
Harusnya up semalam, tapi aku ketiduran. hihiihi
Happy reading
Kabar jika Felicia dirawat di rumah sakit sudah sampai pada dua keluarga besar Ferdinand dan juga Pramuja. Berbondong-bondong dua keluarga besar itu datang ke rumah sakit untuk menjenguk Felicia.
Kenzo dan Felicia dibuat bingung dengan kedatangan mereka. Padahal Felicia sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tetapi keluarganya terlihat sangat cemas.
"Kamu baik-baik saja, 'kan? Kata Kenzi kamu pingsan setelah tercebur ke dalam kolam. Bagaimana itu bisa terjadi?" Violetta yang baru saja datang tidak bisa lagi mengendalikan rasa cemasnya terhadap menantunya. Semua pertanyaan dalam dirinya ia katakan secara bersamaan.
"Aku tidak apa-apa, Mah. Aku hanya berjalan tidak hati-hati saja," jelas Felicia.
"Aku mohon sama kalian semua untuk tidak khawatir," pinta Felicia kepada kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya.
Tidak mungkin Felicia mengatakan pada semua orang jika ada yang mencekal kakinya. Felicia tidak ingin membuat mereka semua bertambah khawatir.
"Kamu hati-hati ya. Kalau kamu lelah istirahat. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan," pesan Flora.
"Iya, Mah," sahut Felicia. "Lain kali aku akan lebih hati-hati."
Pandangan mata Felicia bertemu dengan Kenzo. Dari pandangan itu mengisyaratkan sesuatu. Apa yang dilakukan oleh Kenzo dan Felicia diketahui oleh Gio. Ayah dari Felicia berdehem yang langsung mengalihkan pandangan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kenzo, Felicia ada apa?" tanya Gio.
"Ada yang ingin kalian katakan?" lanjut Gio.
Felicia dan Kenzo kembali beradu pandang. Mereka kembali bicara dalam bahasa isyarat.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Flora yang ikut penasaran ada apa dengan anak dan menantunya.
Kenzo beranjak dari tempatnya. Ia menghampiri istrinya yang duduk di ranjang rumah sakit. Ia duduk tepat di samping istrinya lalu tangannya ia satukan dengan tangan istrinya
"Kami ingin memberitahukan sesuatu pada kalian," ucap Kenzo dengan wajah yang serius.
"Ada apa, Nak? Tidak ada sesuatu yang buruk, kan? Jangan membuat kami khawatir," ucap Violetta.
"Bukan, Mah. Ini kabar baik kok," ucap Felicia.
"Felicia hamil, Mah, Pah." Kenzo berucap dengan senyuman yang merekah. Senyuman yang dipenuhi oleh kebahagiaan.
Ketegangan yang sempat terjadi dengan kedua orang tuanya mereka masing-masing hilang setelah Kenzo mengatakan jika Felicia tengah mengandung.
Tidak ada reaksi apapun dari semua orang. Mungkin mereka terlalu bahagia hingga mereka tidak bisa mengatakan apapun, atau mereka sudah terlalu tua untuk melompat-lompat kegirangan mendengar jika calon cucu mereka sudah tumbuh di rahim Felicia.
Melihat hal itu membuat Kenzo dan Felicia merasa heran. Jantung mereka berdecak begitu hebat menanti respon dari mereka semua. Masih tidak ada kebahagiaan di wajah kedua orang tua mereka, tetapi justru air mata yang ditujukan oleh mereka.
__ADS_1
Kenzo dan Felicia beradu pandang saat melihat kedua orang tua mereka menitihkan air mata.
"Kenapa kalian menangis?" tanya Felicia.
"Kalian tidak berbohong, 'kan?" tanya Gio.
"Apa ada tampang jika kami sedang berbohong atau bercanda di wajah kami, Pah?" tanya Felicia.
"Kami tidak percaya mengingat kalian itu waktu dijodohkan sudah kaya kucing sama anjing, tidak pernah akur. Dan sekarang justru kalian memberikan kabar baik ini pada kami," ucap Gio.
Kenzo dan Felicia merasa bingung harus merespon perkataan ayah mereka dengan apa. Tidak mungkin mereka mengatakan jika semua itu ulah Kenzi dan Gavindra.
"Mah, jangan menangis dong," pinta Felicia. "Ini kabar baik kenapa kalian diam dan tidak bicara apapun?"
"Kami bahagia bahkan sangat bahagia. Kami diam karena kami tidak tahu harus bicara apa. Kami terlalu bahagia," ucap Evano.
"Kemarin Mamah minta cucu. Sekarang sudah kami kasih kenapa kalian justru menangis?" tanya Kenzo.
"Apa kamu tidak bisa melihat. Ini adalah air mata kebahagiaan," ucap Violetta.
"Mamah tidak menyangka kalau secepat ini mamah akan nimang cucu," ucap Violetta.
"Kalian ini ada-ada saja." Kenzo menggelengkan kepalanya diikuti tawa kecilnya.
"Selamat ya, Nak untuk kehamilanmu." Evano mencium kening Felicia. "Jaga kondisimu mulai sekarang."
Klek
Semua orang yang ada di dalam ruang rawat Felicia mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Mereka melihat pintu ruangan itu yang terbuka dari luar. Dari balik pintu muncul saudara-saudara mereka.
"Felicia kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Daniel.
Felicia melihat kecemasan pada di wajah paman dan bibi mereka.
"Aku baik-baik saja, Om?" jawab Felicia.
"Iya Daniel jangan khawatir. Keponakan kesayangan kamu ini tidak kenapa-kenapa," ucap Gio.
"Aku juga sempat khawatir saat mendengar Felicia masuk ke rumah sakit," sambung Evelyn.
"Kalian semua jangan khawatir dan kalian justru harus mengucapkan selamat padanya," ucap Gio.
"Selamat? Untuk apa?" Daniel merasa bingung dengan perkataan Gio.
"Sebentar lagi Felicia akan menjadi seorang ibu," jawab Flora.
__ADS_1
"Apa? Itu artinya Felicia sedang hamil?" Maura bertanya untuk memastikan kebenarannya.
"Iya Tante Maura, aku sedang hamil. Dan kata dokter usia kehamilan aku sudah memasuki Minggu ke empat," jelas Felicia.
"Wah ... selamat, Felicia. Tante seneng dengernya," seru Maura.
"Kami ikut berbahagia untuk kamu dan juga Kenzo," imbuh Evelyn.
Percakapan semua orang di ruangan rawat Felicia terhenti saat seorang Dokter dan perawat masuk ke dalam tempat itu.
"Selamat siang," sapa Dokter.
"Selamat siang juga, Dok." Semua orang yang ada di ruangan itu membalas sapaan Dokter.
"Saya mau periksa keadaan ibu Felicia," ujar Dokter.
"Silahkan, Dok," ucap Flora.
Kenzo, Flora, dan Violetta menyingkir dari samping tempat tidur. Mereka menyingkir untuk memberikan ruang pada Dokter yang akan memeriksa keadaan Felicia.
"Bagaimana, keadaan istri saya, Dok?" tanya Kenzo.
"Tidak ada masalah semuanya baik-baik saja," jawab Dokter.
"Jadi saya sudah boleh pulang hari ini?" tanya Felicia.
"Tentu saja. Tapi banyak-banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi dan jangan merasa stress. Agar ibu dan calon bayinya sehat," pesan Dokter.
"Jangan khawatir, Dok. Kami semua di sini akan menjaganya dengan baik," ucap Gio.
"Baiklah saya permisi dulu. Silahkan untuk mengurus kepulangan istri Anda," ucap Dokter.
"Baik, Dok. Saya akan mengurusnya," ucap Kenzo.
Beberapa saat setelah Dokter keluar Kenzo juga izin untuk mengurus administrasi rumah sakit agar istrinya bisa segera pulang.
Dalam perjalanan menuju ke kasir ponselnya berdering. Kenzo merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih miliknya. Ada dua pesan video dari Alan.
Kenzo meng-klik kedua video itu. Terlihat jelas jika dalam video itu kejadian saat Felicia jatuh di trotoar dan saat Felicia jatuh ke dalam kolam berenang di acara reuni.
Benar saja Felicia jatuh di trotoar karena sengaja didorong oleh seseorang. Dilihat dari postur tubuhnya orang itu jelas seorang perempuan. Meksipun orang itu menutupi sebagian wajahnya dengan masker, Kenzo masih bisa mengenalinya. Orang itu tidak lain adalah Vera.
Dan kejadian di acara reuni juga seperti apa yang diceritakan oleh Felicia. Seseorang mencekal kakinya dan membuatnya terjatuh ke dalam air. Kenzo juga mengenali orang itu, perempuan bernama Jeni yang tidak lain adalah teman Vera.
Sudah dipastikan jika dalang dibalik semua kemalangan yang menimpa Felicia adalah Vera.
__ADS_1
Kenzo menggenggam erat ponsel di tangannya, rahangnya mengeras, matanya seakan menunjukkan kemarahan. Jika saja Kenzo tidak bisa mengendalikan kemarahannya sudah dipastikan benda pipih berwarna hitam itu akan remuk di dalam genggamannya.