Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Akhir Dari Penantian


__ADS_3

Flora sudah dipindahkan kembali ke ruang rawat inapnya. Meskipun keadaan ibu dan bayi sehat. Namun, Dokter Marissa menyarankan agar Flora menginap satu malam lagi agar bisa memantau perkembangannya pasca melahirkan.


Di ruang rawat VVIP keluarga besar Ferdinand sedang kompak menertawakan Gio. Pasalnya, yang baru saja melahirkan itu Flora, tetapi yang merasa lemas dan terlihat pucat Gio sendiri.


“Kamu ada-ada saja, Gio. Masa istri kamu yang melahirkan justru kamu yang merasa lemas,” ejek Mariana.


“Siapa yang gak lemes, Tante ... tadi itu darahnya banyak banget,” ucap Gio. “Mana dari semalam aku kurang tidur.”


“Aku juga gak tidur. Bukan hanya itu saja bahkan aku juga ngerasain sakit,” ucap Flora.


Gio langsung diam saat istrinya sudah angkat suara.


“Kamu lihat darah sebanyak itu lemes, apalagi istri kamu yang melahirkan anak kamu. Itulah perjuangan perempuan untuk memberikan keturunan pada suaminya, makanya jangan sampai suami nyakitin istri,” ucap Mariana.


“Dia bukannya bantuin aku malah justru nyakitin hati aku,” ucap Flora.


“Siapa yang nyakitin kamu. Aku bingung mau berbuat apa? Karena aku tidak tahu apa dan bagaimana rasa sakit yang sedang kamu rasakan,” ucap Gio.


“Suami kamu itu sama saja kaya om kamu. Pas waktu tante melahirkan juga begitu. Om kamu bahkan tidak mau menemani tante,” ungkap Mariana.


“Semua laki-laki itu memang maunya pas lagi enak-enaknya doang,” ucap Mariana.


“Jangan begitu dong, kami para laki-laki gak seberuntung kalian para wanita yang selalu bisa mengungkapkan apapun dengan air mata, harga diri kami para laki-laki terlalu tinggi untuk mengungkapkan sebuah rasa dengan air mata,” jelas Ardi. “Kami diam bukan berarti kami tidak peduli, kami marah bukan berati kami tidak sayang.”


“Nah ... bener tuh, Om,” sambung Gio.


“Ohw, Suamiku ... tumben sekali kamu bicara romantis,” ledek Mariana yang langsung membangkitkan tawa semua orang.


“Loh, Gio ... tangan kamu kenapa, Nak?” tanya Seruni. “Kok pada merah-merah gini kaya bekas cakaran sama gigitan ....” Mata Seruni langsung melihat ke arah Flora.


“Ini tadi habis dicakar sama digigit kucing liar yang mau lahiran,” jawab Gio yang langsung membangkitkan tawa semua orang.


Mata Flora mendelik mendengar ejekan suaminya. “Jadi kamu ngatain istri kamu kucing liar?”


“Rasain tuh! Jangan cuma mau enaknya doang,” ejek Daniel.


“Awas saja kalau kamu nanti ada di posisiku ... aku akan membalasmu lebih dari ini,” ucap Gio.


Canda tawa mereka terhenti saat pintu ruang rawat dibuka dari luar. Seorang perawat datang membawa box yang berisi seorang bayi mungil.


“Cucuku yang cantik,” seru Mariana.


“Permisi, semua. Saya mengantar bayi cantik ini. Dia sudah menangis dari tadi ... sepertinya dia haus,” ucap perawat.


“Sini, Sus.” Flora merentangkan tangannya mangisyaratkan untuk memberikan bayinya.


Perawat itu langsung memberikan bayi cantik itu pada Flora.


“Daniel, ajak kakak dan papa kamu keluar. Flora mau nyusuin bayinya,” suruh Mariana.


“Ya, Mah,” sahut Daniel.


“Kalian pergi saja, aku benar-benar mengantuk,” ucap Gio.

__ADS_1


Gio merebahkan tubuhnya di sofa panjang dengan menutup matanya menggunakan tangannya. Rasa lelah yang singgah di diri Gio membuat Gio langsung terlelap.


“Ya ampun dia langsung tidur,” ucap Mariana.


“Biarkan, Jeng. Sepertinya Gio benar-benar kelelahan,” ucap Seruni.


“Iya, Tante. Kasihan Gio ... dari semalam dia kurang tidur karena jagain aku,” imbuh Flora.


“Ya sudah, aku sama papa ke kantin dulu. Sekalian aku langsung pergi ke kantor juga,” pamit Daniel.


“Mamah ikut,” ucap Mariana.


“Loh, Tante mau pulang?” tanya Flora yang langsung diangguki oleh Mariana.


“Tante, juga sekalian pamit ya. Tante sudah ngantuk banget,” pamit Mariana.


“Iya, Tante. Terima kasih sudah mau nemenin aku di sini,” ucap Flora.


“Kamu ini sama kaya siapa saja,” balas Mariana. “Tante, pulang ya. Kamu jaga diri kamu baik-baik.”


“Hati-hati di jalan, Jeng,” pesan Seruni.


“Iya, kami pulang dulu ya.” Mariana dan Seruni saling mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.


Setelah berpamitan pada Flora dan juga Seruni, Daniel dan keluarganya keluar dari ruang rawat Flora.


Setelah Daniel dan keluarganya pulang, Flora langsung menyusui bayinya. Asi Flora memang sudah keluar sadari tadi membuat Flora tidak menunda untuk segera menyusui bayi kecilnya. Seruni membantu Flora untuk memposisikan bayinya agar mudah bagi Flora untuk menyusui.


“Dia mirip banget sama kamu, Flora. Waktu kamu baru lahir,” ucap Seruni.


Seruni mengangguk dengan senyumannya. Mendadak Flora teringat rasa sakit yang ia rasakan saat akan melahirkan.


“Bu ....” Flora menggenggam tangan ibunya. “Waktu ibu mau lahirin Flora, apa ibu juga kesakitan kaya Flora?” tanya Flora.


“Semua perempuan yang mau melahirkan pasti akan merasakan rasa sakit itu, Nak,” sahut Seruni.


“Ibu pasti sedih karena dulu ayah tidak ada di sisi ibu,” tebak Flora.


“Yang lalu biarlah berlalu, Nak. Yang jelas waktu itu kesedihan ibu sirna saat kamu lahir,” ucap Seruni.


“Maafin Flora ya, Bu. Selama ini banyak salah sama Ibu,” ucap Flora.


“Iya, Nak.” Seruni mengusap rambut Flora dengan penuh rasa kasih sayangnya.


Flora menyenderkan kepalanya di pundak ibunya. “Terima kasih ya, Bu. Sudah ngurusin aku sampai sekarang. Aku sayang sama Ibu.”


“Ibu juga sayang sama kamu, Nak,” balas Seruni.


Seruni memberikan kecupan di ujung kepala Flora, sebagai bentuk kasih sayang kepada anaknya.


“Eh, cucu nenek yang cantik ini sudah tidur,” ucap Seruni.


Flora mengalihkan pandangannya lalu melihat anaknya, ternyata bayi dalam dekapannya sudah tidak menyusu dan bahkan sudah tidur kembali.

__ADS_1


“Eh iya, Bu,” sambung Flora.


“Sini, biar ibu yang taruh bayi kamu ke box bayi.” Seruni mengambil alih bayi itu dalam gendongan Flora. Seruni menaruh cucunya ke box bayi dengan hati-hati.


“Anak kamu sudah tidur, kamu istirahat saja. Biar ibu yang jagain cucu ibu yang cantik ini,” ucap Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora.


Flora merebahkan tubuhnya. Sesaat ia melihat ke arah suaminya yang sudah tertidur. Tarikan napas yang begitu teratur menandakan tidur suaminya sangat nyenyak.


Senyum tipis terlukis di bibir Flora, rasa tidak percaya kadang masih menyelimuti diri Flora. Rasa tidak percaya jika dirinya sudah menikah dan bahkan sudah memiliki bayi bersama Gio.


Flora terus memandangi suaminya sampai matanya terpejam dengan sendirinya.


*****


Tidur Flora terusik saat mendengar suara tangis bayi. Beberapa kali Flora mengedipkan matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu.


Flora bangun lalu mengambil posisi duduk. Matanya melihat sekitar ruangan itu. Flora tidak mendapati ibunya, melainkan melihat bayinya sedang menangis di dalam gendongan suaminya.


“Sayang, berhenti nangis dong,” ucap Gio.


Flora ingin tertawa melihat kepanikan di wajah suaminya. Bayinya menangis di dalam gendongan suaminya, mungkin karena tidak nyaman.


“Anak mama nangis? Diapain sama papa?”


Gio menolehkan pandangannya ke arah Flora. Hembusan napas lega keluar dari mulut Gio.


“Untung kamu bangun,” ucap Gio.


“Bagaimana gak bangun. Anak kita nangisnya ke kencang banget,” jawab Flora. “Diapain sih?”


“Gak diapa-apain kok. Tadi dia nangis terus aku gendong, tapi bukannya berhenti nangis malah makin kencang nangisnya,” jelas Gio.


Gio melangkah dengan hati-hati seolah sedang menghitung langkahnya untuk mendekat ke tempat istrinya. Melihat itu Flora tidak bisa lagi menahan tawanya.


Flora mengambil alih bayinya dalam gendongan suaminya. Flora menimang bayinya untuk membuatnya diam.


“Bagaimana dia gak nangis ... kamu gendongnya kaku gitu. Anak kita ini merasa gak nyaman dalam gendongan kamu,” ucap Flora.


“Aku sebenarnya masih takut buat gendong dia, ini karena terpaksa saja, ibu gak ada dan kamu juga lagi tidur,” ucap Gio.


“Memang ibu ke mana?” tanya Flora.


“Ibu lagi ke kantin,” jawab Gio.


“Kamu bisa bangunin aku, 'kan? ucap Flora.


“Kamu tidurnya pules banget, aku gak tega bangunin kamu,” ucap Gio.


“Ooo, kamu so sweat banget sih.” Flora mengusap sisi wajah suaminya.


Gio mengambil tangan Flora yang ada wajahnya lalu mengecup punggung tangan perempuan berstatus sebagai istrinya.


“Terima kasih sudah memberikan aku bayi cantik ini,” ucap Gio.

__ADS_1


Flora mengedipkan kedua kelopak matanya seraya menunjukan senyumnya. Keduanya saling berbalas senyuman, senyuman yang penuh dengan kebahagiaan.


__ADS_2