Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part


__ADS_3

Flora sedang menyisir rambutnya saat Gio bangun dari tidurnya. Matanya terus menatap bayangan suaminya dari cermin yang ada di hadapannya.


“Pagi,” sapa Flora.


“Pagi juga." Gio membalas sapaan Flora dengan suaranya yang masih serak.


Flora beranjak dari meja rias setelah menaruh sisirnya. Flora berjalan untuk menghampiri suaminya yang masih ada di atas tempat tidur.


“Tumben sudah bangun? Padahal belum aku bangunin,” ucap Flora.


“Semalam sudah buka puasa. Jadi aku bangunnya semangat dong,” ucap Gio.


“Huh, dasar.” Flora menarik hidung suaminya karena merasa gemas.


“Felicia mana?” tanya Gio.


“Tadi masih tidur di kamar ibu,” jawab Flora. “Kamu mandi dulu sana aku sudah siapin baju kamu.”


“Iya, Istriku.” Gio mencuri satu kecupan di bibir Flora sebelum ia pergi ke kamar mandi.


Sementara suaminya mandi, Flora keluar dari kamar itu untuk menyiapkan sarapan. Saat akan melangkah ke dapur Flora melihat ibunya berjalan menuruni anak tangga dengan membawa Felicia yang sedang merengek.


“Anak mama sudah bangun.” Flora berjalan mendekati ibunya. “Loh kok anak mama yang cantik ini nangis.”


“Mungkin Felicia haus,” ucap Seruni.


“Iya, Bu,” sahut Flora. “Felicia sama mama yuk.”


“Ya sudah kamu kasih Felicia Asi. Biar ibu yang bantu bibi untuk nyiapin sarapan,” ucap Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora.


Seruni menyerahkan Felicia kepada Flora sebelum pergi ke dapur. Flora membawa Felicia ke kamarnya untuk memberinya asi.


Flora memilih duduk di sofa yang ada di kamarnya seraya memberi Felicia Asi. Bersamaan dengan itu Gio keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


Gio lebih dulu memakai pakaiannya sebelum mendekati istri dan anaknya.


“Anak papa haus banget ya." Gio berjongkok di hadapan Flora seraya menoel-noel pipi anaknya.


“Gantian dong,” seloroh Gio. “Papa kan juga mau.”


Mata Flora melebar dan bibirnya melipat untuk menahan tawanya saat mendengar perkataan suaminya.


“Ini bibir kok kalau ngomong gemesin banget ya,” ucap Flora.


“Orangnya saja bikin gemes,” balas Gio.


Flora menggelengkan kepalanya. Selalu saja ia kehabisan kata-katanya saat berdebat dengan suaminya.


“Sudah sana cepat siap-siap. Kamu harus berangkat bekerja. Cari uang yang banyak,” suruh Flora.


“Nanti ya, aku pengin main dulu sama anak papa yang cantik ini,” ucap Gio.


“Ya sudah aku bikinin kopi sama sekalian bawain sarapan kamu ke kamar ya,” ucap Flora.


“Hmmm.”


“Sini berikan Felicia sama aku,” pinta Gio.


“Felicia sama papa dulu ya,” ucap Flora.


Flora memberikan Felicia pada Gio sebelum dirinya keluar dari kamar untuk mengambilkan sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


Flora keluar dari kamarnya dan kembali ke ruang makan.


“Flora,” panggil Seruni.


Flora menoleh ke asal suara.


“Ada apa, Bu?” tanya Flora.


“Suami kamu mana?” Seruni balik bertanya pada Flora.


“Ada di kamar, Bu. Ini Flora mau ambil sarapan untuk Gio,” jawab Flora.


“Itu di ruang tamu ada papanya,” ucap Seruni. “Maksud ibu ada bapak Adam,” ucap Seruni.


“Papa Adam ada di sini?” tanya Flora. “Kapan datang?”


“Iya, baru saja datang,” ucap Seruni. “Katanya pengin ketemu kamu, Gio sama Felicia.”


“Iya sudah, Bu. Flora panggil Gio dulu, Ibu tolong temani papa Adam dulu ya,” ucap Flora.


“Iya, Nak,” ucap Seruni.


Seruni kembali ke ruang tamu, sedangkan Flora kembali ke kamar untuk memanggil suaminya.


“Sayang.” Flora memanggil Gio setelah masuk ke dalam kamarnya.


“Ada apa? Mana sarapannya?” tanya Gio.


“Papa Adam datang. Katanya pengin ketemu sama kita,” ucap Flora.


“Papa Adam datang?” Gio balik bertanya. “Kok papa gak bilang-bilang kalau mau datang.”


“Iya,” jawab Flora. “Cepat kita temui beliau. Aku akan bawa Flora.”


Sampai di ruang tamu Gio dan Flora menyalami tangan Adam lalu mencium punggung tangannya.


“Papa datang kenapa gak beri kabar dulu?” tanya Gio. “Aku 'kan bisa suruh Abi buat jemput Papa di bandara.”


“Kejutan dong,” ucap Adam.


“Tadinya papa ke sini nanti jika Daniel menikah. Tapi papa sudah ingin bertemu dengan cucu papa,” ucap Adam.


“Ini cucu Papa.” Flora memperlihatkan Felicia kepada ayah mertuanya.


“Boleh papa gendong?” tanya Adam.


“Ya jelas boleh dong,” ucap Flora.


Flora memberikan Felicia kepada Adam. Raut wajah Adam terlihat begitu bahagia saat melihat cucu pertamanya.


“Cucu opa cantik sekali,” puji Adam.


“Oh iya opa bawa kado buat Felicia.” Adam memperlihatkan boneka beruang berukuran besar. Yang jelas sangat lebih besar dari Felicia.


“Terima kasih, Opa.” Flora berucap dengan menirukan suara anak kecil.


Adam menimang Felicia, terlihat sekali jika Adam sudah terbiasa dengan anak kecil.


“Kalau Farhan masih ada dia pasti sangat bahagia melihat cucunya ini,” ucap Adam.


Kata-kata Adam mendadak membuat Flora bersedih. Tetesan air mata keluar dari mata Flora. Rasa rindu pada mendiang papanya mendadak datang.

__ADS_1


Flora akan sangat bersedih ketika teringat akan pertemuan singkat dengan ayah kandungnya. Harusnya kebahagian saat ia menikah dan saat ia melahirkan bisa disaksikan oleh ayah kandungnya.


Namun, takdir berkata lain kebahagiaan itu tidak bisa ia bagi dan disaksikan bersama dengan ayahnya.


Gio melihat wajah sedih istrinya bahkan ia juga melihat air mata menetes dari matanya. Segera Gio mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya.


“Jangan menangis,” ucap Gio.


Adam yang melihat menantunya menangis oleh kata-katanya menjadi tidak hati.


“Maafkan papa, Flora,” ucap Adam. “Papa tidak bermaksud untuk membuat kamu bersedih.”


“Tidak apa-apa, Pa. Aku hanya sedang merindukan ayah saja,” ucap Flora.


“Jangan bersedih, Nak. Ayah kamu pasti sudah melihat cucunya dari atas sana,” ucap Seruni seraya mengusap pundak Flora.


“Iya, Bu,” sahut Flora.


“Sekarang sebaiknya kita sarapan dulu,” ajak Seruni.


“Iya, ayo kita sarapan,” imbuh Gio. “Kamu juga harus makan banyak Biar asi kamu banyak.” Gio berucap seraya mengusap kepala istrinya.


“Kalian sarapan dulu, sini biar Felicia sama aku,” ucap Flora.


“Tapi papa masih ingin main sama cucu papa ini,” ucap Adam.


“Tunggu, biar adil Felicia sama bibi dulu,” ucap Gio.


“Bibi.” Gio memanggil asisten rumah tangganya. “Bi, tolong jagain Felicia ya. Kami mau sarapan dulu,” suruh Gio.


“Baik, Pak.” Bibi mengambil alih Felicia dari Adam.


“Papa makan dulu nanti habis itu papa bisa main sama Felicia sepuasnya,” ucap Gio.


“Baiklah,” ucap Adam.


“Cucu opa yang cantik sama bibi dulu ya. Nanti main lagi sama opa," ucap Adam pada Felicia seolah bayi kecil itu bisa membalas perkataannya.


Keempat orang itu melangkah bersama ke ruang makan. Sampai di ruang makan mereka duduk di kursi masing-masing.


Tidak ada yang bersuara saat sarapan. Hingga setelah mereka selesai sarapan, Gio mengawali pembicaraan.


“Pah ...,” panggil Gio.


“Ada apa, Nak,” sahut Adam.


“Bagaimana keadaan Daren?” tanya Gio.


Meskipun luka yang pernah dilakukan oleh Daren masih membekas di hatinya, tetap saja laki-laki adalah kakak kandungnya.


“Dia baik. Dia juga nitip kado buat Felicia,” ucap Adam.


Adam mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari saku kemejanya. Adam lalu memberikannya kepada Flora.


“Ini dari Daren untuk Felicia,” ucap Adam.


Flora tidak menerima benda itu. Flora justru berdiri dari kursinya.


“Maaf, Pah. Tapi aku tidak bisa menerima apapun yang Daren berikan. Apalagi untuk anakku,” ucap Flora.


“Maaf, aku permisi dulu.”

__ADS_1


Flora beranjak dari meja makan. Ia pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan panggilan dari ibunya.


Flora bukannya tidak menghargai ayah mertuanya, hanya saja Flora masih merasa sakit hati dengan apa yang pernah dilakukan oleh Daren.


__ADS_2