
Ketika perasaan yang berbicara.
Mata yang semalam terpejam mulai terbuka. Beberapa kali Flora mengedipkan kelopak matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu. Senyumnya sedikit mengembang merasakan tidurnya malam itu sangat nyenyak.
Setelah matanya terbuka sempurna, Flora menyibakkan selimutnya dan mengambil posisi duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
“Selamat pagi, Ibu Flora,” sapa Susan.
“Pagi,” balas Flora.
Flora sudah bangun dari tidurnya, tetapi rasanya nyawanya masih tertinggal di alam mimpi. Flora masih ingat betul jika semalam dirinya berada di tepi pantai dan mengobrol bersama Elang. Lalu bagaimana dirinya bisa ada di kamar? Flora tidak ingat kapan dirinya pergi ke kamar.
“Semalam ibu ketiduran di pinggir pantai dan bapak Elang menggendong Ibu ke kamar ini,” ucap Susan.
“Hah, kamu serius?” tanya Flora.
“Saya serius, Bu,” jawab Susan penuh keyakinan.
Ingatan Flora kembali saat semalam dirinya bicara dan menangis di pelukan Elang.
“Apa dia masih ada di sini? Aku harus berterima kasih sebelum kita kembali ke Jakarta,” ucap Flora.
“Sepertinya masih, Bu,” jawab Susan.
“Baiklah, aku akan mandi dulu. Setelah itu aku harus menemui laki-laki itu.” Flora turun dari atas tempat tidur dengan memegangi perutnya yang makin hari makin membesar.
“Baik, Bu. Saya akan bereskan barang-barang kita,” sahut Susan.
Flora masuk ke dalam kamar mandi lalu melangkah menuju tempat mandi. Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Flora menyalakan keran air, menyetelnya dengan mode air hangat. Air hangat keluar dari shower dan langsung mengguyur seluruh tubuh Flora.
Mata Flora terpejam saat air melewati wajahnya. Bayangan mata Elang kembali muncul di pikirannya.
“Kenapa bayangan laki-laki itu selalu saja muncul di pikiranku?” batin Flora.
“Apa karena mata dan suaranya mengingatkan aku pada Gio? Apa karena aku terlalu merindukan Gio?”
“Ya Tuhan ... aku sangat merindukan suamiku.”
Tetesan demi tetesan air mata Flora keluar dari matanya dan jatuh bercampur dengan air yang mengguyur tubuhnya.
Flora mengakhiri mandinya setelah dirasa sudah cukup lama ia mandi. Setelah mematikan keran, Flora mengambil handuk dan melilitkannya ke tubuhnya.
Sebelum keluar dari kamar mandi, Flora lebih dulu memakai pakaiannya yang ia bawa ke kamar mandi.
Selesai berpakaian Flora keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
“Mau saya pesankan sarapan, Bu?” tanya Susan.
“Tidak usah. Aku mau makan di restoran saja. Sekalian aku ingin bertemu dengan dia,” jawab Flora.
“Maksud Ibu ... bapak Elang?” tanya Susan.
Flora menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Selesai bersiap Flora langsung mengajak Susan untuk turun ke restoran. Sepanjang perjalanan Flora melangkah dengan berdiam diri. Sejujurnya Flora merasa tidak enak pada Elang dengan apa yang terjadi semalam.
Sampai di restoran Flora mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Elang. Namun, matanya tidak menemukan sosok itu. Bahkan sampai ia dan Susan selesai sarapan.
Flora mulai gelisah saat Elang tidak datang ke restoran itu. Dalam hatinya Flora sangat berharap Elang akan muncul di hadapannya sebelum ia kembali ke Jakarta sore hari nanti.
“Sepertinya bapak Elang tidak akan datang ke sini,” ucap Susan.
“Ya, sepertinya begitu,” sahut Flora.
__ADS_1
Flora mendesah merasa kecewa, karena tidak bisa bertemu dengan Elang. Jujur Flora sendiri tidak tahu kenapa dirinya sangat ingin bertemu dengan Elang, mungkin bawaan bayi. Apa bayi dalam kandungannya juga menganggap Elang itu papanya?
“Ngaco?” batin Flora.
Bunyi ponsel Susan mengalihkan perhatian Flora. Flora bertanya pada Susan siapa yang mengirim pesan kepadanya.
“Mas Abi yang kirim pesan, Bu.” Susan mulai membaca isi pesan itu. “Mas Abi bilang, jadwal penerbangan kita di majikan. Jam 1 siang nanti,” lanjut Susan.
Flora melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Itu berati tiga jam lagi.”
“Iya, Bu,” sahut Susan.
“Ke mana perginya dia? Aku bahkan belum mengucapakan 'terima kasih' padanya,” ucap Flora.
“Kenapa Ibu tidak titip pesan pada resepsionis saja. Dan minta pada resepsionis untuk menyampaikan pesan itu pada bapak Elang,” usul Susan.
“Ya itu benar juga,” ucap Flora. “Tapi masalahnya apa dia masih menginap di sini.”
“Saya akan bertanya pada pada resepsionis dulu,” ucap Susan. “Saya permisi dulu.”
“Tunggu! Aku ikut sekalian,” ucap Flora.
Keduanya beranjak dari restoran. Dua perempuan itu melangkah menuju meja resepsionis.
“Permisi, saya mau bertanya. Apa bapak Elang Ardiansyah masih menginap di sini?” tanya Susan.
“Sebentar saya cek,” ucap Resepsionis itu.
Resepsionis itu mengecek data tamu dari komputer yang ada di hadapannya. “Masih, Bu. Tadi pagi bapak Elang sepertinya pergi.”
“Pergi? Ke mana?” tanya Flora.
“Eh! Apa urusannya denganku,” batin Flora.
Bukan hanya Flora yang heran pada dirinya sendiri, Susan pun mendadak merasa heran, tumben sekali atasannya itu kepo pada seseorang.
“Mba, saya minta kertas sama pulpen ya,” pinta Flora.
“Baik, Bu.” Resepsionis itu mengambil dan memberikan kertas beserta pulpen kepada Flora.
Flora pun melakukan apa yang diusulkan oleh Susan. Flora mulai menggoreskan pena untuk menulis suatu di kertas itu.
Aku sudah menunggumu di restoran pagi ini untuk berterima kasih untuk semalam, tapi kamu tidak datang. Jadi aku menuliskan pesan ini untuk mengucapkan terima kasih padamu, karena aku harus kembali ke Jakarta siang ini.
Flora melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam sebuah amplop yang di berikan oleh Resepsionis.
“Ini, Mba. Tolong berikan ini pada bapak Elang,” pinta Flora.
“Baik, Bu,” sahut resepsionis itu.
“Ayo, Bu ...kita kembali ke kamar,” ajak Susan.
“Ya, ayo,” balas Flora.
*****
Sesuai jadwal, penerbangan Flora tepat pada pukul 1 siang. Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, Flora dan dua bawahannya sudah bersiap keluar dari hotel.
“Sudah tidak ada yang tertinggal, 'kan?” tanya Flora.
“Tidak ada, Bu,” sahut Susan.
“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Flora yang langsung dianggukki oleh Susan.
__ADS_1
Susan lebih dulu melangkah ke arah pintu. Saat akan keluar dari kamar, Susan menghentikan langkahnya.
“Susan, kenapa berhenti secara mendadak?” tanya Flora yang ada tepat di belakang Susan.
Susan menoleh Flora. “Ada bapak Elang, Bu.”
“Hah, Elang!” Flora memastikannya kembali pada Susan.
“Iya, Bu.” Susan mengangguk.
Yes!
Mendadak Flora berseru di dalam hatinya saat keinginannya terkabul.
“Ehemmm.” Flora berdehem. “Susan, kamu ke mobil saja duluan,” suruh Flora.
“Baik, Bu.” Susan menyeret dua koper dan pergi ke mobil lebih dulu sesuai perintah Flora.
“Kamu ada apa ke sini?” tanya Flora.
“Aku mendapat pesan darimu di resepsionis. Untunglah kamu belum pergi,” jawab Elang.
“Itu ....” Flora meredam kata-katanya. “Aku ingin berterima kasih karena kamu mau menggendongku sampai ke kamar semalam.” Flora berucap diikuti tawa kecilnya. “Maafkan aku sudah merepotkanmu.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak mungkin membiarkanmu untuk tidur di tempat itu,” balas Elang.
“Baiklah, aku harus segera pergi ke Bandara,” pamit Flora.
“Flora ... tunggu!” cegah Elang.
“Ada apa?” tanya Flora.
“Sebelum kamu pergi bolehkah aku ... memberikan salam perpisahan kepada anakmu?” tanya Elang dengan ragu-ragu.
“Hah! Apa?” Flora benar-benar tidak tahu apa maksud dari perkataan Elang.
Sejujurnya Elang juga merasa aneh pada dirinya sendiri. Sejak merasakan pergerakan dalam perut Flora, ada perasaan aneh yang muncul pada dirinya dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Flora melihat tangan Elang mulai bergerak ke arah perutnya. Tanpa diduga Elang mengusap perutnya dengan begitu lembut. Tidak lama setelah itu, Flora merasakan pergerakan di dalam perutnya.
“Dia bergerak,” seru Elang.
“Tentu saja, dia hidup di dalam perutku,” sambung Flora.
Elang membungkukkan tubuhnya memposisikan wajahnya di depan perut buncit Flora. Usapan lembut Elang membuat perasaan aneh mendadak muncul di diri Flora.
Tidak tahu perasaan apa, tetapi perasaan yang jelas Flora rasakan saat itu adalah perasaan nyaman.
“Hei, bayi kecil ... apakah kamu bisa mendengarku?” Elang berucap seolah bayi dalam perut Flora bisa mendengar suaranya. “Jadilah anak baik jangan menyusahkan ibumu.”
Mendengar perkataan Elang, Flora tertawa dengan menahan tangis harunya, apalagi saat kembali merasakan pergerakan bayi dalam perutnya.
“Sepertinya dia mendengarkan perkataanmu,” ucap Flora.
Bukan hanya Flora, Elang pun merasakan pergerakan bayi dalam perut Flora. Tawa kecil muncul di bibir Elang. “Bayi kecil ... aku anggap ini sebagai balasan salam dariku.”
Elang kembali berdiri untuk menatap wajah Flora.
“Jaga dirimu dan juga bayi dalam kandunganmu,” pesan Elang.
Flora mengangguk untuk merespon perkataan orang.
“Baiklah. Mari aku akan mengantarmu ke lobi,” ajak Elang.
__ADS_1
“Ya , Ayo.”
Flora dan Elang melangkah bersama-sama menuju lobby seraya mengobrol kecil.