
Awalnya Flora merasa bingung, ditujukan untuk siapa tulisan itu?
"Romantis sekali," batin Flora.
Flora terkejut saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Namun, Flora sangat mengenali orangnya.
"Will you marry me, Flora."
Jantung Flora berdegup kencang saat Gio membisikan kalimat itu di telinganya.
"Gio ... apa itu untuk aku?" Flora menunjukan dekorasi yang ada di hadapannya.
"Tentu saja. Memang kamu ingin aku melamar perempuan lain?" ledek Gio.
Flora tertawa kecil lalu berbalik untuk menghadap kepada Gio. Wajah tampan Gio terlihat jelas di matanya.
Sesat keduanya mempertemukan pandangan mereka sebelum akhirnya Gio menekuk satu lututnya di hadapan Flora. Tangan Gio meraih satu tangan dan menggenggamnya. Gio mengangkat wajahnya untuk bisa melihat wajah Flora.
"Flora ... maukah kau menikah denganku? Menjadi ibu dari anakku?" Gio menunjukkan cincin di tangan kanannya.
Hati Flora tersentuh mendengar kalimat yang Gio utarakan. Rasa bahagia membuat Flora tidak bisa mengatakan apapun.
"Terima, terima!"
Flora menoleh ke asal suara dan melihat teman-temannya.
"Flora, aku bertanya sekali lagi padamu ... will you marry me," ulang Gio.
Flora kembali menoleh ke arah Gio. Setelah menarik napasnya, Flora menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
"Tidak ada alasan untuk aku tidak menerima dirimu, Gio," ujar Flora.
Senyum Gio mengembang setelah mendengar jawaban dari Flora. Ia kecup punggung tangan Flora sebelum berdiri.
"Terimakasih, Flora," ucap Gio dibalas anggukan kepala Flora.
Gio menyematkan cincin ke jari manis Flora. Dan memberikan satu kecupan pada kening Flora dalam jeda waktu yang lebih lama.
Flora melihat cincin yang melingkar pada jari manisnya. Rasa bahagia tidak bisa Flora ungkapkan. Tidak kuat menahan perasaannya, Flora langsung memeluk tubuh Gio. Tepukan tangan dari semua orang yang melihat adegan itu membuat suasana semakin membahagiakan.
"Aku mencintaimu, Gio. Sangat, sangat, sangat." Flora menangis haru di dalam pelukan itu.
Gio mengusap punggung dan mencium ujung kepala Flora. "Aku juga sangat mencintaimu."
Tetesan demi tetesan air mata mengiringi sejuta rasa bahagia dalam diri Flora. Bahkan Flora tidak tahu bagaimana cara menggambarkan kebahagiannya malam itu.
Gio lebih dulu menarik diri lalu mengusap tetesan air mata yang jatuh di pipi Flora.
Flora merasakan tangan Gio mengusap pipinya. Wajahnya tertunduk untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya. Namun, Gio tidak membiarkan itu, diangkatnya wajah Flora agar ia bisa melihat wajah cantik kekasihnya.
Beberapa saat kemudian, Flora dan Gio menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu mereka tidak jauh dari pinggir pantai.
__ADS_1
"Flora ...," seru Mutya.
Mutya langsung memeluk Flora dan mengucapkan selamat padanya.
"Flora, selamat ya." Mutya melihat cincin yang melingkar pada jari manisnya. "Cincinnya bagus banget."
"Jadi kamu sudah tahu tentang ini? Dan kamu tadi ngerjain aku?" Nada bicara Flora dibuat kesal.
"Maaf ya, aku cuma disuruh sama pak bos." Mutya melirik ke arah Gio.
Flora memicik tajam ke arah Gio. Namun, justru membuat kekasihnya itu terkekeh.
"Oh iya siapa wanita itu?" tanya Flora.
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya menyewanya 15 menit saja," jawab Gio dengan kekehanya.
Flora mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya. Wajah Flora yang nampak lucu membuat orang yang melihatnya tertawa.
"Sudahlah, ayo kita makan malam bersama," ajak Gio yang langsung dianggukki oleh Flora dan yang lainnya.
Gio dan seluruh bawahannya melangkah bersama menuju salah satu restoran. Sepuluh meja juga sudah Gio pesan untuk para karyawannya.
-
-
-
-
"Apa kamu tidak merasa dingin?"
Flora menoleh setelah mendengar suara Gio.
"Ini sudah malam, dan kamu masih ada di sini?" tanya Gio.
"Kamu dengar suara ombak itu? Suaranya sangat menenangkan," ucap Flora.
"Ya, sangat menenangkan," imbuh Gio.
Flora mengusap kedua lengannya karena merasa dingin.
Gio yang melihat itu, tersenyum pada Flora. Gio melepas jasnya lalu memakainya ke pundak Flora.
"Pakai ini! Aku tidak mau kamu sakit," ucap Gio.
"Terimakasih." Flora menjatuhkan kepalanya ke pundak Gio. "Kamu sungguh manis sekali."
"Gio ...," panggil Flora.
"Hmmm, ada apa?" tanya Gio.
"Terimakasih untuk malam ini. Aku sangat bahagia," ucap Flora seraya melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
"Aku juga." Gio mengecup kening Flora. "Ayo masuklah! Di sini makin dingin," ajak Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
Keduanya berdiri, Flora menepuk-nepuk gaun yang ia kenakan untuk menghilangkan pasir yang menempel pada gaunnya.
"Yuk!"
Flora kembali menyatukan tangannya dengan tangan Gio, mengisi ruang pada setiap sela jari-jari mereka.
Gio membawa Flora ke resort tempat ia menginap. Kamarnya lebih besar dan ada kolam renang di sampingnya. Gio sengaja membawa Flora karena ingin menghabiskan malam bersamanya.
Keduanya merebahkan tubuh mereka pada kursi malas yang ada di pinggir kolam. Lebar kursi yang tidak seberapa membuat tubuh mereka berada sangat dekat. Jarak mereka hanya dibatasi oleh kain yang melekat di tubuh mereka.
Flora tidur dengan menjadikan lengan Gio sebagai bantal. Pandangan mereka mengarah pada bintang yang bertaburan di langit malam yang gelap. Tidak ada yang mengeluarkan satu kata pun. Hanya hati mereka yang saling berbicara.
Beberapa saat kemudian, keduanya mempertemukan pandangan mereka. Pandangan penuh rasa cinta. Gio menggerakkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Flora. Pandangannya masih menatap lurus wajah Flora. Sampai pada akhirnya, Gio memiringkan kepalanya untuk dan mengecup bibir Flora.
Flora pun membalas kecupan Gio. Awalnya hanya sebuah kecupan lembut, tetapi makin lama, kecupan itu berubah menjadi lebih menuntut. Beberapa saat kemudian, kedua sama-sama menarik diri saat mereka merasakan hampir kehabisan napas.
Jarak mereka masih begitu dekat hingga mereka bisa merasakan hembusan napas mereka satu sama lain. Tatapan mereka masih bertemu pada satu titik yang sama. Tidak ada yang ingin mengakhiri itu.
Gio bangun dan mengangkat tubuh Flora, membawanya masuk ke dalam kamar. Gio merebahkan tubuh Flora ke atas tempat tidur. Gio masih ingin bersama Flora membuatnya kembali menyatukan bibir mereka.
Flora sendiri tidak bisa menolaknya. Flora kembali membalas kecupan Gio seperti pada awalnya. Keduanya mulai memejamkan matanya menikmati apa yang sedang mereka lakukan.
Gio hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya, hingga ia sadar saat merasakan cengkraman tangan Flora pada pundaknya. Dengan segera Gio menarik diri dan menjauh dari Flora.
"Maaf, Flora." Gio berdiri membelakangi Flora.
Gio membuang napasnya kasar dan berjalan ke arah jendela sembari mengusap wajahnya kasar.
Flora yang masih ada di tempat tidur, bangun dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Meskipun gaunnya tidak lepas dari tubuhnya. Flora langsung menundukkan wajahnya. Sejujurnya Flora juga hampir saja tidak bisa menahan dirinya, hingga bayangan masa lalu ibunya muncul di dalam benaknya.
Gio melihat wajah murung Flora, membuat tumbuh rasa penyesalan dalam dirinya. Setelah menarik napasnya, Gio melangkah menghampiri Flora. Gio mengambil posisi duduk di samping Flora. Sekilas ia memandang Flora yang masih tertunduk.
"Maafkan aku, Flora. Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku," ucap Gio.
Flora menggelengkan kepalanya masih dengan wajah yang tertunduk.
Gio tidak bisa melihat Flora bersedih, lalu ia pun menarik tubuh Flora masuk ke dalam pelukannya.
"Aku memang sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya, membuat aku tidak bisa mengendalikan diriku," aku Gio.
"Aku takut jika setelah ini kamu akan meninggalkan aku. Aku takut jika sesuatu yang terjadi pada ibuku, terjadi padaku," ucap Flora.
"Tidak akan, Flora. Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Aku akan jadikan kamu sebagai wanita terakhirku, Flora," janji Gio. "Dan Aku tidak akan merusakmu sampai kamu resmi menjadi milikku ... aku janji Flora," lanjut Gio.
Flora mengangguk dalam pelukan Gio.
Gio menjauhkan sedikit tubuhnya dari Flora, agar ia bisa melihat wajah Flora dengan jelas. Kecupan lembut Gio berikan pada kening Flora.
"Tidurlah!" ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
Gio membantu Flora merebahkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuhnya. Setelah itu Gio melangkah ke arah sofa untuk tidur di sana.
__ADS_1