
Dua orang perawat berjalan lebih cepat dari biasanya dengan membawa brankar dimana ada Felicia di atasnya. Tiba di rumah sakit Felicia sudah memasuki pembukaan delapan yang artinya Dokter harus cepat untuk menangani persalinan Felicia.
Kenzo menggenggam tangan Felicia dari ruang UGD menuju ruang bersalin. Mendengar Felicia akan melahirkan lebih cepat jantung Kenzo berdegup begitu kencang karena gugup. Bahkan kegugupan Kenzo lebih dari Felicia yang jelas akan melahirkan.
Kenzo berusaha mengimbangi langkahnya dengan laju dari brankar karena Felicia masih tidak ingin melepaskan tangannya. Setiap langkah Kenzo memikirkan akan mirip dengan siapa anaknya nanti. Rasanya Kenzo sudah tidak sabar untuk bertemu anaknya secara langsung.
"Kenzo ... sakit!" rintih Felicia.
"Feli ... tolong bersabarlah!" ucap Kenzo.
Kenzo berdecak kesal saat ia merasa lorong yang ia lewati begitu panjang. Ia merasa tidak tega melihat istrinya yang terlihat sangat kesakitan.
Kenzo menghembuskan napas lega saat mereka akhirnya tiba di ruang bersalin. Jantung Kenzo makin berdegup begitu kencang, ia pertama kali masuk ke ruangan itu. Kenzo melihat ada banyak peralatan medis di dalam ruangan itu, tetapi Kenzo fokus pada box bayi yang terbuat dari kaca yang ada di sudut ruangan. Kenzo membayangkan bayinya nanti ada di dalam tempat itu.
"Sakit," jerit Felicia.
Lamunan Kenzo buyar saat ia kembali mendengar jeritan Felicia. Kenzo kembali fokus pada Felicia.
"Sabar ya, Bu. Jangan banyak mengejan dulu atau nanti Anda akan kekurangan tenaga untuk mendorong bayi Anda keluar," perintah Dokter.
"Tolong, Pak. Berikan dukungan pada istri Anda. Tenangkan istri Anda," suruh Dokter kepada Kenzo.
"Baik, Dok," sahut Kenzo.
Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Kenzo bingung harus melakukan apa untuk menenangkan istrinya yang sedang kesakitan.
Apa yang harus aku lakukan? Aku belum pernah memenangkan wanita yang akan melahirkan.
Kenzo menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Setelah itu Kenzo duduk di kursi tepat di samping Felicia. Ia genggam tangan Felicia sambil mengusap perut Felicia.
"Feli ...," panggilnya dengan lembut.
"Kenzo ... ini sakit." Karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan Felicia sampai menitihkan air matanya.
"Aku tidak tahu seberapa sakit yang sedang kamu rasakan sekarang. Tapi ... tolong bersabarlah! Sebentar lagi kita akan bertemu anak kita," ucap Kenzo tanpa berhenti mengusap perut Felicia.
"Sekarang lebih baik kamu tarik napas kamu lalu hembuskan secara perlahan," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
"Rileks, Honey." Kenzo mengecup punggung tangan Felicia.
Felicia melakukan apa yang sarankan oleh Kenzo. Memang rasa sakit yang dirasakannya masih belum hilang, tetapi setidaknya dirinya bisa sedikit merasa tenang.
Kenzo menghembuskan napas lega saat Felicia terlihat lebih tenang. Namun tidak lama setelah itu Felicia kembali menjerit kesakitan bahkan sampai mengigit lengan Kenzo untuk melampiaskan rasa sakitnya.
"Sakit!" pekik Felicia.
Kenzo juga ingin melakukan hal yang sama seperti Felicia. Pria itu juga merasakan sakit karen gigitan dari istrinya.
"Sus, tolong cek lagi." Dokter menyuruh salah seorang asistennya untuk kembali memeriksa kandungan Felicia.
"Dok, ibu Felicia sudah sampai pada pembukaan sempurna," ucap perawat.
Dokter langsung melihat sendiri dan benar bahkan Dokter tersebut bisa melihat kepala si bayi.
"Ibu Felicia, bersiaplah!" ucap Dokter.
"Bersi-ap untuk apa, Dok?" tanya Kenzo tergagap.
"Tentu saja melahirkan anak kalian," jawab Dokter itu.
"Sekarang?" Kenzo tergagap karena merasa gugup.
__ADS_1
"Tentu saja sekarang. Apa Anda ingin menunggu lebih lama lagi?" tanya Dokter sambil menahan tawanya.
Dokter melipat bibirnya untuk menahan tawanya melihat kegugupan Kenzo.
"Maaf, apa Anda baik-baik saja?" Dokter bertanya kepada Kenzo saat melihat wajah Kenzo sangat pucat.
"I-ya, sa-ya baik-baik saja." Kenzo tergagap karena rasa gugupnya.
"Baguslah kalau begitu. Anda harus tetap kuat untuk mendampingi istri Anda," ucap Dokter diikuti tawanya.
Kenzo tersenyum kikuk, melihat ekspresi wajah Dokter wanita itu jelas sekali Dokter wanita itu sedang meledaknya. Kenzo berdecak karena merasa gugup Kenzo merasa isi kepalanya berhenti bekerja.
"Dok ... sakit!" rintih Felicia.
"Sabar ya, Bu," ucap Dokter itu.
Dokter memposisikan dirinya untuk membantu persalinan Felicia. Setelah itu Dokter mengintruksikan kepada Felicia untuk mengejan, mendorong bayi yang ada di dalam kandungannya untuk keluar.
Kenzo menggenggam erat tangan Felicia, memberikan dukungan kepada sang istri. Mata Kenzo dipenuhi oleh air mata, hatinya bergetar saat melihat Felicia melahirkan secara langsung. Ada rasa tidak tega melihat Felicia kesakitan.
"Dorong sekali lagi, Bu!" perintah Dokter.
Felicia rasanya tidak kuat lagi, ia ingin menyerah karena tenaganya sudah hampir habis.
"Kenzo, aku tidak kuat." Felicia berucap dengan air mata bercampur dengan keringat mengalir di sekitar wajahnya.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Tolong bertahanlah demi anak kita," ucap Kenzo dengan suaranya yang lirih.
"Ayo, Bu. Dorong sekali lagi!"perintah Dokter.
Felicia menarik napasnya untuk mengumpulkan tenaganya. Tangannya menggenggam kuat tangan Kenzo. Setelah dirasa dirinya siap, Felicia mengejan dengan sangat kuat hingga sampai suara tangis bayi menggema di ruangan persalinan itu.
"Selamat Bapak, Ibu, anak pertama kalian laki-laki dan lahir dengan sempurna," ucap Dokter.
Dokter menaruh bayi yang baru dilahirkan oleh Felicia ke atas dada Felicia untuk mendapatkan asi kolostrum.
Kenzo tidak lepas menatap takjub pada bayi kecil yang baru dilahirkan oleh Felicia. Dari setitik cairan berwarna putih berubah menjadi makhluk kecil bernyawa yang begitu menggemaskan.
Anak aku.
Sungguh Kenzo tidak tahu lagi dengan cara apa untuk bisa melukiskan kebahagiaanya.
*****
Felicia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Di tempat itu sudah ada keluarganya dan juga keluarga Kenzo. Felicia bisa melihat kebahagiaan di wajah mereka.
Felicia duduk bersandar di tempat tidur ditemani oleh Kenzo. Keduanya melihat dua keluarga mereka sedang berebut untuk menggendong bayinya. Felicia sangat yakin anak pertamanya itu akan menjadi kesayangan mereka, sebab bayinya adalah cucu pertama mereka.
"Feli, Kenzo," panggil Flora.
Felicia dan Kenzo langsung menoleh ke arah Flora.
"Iya, Ma." Kenzo dan Felicia menyahut bersamaan.
"Kalian sudah memilihkan nama untuk bayi tampan ini?" tanya Flora.
"Sudah, Ma," jawab Kenzo.
"Iya, Ma. Kami sudah memiliki nama untuknya," imbuh Felicia.
"Siapa namanya?" tanya Gio.
__ADS_1
"Keanu Alexander Pramuja," jawab Felicia.
"Keanu Alexander Pramuja," ulang Felicia.
"Itu nama yang bagus," ucap Evano yang langsung dianggukki oleh Violetta.
"Kalian bisa panggil dia dengan baby Kean ataupun baby Al," ucap Kenzo.
"Baiklah, Beby Kean," seru Flora, Gio, Evano, dan Violetta bersamaan.
"Kalian tahu? Aku sungguh tidak menyangka kita sudah menjadi kakek dan nenek sekarang," ucap Flora.
"Ya, itu benar. Aku masih teringat jelas saat Felicia dan Kenzo masih kecil. Jika mereka bertemu akan selalu terjadi peperangan," ledek Gio.
"Dan yang selalu berada di posisi yang menang adalah Felicia," ucap Violetta.
"Dan aku yakin sampai saat ini pun, jika mereka bertengkar Felicia masih ada di posisi yang menang," ucap Evano.
"Iya, 'kan Kenzo?" tanya Violetta.
"Iya, Ma. Aku pasti akan selalu kalah karena menantu kesayangan Mama ini sangatlah galak," ledek Kenzo.
Felicia langsung menghadiahkan sebuah cubitan di pinggang Kenzo yang membuat semua orang tertawa.
Lebih dari itu, Kenzo selalu mengalah dari Felicia karena wanita itu sangat dicintainya. Apalagi setelah melihat sendiri perjuangan Felicia untuk melahirkan buah cinta mereka, Kenzo tidak akan bisa menyakiti Felicia.
"Jika kamu berani meledekku lagi, aku tidak akan mengampunimu," ucap Felicia dengan menunjukkan wajah galaknya.
"Baiklah, maafkan aku. Aku hanya bercanda," ucap Kenzo yang kembali membangkitkan tawa semua orang.
Tidak ada lagi ejekan untuk Felicia maupun Kenzo. Setelah itu yang menjadi fokus mereka adalah baby Keanu. Keempat orang tua itu terlihat antusias saat bayi itu bergerak dan menguap digendong Flora.
"Lihatlah, wajahnya lebih diminati pada Kenzo, tapi bibir, hidung, dan matanya seperti Felicia," ucap Flora.
Saat keluarga mereka sedang fokus pada bayi mungil itu, Kenzo mencuri kesempatan untuk bermesraan dengan Felicia.
"Feli," panggil Kenzo dengan suara yang lirih yang hanya bisa didengar oleh Felicia.
"Ada apa?" Felicia juga bicara dengan lirih yang hanya bisa didengar oleh Kenzo.
"Thank you," ucap Kenzo.
"Terima kasih? Untuk apa?" Felicia bertanya apa maksud dari Kenzo berterima kasih kepadanya.
"Terima kasih karena sudah mau berjuang untuk melahirkan bayi kecil itu," jawab Kenzo.
"Terima kasih juga sudah mau menjagaku dan anak kita selama ini," balas Felicia.
"I love you," bisik Kenzo.
"I love you too," balas Felicia.
Jika mengingat kembali berjalan kisah mereka terdengar sangat lucu. Felicia maupun Kenzo rasanya ingin tertawa bagaimana kisah cinta mereka terjadi.
Berawal dari perjodohan yang yang dilakukan kedua orang tua mereka. Keduanya tidak bisa menolak untuk dijodohkan demi untuk membahagiakan kedua orang tua mereka, malam pertama yang terjadi karena keusilan kedua adik mereka, hingga cinta yang terjadi karena terbiasa bersama. Kini dari keterpaksaan itu, tumbuh rasa cinta yang tulus untuk satu sama lain dan lahirnya buah cinta pertama mereka yang menjadi pelengkap rumah tangga mereka. Keduanya berharap dengan hadirnya Keanu, cinta mereka akan menjadi sangat kuat.
(End)
Akhirnya tamat juga. Terima kasih untuk semua yang sudah setia membaca karyaku yang satu ini yang lama banget up-nya, kwkkwkwk.
Sebenarnya aku sudah ada ide cerita untuk, Keanu begitu juga dengan Kenzi, saudara kembarnya Kenzo. Tapi ... aku pending dulu. Aku mau selesaikan yang lain dulu yang masih menggantung.
__ADS_1
Sekali lagi Thank you very much.