
Flora dan Gio melongo melihat tempat yang ingin mereka tuju penuh oleh pengunjung, bahkan tidak ada satu tempat duduk yang kosong.
"Kenapa ramai sekali?" gumam Gio.
Flora pun ikut berdecak kesal. "Padahal aku ingin sekali makan es cream di tempat ini," ucap Flora.
"Kita cari tempat lain saja," saran Gio.
"Rasanya pasti tidak akan sama seperti tempat ini." Flora mendecak kesal.
"Aku tahu tempat di mana kita bisa makan es cream yang enak," kata Gio.
"Ck, baiklah ... ayo," balas Flora.
Flora dan Gio meninggalkan kedai es cream yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu. Mereka kembali ke tempat mobil Flora terparkir. Keduanya masuk ke dalam satu mobil yang sama. Gio mengambil alih kemudi mobil Flora dan melajukan meninggalkan tempat itu.
"Kita mau ke mana?" tanya Flora.
"Makan es cream lah," sahut Gio.
"Ck, aku tahu itu," ucap Flora diikuti tawa kecil Gio.
Setelah berputar-putar di jalanan, Gio memberhentikan laju mobilnya di depan sebuah cafe.
"Kita makan di sini saja," ujar Gio.
Flora memperhatikan tempat yang mereka datangi. Lumayan ramai.
"Apa kamu sering ke sini?" tanya Flora.
"Hanya sesekali," jawab Gio seraya membuka seatbelt yang melingkar pada tubuhnya.
Flora pun melakukan hal yang sama lalu menyusul Gio turun dari dalam mobil. Keduanya melangkah ke arah cafe dan memilih duduk di luar cafe.
"Tempatnya ternyata nyaman juga!" ucap Flora.
"Ya, memang tempatnya sederhana tapi nyaman!" ujar Gio.
"Kamu sering ke sini?" tanya Flora.
"Aku sama papa dulu sering ke sini, tapi itu sudah lama sekali," sahut Gio.
Gio melambaikan tangannya untuk memanggil seorang pelayan cafe. Tidak lama pelayan cafe datang dengan membawa buku menu.
"Kamu mau es cream rasa apa?" tanya Gio.
"Aku mau 2 cup es cream masing-masing 3 rasa, cokelat, strawberry, dan taro," sahut Flora.
"Apa! Kamu mau makan sebanyak itu?" Dengan polosnya Flora mengangguk.
"Kamu mau manyakiti dirimu sendiri!" sembur Gio.
"Ayolah itu sangat enak, Gio," rengek Flora.
"Tidak!" Gio mengambil buku menu dari tangan Flora lalu Gio mengubah arah pandangnya ke ada pelayan cafe itu. "Mbak, berikan dia satu cup dengan rasa yang dia minta."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Sssttth ...." Gio menaruh jari telunjuknya pada bibir Flora. "Tidak ada protes."
Flora melipat kedua tangannya di depan dada seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ayolah, Sayangku jangan ngambek seperti ini." Gio merangkul pundak Flora. "Aku tidak tahan jika melihatmu seperti ini, kamu terlihat makin menggemaskan," bisik Gio.
Flora menyingkirkan tangan Gio yang sedang merangkul pundkanua. "Apa kamu melakukan ini pada semua perempuan?"
"Ayolah Flora, kamu bertanya atau sedang meledekku," ucap Gio. Tawa Flora meledak melihat ekspresi lucu wajah Gio.
Tidak lama es cream yang mereka pesan datang. Pelayan cafe meletakan es cream yang mereka pesan. Flora bertepuk tangan kecil dan berseru saat melihat es cream yang nampak sangat lezat itu. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Flora langsung menyantap es cream pesanannya.
"Ini sangat enak!" ucap Flora.
Gio tersenyum melihat wajah ceria Flora. "Kamu suka?"
Flora pun langsung mengangguk cepat.
"Aku juga suka es cream nya, tapi aku lebih suka senyuman mu." Gio mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Flora.
"Hei, itu mata dikondiskan dong." Flora memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupi kegugupannya.
"Flora boleh aku bertanya?" tanya Gio.
"Hmmm, apa yang ingin kamu tanyakan?" ujar Flora.
"Kamu benar ingin melupakan Daniel?" tanya Gio.
Flora menghentikan menyuapi es cream ke dalam mulutnya. Sesaat Flora dia tidak mengatakan apapun pada Gio. Terlihat jelas jika Flora sedang memikirkan sesuatu.
"Ya, aku ingin bisa melupakan dia," ucap Flora. "Walau itu sangat sulit."
Flora terus memandang wajah Gio saat mengucapkan kalimat itu. Terlihat sekali keseriusan pada wajahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayangku?" tanya Gio.
"Kamu!" sahut Flora tnpa mengalihkan pandangnya dari wajah Gio.
"Aku! Apa yang kamu pikirkan tentang diriku?" Gio memasukan satu sendok es cream ke dalam mulutnya.
"Semuanya," sahut Flora yang langsung menghentikan gerakan Gio.
Gio menoleh ke arah Flora membuat pandangannya bertemu dengan Flora.
"Kenapa kamu begitu mencintaiku dan sejak kapan?" tanya Flora tanpa memutus pandangan itu.
"Aku tidak bisa menjawab karena aku sendiri tidak tahu jawabannya," sahut Gio tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu berniat menjadikan aku sebagai pelariammu?" tanya Gio.
Flora bungkam, ia bingung untuk mengatakan apa. Namun belum sempat Flora menjawab, Gio lebih dulu mengeluarkan kata-katanya.
"Tidak masalah, aku tidak akan keberatan untuk itu." Gio menyendok satu sendok es cream dan menyodorkannya ke hadapan bibir Flora. "Tapi saat aku mendapatkan hatimu, jangan harap kamu bisa lari dariku, Flora."
Flora tersenyum soeolah mengejek dirinya sendiri. Melihat itu Gio menaruh kembali sendok yang ia pegang ke cup es cream nya lalu menggenggam tangan Flora.
"Kamu masih tidak mempercayai ku, Flora?" tanya Gio.
__ADS_1
Flora menggeleng, "Bukan seperti itu. Hanya saja ...."
Dia itu play boy, pasti dia juga punya banyak cara untuk merayu seorang wanita.
Kalimat itu yang selalu muncul di dalam benak Flora membuat Flora menepis semua perasaan Gio untuk dirinya.
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja kamu punya banyak pacar." Flora langsung tergelak setelah mengatakan kalimat itu.
"Flora ... jangan bercanda." Gio memasukan kembali es cream ke dalam mulutnya.
"Kamu mau menerima ku, lalu bagaimana keluargamu, Gio?"
"Papaku saja lebih menginginkan kamu untuk menjadi anaknya ketimbang aku." Wajah Gio memelas.
"Anaknya? Bagaimana kalau aku menjadi ibu tirimu?" ledek Flora.
"Berani kamu melainkan itu ... aku akan menculikmu pada saat hari pernikahan kalian," balas Gio.
Flora langsung tergelak setelah mendengar perkataan Gio. "Kamu ini ... dasar anak nakal."
Hal yang tidak pernah bisa dilakukan bersama Daniel, bisa Flora lalukan bersama Gio. Laki-laki itu memberikan banyak hal yang membuatnya mempunyai alasan untuk tertawa. Bahkan Flora merasa menjadi dirinya sendiri saat bersama Gio dan merasa sangat nyaman jika bersamanya.
Flora menghentikan tawanya saat melihat Gio terus memandang dirinya dengan senyum yang terlukis pada bibirnya.
"Ada apa?" tanya Flora.
"Aku senang jika kamu tertawa seperti ini," sahut Gio.
"Es cream ku sudah habis. Bisakah kita pulang sekarang?" Flora menunjukan senyumnya pada Gio.
"Tentu!" Gio memanggil seorang pelayan cafe untuk membayar tagihan es cream pesanannya.
"Yuk!" Gio mengulurkan tangannya ke arah Flora dan gadis itu pun menerimanya.
Keduanya beranjak dari kursi dan melangkah ke mobil dengan tangan yang menyatu. Gio membukakan pintu mobil untuk Flora. Saat Flora akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering. Flora merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Ada nama Daniel pada layar ponselnya. Ada keraguan dalam diri Flora untuk menerima panggilan itu.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Gio.
Flora melihat ke arah Gio sekilas lalu menarik napasnya sebelum memutuskan untuk menerima panggilan dari kekasihnya.
"Halo," ucap Flora saat panggilannya sudah tersambung.
"Kamu sedang apa? Maaf aku sangat sibuk jadi baru sempat menghubungi mu," ucap Daniel dari seberang panggilan.
"Tidak apa-apa," sahut Flora.
"Kamu sedang apa?" ulang Daniel.
"Aku ...." Flora melihat ke arah Gio. "Aku sedang bersama Gio. Kami baru makan es cream," lanjut Flora.
Gio senang mendengar itu.
"Daniel, aku tutup teleponnya dulu. Aku mau pulang." Flora menutup teleponnya tanpa menunggu perkataan Daniel selanjutnya.
Flora memasukkan kembali ponselnya dari dalam tasnya bersamaan dengan cairan bening keluar dari matanya. Gio segera menghapus air mata yang jatuh ke pipi Flora lalu menariknya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Cepat tarik aku keluar dari hubunganku dengan Daniel, sebelum perasaanku makin jauh pada Daniel." Satu kecupan Gio berikan pada kening Flora.