
"Kamu sakit?" tanya Gio saat melihat wajah Flora nampak pucat.
Flora tidak menjawab dengan kata-kata, hanya gelengan kepala yang mewakili jawaban dari pertanyaan Gio.
Gio mengulurkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Flora.
"Jangan memaksakan diri untuk bekerja jika kamu sakit," suruh Gio.
"Aku tidak apa-apa ... sungguh," ucap Flora.
Flora memandang wajah Gio dengan menunjukan senyum terlaksananya.
"Ya sudah, aku masuk dulu," ucap Gio dibalas anggukan kepala Flora.
Bersyukur Gio cepat pergi dari hadapannya. Jika semakin lama Gio berada di hadapannya, rasa sesak dalam diri Flora akan semakin bertambah.
Setelah tubuh Gio menghilang di balik pintu, Flora menarik napasnya, menetralkan rasa sesak dalam dadanya. Berhadapan dengan Gio membuat hati Flora merasa sakit. Flora kembali ke meja kerjanya, mencoba berkonsentrasi bekerja.
Sementara di dalam ruangannya, Gio duduk dengan rasa cemasnya. Ia bisa melihat kecemasan pada raut wajah Flora.
Apa yang disembunyikan Flora darinya. Gio juga tidak bisa memaksa Flora untuk mengatakannya.
"Abi ... kamu lihat Flora tadi, 'kan?" tanya Gio pada asisten pribadinya.
"Ya, sepertinya dia sedang ada masalah," jawab Abi.
"Ada apa lagi? Kenapa perasaanku menjadi tidak karuan?" Gio menyandarkan kepalanya pada punggung kursi seraya menyatukan tangannya mengisi ruang pada sela jari-jarinya.
"Cobalah bicara padanya nanti, mungkin dia mau mengatakannya," usul Abi.
Gio mendesah, "Ya."
Gio mengubah posisi duduknya dan mencoba kembali berkonsentrasi bekerja.
Waktu terus berputar dan jam makan siang pun hampir tiba. Jika biasanya Flora meminta agar waktu berputar cepat, kini Flora berharap waktu berhenti berputar agar dirinya tidak harus bertemu dengan Gio.
Bunyi telepon di meja kerjanya mengalihkan perhatian Flora. Dengan tangan yang bergetar, Flora mengangkat telepon yang terhubung dengan ruangan Gio.
"Flora, datanglah ke ruangan segera!" Dan panggilan itu langsung terputus.
Flora kembali meletakan gagang teleponnya ke tempat semula, lalu beranjak dari meja kerjanya. Setelah mengetuk pintu, Flora masuk ke dalam rumah ruangan Gio.
"Ada apa, Pak?" Flora mencoba bersikap formal pada Gio.
"Ke sinilah!" Gio mengulurkan tangannya ke arah Flora, meminta kekasihnya untuk mendekat.
Flora merasa ragu untuk mendekat. Namun, Gio tetap memaksanya. Dengan langkah berat akhirnya Flora menghampiri Gio.
Saat berada dekat dengan kekasihnya Flora merasakan genggaman tangan Gio.
__ADS_1
Terasa hangat dan menenangkan.
"Duduklah!" Gio menarik Flora, mendudukkan kekasihnya ke atas pangkuannya.
"Gio lepaskan! Jika nanti ada yang masuk bagaimana?" ucap Flora dengan suara lirih.
"Tidak, sebelum kamu mengatakan apa yang sedang kamu sembunyikan dariku," pinta Gio.
"Tidak ada yang aku sembunyikan. Aku hanya merasa tidak enak badan saja," ucap Flora.
Gio merasa tidak puas dengan jawab Flora. Gio mendekap tubuh Flora seraya mencium ujung kepalanya.
"Meksipun kumu tidak bicara, tapi wajah dan matamu menunjukan jika kamu menyembunyikannya sesuatu dariku, Flora. Katakan ... apa semuanya baik-baik saja?" Gio masih berusaha membujuk Flora agar mau menceritakan apa masalahnya.
"Iya semua baik-baik saja," ucap Flora.
Mungkin.
"Baiklah jika kamu tidak mau mengatakan yang sejujurnya, maka aku tidak akan melepaskan dirimu," ancam Gio.
Aku tidak sanggup untuk mengatakannya, Gio.
Hening mengambil alih suasana di antara Flora dan Gio. Flora memilih bungkam, jujur Flora tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya pada Gio. Flora tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat mengetahui hal itu.
Flora menyembunyikan wajahnya pada dada Gio. Hidungnya mencium wangi parfum yang selalu Gio gunakan. Rasanya sangat menenangkan.
"Gio ...," panggil Flora.
"Kepalaku pusing. Bolehkah aku pulang dan beristirahat?" tanya Flora.
Gio menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah kekasihnya. Mata Gio bisa melihat wajah Flora yang pucat. Gio meletakan tangannya ke kening Flora, memeriksa suhu tubuh Flora dengan punggung tangannya. Hawa panas langsung terasa pada kulit Gio.
"Kamu demam!"
Tanpa berpikir panjang lagi, Gio menghubungi Abi, meminta pada asistennya untuk menghubungi Dokter pribadinya.
Gio mengangkat tubuh Flora, membawanya ke ruang istirahat yang di sudut ruangannya.
"Istirahatlah di sini!" Gio menyelimuti tubuh Flora.
"Tetaplah di sini," pinta Flora dengan suaranya lemah.
"Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan dirimu." Gio mencium punggung tangan Flora yang ia genggam.
Selama setengah jam Gio tidak beranjak sedikitpun dari sisi Flora. Gio tidak ingin meninggalkan kekasihnya sendiri.
Tidak lama Abi datang ke ruangan itu dengan membawa Dokter.
Dokter mulai memeriksa keadaan Flora dari detak jantung dan denyut nadi, dan terakhir bagian perut Flora.
__ADS_1
"Dia hanya kelelahan dan sepertinya juga dia telat makan," ucap Dokter.
"Saya sudah tulisan beberapa resep obat. Anda bisa menebusnya di apotik." Dokter memberikan resep pada Gio.
"Terimakasih, Dok," ucap Gio.
Pandangan Gio beralih pada Abi, ia memberikan resep itu pada Abi dan memintanya untuk menebusnya di apotik.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Berikan dia makan dan minum obat tepat waktu," pesan Dokter itu sebelum pergi meninggalkan ruangan Gio.
"Mari saya antar," ucap Gio.
"Tidak usah, sebaiknya jaga dia saja. Dia sangat lemah. Jika setelah minum obat keadaannya tidak membaik, sebaiknya bawa dia ke rumah sakit," ucap Dokter dibalas anggukan Gio.
Gio kembali memandang Flora, keadaanya sangat lemah. Gio kembali duduk di samping Flora seraya mengusap keningnya.
"Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Gio dengan suara lirih. Namun, Flora masih bisa mendengarnya.
Flora langsung mempertemukan pandangannya dengan Gio. Salah satu tangannya bergerak ke arah wajah Gio. Flora mengusap wajah Gio dengan ibu jarinya.
Sorot mata Flora menunjukan beban berat dalam dirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, hmm? Kenapa dalam semalam kamu bisa menjadi seperti ini," tanya Gio.
Flora menggelengkan kepalanya. Ingin sekali dirinya mengatakan pada Gio jika ia adalah adiknya. Namun, lidah Flora membeku setiap melihat wajah Gio.
"Flora ...," panggil Gio.
Flora sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Dengan segera Flora memeluk tubuh Gio dan mengeluarkan tangis yang sedari tadi ia tahan.
Flora menangis tersedu-sedu di pelukan Gio, membuat Gio bingung dan merasa khawatir.
Apa yang membuatmu menangis sampai seperti ini, Flora?
Flora masih membenamkan wajahnya pada dada bidang Gio dengan masih menangis sesegukan. Tangan Flora mencengkram kuat kemeja yang dikenakan oleh Gio, seolah sedang melampiaskan rasa kecewa dan amarahnya.
Gio yang sudah tidak kuat melihat kekasihnya seperti itu langsung menjauhkan tubuhnya, tangannya menangkup kedua sisi wajah Flora.
"Apa yang terjadi, Flora? Kenapa kamu menangis sampai seperti ini?"
Flora menggelengkan kepalanya.
"Tolong, Flora ... jangan membuatku cemas," mohon Gio.
"Tolong jangan memaksaku untuk mengatakannya, aku tidak sanggup," ucap Flora di sela isak tangisnya.
Melihat keadaan Flora yang sangat memprihatikan, membuat Gio harus menahan rasa penasarannya.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Tapi jika itu memang masalah yang sangat besar, janganlah menyimpan itu sendiri Flora. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Gio.
__ADS_1
Gio menarik tubuh Flora, membawanya masuk ke dalam pelukannya. Hanya itu yang mampu Gio lakukan saat itu, berharap pelukannya mampu membawa ketenangan untuk Flora.