Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Malam Yang Panjang


__ADS_3

Pukul 7 malam Flora masih tertidur pulas sampai tidak menyadari kehadiran suaminya. Rasa lelah membuat Flora terlelap dengan begitu tenangnya.


Gio yang melihat itu membiarkan istrinya tanpa ingin membangunkannya. Gio masuk ke dalam kamar mandi setelah melepaskan kemejanya.


Senyum Gio mengembang saat melihat istrinya masih terlelap saat dirinya sudah selesai mandi. Jika saja waktu tidak menunjukkan jam makan malam, Gio tidak akan membangunkan istrinya.


“Sayang, bangun.” Gio mengusap sisi wajah istrinya dengan gerakan lembut.


Usapan lembut yang Flora rasakan membuatnya terbangun dari tidurnya. Perlahan mata Flora mulai membuka. Pertama kali Flora membuka matanya yang pertama kali ia lihat adalah senyum suaminya.


“Kamu sudah pulang? Kapan kamu pulang? Kenapa tidak membangunkan aku?” Flora mencoba bangun dan mengambil posisi duduk.


“Bertanyalah satu-satu, Sayangku,” ucap Gio.


Flora menoleh untuk menatap wajah suaminya. Diusapnya sisi wajah suaminya dengan senyuman manisnya.


“Kamu baik-baik saja, 'kan?” tanya Flora.


“Tentu, aku baik-baik saja,” jawab Gio. “Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu khawatir?” Gio balik bertanya.


Flora tidak menjawab, melainkan mengambil ponselnya dan menunjukan pesan yang Flora terima pagi tadi.


“Aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Aku sudah menghubungi nomor itu, tetapi nomor itu tidak bisa dihubungi,” ucap Flora.


Gio membaca pesan itu, jelas sekali jika Flora sangat menghawatirkan dirinya. Segera Gio menghapus pesan itu, agar Flora tidak perlu melihatnya lagi.


“Jangan terlalu memikirkan ini, Sayang. Kamu tahu 'kan suamimu ini pembisnis handal dan yang pasti orang yang tidak suka padaku itu banyak,” jelas Gio diikuti tawanya.


“Gio bisakah kamu tidak menyepelekan hal ini?” protes Flora.


“Sayang, sudah aku bilang jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting seperti ini mengerti. Fokus saja pada kehamilan kamu,” pinta Gio.


“Tapi ....”


“Sttt, Flora ....” Gio menaruh jari telunjuknya di depan bibir Flora. “Kita makan malam dulu. Kita makan di luar, kita ajak Abi dan Susan sekalian.” Gio sengaja mengajak Flora keluar agar tidak terlalu memikirkan teror yang ia dapat.


Flora mengerti maksud Gio mengajaknya keluar. Flora langsung memeluk tubuh Gio dengan erat.


“Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa cemas. Aku takut terjadi sesuatu denganmu, aku tidak sanggup jika harus kehilangan kamu,” jelas Flora diikuti isak tangisnya.


“Sayang, kenapa kamu jadi cengeng seperti ini?” tanya Gio.


Flora memberi pukulan kecil di lengan suaminya. Perkataan suaminya bukan seperti sebuah pertanyaan, tetapi lebih tepatnya sebuah ejekan.


“Jangan mengejekku,” protes Flora seraya mengusap air matanya yang jatuh di pipinya.


Gio tertawa kecil melihat ekspresi wajah Flora yang terlihat begitu menggemaskan. Gio sangat menyadari akan perubahan sikap Flora. Semenjak hamil, sikap Flora berubah menjadi lebih sensitif, agresif, dan yang pasti sangat manja.

__ADS_1


Gio tidak terkejut dengan semua itu, karena sebelumnya Gio sudah membaca artikel tentang perempuan hamil. Dan perubahan Flora karena perubahan hormon di dalam tubuhnya.


*****


Tidak terasa sudah sepuluh hari Flora dan Gio berada di Amerika. Rencananya mereka akan pulang dua hari lagi setelah mereka merayakan akhir tahun.


“Kamu sudah siap?” tanya Gio.


“Sudah,” jawab Flora.


“Ayo kita berangkat,” ajak Gio. “Abi dan Susan juga sudah ada di lobi.


Flora langsung merangkul lengan Gio dan bersama-sama keluar dari kamar mereka. Sampai di lobi Gio dan Flora bertemu dengan Abi dan Susan.


“Kita berangkat sekarang,” ajak Gio yang langsung dianggukki oleh istri dan kedua anak buahnya.


Mereka memilih untuk berjalan kaki menuju tempat yang ingin mereka datangi. Tujuan mereka adalah Times Square New York yang tidak jauh dari hotel mereka. Mereka ingin melihat pesta kembang api di tempat itu.


Flora, Gio, Abi, dan Susan berdiri di antara kerumunan orang. Semua orang sedang menanti pesta kembang api yang akan berlangsung tiga puluh menit lagi.


“Aku sudah tidak sabar lagi,” seru Flora.


Entah apa yang membuat Flora bersemangat sekali malam itu. Padahal itu bukan pertama kalinya Flora melihat pesta kembang api tahun baru.


Mungkin karena tahun itu, Flora kini berada di Amerika, merayakan tahun baru bersama sang suami dan anak yang masih ada di dalam kandungnya.


Tidak berselang lama semua orang berseru, menghitung mundur sampai waktu menunjukan tepat pukul dua belas malam.


Sekelebat cahaya meluncur naik dan meledak di udara, menjadi serpihan cahaya yang berwarna-warni.


Flora bersorak lalu memeluk leher suaminya. “Happy new year, papa Gio.”


“Happy new year juga, Sayangku.” Gio memberikan kecupan di kening Flora.


Hampir setengah jam Flora dan Gio menyaksikan pesta kembang api di tempat itu. Hingga sampai Flora mengajak suaminya untuk kembali ke hotel.


“Aku merasa sesak di sini,” ucap Flora.


Flora berdiri di antara banyak orang di sekelilingnya, membuat Flora sepertinya kesulitan untuk mendapatkan udara.


“Kamu baik-baik saja, 'kan?” tanya Gio.


Flora mengangguk, “Ya, aku hanya merasa sesak saja. Mungkin karena tempat ini ramai sekali.”


“Baiklah kita kembali ke hotel saja,” ucap Gio.


Gio menepuk pundak Abi yang ada di sebelahnya. “Abi, aku dan Flora akan kembali ke hotel. Jika kalian ingin tetap di sini silahkan saja, bersenang-senanglah kalian.”

__ADS_1


“Baik, Mas,” sahut Abi.


Gio merangkul pinggang Flora dan membawanya keluar dari kerumunan itu. Mereka berdua kembali berjalan kaki menuju hotel tempat mereka menginap, karena jaraknya yang tidak begitu jauh.


Sampai di hotel mereka langsung menuju ke kamar mereka. Flora langsung menarik napas panjang setelah duduk di atas tempat tidur.


Suara dari letupan kembang api masih membuat Flora merasa penasaran. Flora pun melangkahkan kakinya ke dekat jendela. Flora membuka sedikit gorden kamarnya.


Di depan saja Flora masih bisa melihat kembang api yang meledak di udara, seolah tidak ada habisnya. Sesaat kemudian, Flora merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.


“Kamu belum puas melihat kembang api?” tanya Gio.


Flora menutup gorden dan berbalik untuk menghadap suaminya. Flora terkekeh sendiri,ia merasa seperti anak kecil yang tidak pernah melihat kembang api.


“Hanya merasa penasaran saja.” Flora tertawa kecil.


Untuk sesaat keheningan mengambil alih suasana di antara mereka. Flora menggerakkan tangannya lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Gio tidak ingin kalah, Gio pun menarik pinggang Flora untuk mengikis jarak di antara mereka. Kini jarak keduanya hanya dipisahkan oleh kain yang melapisi tubuh mereka.


Pandangan penuh cinta mereka tunjukkan satu sama lain. Hingga mereka saling mendekatkan wajah, mempertemukan bibi mereka.


Keduanya saling berbalas kecupan lembut, hingga semakin lama ciuman itu seraya jauh lebih menuntut.


Flora menurunkan tangannya dari leher suaminya untuk membuka kaitan kancing pada kemeja suaminya.


Gio menyukai tindakan istrinya, menyukai saat istrinya berani mengambil tindakan lebih dulu. Gio memejamkan matanya saat merasakan usapan tangan Flora di tubuhnya. Dari usapan itu hasrat Gio mulai terpancing.


Keduanya melepas ciuman mereka saat keduanya merasakan oksigen dalam tubuh mereka makin menipis. Dalam jarak yang masih begitu dekat, keduanya berlomba untuk meraup udara, sebelum kembali menyatukan bibir mereka.


Tangan Gio mulai bergerak ke belakang tubuh istrinya untuk menurunkan resleting dress yang dipakai oleh istrinya. Dress Flora sudah lolos dari tubuhnya, hanya tersisa pakaian dalam yang menempel di tubuhnya.


Gio langsung mengangkat tubuh istrinya, membawanya ke atas tempat tidur. Tubuh istrinya ia rebahkan di atas tempat tidur.


Gio menanggalkan kain yang masih ada di tubuhnya dan tubuh istrinya lalu membuangnya ke sembarang tempat, kini tubuh keduanya sudah sama-sama polos.


Keduanya kembali melajukan cumbuan mereka di sana, untuk saling memancing hasrat di dalam tubuh mereka. Hasrat yang sudah menguasai keduanya membuat mereka tidak punya pilihan lain selain menyatukan tubuh mereka.


Lenguhan kecil keluar dari mulut keduanya saat tubuh mereka menyatu. Gio menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Flora dengan gerakan lembut karena takut akan melukai bayi yang ada di kandungan istrinya.


Perubahan hormon di dalam tubuh Flora membawa perubahan pada diri Flora. Flora yang awalnya malu-malu kini bisa mengambil alih permainan panas itu. Gio pun menyambutnya dengan senang hati.


Meskipun itu bukan hal baru untuk mereka, tetapi rasanya masih sama, saat mereka baru melakukan permainan panas itu.


Kamar besar itu terisi oleh desahan keduanya. Suara yang mampu membangkitkan hasrat mereka kembali. Sudah lama keduanya menyatukan tubuh mereka, menyatu dalam permainan panas.


Hingga saat rasa lelah menghampiri tubuh mereka, membuat mereka harus segera mengakhiri permainan panas itu.

__ADS_1


Desahan panjang yang lolos dari mulut keduanya bersamaan dengan mengalirnya larva panas dari dalam tubuh mereka menjadi akhir dari permainan panas itu.


Aku sedih makin ke sini like dan Komentarnya menurun. Padahal kasih like dan Komentarnya kan gratis, hihihi.


__ADS_2