
Rapat para petinggi di perusahaan Ferdinand Group sedang berlangsung. Mereka sedang memilih sesorang untuk memimpin perusahaan cabang mereka yang baru.
Dari hasil rapat itu mereka memutuskan untuk memilih Daniel yang akan memimpin perusahaan cabang itu. Semua para petinggi perusahaan itu setuju kecuali Ardi, ayah dari Daniel, ia tidak terima jika Daniel hanya memimpin perusahaan cabang itu. Namun apa daya, Ardi tidak akan bisa mengubah itu semua. Satu orang tidak bisa melawan 9 orang.
Jam pulang kerja sudah tiba, Flora sedang membereskan pekerjaannya. Rencananya ia akan malam bersama dengan Daniel juga Gio untuk merayakan jabatan baru Daniel. Saat sedang membereskan berkas-berkasnya di meja kerjanya dering di ponselnya berbunyi.
Ada nama Gio tertera di layar ponselnya.
"Hallo …."
"Aku menunggumu di bawah," ucap Gio dari seberang panggilan.
"Baiklah sebentar lagi aku selesai." Setelah mengatakan itu Flora memutuskan panggilannya.
Flora menghela nafas saat meja kerjanya sudah rapi. Flora mengambil tas dan menyilangkan ke pundaknya. Flora melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang sedang menariknya dan membawanya ke arah pintu tangga darurat.
"Lepaskan aku?" Flora berontak namun tenaga nya kalah. Tenyata orang itu tidak sendiri melainkan bersama dua temannya.
Flora diseret ke tangga darurat yang sangat sepi. Tubuh Flora didorong hingga menabrak tembok. Flora berbalik dan melihat wajah tiga laki-laki. Flora tidak begitu mengenal mereka tetapi Flora tahu jika mereka karyawan di kantor itu juga.
"Permisi aku harus pergi." Flora mencoba pergi, namun salah satu dari laki-laki itu menahannya.
"Eits … buru-buru amat. Belu juga mulai."
Detik itu juga Flora merasa sangat ketakutan. Ia merasa mereka ingin melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya..
"Kalian mau apa sebenarnya?" Nada suara Flora mulai menggigil.
"Tentu saja kami ingin bersenang-senang dengan mu," jawab salah satu dari mereka.
Salah satu dari laki-laki itu mencoba menyentuh wajah Flora namun Flora langsung menghindar.
"Tidak, tolong biarkan aku pergi, aku harus segera pergi." Flora kembali mencoba menerobos mereka, namun mereka benar-benar tidak membiarkan Flora pergi.
"Kalian jangan berani mendekatiku atau aku akan berteriak," ancam Flora.
"Silahkan berteriak, tidak akan ada yang mendengarmu."
Flora mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi seseorang. Namum segera salah satu dari laki-laki itu merebut ponsel Flora.
"Jangan takut Sayang." Ketiga laki-laki itu melangkah mendekati Flora.
"Jangan mendekat!"
Flora tahu ketiga laki-laki itu tidak akan mendengarkannya. Flora menendang kejantanan salah satu dari mereka dan berlari menuruni anak tangga darurat itu. Flora terus menghindar namun mereka berhasil menangkapnya kembali.
__ADS_1
Sementara di parkiran bawah, Gio menunggu Flora dengan kesal. "Kemana gadis itu? Katanya cuma sebentar tapi kenapa dia belum sampai juga. Apa dia membutuhkan waktu selama ini untuk turun dari lantai 10 itu," gerutu Gio.
Gio berdecak kesal lalu ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Gio mencoba menghubungi nomor ponsel Flora, namun tidak tersambung.
"Kenapa ponselnya mati? Apa ada yang tidak beres ya?" batin Gio.
Gio memutuskan untuk menyusul Flora ke atas.
"Awas saja jika dia mencoba mengerjai ku," gerutu Gio.
Gio kembali masuk ke dalam lift khusus. Sebelum itu ia bertanya pada seorang satpam yang ada di depan meja resepsionis. "Maaf apa kamu melihat Flora?"
"Tidak, Pak … dari tadi saya di sini dan tidak melihat siapapun yang turun dari lift," jawabnya.
"Oke terima kasih. Oh iya jika nanti kamu melihat Flora suruh dia menghubungiku atau suruh saja dia mengungguku di sini," pinta Gio.
"Baik, Pak."
Gio masuk ke dalam lift khusus. Sudah berulang kali juga ia menghubungi Flora namun tetap saja tidak tersambung. Perasaannya mulai cemas.
"Ke mana sebenarnya gadis itu? Ck, menyebalkan."
Pintu lift terbuka segera Gio melangkah menuju meja kerja Flora. Sesampainya di sana Gio tidak mendapati Flora, meja kerjanya juga sudah rapi.
"Apa mungkin dia lewat lift lain?" tanyanya dalam hati.
Gio melangkah menuju lift lain sebelum Gio masuk telinganya mendengar suara teriakan seseorang.
"Tolong!"
Suara itu terdengar lagi.
Gio berjalan ke arah tangga darurat. Gio membuka pintu tangga darurat dan suaranya makin terdengar jelas.
"Tolong!"
"Flora …."
Segera Gio berlari menuruni anak tangga darurat itu. Suara Flora makin terdengar jelas di telinganya.
Gio terkejut dan langsung menghentikan langkahnya saat melihat apa yang sedang terjadi di lantai tangga darurat itu.
"Hei, apa yang sedang kalian lakukan?" bentak Gio dengan suara lantang dan menggema di sana.
Ketiga laki-laki itu menoleh termasuk juga Flora. Ketiga laki-laki itu terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapan mereka.
Gio mengepalkan tangannya saat melihat tubuh Flora sudah hampir telanjang bulat serta terdapat luka di sudut bibirnya.
__ADS_1
"B****t." Gio menatap ketiga laki-laki itu dengan tatapan membunuh.
Melihat tatapan mengerikan atasan mereka, ketiga laki-laki itu langsung berlari dari tempat itu, namun Gio tidak akan membiarkan itu. Dengan segera Gio mengejar ketiga laki-laki itu. Gio tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja. Dengan sekali tendangan Gio berhasil menjatuhkan ketiga laki-laki itu.
Gio yang sedang sangat marah langsung menghadiahi pukulan di wajah ketiganya. Pukulan Gio begitu membabi buta membuat ketiga laki-laki itu terkapar tidak berdaya.
"Ampun, Pak. Ampuni kami," mohon salah satu dari mereka.
"Berani sekali kalian melakukan hal yang menjijikan itu di kantor ku." Gio kembali menghantam wajah salah satu dari laki-laki itu.
"Kami hanya disuruh. Kami disuruh untuk melecehkan Flora," ucapnya.
"Kenapa kalian mau, bodoh!" Gio menarik kerah kemeja salah satu dari mereka. "Sekarang jawab … siapa yang nyuruh kalian?" tanya Gio dengan suara lantang.
"Ibu- ibu Mariana."
Mata Gio melebar terkejut ketika mendengar siapa yang menyuruh mereka. Gio melampiaskan kemarahannya pada salah satu dari mereka dan dengan sekali pukulan laki-laki itu pingsan di lantai itu.
Melihat ketiga laki-laki itu sudah tidak berdaya, Gio kembali naik ke tempat di Flora berada.
"Flora …."
Gio melihat Flora duduk dengan melipat kedua lututnya serta menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Gio tahu Flora sedang menangis, pasti Flora syok dengan kejadian itu. Gio menekuk lututnya dan mengusap kepalanya Flora.
"Flora …."
"Jangan mendekat!"
"Flora ini aku … Gio."
"Gio …?"
Flora mendongakkan kepalanya dan benar Gio yang ada di hadapannya.
"Gio …."
Gio langsung memeluk tubuh Flora yang bergetar. Tubuh Flora menggigil terlihat jelas jika Flora sangat ketakutan. Tangisannya bahkan sampai tidak bersuara.
Hati Gio hancur melihat keadaan Flora. Gio bersumpah akan membalas orang yang membuat Flora sampai seperti itu.
"Gio … aku takut." Suara serak Flora terdengar begitu menyakitkan bagi Gio.
"Jangan takut mereka sudah pergi." Gio menangkup kedua sisi wajah Flora dan menghapus air matanya.
Gio melepaskan kemejanya lalu memakaikannya ke tubuh Flora. Diangkatnya tubuh gadis pujaannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
Gio sampai di lantai dasar dengan masih membopong tubuh Flora. Penjaga yang melihat itu terkejut dan langsung menghampiri anak dari pimpinan di perusahaan itu.
__ADS_1
"Bawa ketiga laki-laki bejat itu ke kantor polisi. Mereka ada di tangga darurat di lantai 5," perintah Gio.
Penjaga itu tidak akan bertanya pada Gio apa yang sudah terjadi. Karena melihat keadaan Flora mereka juga tahu apa yang telah terjadi.