
Tubuh Kenzo membeku seketika saat mendengar ungkapan cinta yang keluar dari mulut Felicia. Rasa terkejutnya membuat Kenzo tidak bisa mengatakan apapun. Hatinya masih merasa tidak memercayai itu, bahkan Kenzo merasa jika dirinya sedang bermimpi.
Felicia sendiri tidak akan mempersoalkan reaksi Kenzo. Ia sangat tahu dengan jelas jika Kenzo pasti tidak akan merespon apapun, tetapi Felicia tidak akan merasa kecewa.
Sebelumnya Felicia sudah mempersiapkan hatinya dengan kemungkinan terburuk, jika Kenzo menolaknya ataupun tidak menganggapnya, Felicia tidak akan kecewa.
Perasaannya pada Kenzo itu tulus. Bukankah mencintai dengan tulus itu tidak akan mengharapkan balasan apapun. Felicia hanya ingin Kenzo tahu akan perasaannya. Masalah Kenzo akan membalasnya atau tidak, itu urusan nanti.
"Aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Aku menyadarinya saat aku tidak bisa jauh darimu, tidak bisa melihatmu bersama perempuan lain," ucap Felicia.
Felicia masih memeluk Kenzo dari belakang, menyadarkan kepalanya pada punggung Kenzo dengan mata yang terpejam. Kenzo sendiri masih pada posisinya, tenggelam dalam diam, tetapi jantungnya berdetak begitu kencang. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ungkapkan rasa cinta Felicia sungguh tidak terduga.
"Felicia ...." Kenzo meredam ucapannya karena tidak tahu harus mengatakan apa.
"Stttt, aku tidak akan memaksamu untuk membalasnya, aku juga tidak akan meminta balasanmu akan perasaanku ini. Aku hanya ingin kamu tahu jika aku mencintaimu, Kenzo," ucap Felicia.
Felicia mengendurkan pelukannya saat Kenzo bergerak dan berbalik. Kini keduanya berdiri dengan posisi saling berhadapan dengan mempertemukan pandangan mereka pada satu garis lurus yang sama.
Jantung Felicia berdegup kencang saat Kenzo mengusap sisi wajahnya.
"A-ku akan menu-nggumu, Kenzo." Felicia bicara tergagap karena rasa gugupnya saat Kenzo menatapnya penuh arti.
Kenzo tidak merespon apapun perkataan Felicia. Dirinya hanya menunjukkan senyumnya pada Felicia.
"Felicia ...," panggil Kenzo.
"Ya, Ke-nzo," sahut Felicia.
Kenzo membawa Felicia masuk ke dalam dekapannya. Ia mendekap Felicia dengan erat.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Masih ada kebimbangan dalam hatiku. Aku takut jika kebimbangan ini akan melukaimu. Aku harap kamu bisa menungguku sampai aku siap untuk kembali merasakan cinta," batin Kenzo.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Hmmmm, ada apa?" tanya Kenzo.
"Jaga dirimu terutama hatimu saat kamu berada di luar kota nanti," pinta Felicia.
Kenzo menarik dirinya lebih dulu dari pelukan itu.
"Bereskan barang-barangmu juga. Kamu ikut aku pergi ke luar kota," suruh Kenzo.
"A-pa?" Kebingungan muncul pada wajah Felicia mendengar perkataan Kenzo.
"Apa kamu tidak dengar!" Kenzo menyentil kening Felicia membuat Felicia memekik.
"Awww!" Felicia memekik seraya mengusap keningnya. "Apa yang kamu lakukan? Ini sakit."
"Aku menyuruhmu untuk ikut aku ke luar kota. Apa kamu tidak dengar? Apa perkataanku kurang jelas?" omel Kenzo.
"Iya, aku mendengarnya." Felicia mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Cepat bereskan barang-barangmu. Semua itu harus sudah selesai saat aku pulang dari kantor. Dan ingat jangan membawa barang terlalu banyak," perintah Kenzo.
"Iya, Suamiku." Felicia menunjukkan senyumnya pada Kenzo.
"Jangan senyum-senyum saja. Siapkan sarapan untukku," perintah Kenzo.
"Sudah, Suamiku. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, nasi goreng seafood," ucap Felicia.
"Bagus, akhirnya kamu bisa menjadi istri yang baik, yang bisa mengurus suami. Bukan istri yang selalu memikirkan pekerjaan dan mengomel," ejek Kenzo.
"Sudah diam. Jangan mengomel dan jangan terus mengejekku. Jangan merusak kebahagiaanku hari ini dengan omelanmu," ucap Felicia.
"Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Kenzo.
"Karena aku jatuh cinta padamu," jawab Felicia.
Kenzo tersenyum seraya mengecup kening Felicia dalam jeda waktu yang cukup lama. "Ayo kita sarapan."
"Ayo." Felicia mengangguk.
Keduanya sepakat untuk berhenti berdebat setelah sampai di meja makan. Keduanya mendaratkan bokong mereka pada kursi yang ada di meja makan. Mereka duduk bersebelahan.
Felicia mengambil piring dari hadapan Kenzo lalu mengisinya dengan nasi goreng.
"Ini makanlah." Felicia memberikan piring Kenzo yang sudah ia isi dengan nasi goreng.
"Terima kasih." Kenzo menerima piring yang diberikan Felicia.
Kenzo menyendok makanan yang dimasak oleh istrinya. Makanan itu Kenzo kunyah di dalam mulutnya sambil mengira rasanya.
"Aku minta resep ini dari mamah kamu," ucap Felicia.
"Pantas saja. Tapi tetap saja rasanya tidak seenak buatan mamah," ucap Kenzo.
"Iya aku tahu," ucap Felicia.
"Tapi lumayanlah," ucap Kenzo.
"Ya sudah kamu makan yang banyak ya. Jangan sampai kamu sakit lagi," ucap Felicia disambut anggukan kepala oleh Kenzo.
Hening mengambil alih suasana di meja makan. Yang terdengar hanyalah bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Kenzo menguyah makanan di mulutnya, tidak sengaja matanya melihat Felicia duduk diam seraya memandang dirinya.
"Ada apa? Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Kenzo.
"Anak kamu yang ingin melihat wajah ayahnya," kilah Felicia. Padahal dirinya yang ingin terus memandang wajah tampan suaminya.
"Kamu tidak makan?" tanya Kenzo.
"Tidak. Aku ingin lihat kamu makan saja," jawab Felicia.
__ADS_1
"Kamu harus makan banyak. Biar anak kita sehat." Kenzo menyendok nasi goreng yang ada di piringnya lalu menyuapkan ke mulut Felicia.
"Buka mulutmu," perintah Kenzo.
"Aaa!"
Felicia membuka mulutnya sesuai perintah suaminya. Satu sendok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Satu piring nasi goreng sudah berpindah ke perut Felicia.
"Anak baik," ucap Kenzo diikuti tawanya.
Tin tin tin
"Alan sudah datang. Aku berangkat ya," pamit Kenzo.
"Habiskan sarapanmu dulu," suruh Felicia.
"Tidak, aku sudah sangat kenyang," tolak Kenzo.
"Baiklah. Ayo aku antar kamu ke luar," ucap Felicia.
Keduanya beranjak dari meja makan. Felicia melangkah dengan merangkul lengan Kenzo dengan satu tangan menenteng tas kerja milik suaminya.
"Aku berangkat ya. Jaga dirimu baik-baik di rumah," ujar Kenzo.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan," ucap Felicia.
Kenzo membungkukkan tubuhnya. Wajahnya tepat di depan perut istrinya, tangannya mengusap perut Felicia yang masih rata.
"Papah berangkat ke kantor dulu ya. Kamu jangan nakal, jagain Mamah kamu juga." Kenzo bicara seolah anak dalam perut istrinya bisa merespon perkataanya.
"Dah, Sayang." Kenzo memberikan kecupan di perut istrinya yang masih rata.
"Sampai jumpa. Dan ini tas kerjamu." Felicia menyalami tangan Kenzo lalu mengecup punggung tangannya.
"Sampai jumpa." Kenzo memberikan kecupan di kening istrinya.
Kecupan yang suaminya berikan seolah mengantarkan ketenangan yang mengalir pada setiap aliran darahnya.
Felicia masih berdiri di tempatnya, masih dengan memperhatikan suaminya yang baru saja masuk ke dalam mobil. Setelah mobil itu melaju jauh dan hilang dari pandangannya Felicia kembali masuk ke dalam rumah.
******
Sementara itu Kenzo sedang dibuat bingung oleh ungkapan rasa cinta Felicia. Dari saat perjalanan ke kantor hingga saat sedang mulai bekerja, Kenzo sama sekali tidak berkonsentrasi.
"Ck, jika seperti ini untuk apa aku ke kantor." Kenzo menutup berkas yang sedang dirinya periksa. Isi kepalanya berhenti bekerja dan hanya memikirkan tentang Felicia.
Kenzo beranjak dari kurirnya, ia berjalan tak tentu arah di dalam ruangan kerjanya sambil memijit keningnya.
"Ya Tuhan, aku bisa gila." Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Jika boleh jujur Kenzo juga merasa jika dirinya menyukai Felicia, peduli padanya, dan ingin menjaganya karena Felicia akan menjadi ibu dari anaknya, ia juga merasa tidak suka jika Felicia dekat dengan laki-laki, seperti waktu Felicia dekat dengan Reza, tetapi apa mungkin itu hal itu bisa disebut dengan cinta.
__ADS_1
Kenzo merasa dirinya belum yakin.
Setelah Vera mengkhianati dirinya rasanya Kenzo sudah tidak lagi bisa mengenali yang namanya cinta. Kenzo mengerang karena rasa kesal yang sedang ia rasakan dan juga Kenzo merasa dirinya akan kehilangan akal jika terus memikirkan masalah itu.