Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Memulai Dengan Pertengkaran


__ADS_3

Belum juga ada dua jam Felicia berada di rumah kedua orang tuanya, Kenzo sudah datang untuk menjemputnya. Akan tetapi bukannya menemui suaminya Felicia justru lebih memilih untuk tetap di dalam kamar.


"Suruh saja dia pulang, Mah," pinta Felicia.


"Loh kenapa begitu?" tanya Flora.


"Aku mau nginep di sini untuk beberapa hari," jawab Felicia.


"Kamu ada apa sama Kenzo? Kalian ada masalah?" tanya Flora.


"Tidak ada, Mah. Aku cuma mau menginap di sini saja," jawab Felicia.


Flora berjalan mendekati anaknya yang sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi tengkurap.


"Nak, kalau kalian ada masalah selesaikan baik-baik." Flora berucap seraya mengusap rambut Felicia.


"Kami tidak ada masalah, Mah," kilah Felicia.


"Kalau memang tidak ada masalah kenapa kamu tidak mau menemui suamimu?" desak Flora.


"Malas saja, nanti disuruh pulang," jawab Felicia.


"Kamu ini seperti anak kecil saja," ucap Flora. "Dengar, Nak. Jika kamu tidak mau bicara terus terang sama Mamah ya tidak apa-apa. Mamah hanya mau kasih tahu kamu, suamimu sudah punya itikad baik datang ke sini. Mungkin saja dia ke sini untuk menyelesaikan masalah kalian. Jadi ... hargai usaha suamimu."


"Iya, Mah." Felicia menyahut dengan nada malas.


"Ya sudah Mamah mau turun dulu, mau nemuin mantu kesayangan Mamah," ucap Flora.


"Terserah Mamah saja." Felicia membenamkan wajahnya di atas bantal yang sedang ia tiduri.


Saat Flora akan keluar dari kamarnya langkahnya terhenti saat ada yang mengetuk pintu kamar itu. Dari tempatnya Flora bisa melihat keberadaan menantunya.


"Kenzo." Flora berucap seraya melihat ke arah anaknya.


Mendengar nama Kenzo disebutkan Felicia juga mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Matanya menangkap sosok Kenzo berdiri di depan kamarnya.


"Boleh saya bicara dengan Felicia?" tanya Kenzo.


"Tentu saja —" Ucapan Flora terpotong oleh perkataan Felicia.


"Tidak," sela Felicia.


Flora mendelik ke arah Felicia. "Felicia, jangan seperti itu."


Pandangan Flora beralih kepada menantunya. "Silahkan masuk dan kalian bicaralah. Jika ada masalah selesaikan dengan baik-baik. Mamah tinggal dulu."


Kenzo mengangguk untuk merespon perkataan ibu mertuanya.


Setelah mengatakan itu, Flora melangkah pergi meninggalkan kamar itu, meninggalkan anak dan juga menantunya.


Kenzo masuk ke dalam kamar istrinya setelah mertuanya sudah pergi dari kamar itu. Setelah masuk Kenzo menutup pintunya bahkan menguncinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengunci pintunya?" Felicia langsung bangun dan mengambil posisi duduk.


"Agar tidak ada orang melihat apa yang akan kita lakukan," jawab Kenzo.


"Memang apa yang mau kita lakukan?" Felicia bertanya dengan nada gugup.


Jantung Felicia berdegup kencang saat Kenzo mulai berjalan mendekatinya. Terlihat di matanya jika Kenzo sedang mengendurkan ikatan dasi di lehernya. Felicia turun dari atas tempat tidur dan berjalan mundur untuk menghindari Kenzo.


Bugh


Langkah Felicia berhenti saat tubuh bagian belakangnya menabrak tembok. Pandangan Felicia tetap mengarah pada Kenzo yang makin lama semakin mendekat. Sudah tidak ada jalan lain, karena dirinya sudah terpojok.


"Mau apa kamu?" Mendadak Felicia menjadi tergagap.


"Kenzo kamu mau apa?" Felicia bertanya sekali lagi kepada suaminya, tetapi suaminya masih tidak menjawabnya.


Kenzo tidak menjawab. Dengan senyuman yang nakal Kenzo mendekati Felicia. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Felicia. Apa yang dilakukan oleh Kenzo berhasil membuat jantung Felicia berdetak makin tidak karuan.


"Kamu pikir bisa pergi dariku begitu saja." Ucapan Kenzo memang lirih, tetapi terdengar penuh dengan penekanan.


"Apa?" Saat melihat Kenzo dalam jarak yang begitu dekat mendadak membuat isi kepala Felicia berhenti bekerja.


Felicia menarik napasnya untuk menetralkan debaran jantungnya lalu ia mendorong tubuh Kenzo menjauh dari tubuhnya.


"Kenapa? Bukankah tanpa aku kamu jadi bebas bermain dengan siap saja di luaran sana! Kamu juga bisa bebas menemui Vera sesuka hatimu," ucap Felicia.


"Kamu cemburu?" tanya Kenzo.


"Padahal aku lebih suka jika mendenger kamu mengatakan cemburu," ucap Kenzo.


"Jangan berharap!" balas Felicia.


Kenzo tidak lagi merespon apapun perkataan Felicia. Ia justru menarik Felicia masuk ke dalam dekapannya.


"Aku mengakui malam itu memang aku menemui Vera," aku Kenzo.


"Aku tidak peduli! Itu juga bukan urusanku," ucap Felicia.


"Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya takut kamu akan salah paham," ucap Kenzo.


"Sejak kapan kamu peduli akan perasaanku?" Felicia bertanya dengan nada ketus.


"Aku datang juga karena terpaksa. Dia mengatakan akan melenyapkan dirinya sendiri jika aku tidak datang," ungkap Kenzo.


"Masa bodo," balas Felicia.


"Jangan salah paham. Aku tidak melakukan apapun dengannya. Aku hanya menemaninya agar dia merasa lebih tenang saja," ucap Kenzo.


"Terserah apapun yang mau kamu lakukan," ucap Felicia.


"Vera mengatakan jika dirinya habis dianiaya oleh suaminya. Makanya aku tidak tega meninggalkan dirinya," ucap Kenzo.

__ADS_1


"Untuk apa kamu menceritakan semua ini padaku?" tanya Felicia.


"Karena aku pikir kamu harus tahu," jawab Kenzo.


Felicia terdiam, begitu juga dengan Kenzo. Mereka sama-sama terdiam dengan posisi Kenzo yang masih memeluk Felicia. Sesaat keheningan mengambil alih suasana di antara mereka. Hingga Kenzo mengatakan sesuatu yang membuat Felicia terkejut.


"Felicia ...," panggil Kenzo.


"Hmmmm, ada apa?" tanya Felicia.


"Ayo kita mulai hubungan kita dari awal," ajak Kenzo.


Mata Felicia terbuka sempurna. Ia merasa terkejut saat mendengar ajakan Kenzo. Felicia mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Kenzo secara langsung. Tatapan penuh rasa curiga Felicia tunjukkan di wajahnya.


"Apa yang barusan kamu katakan? Apa kamu sakit?" Felicia meledek Kenzo melalui perkataanya.


"Kenapa kamu suka sekali meledekku?" Kenzo berdecak kesal.


"Karena kamu jarang sekali berucap manis padaku," ledek Felicia. "Apa yang barusan kamu katakan serasa bukan kamu yang mengatakannya."


"Sejak saat kamu memberiku sebuah pilihan aku mulai berpikir —" Kenzo berucap, tetapi sebelum ia menyelesaikan ucapannya Felicia lebih dulu memotongnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" sela Felicia.


Kenzo berdecak kesal karena istrinya suka sekali memotong ucapannya. Pada saat itu Kenzo hanya mampu menghela napas. Istrinya benar-benar selalu senang menguji kesabarannya.


"Aku sudah memilih untuk melupakan Vera, maka dari itu aku memilih untuk meneruskan perjodohan ini," jelas Kenzo.


"Benarkah? Lalu kenapa kamu masih memilih untuk menemuinya di belakang aku dan juga suaminya Vera?" tanya Felicia.


"Aku tidak bisa berpikir saat itu. Karena Vera mengatakan ingin melenyapkan dirinya. Jika benar-benar terjadi sesuatu padanya maka aku akan sangat merasa bersalah," ucap Kenzo.


"Jika kamu memang ingin melupakannya, maka biarkan saja jika dia ingin melenyapkan dirinya sendiri. Apa pedulimu? Kecuali jika kamu memang masih memiliki rasa cinta pada Vera," ucap Felicia.


Rasa kesal muncul di hati Kenzo saat istrinya terus saja menuduhnya. Kenzo melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Felicia.


"Aku sudah berterus terang padamu, jika kamu masih tidak percaya ... terserah padamu saja," ucap Kenzo.


"Bagus! Memang harus seperti itu. Sekarang pulanglah aku ingin menginap di sini," ucap Felicia.


"Kalau begitu aku juga akan menginap di sini," ucap Kenzo. "Ini juga rumah kedua orang tuaku."


Kenzo menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak peduli pada istrinya yang sedang mengoceh.


"Tidak bisa, kamu pulang saja! Kalau kamu di sini aku tidak bisa tidur dengan tenang," ucap Felicia.


"Lalu siapa yang mengurusku jika kamu menginap di sini!" ucap Kenzo.


"Aku tidak peduli denganmu," ucap Felicia.


"Itu tidak benar! Aku ini suamimu jadi kamu harus selalu peduli denganku!"

__ADS_1


__ADS_2