
Ketukan pintu di depan kamar terdengar. Namun, Flora mengabaikannya. Rasanya sangat lelah, lelah tenaga dan batinnya. Dari semalam ia menangis dan berhenti saat ia tertidur.
Flora pikir setelah ia menikah dengan Gio, kehidupannya akan sangat bahagia. Namun, semua itu hanya mimpi, pada kenyataanya semalam Gio sudah mengatakan dengan lantang jika suaminya itu sangat membencinya.
“Bu Flora, ada ibu Seruni.”
Mendengar nama ibunya, Flora segera membuka matanya.
“Iya,” sahut Flora.
Flora melihat jam yang tergantung di dinding kamar itu yang sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Flora menyibakkan selimutnya lalu beranjak dari tempat tidur. Dengan terburu-buru Flora melangkah menuju pintu. Tangannya bergerak untuk membuka pintu kamarnya.
“Maaf, Bu. Ada Ibu Seruni di bawah,” ucap Bibi.
“Iya, Bi. Suruh ibuku ke sini ya,” pinta Flora.
“Baik, Bu,” sahut Bibi.
“Bu maaf ... Ibu baik-baik saja, 'kan? Semalam saya dengar —” Ucapan bibi terpotong oleh Flora.
“Saya baik-baik saja. Bi, saya minta tolong apapun yang Bibi lihat semalam jangan sampai orang luar tahu, termasuk ibu saya,” pinta Flora.
“Baik, Bu. Maafin bibi ya, bibi tidak berbuat apa-apa.” Ada nada penyesalan pada nada bicara bibi.
“Tidak apa-apa, Bi.”
“Ya sudah, sekalian saya bikin sarapan buat Ibu ya,” tawar Bibi.
“Boleh, Bi. Oh iya bapak sudah berangkat ke kantor?” tanya Flora.
“Sudah, Bu,” sahut bibi.
“Ya sudah, suruh ibuku ke sini ya, Bi,” pinta Flora.
“Baik, Bu. Kalau begitu saya turun dulu,” pamit Bibi.
Flora menutup kembali menutup pintu kamarnya setelah bibi pergi. Segera Flora langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Di dalam kamar mandi, Flora melihat pantulan dirinya di cermin. Lingkaran matanya menunjukan jika ia menangis semalam. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Gio bisa begitu membencinya kenapa dia berubah drastis seperti itu?
Pernyataan itu muncul di benak Flora.
Flora benar-benar tidak mengerti, dalam sekejap sejuta rasa cinta yang Gio berikan kini berubah menjadi kebencian.
“Flora, kamu di dalam, Nak,” panggil Seruni.
Lamunannya Flora langsung terbuyar saat telinganya mendengar suara ibunya. Dengan segera Flora membasuh mukanya lalu mengeringkannya dengan handuk.
“Iya, Bu ... sebentar,” sahut Flora.
__ADS_1
Flora keluar dari dalam kamar mandi setelah lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan rasa sesak dalam dirinya.
Saat pintu terbuka Flora bisa melihat wajah ibunya. Ingin sekali ia menangis, tetapi Flora mencoba menahannya.
Wajah sedih Flora terlihat jelas di mata Seruni. Ia menebak jika anaknya habis menangis.
“Nak, kamu baik-baik saja?” tanya Seruni.
“Flora baik-baik saja kok, Bu,” jawab Seruni.
“Kamu habis menagis? Kamu masih inget ayah kamu?” tanya Seruni dan Flora hanya mengangguk saja.
“Bukan hanya itu Bu, tapi tentang nasib pernikahanku dengan Gio,” batin Flora.
“Ya sudah kamu duduk dulu, tadi bibi nitip susu sama roti isi buat kamu.” Seruni memberikan susu dan roti pada Flora.
Lalu membawa anaknya untuk duduk di atas tempat tidur.
Flora makan sedikit demi sedikit. Pagi itu rasanya Flora tidak napsu makan. Flora masih memikirkan ucapan Gio semalam.
Flora memutuskan untuk menyudahi sarapannya dan meletakan sisa sarapannya di atas meja nakas.
“Kok gak di habisin, Nak?” tanya Seruni.
“Flora sudah kenyang,” jawab Flora.
Flora kembali duduk di atas tempat tidur lalu merebahkan kepalanya dia atas pangkuan ibunya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan, Nak?” tanya Seruni seraya mengusap kepala Flora.
"Ini mengenai ayah, Bu,” jawab Flora.
“Ayah kamu?”
Flora mangangguk, “Apa istrinya ayah ... maksud aku ibunya Gio tahu tentang hubungan Ibu sama ayah?” tanya Flora.
Seruni melihat sejenak ke arah Flora lalu menyunggingkan senyumnya. “Kenapa, kamu mendadak bertanya hal itu?”
“Hanya ingin tahu saja, Bu?” jawab Flora.
“Ayah kamu pernah bercerita pada ibu tentang istrinya. Istrinya sama sekali tidak pernah mengentahui tentang hubungan ayah sama ibu,” jawab Seruni.
“Lalu bagaimana ibunya Gio bisa meninggal?” tanya Flora.
“Dan ibunya Gio itu meninggal ... karena ... dia mengakhiri hidupnya sendiri karena merasa bersalah pada ayah kamu, Flora,” ungkap Seruni
apa.
Dari nada bicara ibunya, Flora tahu jika ibunya sangat berat untuk mengatakannya.
“Merasa bersalah! Maksud ibu?” tanya Flora tidak mengerti.
__ADS_1
“Waktu ayah kamu meniggalkan ibu, beliau kembali menata rumah tangganya bersama istrinya lagi. Mereka mencoba melupakan perseligkuah istrinya. Ayah kamu tidak mengungkit tentang siapa Gio dan tetap menganggap Gio sebagai darah dagingnya sendiri. Ayah kamu begitu sangat menyayangi Gio,” jelas Gio.
“Dan ternyata kasih sayang ayah kamu terhadap Gio membuat istrinya merasa sangat bersalah. Hingga setiap kali melihat Gio rasa bersalah itu selalu muncul pada diri ibunya Gio. Suatu saat istri ayah kamu memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menanggung rasa bersalah itu, Nak,” ungkap Seruni.
“Jadi maksud ibu secara tidak langsung karena Gio ibunya memilih mengakhiri hidupnya sendiri,” ucap Flora.
“Ya, bisa dibilang begitu,” balas Seruni.
“Ayah kamu sebenarnya tidak pernah menganggap seperti itu, ayah kamu sudah melupakan kesalahan istrinya dan sangat mencintai istrinya. Maka saat istrinya meninggal, ayah kamu tidak ingin mencari wanita lain untuk menggantikan posisi istrinya. Selain itu ayah kamu juga takut jika istri barunya tidak akan tulus menyayangi Gio,” ucap Seruni.
“Termasuk tidak mencari Ibu?” tanya Seruni.
“Ya, Nak,” ucap Seruni.
“Apa Ibu kecewa terhadap ayah?” tanya Flora.
"Ibu pernah merasa kecewa atas sikap ayah kamu, tapi setelah ibu piki-pikir itu sudah menjadi masa lalu. Lagipula karena kesalahan ibu di masa lalu ibu mendapatkan anak baik seperti kamu,” ucap Seruni.
Seruni menarik hidung Flora seraya menyungginkan senyum tipisnya, berharap Flora akan merasa terhibur.
Jadi ini yang terjadi. Berarti selama ini Gio sudah salah paham. Aku harus mengatakan ini pada Gio. Tapi ...apa Gio akan mempercayai ucapanku.
“Nak.” Panggilan Seruni mengejutkan Flora.
“Iya, Bu,” sahut Flora.
“Ibu minta jangan beritahu tentang ini pada Gio. Dia sudah sangat terpukul dengan kepergian ayah kamu. Ibu takut hatinya akan hancur jika mengetahui tentang ini,” pinta Seruni.
“Iya, Bu,” ucap Flora.
Mata Seruni melihat tidak sengaja melihat jam pada dinding kamar anaknya. Jam itu sudah menunjukan pukul 12 siang.
“Ini sudah siang. Ibu pulang dulu ya,” pamit Seruni.
“Ibu kenapa gak lebih lama di sini?” Flora kembali bersedih saat ibunya akan pergi.
“Ibu masih ada kerjaan, Nak. Besok-besok ini ke sini lagi,”ucao Seruni.
“Ya sudah, Flora akan antar Ibu,” ucap Flora.
“Tidak usah. Kamu kelihatan pucat. Lebih baik kamu istirahat,” tolak Seruni.
“Bailkah, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik,” pesan Flora. “Aku juga sudah pesankan taksi untuk ibu,” lanjut Flora.
“Kamu juga. Jaga diri kamu dan juga suami kamu, Nak. Salam buat Gio,” ucap Seruni yang langsung diangguki oleh Flora.
Keduanya beranjak dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar itu. Flora mengantar ibunya sampai teras rumahnya bertepatan dengan datangnya taxi online yang Flora pesan sebelumnya.
Flora mengatar ibunya sampai masuk ke dalam taksi. Ada rasa lega dalam diri Flora setelah mendengar cerita ibunya. Kini Flora tahu penyebab ibunya Gio mengakhiri hidupnya bukan karena hubungan antara ayahnya dan ibunya.
Berarti ada yang meracuni pikiran Gio. Aku harus tahu siapa orang itu.
__ADS_1
Slow up gaes. Mau lebaran sama lagi revisi karya ini. Tenyata banyak kesalahan di awal, hihihi hihihi