
Aura memilih berdiri di dekat pintu dapur memerhatikan dua pria yang sedang makan dengan lahap. Aura menelan air liurnya sendiri melihat cara makan Ciko dan Gavindra. Kedua pria itu terlihat seperti belum makan selama beberapa hari. Padahal makanan yang ia masak bisa dibilang makanan sederhana.
"Sudah berapa hari mereka tidak makan?" batin Aura.
Aura menahan tawanya melihat Gavindra dan Ciko kepedesan. Terlihat dari keringat sebesar biji jagung mengalir di wajah mereka.
"Kalian mau minum?" tawar Aura.
Karena mulut penuh Gavindra dan Ciko merespon perkataan Aura dengan anggukkan kepala. Aura mengambil air minum di dalam lemari pendingin lalu memberikannya kepada Gavindra dan Ciko.
Tidak disangka soto yang sekiranya untuk porsi lima orang habis dalam sekejap. Aura merasa bahagia serta merasa lucu.
"Sudah berapa hari kalian tidak makan?" ejek Aura.
Gavindra memicik tajam ke arah Aura, membuat Aura memasang wajah bodoh dengan menunjukkan deretan giginya.
"Makanannya gak enak!" ucap Gavindra.
"Gak enak habis dua mangkok. Gak enak mangkoknya," ledek Ciko.
"Memang gak enak," kekeh Gavindra.
"Makanan enak begini kamu bilang tidak enak. Kayaknya lidahmu bermasalah," ejek Ciko.
"Kenapa jadi kamu yang repot," ucap Gavindra.
Gavindra bangun lalu menoleh ke arah Aura, pria itu meminta Aura memasak menu yang lain esok hari.
"Bilang saja minta dimasakin lagi sama Aura. Gengsi amat." Ciko menggeleng kecil seraya tertawa merasa lucu dengan sikap sahabatnya.
"Jadi aku lulus ujian hari ini?" tanya Aura dengan harapan besar.
"Ya jel—" Ciko belum selesau bicara tetapi dipotong oleh Gavindra.
"Jelas belum. Makanya besok kamu harus datang ke sini lagi," sela Gavindra.
"Besok?" tanya Aura.
"Iya, kenapa? Mau mundur? Silahkan," ucap Gavindra.
"Tidak! Aku sudah maju selangkah kenapa harus mundur," jawab Aura.
"Lalu kenapa kamu terlihat keberatan untuk datang lagi ke sini besok?" tanya Gavindra.
"Besok aku sekolah, siangnya aku harus bekerja, dan malamnya aku pergi ke rumah sakit menjaga ibuku," jelas Aura.
"Sekolah?" Ciko nampak bingung.
"Aku masih kelas dua belas," jelas Aura.
"Apa?" Gavindra dan Ciko terkejut mendengar penjelasan Aura.
"Astaga! Aku akan menikah dengan bocah," ucap Gavindra seraya mengusap wajahnya.
Gavindra dan Ciko patut terkejut mereka kira Aura adalah gadis dewasa karena memiliki pemikiran seperti wanita dewasa. Belum lagi postur tubuhnya yang tinggi.
"Berapa usiamu?" tanya Gavindra.
"Tujuh belas tahun," jawab Aura.
Gavindra sudah tidak bisa lagi membendung rasa terkejutnya. Jika dirinya menikahi Aura maka banyak yang akan menyebutnya pedofil.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Aura dengan begitu polosnya.
"Ya jel—" Ucapan Gavindra dipotong oleh Ciko.
"Tidak ada yang salah, kok?" potong Ciko.
"Apa yang tidak, hmmp—" Ciko membungkam mulut Gavindra agar tidak bicara lebih jauh. "Aura, hari ini tes kamu sudah selesai. Besok aku akan menghubungimu lagi untuk tes selanjutnya," ucap Ciko disambut anggukkan kepala oleh Aura.
"Ck, apa yang kamu katakan?" Gavindra bicara dengan cara berbisik.
__ADS_1
"Sudah diam dulu," suruh Ciko. "Lagipula anak kecil ini lumayan juga," imbuh Ciko.
Gavindra membuang napas kasar, tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ciko.
"Tapi umurnya —" Ucapan Gavindra dipotong oleh Ciko.
"Peduli amat sama umur. Umur kalian hanya berbeda 10 tahun. Tidak berbeda jauh juga," ucap Ciko. "Coba sekarang kamu bayangkan! Bagaimana jika kedua orangtuamu menjodohkanmu dengan wanita yang jauh lebih tua?" imbuh Ciko.
Gavindra terdiam mencerna ucapan Ciko yang sebenarnya tidak masuk akal. Akan tetapi tidak ada gadis yang lebih baik dari Aura yang ia temui sbelumnya.
Sementara itu Aura berdiri dengan kening yang mengerut memerhatikan dua pria dewasa yang sedang bicara berbisik-bisik.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?" batin Aura.
Aura tidak peduli dengan apa yang direncanakan oleh Ciko dan Gavindra, yang ia pedulikan saat itu adalah menghasikan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Untuk kesembuhan ibunya, Aura rela melakukan apapun termasuk mengorbankan harga dirinya.
Aura mengambil tas-nya lalu pergi dari dari tempat itu. Namun, Gavindra memanggilnya membuat langkah Aura terhenti.
"Hei, tunggu!" cegah Gavindra.
"Ada apa?" Aura menoleh melihat ke arah Gavindra.
"Catat nomor ponselku di handphone-mu," suruh Gavindra.
"Untuk apa?" tanya Aura.
"Agar aku bisa dengan mudah menghubungimu. Memangnya untuk apa lagi," jawab Gavindra. "Sudah jangan banyak tanya! Mana ponselmu," punya Gavindra.
Aura nampak sangat ragu untuk mengeluarkan ponselnya. Ia justru memeluk erat tas-nya.
"Kenapa diam! Mana ponselmu!" punya Gavindra.
"Anu ... ini ... anu … itu." Aura nampak sangat gelisah.
"Apa sih? Anu ini itu? Bicara yang jelas!" suruh Gavindra. "Cepat berikan ponselmu!" perintah Gavindra.
Aura merogoh tasnya, setelah itu ia memberikan benda yang diambilnya dari dalam tas.
"Ini." Aura memberikan ponselnya kepada Gavindra.
"Itu ponsel," jawab Aura.
"Ponsel dari zaman apa?" Gavindra membolak-balik benda yang Aura sebut sebagai ponsel.
Memang itu sebuah ponsel lama yang hanya bisa untuk panggilan dan mengirim pesan Short massage service. Gavindra jelas asing dengan benda itu. Sejak kecil Gavindra selalu menggunakan barang-barang berteknologi canggih.
"Hanya itu yang aku punya," ucap Aura dengan wajah yang menunduk.
"Buang saja. Beli yang baru, yang lebih bagus dan canggih," suruh Gavindra.
"Aku hanya mampu beli handphone seperti itu. Aku beli benda itu juga dengan mengumpulkan uang jajan selama dua bulan," ucap Aura.
"Ck, ribet banget sih?" Tanpa rasa bersalah Gavindra membuang ponsel Aura tempat sampah.
"Hei, kenapa malah dibuang." Aura terkejut melihat Gavindra membuang ponselnya.
Gavindra tidak merespon apapun perkataan Aura. Pria itu beranjak dari meja makan dan pergi ke kamarnya. Tidak berselang lama Gavindra kembali setelah berganti pakaian.
"Ayo ikut!" Gavindra menarik tangan Aura membawanya keluar dari tempat itu.
"Mau ke mana?" tanya Aura.
"Sudah, ikut saja. Jangan banyak bertanya," ucap Gavindra.
Gavindra terus berjalan sambil menarik Aura membawa gadis kecil ke baseman.
"Masuk!" Gavindra menyuruh Aura untuk masuk ke mobilnya.
"Katakan kamu mau membawa aku ke mana?" tanya Aura lagi.
"Ck, kamu cerewet sekali. Sudah masuk! Aku juga tidak akan macam-macam denganmu," ucap Gavindra.
__ADS_1
Aura masuk ke mobil mengikuti Gavindra. Karena merasa canggung Aura duduk di bangku penumpang belakang.
Gavindra yang sedang memakai sabuk pengaman melihat Aura yang justru duduk di belakang. Ia dibuat kesal karena itu.
"Kenapa kamu duduk di situ? Apa kamu pikir aku ini sopirmu?" sungut Gavindra.
"Oh, salah ya?" ucap Aura dengan polosnya.
"Ya salah lah! Cepat pindah duduk di sini!" Gavindra menepuk kursi penumpang yang ada di sebelahnya.
"Iya, iya. Kenapa dari tadi kamu marah-marah terus," gerutu Aura.
Setelah Aura berpindah tempat duduk, Gavindra menjalankan kereta besinya. Mereka melaju mengelilingi kota. Suasana masih terik padahal waktu sudah menujukkan pukul empat sore.
Aura duduk dalam diam, tidak tahu ke mana Gavindra akan membawanya pergi.
"Sudah sampai! Turun!" suruh Gavindra.
"I-ya." Aura melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya lalu keluar menyusul Gavindra.
Aura berdiri di samping mobil memandang sekeliling dengan wajah bingung.
"Ayo, cepat!" ucap Gavindra.
"I-ya." Aura berlari kecil menghampiri Gavindra.
Setelah itu keduanya masuk ke tempat itu yang ternyata toko gawai. Aura bingung kenapa Gavindra mengajaknya ke tempat seperti itu. Karena tidak tahu mau apa di tempat itu Aura berjalan mengikuti Gavindra seperti anak ayam mengikuti induknya.
"Kenapa berdiri terus? Duduk sini!" Gavindra menyuruh Aura duduk di sampingnya.
"Iya." Aura duduk sambil melihat sekeliling.
Toko gawai itu sangat besar. Aura bisa melihat banyak gawai dengan berbagai model.
"Pilih yang mana?" tanya Gavindra.
"Pilih apa?" tanya Aura bingung.
"Tentu saja pilih ponselnya. Tadi aku membuang ponselmu, 'kan? Jadi aku akan menggantinya," jawab Gavindra.
"Oh." Aura manggut-manggut.
Setelah itu Aura melihat-lihat ponsel yang ada di hadapannya. Jelas semua itu bukan barang yang murah.
"Sudah tahu mana yang mau kamu pilih?" tanya Gavindra.
Aura menggelengkan kepalanya lalu menarik lengan Gavindra memberikan isyarat pada pria itu untuk mendekat.
"Ada apa?" tanya Gavindra.
"Kita cari di tempat lain saja. Di sini sepertinya sangat mahal. Aku tidak akan sanggup untuk membelinya " Aura bicara dengan berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
Gavindra menepuk keningnya sendiri, ia bingung dengan kepolosan gadis yang ada di sampingnya.
"Pilih saja yang kamu suka. Aku yang akan membayarnya," ucap Gavindra.
"Tapi aku tidak tahu kapan aku bisa mengembalikan uang untuk membeli benda ini," ucap Aura.
"Astaga! Kamu ini lugu atau bodoh? Aku membelikan ponsel untukmu. Kamu tidak perlu menggantinya," jelas Gavindra.
Gavindra berdecak, ia merasa menyesal bertanya kepada Aura.
"Mba, minta ponsel model terbaru di sini ya," suruh Gavindra.
"Baik, Pak," ucap pegawai toko.
Pegawai toko itu menunjukan beberapa ponsel dengan warna dan mereka yang berbeda. Gavindra tidak akan mengulangi kesalahannya dengan bertanya kepada Aura. Salah satu ponsel dari merek ternama Gavindra pilih. Setelah ponsel itu bisa digunakan Gavindra memasukan nomornya ke ponsel tersebut.
"Ini untukmu! Kamu tidak perlu menggantinya," ucap Gavindra.
"Untukku?" Aura menerima gawai yang Gavindra berikan dengan perasaan ragu. Seumur hidupnya baru saat itu ada yang memberikan barang mahal untuknya. "Kamu yakin memberikan ini untukku?" tanya Aura.
__ADS_1
"Yakinlah! Ini agar aku bisa mudah mencari keberadaanmu," ucap Gavindra. "Oh iya, tapi ingat. Kamu tidak boleh menyimpan nomor pria lain di ponsel ini," ucap Gavindra.
Eh?