Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Rasa Dalam Hati


__ADS_3

Satu Minggu berlalu kini Flora sudah kembali masuk ke kantor dan bekerja seperti biasanya. Memang tidak mudah bagi Flora untuk kembali ke kantor mengingat kejadian buruk itu terjadi di kantor itu, tetapi berkat dukungan dari orang-orang terdekatnya membuat Flora sedikit melupakan kenangan buruk itu.


Farhan bahkan sengaja membuat Flora sibuk di kantor agar Flora tidak terus-menerus mengingat kenangan buruk itu dan Gio seperti biasanya laki-laki mengalihkan pikiran Flora dengan membuat Flora kesal.


"Flora segera ke ruangan saya!"


"Baik, Pak."


Flora menaruh gagang telepon seraya menghela napas berat. Padahal ia baru saja selesai mengerjakan tugas yang atasannya berikan dan kini atasannya meminta ia untuk kembali menghadap.


"Pekerjaan apa lagi yang akan beliau berikan, kenapa beberapa hari ini atasanku itu sangat kejam," keluh Flora.


Flora beranjak dari meja kerjanya dan melangkah masuk ke ruangan kerja Farhan. Sebelum masuk, Flora lebih dulu mengetuk pintu ruangan kerja Farhan dan setelah mendengar sahutan dari dalam Flora membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


"Bapak memanggil saya?"


"Ya Flora," sahut Farhan. "Flora sudah kamu siapkan semuanya untuk rapat hari ini?" tanya Farhan


"Sudah, Pak."


"Bagus kalau begitu. Kamu bisa beristirahat sekarang sebelum kita mulai rapatnya." Setelah itu Farhan meminta Flora untuk kembali ke meja kerjanya.


"Terima kasih."


Flora manarik napas lega karena dirinya bisa beristirahat meski hanya sejenak.


Entah mimpi atau bukan saat Flora sedang melangkah ke pantry ia berpapasan dengan Ardi dan Flora tidak melihat keangkuhan pada ayah dari mantan kekasihnya.


"Flora," panggil Ardi.


"Iya, Pak," sahut Flora dengan tergagap.


"Bisa ikut ke ruangan saya," pinta Ardi.


Flora langsung diam dan tidak tahu harus mengatakan apa.


"Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan mu," lanjut Ardi.


"Baik, Pak." Nada bicara Flora masih tergagap.


Flora akhirnya mengikuti langkah Ardi menuju ruangan kerjanya. Sebuah pertanyaan muncul pada benak Flora, hal apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh ayah dari mantan kekasihnya.


"Silahkan duduk, Flora!" Ardi meminta Flora untuk duduk pada sofa yang ada di ruangan kerjanya.


Masih dengan diliputi oleh rasa ragu, Flora duduk pada sofa di sebelah sofa yang Ardi duduki.


"Apa yang ingin Anda bicarakan, Pak?" Akhirnya Flora memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Gio," tanya Ardi tanpa berbasa-basi.


"Kami hanya teman," jawab Flora. "Apa hal ini yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Bapak Ardi?" tanya Flora.


"Bukan, alasan saya membawamu kemari karena saya ingin meminta maaf padamu," sahut Ardi.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Flora tidak mengerti.

__ADS_1


"Maaf untuk masalah yang terjadi pada hubungan kamu dan anak saya," sahut Ardi.


"Tidak apa-apa, Pak. Lagi pula itu sudah berlalu," ucap Flora.


"Apa kamu masih mencintai anak saya?" tanya Ardi.


Pertanyaan yang keluar dari mulut Ardi berhasil membuat Flora mematung. Flora merasa bingung apa yang harus ia katakan pada Ardi.


Ardi tertawa kecil melihat kebekuan Flora. "Saya sudah bisa menebak dengan sikap diam yang kamu tunjukkan pada saya."


Flora menunjukan senyum canggungnya pada Ardi.


Ya Tuhan apa Pak Ardi tertawa tadi? Semoga ini bukan mimpi.


"Dengar Flora! Saya sudah salah menilai kamu selama ini. Saya pikir kamu perempuan yang hanya mencintai Daniel karena harta."


"Tidak apa-apa Bapak Ardi."


"Jika kalian memang masih saling mencintai, kali ini saya tidak akan menghalangi kalian, saya merestui kalian."


Kelopak mata Flora berkedip berulang kali seraya menatap Ardi dengan pandangan tidak percaya.


"Saya tidak salah dengar 'kan?" tanya Flora.


"Tidak! Saya serius dengan perkataan yang baru saja saya ucapkan," sahut Ardi.


"Apa ada sesuatu di balik ini semua? Seperti halnya apa yang istri Anda lakukan dulu pada saya?"


"Tidak, saya melakukan ini karena saya memikirkan perasaan Daniel. Dia sepertinya sangat mencintai dirimu," ucap Ardi. "Dan untuk masalah perusahaan, kita tahu jika hari ini Gio akan dinobatkan sebagai pimpinan perusahaan."


"Ya." Hanya itu yang mampu Flora katakan.


"Baiklah hanya ini yang ingin saya katakan." Perkataan Ardi berhasil membuyarkan lamunan Flora.


"Pikirkan sekali lagi ucapan saya mengenai hubungan kamu dan Daniel," lanjut Ardi.


Flora mengangguk, "Terima kasih, Bapak Ardi. Kalau begitu saya permisi dulu."


Ardi mengangguk sebelum mengantar Flora sampai ke depan ruangannya.


Flora keluar dari ruangan Ardi dan kembali ke ruangan kerjanya. Sepanjang perjalanan menuju meja kerjanya, Flora masih memikirkan perkataan Ardi. Apa ini sungguhan. Flora menoleh ke sana kemari berharap tidak ada orang di sana. Setelah memastikan tidak ada satu orang pun Flora kemudian mencubit lengannya sendiri.


"Awwww." Flora memekik. "Sakit, ini berarti bukan mimpi."


"Flora." Flora langsung mengubah arah pandangnya ke asal suara yang baru saja memanggilnya


"Mas Abi ...."


"Flora kamu dari mana saja? Bapak Farhan sudah menunggumu dan beliau sekarang sudah menuju ruang rapat," ucap Abi.


"Oh baiklah, aku akan segera menyusul." Flora melesat meninggalkan Abi dan kembali ke meja kerjanya sebelum menyusul Farhan ke ruang rapat.


Para pemegang saham di perusahaan itu sudah berkumpul di ruang rapat. Rapat kali ini adalah untuk pengangkatan Gio sebagai pimpinan baru di perusahaan itu.


Rapat udah selesai dan mulai hari itu resmilah Gio menjadi pemimpin di perusahaan itu yang artinya Flora akan menjadi sekertarisnya.

__ADS_1


Semua orang sudah keluar dari ruangan itu setelah mengucapkan selamat pada Gio. Kini di ruangan itu hanya ada Flora dan juga Gio.


"Selamat Gio, akhirnya kamu bisa menggantikan posisi bapak Farhan," ucap Flora.


"Kamu sedang meledekku?" tanya Gio.


"Meledek? Aku memberimu ucapan selamat dan kamu bilang aku meledekmu? Ck, dasar bodoh," maki Flora.


"Hidupku tidak akan bebas setelah aku memimpin perusahaan ini," keluh Gio.


"Hah dasar, kamu. Banyak yang ingin mendapatkan posisi ini dan harusnya sekarang kamu bersyukur karena bisa mendapatkan jabatan ini, bukannya mengeluh seperti ini," omel Flora.


"Ya, ya, ya, baiklah, Sayangku."


"Sepertinya kita harus merayakan ini. Kamu harus mentraktirku makan apapun yang aku minta, oke!" Flora mengulurkan tangannya agar Gio mau menyetujui permintaannya.


Gio menerima uluran tangan Flora lalu kemudian menggenggamnya. "Anything for you, Honey."


"Kau manis sekali," puji Flora diiringi tawa kecilnya.


Keduanya keluar dari ruang rapat itu dan kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.


Malam pun sudah tiba, langit yang berwarna biru sudah berubah menjadi warna gelap. Cahaya matahari juga sudah tergantikan oleh cahaya dari rembulan. Di jalanan kota sebuah mobil putih sedang melaju di antara kendaran lainnya. Di dalam mobil putih itu ada Flora dan juga Gio yang sedang duduk bersebelahan. Gio benar-benar menuruti apa yang Flora ingin makan. Dan kini mereka dalam perjalanan pulang.


Gio merasa aneh, harusnya dirinya yang meminta traktiran pada Flora sebagai hadiah karena dirinya berhasil mendapatkan jabatan itu, tetapi ini sebaliknya. Namun bagi Gio itu tidak masalah asalkan bisa menghabiskan waktu bersama Flora.


"Gio, bisakah kamu mengantarku kembali kantor?" tanya Flora.


"Untuk apa?" tanya balik Gio.


"Aku harus mengambil mobilku," jelas Flora.


"Tidak usah, aku akan minta Abi untuk mengantarnya ke rumahmu nanti," ucap Gio.


"Kenapa? Aku tidak ingin merepotkan Mas Abi," ucap Flora.


"Lalu apa kamu hanya akan merepotkan aku saja? Kalau kita ke kantor aku harus putar arah lagi," gerutu Gio.


"Memang kenapa? Hanya tinggal putar arah saja, 'kan," ucap Flora tidak mau kalah.


"Lalu apa masalahnya juga jika Abi yang akan mengantarnya ke rumahmu. Kalau kamu tidak mau, pergi saja sana sendiri," kesal Gio.


Flora memicik tajam setelah mendengar apa yang baru saja Gio katakan.


"Dasar tidak ingin merepotkan orang, tapi ingin merepotkan aku," gerutu Gio tetapi masih bisa di dengar oleh Flora.


"Apa kamu tidak bisa bersikap manis padaku seperti tadi siang?" omel Flora.


"Jangan berharap, Sayangku. Yang tadi siang itu karena aku khilaf," jawab asal Gio.


"Apa?" Flora mengerucutkan bibirnya serta melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Jadilah pacarku maka aku akan bersikap manis padamu," ucap Gio diikuti tawanya.


Flora melongo dan langsung memukul Gio. Satu pukulan Flora mendarat tepat pada lengan Gio membuat laki-laki yang sedang mengemudi itu tergelak.

__ADS_1


Flora memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya, ada senyum tipis di baliknya. Niatnya untuk menggoda Gio tetapi justru dirinya yang merasa malu sendiri.


Gio menghentikan tawanya dan kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya kembali menuju apartemen pribadinya.


__ADS_2