
Hati Felicia sedang dilanda kecemasan yang luar biasa. Meskipun Alan sudah memberitahukan jika Kenzo baik-baik saja, tetapi melihat kondisi mobil Kenzo yang rusak parah membuat Felicia tidak mempercayai hal itu. Bisa saja jika Alan berbohong pada dirinya untuk membuatnya merasa tenang.
"Kakak ipar, kendalikan dirimu." Kenzi yang sedang mengemudikan mobilnya sesekali melirik ke arah Felicia, ia melihat kakak iparnya tidak berhenti menangis. Terlihat sekali jika kakak iparnya sangat gelisah.
"Kakak ipar tolong kendalikan dirimu. Jangan sampai kondisimu mempengaruhi kandunganmu," ucap Kenzi.
"Tapi aku benar-benar cemas, Kenzi. Kamu lihat tadi kondisi mobil Kenzo, 'kan?" ucap Felicia.
"Ya, aku tahu. Aku juga mengerti akan kecemasanmu. Tapi untuk saat ini kamu juga harus pikirkan bayi yang sedang kamu kandung," ucap Kenzi. "Kalau terjadi sesuatu dengan kandunganmu, apa Kenzo tidak sedih nantinya?"
"Begini saja, kamu telepon Alan lagi. Suruh dia mengambil gambar Kenzo," usul Kenzi.
"Sudah, tapi dia tidak mengangkatnya," ucap Felicia.
Kenzi merasa bingung, bagaimana lagi untuk bisa membuat Kakak iparnya merasa tenang.
"Baiklah, tenanglah! Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," ucap Kenzi.
Felicia berdiam diri sejenak, perutnya mendadak terasa kram, mungkin karena dirinya merasa cemas akan keadaan Kenzo dan juga karena dirinya tidak berhenti menangis. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kembali. Felicia mencoba untuk mengendalikan perasaan sedihnya, tidak lama setelah itu keram di perutnya mulai mereda.
Felicia melihat mobil yang ia naiki masuk ke dalam area rumah sakit. Ia meminta pada Kenzi untuk menurunkannya di depan lobby saja. Setelah mobil berhenti, Felicia turun dengan tidak sabarnya.
Felicia menutup pintu mobil setelah berada di luar mobil, ia melangkah masuk ke rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Bahkan Felicia mengabaikan semuanya termasuk panggilan di telepon genggamnya. Karena tidak hati-hati Felicia sampai bertabrakan dengan seseorang. Beruntung dirinya tidak sampai terjatuh.
"Maaf, maafkan aku. Aku sedang terburu-buru," ucap Felicia.
Felicia menarik napasnya dalam-dalam, menetralkan debaran jantungnya. Felicia kembali melangkah, kali ini Felicia melangkah dengan hati-hati. Tujuannya adalah ke ruang UGD.
Sepanjang perjalanan, Felicia berjalan dengan memainkan jari-jari tangannya, terlihat sekali dirinya sedang merasakan kecemasan. Sebelum melihat Kenzo dalam keadaan baik-baik saja, kecemasan dalam diri Felicia belum hilang.
Dari tempatnya berjalan Felicia melihat ruangan bertulisan 'UGD'. Jantungnya mendadak berdegup kencang, kakinya mendadak lemas mengingat kembali mobil Kenzo yang rusak parah.
Dengan sisa tenaganya, Felicia membuka pintu ruangan UGD. Felicia lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam mengumpulkan kekuatannya untuk mengahadapi kemungkinan terburuk sekalipun.
Pintu ruangan UGD Felicia dorong sambil berucap, "Kenzo!"
Felicia merasa bingung saat tidak ada yang menyahut. Kebingungan Felicia bertambah saat tidak mendapati satu orang pun di ruangan itu.
"Kenapa tidak ada orang?" ucap Felicia dengan suaranya yang lirih.
"Ibu Felicia."
Felicia menoleh ke asal suara, ternyata Alan yang ada di belakangnya.
"Alan, di mana Kenzo?" Felicia tidak menunda waktu untuk bertanya kepada Alan.
"Bapak Kenzo sudah dipindahkan ke ruang perawatan," lanjut Alan.
__ADS_1
"Dari tadi saya mencoba menghubungi Anda, tapi Anda tidak menjawabnya. Beruntung saya melihat ibu tadi berjalan ke ruangan ini," ucap Alan.
"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Felicia.
"Beliau baik-baik saja," jawab Alan.
"Kamu tidak sedang berbohong, 'kan?" tanya Felicia.
"Benar, Bu. Mari saya antar ke ruangan rawat bapak," ajak Alan.
"Ayo, cepatlah!" Felicia menarik lengan baju Alan, memintanya untuk segera mengantarnya untuk menemui Kenzo.
Setelah menaiki lift dan berjalan di lorong-lorong akhirnya keduanya sampai di kamar rawat Kenzo, ruang rawat VIP. Felicia langsung mendorong pintu untuk membukanya.
"Kenzo." Felicia melihat Kenzo sedang merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan sudah memakai baju pasien.
Felicia tidak bisa menahan lagi perasaannya, ia berlari kecil menghampiri Kenzo dan langsung memeluknya dengan erat membuat Kenzo memekik kesakitan.
"Awww! Feli, jangan memelukku dengan erat, tubuhku sakit," pekik Kenzo.
Felicia langsung melepas pelukannya dan mengucapkan kata maaf.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Felicia seraya menangkup kedua sisi wajah Kenzo.
"Mana yang sakit?" Felicia mencari luka di tubuh Kenzo, tetapi tidak mendapati apapun.
"Aku benar-benar merasa cemas, apalagi saat melihat mobilmu rusak parah tadi di jalan," ucap Felicia.
"Aku masih beruntung karena masih bisa salamat," ucap Kenzo.
"Lalu bagaimana kamu bisa kecelakaan? Padahal sebelum itu kamu menghubungiku?" tanya Felicia.
"Mungkin karena aku lalai. Ponselku terjatuh dan aku berusaha mengambilnya. Tapi aku tidak melihat ada kendaraan lain di depanku jadi aku membanting setir dan menabrak pembatas jalan," jawab Kenzo.
"Ck, kenapa kamu tidak membiarkan saja ponsel itu," ucap Felicia.
"Oh ya, dan kamu Alan!" Felicia menoleh ke arah Alan.
"Iya, Bu," sahut Alan.
"Di mana kamu saat itu? Kenapa kamu tidak mengantar suami saya pulang?" Wajah Felicia nampak tidak bersahabat.
"Maaf, Bu. Saya ada pekerjaan lain," jawab Alan.
"Harusnya kamu tinggalkan perkerjaanmu dan mengantar suami saya pulang," omel Felicia.
"Maaf, Bu." Alan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang, jangan memarahi Alan. Aku yang menyuruhnya untuk mengerjakan sisa pekerjaanku bersama Nina," bela Kenzo.
"Ck, aku tahu kamu pasti akan membelanya," ucap Felicia.
"Bukan begitu, Sayang. Jangan menyalahkan orang lain. Kita tahu kecelakaan bisa terjadi kapanpun, meskipun kita sudah berhati-hati. Jadi lupakanlah! Lagi pula aku tidak kenapa-napa," ucap Kenzo.
"Baiklah, aku sekarang merasa lega melihatmu dalam keadaan baik-baik saja," ucap Felicia.
Wajah Felicia yang sebelumnya cemas berubah menjadi lebih tenang, melihat suaminya baik-baik saja.
"Baiklah, sekarang lebih baik kamu beristirahat," suruh Felicia yang langsung diangguki oleh Kenzo.
Bersamaan dengan itu, pintu ruang Kenzo kembali terbuka, memunculkan Kenzi dari baliknya.
"Hai kamu baik-baik saja?" tanya Kenzi.
"Ya aku baik-baik saja, hanya sedikit merasa pusing," jawab Kenzo.
"Kamu tidak memberi tahu tentang ini kepada orangtua kita, 'kan?" tanya Kenzo
"Belum, aku belum memberitahu mereka jawab Kenzi.
"Baguslah! Jangan beritahu mereka sekarang. Biar aku saja yang memberitahunya nanti, aku takut mereka akan khawatir," pinta Kenzo.
"Baiklah," ucap Kenzi.
"Oh ya, boleh aku minta tolong padamu tanya Kenzo pada Kenzi.
"Tentu, apa yang bisa aku bantu," tanya balik Kenzi.
"Tolong bantu pekerjaan Alan. Dia akan memberitahumu apa pekerjaannya nanti jawab Kenzo.
Kenzi bisa melihat sesuatu dari tatapan Kenzo. Tatapan saudara kembarnya seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh Felicia.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Alan akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik," ucap Kenzi.
"Kakak ipar, kami pergi dulu. Tolong jaga saudara kembarku," ucap Kenzi yang langsung diangguki oleh Felicia.
******
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kenzo merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama dengan Felicia. Ranjang yang sempit membuat tidak ada jarak di antara mereka. Pandangannya menatap ke langit-langit kamar rawatnya dan tangannya sibuk mengusap kepala Felicia.
Kenzo melihat istrinya sudah terlelap di sampingnya. Namun dirinya masih belum bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan karena rasa sakit yang dialaminya melainkan sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur.
Sebenarnya kecelakaan yang terjadi pada dirinya bukanlah kelalaiannya, melainkan kesengajaan yang mungkin diperbuat oleh orang yang tidak menyukainya. Sebab mobil itu dalam keadaan baik-baik saja saat Alan mengendarainya dari rumah menuju bandara, dan kembali ke kantor. Akan tetapi saat dirinya mengendarai mobil itu, mendadak rem mobilnya menjadi tidak berfungsi, membuatnya tidak bisa mengurangi kecepatan laju mobilnya.
Dirinya berusaha mengendalikan mobilnya. Namun, tiba-tiba di depannya ada orang menyeberang, membuatnya langsung membanting setir mobil ke kiri. Badan mobil sebelah kirinya menabrak pembatas jalan dengan begitu keras. Itu yang membuat kerusakan hanya di bagian kirinya. Beruntung dirinya duduk di bangku kemudi dan air bag melindungi dirinya, hingga luka yang dialaminya tidak serius.
__ADS_1
Yang paling mengganggu pikiran Kenzo saat itu adalah, siapa yang ingin mencelakai dirinya dan apa motifnya. Kenzo sengaja berbohong pada Felicia tentang kecelakaannya karena tidak mau membuat Felicia khawatir.