Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kabar Dari Gio


__ADS_3

Flora masuk ke dalam mobil saat mobil jemputannya sudah datang. Dengan rasa kesalnya Flora menutup pintu mobilnya.


“Jalan, Pak Roni,” ucap Flora.


“Dasar perempuan aneh! Calon suaminya sudah ditolong, bukanya berterima kasih malah marah-marah dan menuduh orang sembarang,” gerutu Flora.


Flora menarik napas untuk meredakan rasa kesalnya pada Bella. Setelah rasa kesalnya mereda Flora segera menghubungi Daniel dan Abi untuk datang ke rumahnya.


Jalanan sudah padat membuat laju mobil yang Flora naikin tersedat. Rasa lelah karena menunggu membuat Flora tertidur di dalam mobil.


Setelah satu jam berkutat bersama kemacetan akhirnya Flora sampai juga ke rumahnya. Flora yang merasakan pergerakan mobilnya terhenti pun membuka matanya.


Flora turun dari mobil setelah pak Roni membukakan pintu mobil untuknya.


“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Seruni. “Kamu baik-baik saja?” Ada kekhawatiran pada nada bicara Seruni.


“Ibu ... jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” jawab Flora.


“Bagaimana ibu tidak khawatir? Ibu mendengar kamu ada di rumah sakit tadi,” ucap Seruni. “Ibu pikir kamu kenapa-kenapa.”


Flora hanya menanggapi perkataan ibunya dengan senyuman.


“Lalu bagaimana keadaan teman kamu itu?” ucap Seruni.


“Dia baik-baik saja. Keluarganya juga sudah datang,” jawab Flora.


“Ya sudah, sekarang kamu mandi, terus kita makan malam,” perintah Seruni.


“Iya, Ibuku sayang,” sahut Flora.


Flora melangkahkan kakinya ke kamarnya. Tiba di dalam kamar, Flora langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Flora menarik handuk kimono dan memakainya ke tubuhnya. Flora keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya.


Saat dirinya menatap cermin, tiba-tiba bayangan Elang muncul di cermin. Flora memejamkan matanya sekilas saat membukanya bayangan Elang sudah hilang.


Pandangan Flora beralih pada foto pernikahannya. Wajah Gio terpampang begitu jelas di sana. Flora pun berbicara pada foto Gio, seolah foto suaminya bisa meresponnya.


“Di sini kamu membuat aku mengingat Elang. Dan saat aku bertemu dengan Elang ... laki-laki mengingatkan aku padamu,” ucap Flora.


Bib bib bib


Bunyi notifikasi di ponselnya mengalihkan perhatian Flora. Segera Flora melangkah ke arah tempat tidur untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.


Flora sedang membaca pesan dari Daren dengan menahan amarahnya. Laki-laki sudah dalam penerbangan dari Amerika menuju ke Indonesia. Akan dipastikan jika Daren akan tiba esok hari.


“Cepatlah datang, Daren. Aku menunggumu.”


Flora sangat menanti kedatangan kakak iparnya yang sudah mencelakai suaminya.


Flora kembali menatap foto pernikahannya dengan Gio. Menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Jika memang benar Daren yang sudah mencelakaimu ... aku tidak akan pernah memaafkan dirimu,” ucap Flora.

__ADS_1


Jujur saja, Flora masih belum percaya jika Daren adalah dalang di balik hilangnya Gio. Mengingat Daren adalah kakak kandung Gio, apalagi Daren selalu mengatakan akan membantu dirinya untuk menemukan pelaku dan juga Gio.


Entahlah!


Flora tidak ingin memikirkan banyak hal. Yang harus Flora lakukan saat itu adalah menemukan bukti jika Daren adalah pelakunya, agar bisa dengan mudah menghukum Daren serta menemukan keberadaan Gio meski dengan kemungkinan terburuk sekalipun.


“Flora, apa yang sedang kamu lakukan di sini?”


Flora yang sedang berdiri di depan foto pernikahannya dengan Gio, menoleh ke asal suara. “Daniel.”


“Kamu merindukan si konyol itu?” tanya Mariana.


“Sangat ...,” jawab Flora.


“Sabar ya ....” Daniel mengusap pundak Flora. “Sebaiknya kita makan malam dulu. Ibu sudah menunggumu.”


“Daniel ...,” panggil Flora.


“Ada apa?” tanya Daniel.


Flora menolehkan pandangannya ke sana kemari, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.


“Daren sudah dalam penerbangan ke sini,” ucap Flora dengan setengah berbisik.


“Benarkah?” tanya Daniel.


“Ya. Dia mengirimi aku pesan tadi,” ucap Flora.


“Sepertinya dia sudah terpikat dengan pesonamu,” ledek Daniel.


“Aku tidak bercanda. Itu sudah jelas buktinya. Kamu memintanya ke sini dan dia langsung datang,” ucap Daniel. “Apa ini salah satu motif Daren mencelakai Gio? Karena dia menyukaimu?”


“Atau mungkin juga karena aku sudah memenjarakan tante Dini,” sambung Flora.


“Kita akan mengetahuinya nanti setelah Daren sampai di sini. Aku akan terus mengawasi dia,” ucap Daniel.


“Kamu tahu, Daniel? Jujur aku masih sangat tidak percaya jika Daren yang melakukan ini semua. Daren itu kakaknya Gio ... mereka satu ayah,” ucap Flora seraya menggeleng tidak percaya. “Itu berati selama ini dia sudah membohongi kita dengan sandiwaranya.”


“Aku tidak sabar ingin menghukum dia setelah aku menemukan bukti jika dia bersalah,” ucap Flora seraya menahan sesak dalam dadanya.


“Jangan melakukan apapun yang bisa membahayakanmu dan juga anak dalam kandunganmu,” pesan Daniel yang langsung dianggukki oleh Flora. “Serahkan padaku, om Adam, dan juga Abi.”


“Baiklah,” sahut Flora.


“Ayo kita ke meja makan,” ajak Daniel. “Aku sudah sangat kelaparan.”


Flora dan Daniel berjalan ke ruang makan, ternyata sudah ada Abi di sana. Abi akhirnya menerima tawaran Flora untuk tinggal di rumah itu.


“Mas Abi ... kamu sudah sampai,” ucap Flora. “Kalau begitu ayo ikut makan malam sekalian,” ajak Flora.


“Baik, Mba,” sahut Abi.


Flora, Daniel, Abi, serta Seruni duduk bersama di meja makan. Saat sedang makan ada bunyi pesan masuk ke dalam ponsel Abi.

__ADS_1


Abi merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Abi mulai membaca isi pesan itu. Mata Abi melebar, ada raut keterkejutan di wajah Abi. Hingga membuat Abi tersedak makanan yang ada di mulutnya sendiri.


Flora, Seruni, dan Daniel terkejut melihat Abi terbatuk-batuk. Daniel pun langsung memberikan segelas air kepada Abi.


“Minumlah!” suruh Daniel.


“Terima kasih, Mas.” Abi meminum air yang ada di gelas sampai setengah.


Abi menaruh gelas air kembali ke atas meja. Dan menarik napas panjang untuk menetralkan napasnya.


“Siapa yang mengirim pesan padamu? Kenapa kamu sampai terkejut seperti ini?” tanya Flora.


“Dari teman, Mba,” jawab Abi gugup.


Abi tidak begitu percaya dengan chat itu. Mungkin saja itu hanya orang iseng.


“Baiklah kita lanjutkan makan malamnya saja,” ucap Seruni.


Merekapun kembali melanjutkan makan malam mereka. Tidak ada yang bersuara, mereka hanya fokus pada makanan mereka. Terkecuali Abi, laki-laki itu masih memikirkan tentang pesan yang beberapa saat yang lalu masuk ke dalam ponselnya.


“Aku sudah sangat kenyang. Aku istirahat dulu,” pamit Flora.


“Iya, Nak. Kamu harus banyak-banyak beristirahat,” ucap Seruni.


Flora beranjak dari meja makan lebih dulu, disusul juga oleh Seruni. Setelah memastikan dua perempuan itu pergi dari meja makan, Abi pun mulai bicara pada Daniel.


“Mas Daniel ... bisa kita bicara?” ucap Abi.


“Ada apa Abi? Kamu terlihat sangat cemas setelah mendapat pesan dari temanmu itu?” Daniel balik bertanya pada Abi.


“Bisa ikut saya sebentar, Mas. Kita cari tempat lain saja untuk bicara,” ajak Abi.


Daniel merasa penasaran dengan apa yang ingin Abi bicarakan. Tidak ingin banyak bertanya, Daniel pun mengikuti langkah Abi.


Abi membawa Daniel ke luar dari pintu gerbang rumah Flora. Sebelum memulai pembicaraan Abi memastikan tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraan mereka nantinya.


“Ada apa sebenarnya, Abi?” Daniel kembali bertanya pada Abi.


“Ada sesuatu yang ingin saya tunjukan pada mas Daniel,” jawab Abi.


Abi merogoh saku celananya dan menunjukkan pesan ia terima beberapa saat yang lalu pada Daniel.


*Abi tolong jaga Flora, katakan pada Daniel untuk menjaga anak dan istriku dari Daren. Laki-laki itu yang sudah mencelakaiku. Jaga Flora sampai keadaanku memungkinkan untuk kembali. Katakan juga pada Daniel, jangan memberitahukan pada siapapun jika aku mengirim pesan ini, pada Flora sekalipun.


Gio*.


Respon Daniel setelah membaca pesan itu juga sama dengan Abi saat pertama kali membacanya, Daniel sangat terkejut.


Daniel langsung menatap Abi dengan raut wajah yang penuh ketidakpercayaan.


“Apa ini benar dari si bodoh itu?”


“Saya belum memastikannya, Mas,” jawab Abi. “Tapi orang ini kembali mengirim pesan untuk tidak menghubunginya ... dia meminta agar kita menunggu kabar darinya saja,” jelas Abi.

__ADS_1


“Semoga saja orang ini benar-benar Gio,” harap Daniel.


“Iya, Mas. Saya pun berharap begitu,” sambung Abi.


__ADS_2