
Flora dalam perjalanan pulang bersama Seruni dan juga Tiara.
Di dalam mobil Flora masih menangis tersedu-sedu mengingat kebohongan yang dilakukan oleh suaminya.
Flora masih ingat apa yang dikatakan oleh Gio saat dirinya berusaha menelponnya.
“Flora berhentilah menangis!” ucap Seruni seraya mengusap pundak anaknya.
“Kenapa dia berbohong padaku, Ibu? Gio bilang sedang meeting padahal ... kalian tahu apa yang sedang dia lakukan, 'kan?” ucap Flora di sela isak tangisnya.
“Ya mungkin saja Rosa adalah rekan bisnisnya.” Tiara berusaha memberikan pemikiran positif pada Flora.
Flora menggeleng kecil seolah menepis perkataan Tiara. “Rosa hamil, Mbak.”
“Flora ... kamu tidak berpikir jika wanita itu hamil dengan Gio, 'kan?” tebak Tiara.
“Mungkin saja. Mengingat hubungan mereka di masa lalu,” ucap Flora.
“Flora ... jangan berpikiran negatif tentang suami kamu,” ucap Seruni.
“Iya, Flora. Jangan berpikiran negatif tentang suami kamu sebelum tahu yang sebenarnya,” imbuh Tiara.
“Sekarang lebih baik kamu tenangkan pikiran kamu dulu. Gak baik untuk kehamilan kamu jika kamu seperti ini terus,” ucap Tiara.
“Iya, Nak. Setelah suami kamu pulang. Bicarakan ini baik-baik dengan dia,” ucap Seruni.
Mobil memasuki perkampungan tempat Flora dulu tinggal. Mobil itu akan lebih dulu mengantar Tiara ke tempat tinggalnya.
“Flora, Ibu ... kami turun dulu,” ucap Tiara saat mereka sampai di depan rumah Tiara. “Kalian tidak ingin mampir dulu?” tanya Tiara.
“Tidak, Mbak. Lain kali saja, aku sangat lelah,” jawab Flora.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik,” ucap Tiara.
“Iya, Mbak. Mbak juga baik-baik di rumah,” balas Flora.
“Ibu antar kamu pulang dulu, Flora. Setelah itu baru ibu pulang ke rumah,” ucap Seruni.
“Baik, Bu,” ucap Flora.
“Ya, sudah.” Pandangan Seruni kembali ke arah Tiara. “Nak Tiara kami pulang dulu. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa, Bu.” Tiara melambaikan tangan ke arah Flora saat mobil itu kembali melaju.
Setelah menurunkan Tiara, mobil yang membawa Flora dan ibunya kembali melaju meninggalkan perkampungan itu. Kini mobil itu melaju menuju rumah Flora.
Di dalam perjalanan Flora tidak menangis lagi, tetapi justru tertidur, mungkin Flora merasa lelah setelah menangis.
Tepat pukul 5 sore, Flora sampai di rumahnya dan Flora masih tertidur di pelukan ibunya.
“Flora ... bangun, Nak! Kita sudah sampai.” Seruni mengusap sisi wajah Flora untuk membangunkan anaknya.
Mendengar suara lembut ibunya, Flora mulai bangun dari tidurnya. Flora mengucek matanya dengan menggunakan punggung tangannya. Setelah itu Flora mengedarkan pandangannya dan melihat dirinya sudah berada di halaman rumahnya.
“Sudah sampai, Nak,” ucap Seruni. “Ayo kita turun.”
Flora menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan ibunya.
Seruni lebih dulu turun dari dalam mobil, setelah itu wanita itu membantu anaknya untuk turun dari dalam mobil. Seruni merasa khawatir saat melihat ringisan kecil di bibir Flora.
“Kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Seruni.
“Iya, Bu. Flora baik-baik saja jangan khawatir,” jawab Flora.
__ADS_1
“Awas ... hati-hati!” ucap Seruni.
Seruni menuntun Flora masuk ke dalam rumah. Seruni langsung mengantar Flora ke kamarnya. Sampai di dalam kamar Seruni merebahkan tubuh Flora di atas tempat tidur, lalu menyelimutinya.
“Kamu benar baik-baik saja, Nak?” Seruni kembali bertanya pada Flora.
“Flora baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit lemas saja,” jawab Flora.
“Ini pasti karena kamu terlalu berpikir keras tadi,” tebak Seruni.
“Aku hanya takut apa yang aku pikirkan tentang suami aku dan Rosa itu benar, Bu.” Flora menitihkan air matanya.
“Flora jangan berpikir yang macam-macam dulu tentang suami kamu. Kamu harus percaya jika suami kamu tidak macam-macam di luar sana,” ucap Seruni.
“Sekarang kamu istirahatlah. Ibu akan ambilkan makanan untukmu. Setelah itu kamu minum vitamin kamu,” suruh Seruni.
Flora mengangguk, “Iya Bu.”
“Ya sudah, ibu tinggal dulu ke dapur.” Seruni melangkah keluar dari kamar Flora menuju ke dapur.
Setelah ibunya keluar dari kamarnya beberapa kali Flora menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali. Flora mencoba untuk menghilangkan pikiran negatif tentang suaminya dari benaknya.
“Semoga apa yang aku pikirkan itu tidak benar,” harap Flora.
Flora kembali menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan rasa sesak di dadanya.
Tidak lama Seruni kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan serta segelas air untuk Flora.
“Ayo makan, Nak. Ibu akan menyuapimu,” ucap Seruni dan Flora langsung menganggukkan kepalanya.
Seruni mulai menyuapi Flora, tetapi baru beberapa suap saja Flora sudah mengatakan jika dirinya sudah kenyang.
“Bu, aku sudah kenyang,” ucap Flora.
“Ayo makan lagi.” Seruni mencoba membujuk Flora agar mau makan lagi.
“Aku sungguh sudah sangat kenyang,” tolak Flora.
“Ya sudah ibu akan meminta bibi untuk membuat susu untukmu. Nanti kamu minum,” ucap Seruni.
“Baiklah, Bu.” Flora mengangguk.
“Ya sudah ibu harus pulang, ini sudah malam. Kamu jaga kondisi kamu baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran,” pesan Seruni.
“Iya, Bu. Ibu tenang saja jangan khawatir. Jaga kondisi Ibu baik-baik juga,” balas Seruni.
Flora beranjak dari atas tempat tidur dan ingin mengantar ibunya ke depan rumahnya. “Aku akan mengantar ibu keluar. Aku akan meminta supir untuk mengantar ibu pulang.”
“Tidak usah, kamu tetap di sini saja. Ibu akan bicara sendiri pada pak Roni nanti,” cegah Seruni.
“Baiklah, Bu. Ibu hati-hati di jalan,” ucap Seruni.
“Kamu juga hati-hati di rumah,” balas Seruni.
Sebelum keluar dari kamar Seruni lebih dulu mencium kening putri satu-satunya itu.
Setelah ibunya pulang tidak lama
bibi masuk ke dalam kamarnya dengan membawa segelas susu untuknya.
“Ini susunya, Bu.” Bibi menaruh susu untuk Flora di atas meja nakas.
“Langsung diminum ya, Bu,” lanjut bibi.
__ADS_1
“Terima kasih, Bi.” Flora langsung meminum susu itu sampai habis.
Setelah susu itu habis Flora kembali memberikan gelas yang sudah kosong kepada bibi.
“Apa bapak sudah pulang, Bi?” tanya Flora.
“Belum, Bu. Tapi tadi bapak telepon ... katanya akan pulang telat. Bapak menyuruh ibu untuk makan malam lebih dulu. Bapak katanya akan makan di luar,” ucap bibi.
“Oh, ya sudah, Bi.” Flora berucap dengan lirih.
“Ya sudah, bibi keluar dulu. Kalau ibu butuh sesuatu ... paling saja bibi,” ucap bibi.
“Baik-baik, Bi. Terimakasih banyak,” ucap Flora.
Setelah bibi keluar dari kamarnya Flora memutuskan untuk mandi. Entah mengapa pikiran negatif itu kembali datang di benak Flora. Segera Flora menepis semua pikiran negatif itu dari benaknya.
Setelah sampai di kamar mandi Flora memutuskan untuk berendam untuk sedikit menenangkan pikirannya. Flora menyiapkan air di bak mandi berukuran besar itu, tidak lupa juga Flora menambahkan sabun beraroma terapi ke dalamnya. Setelah bak mandi besar itu dipenuhi dengan busa Flora pun langsung masuk ke dalamnya.
Sudah setengah jam Flora berendam di bak mandi. Saat tubuhnya mulai dingin, akhirnya Flora memutuskan untuk menyudahinya. Segera Flora keluar dari bak mandi secara perlahan.
Flora menuju tempat mandi untuk membilas tubuhnya. Setelah itu Flora meraih handuk kimono yang tidak jauh dari tempatnya mandi.
Flora keluar dari kamar mandi dan langsung menuju lemari pakaiannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang. Flora sudah menghubungi suaminya beberapa kali nomor ponsel suaminya ternyata mati.
Saat dalam kegelisahannya telinga Flora mendengar suara klakson mobil suaminya. Flora ingin menyambut suaminya pulang. Namun, rasa kesal dalam dirinya menahannya untuk melakukan itu.
Flora menolehkan pandangannya saat pintu kamarnya terbuka. Dari balik pintu itu muncul suaminya.
“Sayangku, kamu belum tidur?” tanya Gio.
“Aku sedang menunggumu pulang,” jawab Flora dengan nada ketus.
Gio merasakan nada ketus Flora. Dengan senyumnya Gio mendekati istrinya dan memberikan kecupan di ujung kepala istrinya.
“Maafkan aku jika aku pulang terlambat, Sayangku,” ucap Gio.
“Kenapa kamu pulang terlambat?” tanya Flora.
“Ada banyak pekerjaan di kantor,” jawab Gio.
“Lalu tadi siang kamu ke mana?” Flora bertanya lagi.
“Bukankah aku sudah mengatakan, jika aku meeting di luar bersama klien,” jawab Gio.
“Kamu bohong, Gio. Aku melihatmu bersama Rosa,” ucap Flora.
“Kamu melihatnya?” Ada keterkejutan di wajah Gio.
“Ya! Bukan hanya aku yang melihatnya, tetapi ibu dan juga mbak Tiara.” Nada bicara Flora mulai meninggi.
“Rosa sedang hamil, 'kan? Bagaimana dia bisa hamil, Gio?” teriak Flora.
Flora menarik kerah kemeja suaminya.
“Apa aku harus menjelaskannya juga juga padamu, Flora?” tanya Gio.
“Ya.”
“Tentu saja seperti apa yang aku lakukan padamu,” jawab Gio.
“Apa?” teriak Flora.
__ADS_1