
Resepsi pernikahan Flora dan Gio sudah tiba di depan mata. Resepsi yang di gelar di salah satu hotel berbintang sudah didatangi oleh banyak para tamu undangan. Flora dan Gio sendiri masih berada di salah satu kamar hotel itu untuk dirias.
Flora yang sudah selesai disulap menjadi pengantin berdiri di dekat jendela dengan memegang seikat buket bunga di tangannya. Jujur saja Flora masih merasa tidak percaya jika ia sudah menjadi istri dari laki-laki yang dulu sangat ia benci dan sempat ia kira adalah kakaknya.
“Hai, boleh aku bertanya?”
Suara seseorang mengalihkan perhatian Flora. Matanya melihat suaminya berdiri di hadapannya. Bibir Flora tertarik ke atas membentuk sebuah senyunyam saat melihat Gio terlihat sangat tampan dengan pakaian pengantin pria adat Sunda.
“Kamu terlihat sangat tampan,” puji Flora.
“Terima kasih untuk pujiannya. Kamu juga terlihat sangat cantik,” balas Gio. “Tapi siapa kamu? Dan sedang apa di sini?”
“Apa yang kamu katakan? Aku Flora.” Flora masih belum sadar jika suaminya sedang menggodanya.
“Kamu Flora? Tidak mungkin. Wajah istriku itu sangat galak dan kamu terlihat sangat cantik,” ucap Gio.
Flora sadar jika suaminya itu sedang menggodanya. “Gio, berhentilah untuk menggodaku.”
Gio pun terkekeh melihat rona merah muncul di wajah istrinya yang semakin membuat aura cantik istrinya terrpancar. Gio berjalan mendekati Flora. Diraihnya kedua sisi wajah Flora lalu Gio mendaratkan kecupan pada ujung kepalanya.
“Kamu terlihat sangat cantik. Aku hampir tidak mengenalimu,” puji Gio.
“Jadi sebelumnya aku tidak terlihat cantik?” tanya Flora.
“Ya, kamu terlihat sangat galak,” aku Gio.
Flora tertawa kecil mendengar pengakuan dari suaminya. “Ck, kamu ini menyebalkan.”
“Ayo kita keluar, semua tamu sudah menunggu kita,” ajak Gio.
Gambar hanya pemanis.
Gio mengulurkan tangannya kepada Flora dan Flora pun menerima uluran tangan suaminya. Keduanya keluar dari kamar itu menuju tempat resepsi pernikahan mereka.
Tepat pukul 4 sore prosesi pernikahan Flora dan Gio berlangsung. Flora yang masih ada keturunan darah orang Sunda membuat mereka harus melakukan beberapa prosesi pernikahan adat Sunda.
Tepat pukul 6 sore prosesi pernikahan adat sudah selesai dilakukan. Kini tinggal para tamu memberi selamat dan juga berfoto bersama dengan kedua mempelai.
“Nak Flora selamat ya untuk pernikahannya. Semoga jadi keluarga yang samawa,” ucap salah seorang tamu undangan.
Flora tentu saja mengenali 3 wanita yang ada di hadapannya. Mereka adalah ibu-ibu yang sering mengejeknya saat di tempat tinggalnya dulu.
“Amin,” ucap Flora. “Terima kasih untuk kedatangannya,” lanjut Flora.
“Gak nyangka ya, suami kamu tenyata ganteng pisan,” puji mereka.
“Ini buah dari kesabaran.” Perkataan Flora mengandung sindiran untuk ketiga ibu-ibu yang sering mengolok-olok dirinya.
Sadar dengan sindiran Flora, ketiga ibu-ibu pamit dari atas pelaminan.
-
__ADS_1
-
Malam semakin gelap. Flora dan Gio kembali ke kamar rias untuk berganti pakaian. Kini Flora dan Gio berganti pakaian yang lebih modern. Gio nampak tampan dengan tuxedo warna silver dan kemeja warna putih di dalamnya dengan dasi kupu-kupu warna silver melingkar di lehernya.
Flora nampak sangat cantik dengan gaun putih panjang sampai lantai. Ada mahkota yang menghiasi kepalanya. Selesai berganti pakaian mereka kembali ke tempat resepsi mereka.
Makin malam resepsi pernikahan Flora dan Gio nampak sangat meriah. Apalagi saat kedua pengantin melempar bunga kepada para lajang.
Semua orang bersorak saat buket bunga mawar jatuh tepat di tangan Daniel. Tentu saja tidak membuang waktu Daniel langsung memberikan buket bunga itu pada Maura.
“Kamu tidak cemburu melihat Daniel bersama perempuan lain, Sayangku,” ledek Gio.
“Jangan bicara sembarangan. Dia adikku yang manis,” balas Flora.
“Flora ....” Gio berbisik di telinga Flora.
“Ada apa?” balas Flora.
“Bersiaplah nanti malam,” ucap Gio.
-
-
Pesta telah usai semua para tamu juga sudah meninggalkan pesta. Gio dan Flora juga sudah berada di kamar hotel yang sudah disulap menjadi kamar pengantin untuk mereka.
Flora duduk di depan meja rias untuk melepaskan semua aksesoris yang ada di bagian kepala, tangan, telinga, dan juga lehernya. Sedangkan suaminya masih berada di dalam kamar mandi.
Dari cermin yang ada di hadapannya, Flora melihat pantulan tubuh suaminya. Gio keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya.
Flora tersentak saat ada yang menekan kedua pundaknya, ternyata Gio.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayangku?” tanya Gio.
“Ti-dak ad-a,” gagap Flora.
Flora beranjak dari meja rias dan berbalik menghadap suaminya. “Aku hanya ingin mandi.”
Gio menarik pinggang Flora untuk mengikis jarak di antara mereka.
“Ayo mandi bersama,” goda Gio.
“Kamu bukannya sudah mandi.” Nada bicara Flora terdengar gugup.
Gio memberikan kecupan pada leher, dan pundak Flora. Memberinya sedikit sentuhan agar istrinya tidak merasa gugup.
“Gio ...,” panggil Flora gugup.
“Ada apa? Kamu terlihat sangat gugup,” bisik Gio.
“Aku sangat gugup,” ucap Flora.
“Relaks, Sayangku,” ucap Gio.
__ADS_1
Berulangkali Flora menarik napas panjang mencoba untuk menetralkan rasa gugupnya. Melihat istrinya sudah tidak merasa gugup, Gio langsung melancarkan aksinya.
Satu kecupan Gio berikan pada kening, turun ke pipi, bibir, leher, lalu kembali ke bibir Flora. Ada senyum tipis pada bibir Gio saat Flora mulai mencoba mengimbangi permainannya.
Gio menggerakkan tangannya untuk menurunkan resleting gaun yang melekat di tubuh Flora. Resleting sudah terbuka sempurna membuat gaun yang Flora kenakan lolos dari tubuhnya.
Tanpa membuang waktu Gio langsung mengangkat tubuh Flora membawanya ke arah tempat tidur. Gio merebahkan tubuh Flora di atas tempat tidur dan kembali memberikan rangsangan pada Flora.
Uggh terlihat jelas jika Gio sangat berpengalaman untuk itu.
“Gio ...,” desah Flora.
“Aku mulai ya,” ucap Gio.
Flora yang sudah mulai terbakar gairah pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Sakit ...,” rintih Flora.
Bukan hanya Flora yang merasakan rasa sakit itu, tetapi Gio pun merasa rasa sakit. Flora benar-benar masih belum tersentuh oleh siapapun.
Gio terus mendorong tubuhnya untuk menyatukan tubuhnya dengan Flora dengan menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan.
Sama halnya dengan Flora, ia pun menahan sakit untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Isak tangis Flora terdengar saat merasakan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua.
Gio memberikan kecupan di pipi, kening, dan bibir Flora untuk memberikan ketenangan pada istrinya.
“Tenanglah,” ucap Gio lirih seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Flora.
Flora mengangguk kecil.
“Terima kasih sudah menjadikanku laki-laki pertama untukmu, Flora,” ucap Gio.
Flora mengangguk lagi, tetapi kini diikuti oleh senyum tipis di bibirnya.
“Sudah siap?” bisik Gio.
Flora mengangguk kecil dan kembali menarik napas panjangnya. Melihat Flora sudah mulai tenang Gio mencoba menggerakkan tubuhnya.
Keringat sudah mengucur di tubuh mereka padahal suhu di ruangan itu cukup dingin.
Rasa sakit yang Flora rasakan mulai menghilang dan tergantikan oleh sebuah rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan. Rasa lelah seolah tidak mereka hiraukan saat sebuah rasa nikmat yang mereka dapatkan.
Rasa lelah mulai menghampiri mereka, mengharuskan mereka segera mengakhiri permainan panas itu. Desahan panjang lolos dari mulut Gio dan Flora saat kenikmatan mereka sampai pada puncaknya bersamaan.
Masih pada posisi yang sama, keduanya sama-sama berlomba untuk meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi rongga paru-paru mereka.
“Terima kasih.” Gio mengecup kening Flora saat napasnya mulai normal. “Aku mencintaimu, Flora.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Gio.”
Tatapan mereka bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya saling berbalas senyum sebelum mereka menyatukan kening mereka.
Perasaan bahagia datang saat dua orang berlawanan jenis saling menyatakan rasa cinta, saat kamu dan aku menjadi kita.
__ADS_1
Indahnya cinta semakin terasa saat kedua pasangan itu menjadi satu dalam ikatan yang sakral.