
Flora mendorong tubuh Gio yang ada di atasnya saat mendengar jeritan Felicia. Flora kembali memakai piyamanya dan langsung berlari ke kamar Felicia.
Gio sendiri mematung di tempat tidur seraya melihat kepergian istrinya. Ia pasrah saat istrinya meninggalkan dirinya begitu saja.
“Gagal deh!”
Gio mengacak-acak rambutnya serta wajahnya yang terlihat begitu frustrasi. Kekhawatirannya benar-benar terjadi. Merasa kesal Gio beranjak dari tempat tidur untuk memakai celana pendeknya.
Sudah sekitar lima menit Flora meninggalkannya, tetapi telinga Gio masih bisa mendengar suara tangis Felicia. Gio akhirnya menyusul istrinya ke kamar Felicia yang ada tepat di samping kamarnya.
Gio melihat Flora sedang menimang Felicia untuk menenangkan Felicia. Akan tetapi Felicia masih merengek
“Anak papa nangisnya lama banget,” ucap Gio.
“Coba kamu kasih asi mungkin dia mau diam,” usul Gio.
“Sudah, tapi dia nolak,” ucap Flora.
“Mungkin Felicia marah karena tidurnya terganggu,” ucap Flora.
Gio mengusap kening Felicia untuk membantu menenangkan Felicia.
“Anak cantik jangan nangis dong. Nanti cantiknya ilang loh,” ledek Gio.
Flora memutar bola matanya mendengar perkataan Gio. Apakah suaminya tidak tahu jika anaknya belum cukup umur untuk mengerti kata-katanya itu.
Tok Tok Tok
Gio dan Flora sama-sama menoleh ke arah pintu saat mendengar ada yang mengetuk pintu di luar kamar itu.
“Itu mungkin ibu,” ucap Flora.
“Aku akan membuka pintu.” Gio melangkah menjauh dari anak dan istrinya untuk membuka pintu.
Benar saja, saat pintu itu terbuka ibu mertuanya berdiri tepat di hadapannya.
“Maaf ibu ganggu. Tadi ibu kayaknya denger jeritan Felicia, makanya ibu ke sini,” ucap Seruni.
“Iya, Bu.” Gio menyingkir untuk memberikan jalan masuk untuk ibu mertuanya.
“Anak ibu jeritnya keras banget ya. Sampai suaranya kedengaran ke kamar nenek loh,” ucap Flora seolah bayi kecilnya bisa merespon ucapannya.
Flora masih menimang Felicia berharap anaknya itu bisa segera diam.
“Sini biar ibu yang gendong,” ucap Seruni.
“Iya, Bu.” Flora memberikan Felicia kepada ibunya.
Flora memberikan Felicia pada ibunya. Mungkin karena sudah berpengalaman atau mungkin merasa nyaman, Felicia langsung terdiam di gendongan Seruni.
__ADS_1
“Felicia maunya digendong sama nenek ya,” ucap Flora.
“Ya sudah Felicia biar tidur sama ibu saja ya,” ucap Seruni.
“Tapi, Bu kalau nanti kalau Felicia haus bagaimana? Kasihan ibu kalau harus naik turun tangga,” tanya Flora.
“Kamu pompa saja asi kamu,” usul Seruni. “Lagian ibu juga pengin tidur sama cucu ibu ini.”
“Ya sudah deh, Bu. Aku pompa asi aku dulu,” ucap Flora.
Mendengar Felicia akan dibawa oleh ibu mertuanya Gio kembali bersorak dalam hatinya.
Yes
Akhirnya dirinya bisa berdua bersama istrinya. Kenapa tidak terpikir dari awal untuk menitipkan Felicia kepada ibu mertuanya?
“Nih, Bu aku sudah pompa asi aku. Tapi kalau Felicia rewel ibu telepon Flora saja. Biar Flora yang ambil Felicia di kamar ibu,” ucap Flora
“Iya, Nak,” ucap Seruni.
“Ya sudah ibu bawa Felicia ke kamar ibu,” ucap Seruni.
“Anak papa jangan rewel ya,” ucap Gio.
Papa mau buka puasa dulu.
“Maaf ya, Bu. Kami jadi ngerepotin ibu,” ucap Gio.
“Kamu itu kaya sama siapa saja,” ucap Seruni.
“Ayo Felicia kita ke kamar nenek.”
Seruni keluar dari kamar itu dengan membawa Felicia.
Gio menutup pintu kamar Felicia setelah ibu mertuanya pergi dari kamar itu. Tubuh Gio berbalik, pandangannya Gio arahkan kepada Flora. Senyum nakal tergambar jelas di bibir Gio.
Flora melihat itu tertunduk dengan wajah tersipu. Flora tahu apa yang suaminya inginkan dari tatapannya. Saat suaminya berjalan mendekat ke arahnya Flora makin merasa berdebar dan salah tingkah.
Kini Gio sudah berada di hadapan Flora yang masih tertunduk malu. Pemandangan itu makin membuat Gio merasa gemas pada istrinya.
Diraihnya dagu istrinya untuk mengangkat wajah istrinya.
“Kalau kamu malu-malu gini, aku jadi makin gak sabar buat makan kamu,” goda Gio.
Flora yakin jika wajahnya sudah merah bak kepiting rebus karena merasa malu pada suaminya. Flora menjatuhkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya ke dada suaminya.
“Jangan menatapku seperti itu apa! Aku ... malu,” cicit Flora.
“Ini bukan malam pertama kita, Sayang. Kamu masih malu saja,” ledek Gio
__ADS_1
Gio sudah tidak sabar ingin kembali menyentuh istrinya. Kali ini Gio berdo'a, berharap tidak ada gangguan lagi.
Biasanya doa orang tersiksa itu terkabul. Dan Gio merasa dirinya sedang tersiksa.
Gio mengangkat tubuh istrinya bersamaan dengan turunnya hujan lebat.
“Kita mulai lagi.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda istrinya.
Gio membawa istrinya kembali ke kemar mereka melalui pintu penghubung yang ada di kamar Felicia. Sampai di kamar Gio perlahan merebahkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur.
Gio mulai memberikan kecupan di kening Flora lalu turun ke pipi, dari pipi berpindah ke bibir dan dari bibir turun ke leher. Gio memberikan tanda merah di leher istrinya sebagai tanda jika Flora adalah miliknya.
Tangan Gio bergerak untuk menarik tali piyama istrinya lalu meloloskan piyama itu dari tubuh istrinya. Piyama Flora, Gio lempar ke sembarang tempat.
Gio kembali fokus pada tubuh istrinya yang sudah polos. Gio kecup setiap inci dari tubuh Flora. Gio memperlakukan tubuh istrinya dengan sangat lembut seolah tubuh istrinya adalah benda yang sangat rapuh.
Flora mengigit bibir bawahnya, menahan suaranya untuk tidak keluar. Sentuhan yang suaminya berikan benar-benar membuat Flora seperti kehilangan akal.
Bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman saat melihat istrinya sudah dikusai oleh hasratnya. Gio tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Gio membuka sisa kain yang menempel di tubuhnya. Kini Gio sudah bersiap untuk menyatukan tubuhnya dan Flora. Gio benar-benar sudah tidak sabar untuk itu.
Gio dengan hati-hati mulai bergerak memasuki Flora layaknya malam pertama mereka dulu. Meski istrinya sudah pernah melahirkan, tetapi rasanya masih begitu sempit.
Tubuh mereka sudah menyatu dengan sempurna, seperti apa yang mereka inginkan sebelumnya.
Gio masih mengatur ritme gerakan tubuhnya di atas tubuh Flora. Rasanya Gio tidak ingin terburu-buru menyelesaikan permainan panas itu.
Hujan deras yang terjadi malam itu mengantarkan hawa dingin ke kamar yang ditempati oleh Flora dan juga Gio. Namun, keringat mengalir deras dari tubuh mereka.
Sudah cukup lama mereka bergulat di atas ranjang. Namun sepertinya mereka masih belum ingin mengakhirinya. Kenikmatan yang mereka rasakan sepertinya membuat mereka tidak rela untuk mengakhirinya.
Hingga rasa lelah yang menghampiri mereka memaksa mereka untuk mengakhiri permainan panas itu.
Desahan panjang lolos dari mulut Flora dan Gio secara bersamaan, menjadi pertanda berakhirnya permainan panas mereka.
Masih berada pada posisi yang sama Flora dan Gio berdiam diri dengan napas yang masih tersengal-sengal. Keduanya berlomba meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi rongga paru-paru mereka.
Saat napas mereka mulai normal, Gio memberikan kecupan di kening Flora dalam jeda waktu lebih lama.
“Terima kasih,” ucap Gio.
Flora mengangguk dengan mata yang masih terpejam.
“Aku mencintaimu,” bisik Gio.
Flora membuka matanya saat bisikan Gio masuk ke dalam indra pendengarannya. Pandangannya ia arahkan pada suaminya yang juga sedang menatapnya.
“Aku juga sangat mencintaimu,” balas Flora.
__ADS_1
Keduanya masih saling memandang dengan pandangan penuh cinta. Senyum sama-sama mereka kembangkan sebelum akhirnya pasangan suami-istri menyatukan kening mereka.
Gio bergerak untuk memisahkan tubuh mereka dan berpindah ke sisi Flora. Tangan Gio menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga sang istri yang masih sama-sama polos. Rasa lelah dan puas yang mereka rasakan cepat mengantar mereka ke alam mimpi.