ucap Flora.
“Maafkan perkataan anak saya, Flora,” ucap Mahendra. “Jangan dimasukan ke dalam hati.”
“Tidak apa-apa, Pak Mahendra,” balas Flora. “Oh iya, dua minggu lagi saya akan mengadakan acara syukuran 7 bulanan kehamilan saya. Dan saya mengundang Anda sekeluarga untuk datang,” lanjut Flora.
“Tentu kami akan pasti akan datang,” ucap Mahendra.
“Ya Flora, kami pasti akan datang,” sambung Elang. Pasti akan datang.
“Terima kasih, aku akan menunggu kedatangan kalian,” ucap suara “Baiklah saya permisi dulu,” lanjut Flora.
“Hati-hati, Flora,” ucap Elang yang langsung dianggukki oleh Flora.
“Pergilah! Lebih cepat, lebih baik,” ucap Bella.
“Aku juga tidak berminat untuk berlama-lama di sini,” balas Flora.
“Karena masih ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan. Aku harus menyiapkan umpan untuk memancing Daren,” batin Flora.
“Permisi.” Flora membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam pada Mahendra.
“Hati-hati, Nak Flora,” ucap Mahendra.
Setelah mengangguk Flora keluar dari ruang UGD meninggalkan semua orang. Flora langsung melangkah ke lobby rumah sakit untuk menunggu Sopir yang akan menjemputnya.
__ADS_1