
Kenzo berdecak saat Felicia tidak datang ke kamarnya. Padahal sudah hampir sepuluh kali Kenzo memanggilnya.
"Ck, ke mana sih tuh perempuan?" decak Kenzo. "Biasanya dipanggil sekali langsung menyahut."
"Felicia." Kenzo kembali memanggil Felicia, tetapi istrinya belum juga datang.
Kenzo memutuskan untuk mencari istrinya. Ia keluar dari kamarnya sendiri dan masuk ke dalam kamar Felicia. Kenzo berharap bisa menemukan istrinya agar bisa memintanya memasangkan dasi seperti biasanya.
Tampa permisi Kenzo langsung masuk saja ke dalam kamar Felicia. Kenzo mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Felicia, tetapi tidak menemukannya.
"Felicia," panggil Kenzo.
"Ck, dia tidak ada di sini. Apa dia di dapur?" pikir Kenzo.
Kenzo ingin keluar dari kamar itu, tetapi telinganya justru mendengar suara gerumuh dari kamar mandi. Kenzo membuang dasi miliknya ke sembarang tempat lalu melangkah dengan berlari kecil menuju kamar mandi.
Tok tok tok
"Felicia." Kenzo mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil Felicia, tetapi sama sekali tidak ada respon.
Perasaan khawatir menyelimuti hati Kenzo saat telinganya kembali mendengar suara Felicia, sepertinya Felicia sedang merasa mual.
Beruntung pintu kamar mandi tidak terkunci membuat Kenzo bisa masuk begitu saja.
"Felicia." Kenzo melihat Felicia berdiri dengan membungkukkan badannya di depan wastafel.
"Hoek ... hoek."
Kenzo makin merasa cemas melihat Felicia sedang memuntahkan isi perutnya. Kenzo mendekat ke dekat Felicia, ia bingung apa yang harus dirinya lakukan dalam keadaan seperti itu.
"Feli, kamu kenapa?" tanya Kenzo dengan gugupnya.
Kekhawatirannya seolah membuat isi kepalanya berhenti bekerja.
"Ya Tuhan ... bagaimana ini?" Saking bingungnya Kenzo sampai berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi.
Berapa saat kemudian Felicia membasuh mulutnya dengan air yang keluar dari keran yang ada di hadapannya. Sisa air yang ada di bibirnya ia bersihkan dengan menggunakan tisu.
Felicia merasa lega saat rasa mualnya sudah menghilang, kini hanya tinggal rasa pening di kepalanya yang masih dirinya rasakan.
"Feli, kamu kenapa?" tanya Kenzo seraya memegang pundak Felicia.
__ADS_1
Felicia berbalik menghadap ke suaminya yang berdiri tepat di sampingnya. Dirinya menggelengkan kepalanya sebelum menjatuhkan tubuhnya di dada suaminya.
"Aku tidak tahu. Tadi pagi aku merasa mual dan sekarang kepalaku pusing," keluh Felicia.
Bohong jika Kenzo tidak merasa khawatir dengan keadaan Felicia. "Apa kamu sakit?"
"Apa ini karena kamu makan banyak kemarin?" tebak Kenzo.
"Tidak, ini katanya biasa terjadi bagi ibu hamil. Nanti setelah masuk trimester kedua rasa mualnya akan hilang dengan sendirinya," jelas Felicia.
"Baguslah." Kenzo merasa lega lalu mendaratkan kecupan di kening Felicia. "Ayo kita keluar."
Kenzo menuntun Felicia keluar dari kamar mandi. Lalu membantu Felicia untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Kalau kamu merasa pusing jangan pergi ke kantor dulu. Beristirahatlah dan jangan ke mana-mana," suruh Kenzo.
"Iya, baiklah," ujar Felicia.
Felicia duduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Pandangannya ia alihkan pada Kenzo. Bibir Felicia melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman saat melihat suaminya sangat tampan dalam balutan kemeja kerjanya. Wajah baby face suaminya membuatnya tidak bosan untuk terus memandanginya.
"Kamu sudah siap untuk berangkat?" tanya Felicia.
"Iya, hanya tinggal memasang dasi saja." Kenzo menunjukkan dasi yang ada di dekatnya.
"Jadi ... baiklah aku akan memasangnya sendiri," ucap Kenzo.
Kenzo melingkarkan tali dasi ke lehernya saat akan mengikatnya Felicia menariknya.
"Biar aku saja. Jika kamu yang memasangnya tidak akan rapi," ucap Felicia.
Felicia mulai mengikat dasi ke leher Kenzo. Dengan telaten dan penuh kesabaran Felicia menata ikatan dasi itu serapi mungkin.
"Sudah selesai," seru Felicia.
"Terima kasih. Masalahku selesai sekarang." Kenzo mendaratkan kecupan di kening Felicia sebagai hadiahnya.
Jarak yang begitu dekat membuat Felicia bisa mencium wangi parfum yang biasa suaminya pakai, harum dan sangat menenangkan.
"Aku suka wangi tubuhmu," ucap Felicia.
Kenzo langsung mempertemukan pandangannya dengan Felicia. Bola mata coklat milik istrinya selalu saja mencuri perhatiannya.
__ADS_1
Tangan Kenzo bergerak untuk mengusap sisi wajah Felicia. Tanpa sengaja ibu jarinya menyentuh bibir Felicia yang pernah ia kecup. Ada kerinduan setelah sekian lama tidak mengecup bibir itu.
Makin lama memandang bibir milik istrinya membuat Kenzo tidak sabar untuk mengecupnya. Kenzo mendekatkan wajahnya ke wajah Felicia untuk mengecup bibirnya. Sudah lama ia tidak mengecup bibir Felicia dan rasanya masih sama, manis!
Felicia tidak menolak kecupan yang diberikan oleh suaminya. Karena dirinya juga menginginkannya. Felicia mulai hanyut dalam kebersamaan mereka membuat Felicia mulai membalas kecupan yang diberikan oleh Kenzo.
Felicia menarik dirinya lebih dulu saat merasa pasokan oksigen dalam dirinya mulai menipis. Keduanya masih berada dalam jarak yang begitu dekat hingga mereka sama-sama bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.
"Kenzo ...," panggil Felicia.
"Hmm, ada apa?" tanya Kenzo dengan suara lembutnya.
"Aku ingin bercinta," ucap Felicia.
Felicia tidak tahu kenapa kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulutnya, tetapi Felicia sungguh sangat ingin tubuhnya disentuh oleh suaminya.
Kenzo terdiam mendengar permintaan istrinya. Dirinya merasa berada di antara rasa terkejut, senang, dan bingung. Untuk pertama kalinya istrinya mengajaknya bercinta. Apakah dirinya sedang bermimpi?
Beberapa saat kemudian Kenzo beranjak dari hadapan Felicia. Kini Kenzo berdiri dengan membelakangi Felicia.
"Kenzo ... apa kamu menolakku?" tanya Felicia dengan suaranya yang lirih, tetapi masih bisa Kenzo dengar.
Felicia menelan pil pahit saat Kenzo mulai menjauh darinya. Rasanya ingin menangis saat suaminya sendiri menolaknya. Felicia menunduk untuk menyembunyikan air matanya, tetapi wajahnya kembali mendongak saat telinganya mendengar suara putaran kunci.
Tenyata suaminya tidak meninggalkan dirinya. Suaminya mengunci pintu dan menutup semua gorden kamarnya lalu kembali ke tempatnya berada.
Jantung Felicia berdegup kencang saat Kenzo membuka kembali ikatan dasi dan juga membuka kemejanya. Wajahnya menunduk malu saat melihat Kenzo sudah bertelanjang dada.
"Kenzo ...." Felicia melenguh saat merasakan sentuhan tangan suaminya di wajahnya.
"Bagaimana bisa aku menolak saat kamu memintanya," ucap Kenzo dibalas senyuman oleh Felicia.
"Jadi ... bagian tubuhmu mana dulu yang harus aku sentuh?" bisik Kenzo.
"Terserah kamu," cicit Felicia.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyentuh manapun yang aku suka," bisik Kenzo.
Suara lembut Kenzo begitu menggoda di telinganya.
"Kamu siap?" tanya Kenzo disambut anggukkan kepala oleh Felicia.
__ADS_1
Kenzo dan Felicia kembali menyatukan bibir mereka. Kecupan yang awalnya begitu lembut berubah menjadi kecupan yang jauh lebih menuntut. Lenguhan kecil keluar dari mulut keduanya saat tubuh mereka menyatu sempurna. Kenzo mengatur ritme gerakannya agar tidak menyakiti janin yang ada dikandungan istrinya.
Pagi itu terasa begitu indah saat mereka kembali bersama dalam sebuah kenikmatan. Kebersamaan mereka terus berlanjut hingga mereka sampai pada puncak kenikmatan.