
Jangan meremehkan wanita yang sedang marah, mereka akan lebih kuat dari apapun. Setelah Felicia mendengar pengakuan Kenzi jika Reza yang sudah mencoba mencelakai Kenzo, dirinya tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Felicia berlari ke arah mobilnya melupakan jika dirinya tengah mengandung. Kenzi yang melihat itu merasa terkejut dirinya khawatir pada kakak iparnya.
"Aku yakin seratus persen Kenzo akan menghabisiku jika dia tahu apa yang sudah aku lakukan," gumam Kenzo.
Dengan segera Kenzi berlari menuju mobilnya, ia masuk ke mobil untuk mengejar Felicia. Namun sayang, Kenzi tidak bisa mengejar mobil yang dinaiki Felicia dirinya kehilangan jejak.
"Ke mana perginya kakak ipar? Mungkinkah dia pergi untuk menemui Reza?" gumam Kenzi.
Kenzi melajukan mobilnya pandangannya melihat ke sekitar berharap bisa menemukan mobil Felicia, tetapi nihil mobil Felicia tidak terlihat.
"Aku harus segera mengabari Kenzo. Aku akan pasrah saat nanti Kenzo mengomel padaku atau mungkin melenyapkan aku." Kenzi bergidik ngeri membayangkan apa yang bisa dilakukan oleh Kenzo pada dirinya nanti.
Kenzi mengambil ponsel yang ada di dashboard mobilnya. Setelah itu ia mencari nomor saudara kembarnya. Saat menemukannya Kenzi langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi kakaknya. Satu kali panggilan tidak Kenzo jawab, tetapi Kenzi tidak menyerah, ia mencoba kembali menghubungi saudara kembarnya dan akhirnya panggilannya dijawab.
"Halo, Ken—" Ucapan Kenzi terpotong oleh Kenzo.
"Aku sedang sibuk. Telepon lagi nanti," sela Kenzo.
"Lupakan pekerjaanmu cepat susul istrimu! Sepertinya dia akan menemui Reza," suruh Kenzi.
"Aku melihat dia sangat marah tadi," lanjut Kenzi.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Kenzo berdiri dari tempat duduknya, ia terkejut mendengar perkataan Kenzi.
"Dia terus mendesakku, dia bertanya apa yang sedang kamu sembunyikan darinya. Jadi aku menceritakan semuanya," jawab Kenzi.
"Setelah aku menceritakan semuanya, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia langsung pergi begitu saja. Aku sudah mencoba mengejarnya, tetapi aku kehilangan jejaknya," jelas Kenzi.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Sudah aku bilang jangan memberitahukan dia tentang masalah ini apapun yang terjadi!" ucap Kenzo.
"Maafkan aku. Dia terus mendesak dan mengancam akan mencari tahu sendiri," ucap Kenzi.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti," ancam Kenzo.
Setelah itu panggilan terputus.
"Aku akan mendapatkan masalah besar." Kenzi menaruh ponselnya di sampingnya dan kembali melajukan mobilnya.
"Ke mana aku harus mencari kakak ipar?" Sambil mengemudi, Kenzi juga memikirkan ke mana perginya kakak iparnya.
"Lebih baik aku langsung ke rumah Reza," gumam Kenzi.
Jalanan dalam keadaan tidak padat, Kenzi langsung memacu kecepatan mobilnya menuju kediaman Reza.
Sementara di tempat lain Kenzo langsung keluar dari kantornya meninggalkan semua pekerjaannya. Kenzo berlari menuju lift khusus sambil menghubungi Alan.
"Halo, Alan. Siapakan mobil! Sebentar lagi aku sampai di lobby." Setelah mengatakan itu Kenzo memutus sambungan teleponnya.
Sampai di lobby Kenzo langsung masuk ke mobil dan meminta Alan agar pergi.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Alan.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Kenzo. "Tapi yang pasti kita harus mencari tahu keberadaan istriku."
"Saya akan coba untuk menghubungi Rizal," ucap Alan.
"Jangan! Biar aku saja yang menghubunginya. Kamu konsentrasi menyetir saja," ucap Kenzo.
"Baik, Pak," sahut Alan.
__ADS_1
Kenzo mencari nomor Rizal di ponselnya. Setelah menemukannya Kenzo langsung menekan tombol panggil dan menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya. Beberapa kali Kenzo mencoba menghubungi Rizal, tetapi pria itu tidak menjawabnya.
"****!" Kenzo mengumpat kesal saat Rizal tidak juga mengangkat panggilannya.
Napas Kenzo memburu, amarahnya sudah seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun. Dirinya sedang merasa cemas, tetapi justru Rizal belum juga mengangkat panggilan darinya. Kenzo menarik napasnya dalam-dalam menetralkan amarah di dalam dadanya.
Setelah amarahnya mereda dan dirinya merasa tenang Kenzo kembali mencoba untuk menghubungi Rizal. Sekali Kenzo mencobanya panggilannya langsung tersambung.
"Halo, Rizal di mana kamu sekarang?" Kenzo bicara dengan volume yang tinggi.
"Saya sedang dalam perjalanan ke rumah Reza. Ibu memaksa saya untuk mengantarnya ke sana. Jika saya tidak menurutinya Ibu mengancam akan pergi sendiri," jawab Rizal.
"Baiklah, temani istri saya! Saya akan menyusul ke sana," perintah Kenzo.
Setelah mengatakan kalimat itu Kenzo memutus sambungan teleponnya.
"Alan cepat pergi ke rumah Reza! Kita harus sampai di sana sebelum Felicia!" perintah Kenzo.
"Baik, Pak," sahut Rizal.
Alan segera memacu kendaraannya. Beruntung saat itu jalan sedang dalam keadaan tidak padat. Mobil yang Alan kendarai akhirnya sampai di depan rumah Reza.
Kenzo segera turun dari mobil dan melihat mobil istrinya sudah terparkir di depan mobilnya. Ternyata istrinya sudah lebih dulu sampai di sana.
Kenzo melangkah masuk ke rumah itu dengan berlari kecil. Ia harus segera bertemu dengan istrinya, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Sampai di depan pintu Kenzo melihat istrinya menampar Reza di depan Rossa yang merupakan ibu dari Reza.
"Keisha!" Kenzo berlari menghampiri Felicia dan menjauhkannya dari Reza.
"Felicia ... sudah! Hentikan ini!" ucap Kenzo.
"Kamu memintaku untuk tidak melakukan ini, hah!" Felicia terlihat sangat marah dan itu terlihat jelas di wajahnya.
"Tante ingin tahu apa yang sudah anak Tante ini lakukan?" tanya balik Felicia.
"Felicia, please. Tolong kendalikan dirimu!" pinta Kenzo.
"Kenzo tolong! Biarkan Felicia bicara," pinta Rossa.
"Tante masih ingat tentang kecelakaan yang suami saya alami? Ternyata itu semua yang melakukannya ada anak Tante ini," ungkap Felicia.
"Dia menyuruh orang merusak rem mobil suami saya," lanjut Felicia.
"Apa?" Rossa sangat terkejut mendengar apa yang Felicia katakan.
"Tante tidak percaya, 'kan? Aku juga ingin tidak percaya. Tapi ... itulah kenyataanya." Mata Felicia sudah dipenuhi oleh air mata.
"Reza, katakan jika apa yang Felicia katakan itu tidaklah benar!" ucap Rossa.
"Ayo, katakan Reza! Jelaskan semua pada ibumu ini," perintah Felicia.
Reza langsung bungkam, tidak bisa apapun. Pandangannya melihat ke Kenzo. Percuma saja mengelak karena Kenzo sudah mengetahui semuanya.
"Reza, katakan pada Mama jika semua itu adalah bohong," ucap Rossa.
"Aku tidak akan mengelak, Ma. Aku memang melakukan itu semua," aku Reza.
Belum hilang rasa sakit karena tamparan Felicia ditambah lagi rasa sakit karena tamparan ibunya.
"Keterlaluan kamu! Kenapa kamu tega melakukan itu pada Felicia." Rossa menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di dekatnya. Dirinya merasa tidak percaya jika anaknya se-jahat itu.
"Kenapa kamu tega melakukan itu? Bukankah kamu menganggap aku adikmu. Lalu kenapa kamu tega ingin membuat adikmu ini kehilangan suaminya dan membuat anak yang belum lahir ini kehilangan ayahnya," teriak Felicia.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan!" Felicia mendorong Reza dengan sekuat tenaganya membuat Reza mundur beberapa langkah.
"Felicia tolong kendalikan dirimu! Ingat kamu sedang hamil." Kenzo berusaha menenangkan Felicia, tetapi saat itu Felicia begitu sangat keras kepala tidak seperti biasanya.
"Aku tidak ingin mendengarkanmu kali ini, Kenzo," ucap Felicia.
Felicia mengubah arah padanannya, ia menatap Reza dengan tatapan yang dipenuhi oleh amarah.
"Sekarang katakan, kenapa kamu melakukan ini!" Felicia mencengkram kerah kemeja Reza.
"Katakan!" bentak Felicia.
"Karena aku mencintaimu," jawab Reza.
"Omong kosong!" Felicia melepaskan cengkraman tangannya.
"Itulah kenyataannya, Feli," ucap Reza.
"Bagaimana kamu bisa memiliki perasaan itu padaku. Bukankah kamu menganggap aku adikmu dan kamu juga tahu jika aku menganggap kamu seperti kakakku," ucap Felicia.
"Aku tahu itu. Tapi ... aku tidak bisa mengendalikan diriku, Feli. Perasaan itu muncul begitu saja," aku Reza.
"Ini tidak benar, Reza!" ucap Felicia.
"Tapi menurutku ini benar, Felicia. Kita bersama dari kecil, kita tumbuh dewasa bersama. Tapi kamu justru menikah dengan pria lain? Ini tidak adil untukku," ucap Reza.
"Meskipun aku tidak menikah dengan Kenzo, aku juga tidak akan menikah denganmu, Reza. Karena sampai kapanpun aku hanya menganggap kamu sebagai kakakku," ucap Felicia.
"Aku tidak akan menerima ini, Feli. Jika saja dia tidak datang dalam kehidupan kamu, mungkin kita akan bisa bersama. Maka dari itu aku harus menyingkirkan dia dari hidupmu," ucap Reza.
"Kamu sudah gila, Reza! Saat ini aku sudah kehilangan kepercayaanku padamu," ucap Felicia.
Felicia mulai terisak, ia berbalik dan memeluk Kenzo. Menumpahkan semua rasa sakitnya di pundak suaminya.
"Kenzo ...." Felicia memeluk Kenzo dengan sangat erat.
"Tenanglah, Felicia!" Kenzo untuk memenangkannya.
"Felicia jangan menangis. Tolong maafkan aku." Reza mengulurkan tangannya, ia ingin menyentuh Felicia, tetapi Kenzo mencegahnya.
"Jangan berani menyentuh istriku dengan tangan kotormu ini." Kenzo mencegah Reza menyentuh istrinya.
"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan Felicia." Reza menatap Kenzo dengan tatapan yang dipenuhi oleh kebenciannya.
Sama halnya dengan Reza, Kenzo juga menatap Reza dengan tatapan yang sama.
"Apa kamu lupa jika aku ini suaminya. Urusan Felicia akan menjadi urusanku juga," ucap Kenzo.
"Ayo, Sayang. Sebaiknya kita pergi. Kita tidak punya urusan lagi di sini," ajak Kenzo.
Felicia merespon ucapan Kenzo dengan anggukkan kepalanya.
Kenzo melangkah pergi dengan membawa Felicia. Bersamaan dengan itu datang beberapa orang dari anggota kepolisian. Semua orang terkejut melihat kedatangan para polisi itu, terkecuali Felicia.
"Maaf, kami datang untuk membawa saudara Reza ke kantor polisi," ucap salah satu dari anggota polisi itu.
"Aku yang memanggil mereka ke sini," ucap Felicia.
Felicia mengusap air matanya dan mengubah arah pandangnya ke Rossa.
"Maaf, Tante Rossa. Bukan maksud saya untuk melukai hati Tante. Tapi saya mau orang yang mencelakai suami saya mendapatkan hukuman.
__ADS_1