
“Cucuku.” Mariana berseru saat melihat foto USG kandungan Flora.
Bukan hanya Mariana yang nampak sangat senang, seluruh keluarga Ferdinand pun nampak sangat bahagia dan tidak sabar menyambut bayi yang akan menjadi penerus keluarga mereka.
Kini dua keluarga itu sedang berkumpul di kediaman Gio dan Flora untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan esok hari dan juga untuk merayakan kebahagiaan Daniel dan Maura, akhirnya pernikahan mereka akan dipercepat.
“Aku jadi pengin cepet punya anak,” ucap Maura saat melihat foto hasil USG Flora.
“Ehmmm, kode keras tuh untuk Daniel.” Gio berucap untuk menggoda Daniel serta Maura.
Maura langsung menutup wajahnya yang merona di belakang tubuh Daniel, yang makin membuat semua orang makin gencar untuk menggodanya.
“Sudah jangan menggoda calon pengantin itu, ayo kita makan malam dulu. Semuanya juga sudah siap,” ajak Seruni.
“Ya ayo,” sambung Mariana. “Aku juga sudah kelaparan.”
“Gio, ajak istrimu makan. Jangan ciumi terus perut istrimu, tante geli lihatnya,” ucap Mariana.
“Tante sirik nih. Bilang saja pengin dicium sama om Ardi,” ledek Gio.
Bantal sofa melayang dan mendarat tepat di wajah Gio.
“Anak kurang ajar,” maki Mariana yang justru membuat Gio makin tergelak.
“Percuma ngomong sama Gio, Mah. Dia itu gak tahu malu,” imbuh Daniel.
“Alaah, bilang saja kamu juga sirik. Tuh minta dikelonin sana sama calon istri kamu,” seloroh Gio.
“Kalau ngomong jangan sembarang,” omel Daniel.
Daniel langsung menoyor kepala Gio yang langsung dibalas oleh Gio.
Mata Daniel dan Maura sama-sama membulat setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Gio. Daniel merasa heran kakak sepupunya itu kalau bicara hal-hal berbau mesum enteng banget.
“Apa?”
“Apa?”
“Ya ampun ... kalian ini.” Mariana memisahkan anak dan juga keponakannya. “Kalian ini seperti anak kecil saja. Setiap bertemu pasti ujung-ujungnya berantem.”
“Dia duluan tuh.” Gio menunjuk Daniel.
“Dih ... fitnah,” balas Daniel.
Mariana menggelengkan kepalanya seraya menarik napasnya dalam-dalam. Berharap dirinya diberikan kesabaran ekstra untuk menghadapi anak dan juga keponakanya.
“Flora, Maura ... bawa pasangan kalian masing-masing,” suruh Mariana.
Flora lebih dulu mengajak Gio ke meja makan, menjauhkannya dari Daniel.
“Awas saja kalau kamu sampai nyakar wajah suamiku. Aku gak akan maafin kamu,” ancam Flora. “Nanti ilang gantengnya.”
“Muka pasaran kaya gitu aja dibelain,” balas Daniel.
Daniel sengaja melempar bantal sofa ke wajah Gio untuk membuat kakak sepupu yang sekaligus mantan pacarnya kesal.
“Daniel!” teriak Flora. “Ibu ...,” rengek Flora.
“Daniel, jangan ganggu perempuan yang sedang hamil. Bahaya loh,” ledek Seruni yang langsung membuat semua orang tergelak.
“Ibu sama saja.” Flora melipat kedua tangannya seraya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Tanpa Flora duga Gio mencuri ciuman di bibir Flora membuat semua orang berseru.
“Kamu benar Daniel, kakak kamu itu memang tidak tahu malu,” ejek Mariana.
“Sudah ayo makan malam, jangan marah-marah mulu, nanti darah tinggi kamu naik,” ucap Ardi.
Semua orang sudah duduk di meja makan. Kini semua orang sedang makan malam, tidak ada yang berbicara, hanya suara dari dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah kembalinya Gio di antara mereka membuat keluarga itu serasa hidup kembali.
*****
Keesokan harinya tepat pukul 10 pagi acara tujuh bulanan Flora akhirnya digelar. Banyak para tamu undangan yang hadir dalam acara itu, di antaranya ada Rossa beserta anak dan juga suaminya, ada juga Tiara, sahabat yang selalu mendukung dirinya dari dulu hingga sekarang.
Flora sudah didandani sedemikian rupa, bak pengantin yang sedang hamil. Aura kebahagian terpancar sangat jelas di wajah Flora begitu juga dengan Gio. Tinggal menunggu waktu dua bulan mereka akan resmi menjadi orang tua.
Flora dan Gio benar-benar sangat menantikan kelahiran bayi perempuan yang akan melengkapi keluarga kecil mereka.
Acara tujuh bulanan itu berlangsung hingga sore hari. Lelah? tetapi mereka tidak merasakan itu. Hanya kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.
Hingga hari sudah menjelang malam semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing termasuk Daniel dan keluarganya.
“Semua sudah pulang ... jadi sepi,” ucap Gio.
“Nanti kalau anak kalian sudah lahir pasti rumah ini jadi rame,” sambung Seruni.
“Iya, Bu. Aku jadi sudah tidak sabar menunggu anak kami lahir,” ucap Flora.
“Ya sudah ini sudah malam, kalian istirahat saja,” suruh Seruni yang langsung diangguki oleh Flora dan juga Gio.
Flora dan Gio sudah mengganti pakaian mereka dengan yang lebih santai. Kini mereka sedang duduk di atas tempat tidur. Flora menyenderkan kepalanya di pundak suaminya, posisi yang sangat nyaman.
Gio sendiri melingkarkan satu tangannya ke pinggang sang istri sedangkan tangan satu lagi ia gunakan untuk mengusap perut buncit istrinya.
Hingga pada akhirnya Gio lebih dulu membuka suaranya.
“Kamu sudah tidur, Flora?” tanya Gio.
“Belum,” jawab Flora.
“Kenapa belum tidur?” Gio bertanya lagi.
“Aku belum mengantuk, aku masih ingin bersamamu,” jawab Flora.
Mereka berbicara tanpa mengubah posisi mereka.
“Ini sudah malam, tidurlah!” suruh Gio.
Flora mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya dengan jelas. Senyum Flora mengembang saat pandangannya bertemu dengan suaminya.
“Aku masih kepikiran sama Bella deh,” ucap Flora.
“Ck, kamu merusak suasana saja. Ngapain mikirin dia,” protes Gio.
“Aku kasihan saja sama dia,” ucap Flora.
“Biarkan saja, dia saja tidak kasihan pada dirinya sendiri. Lagian apa kamu lupa dia sudah melukai kepalaku. Untung aku gak kehilangan ingatanku lagi,” ucap Gio.
“Lebay,” cibir Flora.
Bib bib bib
__ADS_1
Pembicaraan Gio dan Flora terhenti saat ada notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Gio.
Gio mengambil ponselnya yang ada di meja nakas. Dibukanya pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Alis Gio terangkat sebelah saat nama yang baru saja mengirimnya pesan.
“Pesan dari siapa?” tanya Flora.
“Bella,” jawab Gio.
“Hah!”
“Lihat! Kita sedang membicarakan dia dan dia langsung mengirim pesan. Mungkin kalau kita sebut namanya tiga kali ... dia akan muncul di hadapan kita,” ucap Gio.
Flora tertawa mendengar perkataan suaminya. Ada-ada saja, dikira Bella itu jin.
“Apa yang dia tulis?” tanya Flora.
Gio tidak menjawab, tetapi langsung menunjukan pesan yang baru dikirim oleh Bella.
Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia.
Flora mendadak merasa kesal setelah membaca pesan dari Bella.
“Apa dia sudah kehilangan akal?” maki Flora. “Aku mencoba untuk berteman dengannya, tapi dia justru mengibarkan bendera perang,” ucap Flora.
“Jangan dipikirkan, kamu fokus saja pada pada diri kamu,” ucap Gio. “Aku tidak mau kamu terlalu banyak berpikir dan akan berpengaruh pada kehamilan kamu.”
Flora mengangguk.
“Masalah Bella sudah aku urus. Besok kita akan bertemu dengan keluarganya Elang,” ucap Gio. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elang dan juga Bella dulu.”
“Benarkah?” tanya Flora.
“Iya.” Gio mengangguk.
“Semoga kita bisa segera mengakhiri semua ini. Setelah kita lepas dari Daren aku ingin hidup dengan tenang bersama keluarga kita,” ucap Flora.
“Ya, Sayangku,” sambung Gio.
Flora kembali merebahkan kepalanya di pundak Gio. Namun, tiba-tiba Flora menunjukkan wajah galaknya pada Gio.
“Jangan tunjukan wajahmu yang sangat menggemaskan itu,” ucap Gio.
Flora memicik tajam. “Kok kamu masih nge- save nomor Bella?”
Gio tersenyum dengan menunjukan deretan giginya. Memang nomor di ponselnya belum sempat ia cek lagi.
“Aku belum sempat menghapusnya, Sayang,” ucap Gio.
“Bohong!” tuduh Flora.
Gio menghela napas panjang. “Semoga anak kita nanti tidak se-galak dirimu.”
“Huh, galak-galak juga kamunya cinta mati,” ucap Flora dengan bangganya.
Flora dan Gio tertawa bersama melupakan semua yang kesedihan yang pernah mereka lalui.
“Aku sangat mencintaimu, Flora,” bisik Gio. “Dan tentunya juga dengan anak kita ini.”
“Kami juga sangat mencintaimu, Suamiku,” balas Flora.
“Sekarang tidurlah!” ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
__ADS_1
Enaknya Bella diapain ya?