
Felicia menggandeng lengan Kenzo dengan mesra. Mereka berjalan beriringan menuju restoran hotel. Tempatnya tepat di atap gedung hotel tempat mereka menginap.
Kenzo memakai alternatif lift untuk sampai ke tempat yang akan mereka tuju. Sampai di restoran Kenzo membawa Felicia keluar dari restoran. Laki-laki itu sengaja memesan meja di tempat yang terbuka.
Kenzo menarik salah satu kursi untuk Felicia lalu mempersilahkan Felicia untuk duduk.
"Duduklah," ucap Kenzo.
"Terima kasih." Felicia mendaratkan bokongnya ke kursi.
Kenzo melangkah menuju kursinya sendiri yang tepat di hadapan Felicia.
"Tempatnya sangat nyaman," ucap Felicia.
"Aku juga sudah memesan makanan kesukaanmu," ucap Kenzo.
"Benarkan?" seru Felicia disambut anggukan kepala oleh Kenzo.
"Sebentar ya," ucap Kenzo.
Kenzo mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan. Tidak berselang lama seorang pelayan laki-laki datang ke meja yang duduki oleh Kenzo.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pelayan itu.
"Saya sudah memesan beberapa menu makan di sini. Apa semuanya sudah siap?" tanya Kenzo.
"Atas nama siapa?" tanya pelayan itu lagi.
"Kenzo," jawab Kenzo.
"Tunggu sebentar, Pak. Saya akan mengeceknya," ucap Pelayan itu.
"Baiklah," sahut Kenzo.
Hening mengambil alih suasana di antara Kenzo dan Felicia. Mereka hanya saling memandang dan tersenyum saja.
Felicia lebih dulu memutus pandangan itu. Ia berpaling dari Kenzo untuk melihat sekelilingnya. Felicia melihat
restoran dalam keadaan ramai. Hampir tidak ada meja yang kosong di sana.
Pemandangan malam bisa Felicia lihat dengan jelas. Di sampingnya ada lautan yang sangat luas dan di atasnya ada langit berwarna gelap yang dihiasi oleh taburan bintang.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Kenzo.
Felicia menoleh ke arah Kenzo. "Ya, aku sangat suka."
"Di sini tempatnya sangat indah dan anginnya juga sangat kencang. Pantas saja kamu memintaku untuk memakai jaket," ucap Felicia diikuti tawa kecilnya.
"Aku hanya tidak ingin kamu sakit nantinya," ucap Kenzo.
"Terima kasih untuk kepedulianmu," ucap Felicia.
Kenzo merespon perkataan Felicia dengan senyumannya.
Obrolan mereka terhenti saat beberapa orang pelayan datang dengan membawa makanan. Seorang pelayan membantu menata makanan yang berbeda ke atas meja beserta minuman kesukaan Felicia.
"Silahkan dinikmati," ucap salah kepala pelayan di restoran itu.
"Terima kasih." Kenzo dan Felicia berucap bersamaan.
"Kami permisi." Beberapa pelayan itu membungkukkan badan mereka sebelum meninggalkan meja Kenzo.
Felicia memandangi makanan dan minuman yang ada di hadapannya. Memang benar itu semua makanan dan minuman kesukaannya. Felicia memandang Kenzo dengan kening yang mengernyit.
"Apa hanya ini?" tanya Felicia.
__ADS_1
"Iya, apa ada yang kamu inginkan lagi?" tanya Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada ini sudah lebih dari cukup."
"Kalau begitu, ayo makanlah," ucap Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
Felicia tidak langsung menyentuh makanan itu. Justru Felicia memikirkan sesuatu hal.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Hmm, ada apa?" tanya Kenzo.
"Aku mau ke toilet sebentar," izin Felicia.
"Mau aku temani?" tawar Kenzo.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri," tolak Felicia.
"Baiklah. Jangan terlalu lama," ucap Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
Felicia beranjak dari kursinya dan meninggalkan Kenzo. Felicia mendekati seorang pelayan untuk menanyakan letak toilet.
Sementara itu Kenzo masih memperhatikan Felicia dari tempat duduknya. Ia memperhatikan Felicia sampai bayangan Felicia lenyap dari pandangannya.
Kenzo memilih untuk mengecek pekerjaannya melalui telepon genggamnya sambil menunggu Felicia. Namun, tiba-tiba saja suara seseorang mengganggu ketenangannya.
"Kenzo."
Kenzo menoleh ke asal suara. Suasana hatinya buruk setelah melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
Kenzo langsung membuang pandangannya dari wanita yang merupakan mantan kekasihnya. Ia memilih untuk kembali fokus pada telepon genggamnya.
"Hai." Vera menyapa Kenzo dengan memasang senyuman di bibirnya.
"Kebetulan sekali ya kita bertemu di sini," ucap Vera.
"Aku dan kamu menginap di hotel yang sama. Sangat mungkin jika kamu dan aku bertemu." Kenzo berucap tanpa menoleh ke arah Vera.
"Ya aku tahu. Aku merasa senang kita bisa bertemu lagi," ucap Vera.
"Tapi tidak denganku," ujar Kenzo.
Vera nampak sedih, hatinya juga sangat terluka mendengar ucapan Kenzo, tetapi Vera mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Vera tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dirinya masih menginginkan Kenzo. Meskipun Kenzo selalu menolak, Vera masih tetap berusaha untuk bisa dekat dengan Kenzo.
"Kenzo —" Vera ingin duduk di dekat Kenzo, tetapi Kenzo melarangnya.
"Jangan berani duduk di tempat itu." Kenzo menghentikan Vera saat akan duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Felicia.
"Tempat duduk itu milik istriku. Dia yang pantas untuk duduk di situ," ucap Kenzo.
Bersamaan dengan itu Felicia kembali dari toilet. Terlihat jelas di wajahnya ada rasa kesal saat melihat Vera.
"Nyonya Wibowo, ada urusan apa kamu di sini?" tanya Felicia.
"Kamu tahu jelas maksud dari keberadaanku di sini." Vera menatap Felicia dengan tajam.
Felicia membalas menatap Vera penuh rasa kesal. Saat siang hari wanita itu sudah mengganggu waktunya dan sekarang dia sedang mencoba mengganggu suaminya.
"Heh, tidak akan aku biarkan," batin Felicia.
"Permisi." Felicia duduk di kursinya dan tidak memperdulikan keberadaan Vera.
Amarah Vera sudah mulai naik ke ubun-ubun, tetapi Vera mencoba untuk menahannya. Dirinya merasa tidak boleh kalah dengan Felicia. Ia mencari cara untuk merendahkan Felicia di hadapan Kenzo.
__ADS_1
"Heh, Felicia. Apa kamu tidak tahu kalau Kenzo tidak suka dengan steak daging?" tanya Vera.
Mata Felicia memicik tajam ke arah Vera. Felicia tahu jelas jika Vera ingin merendahkan dirinya di depan Kenzo, tetapi Felicia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Permisi."
Felicia, Kenzo, dan Vera menoleh ke asal suara. Dua orang pelayan datang dengan membawa makanan yang sebelumnya dipesan oleh Felicia.
"Ini pesanannya, Bu." Satu pelayan yang datang menaruh makanan berupa udang bakar dan cah sawi ke atas meja.
"Feli, kamu yang memesan ini?" Kenzo bertanya pada Felicia saat melihat makanan kesukaannya.
"Iya, tentu saja aku yang memesannya. Aku rasa ini tidak adil. Kamu memesan makanan kesukaanku, tetapi tidak ada makanan kesukaanmu. Jadi aku memesannya," jawab Felicia.
Felicia tersenyum sinis saat melihat wajah masam Vera. Ia tahu jelas alasan kenapa Vera seperti itu.
"Maaf Nyonya Wibowo. Anda benar suami saya memang tidak suka dengan steak daging. Aku tahu dia paling suka makanan laut. Maka dari itu aku memesan makanan yang dia sukai. Udang bakar dan cah sawi," ucap Felicia.
Vera berdiri mematung. Telapak tangannya Vera genggam untuk menahan amarah yang bersiap untuk keluar.
"Aku ini istrinya. Jadi aku tahu makanan apa yang Kenzo suka dan yang tidak Kenzo sukai," ucap Felicia.
"Kamu!" Vera ingin membalas perkataan Felicia, tetapi sayangnya suara Wibowo lebih dulu terdengar dan mencegah Vera untuk bicara dengan Felicia.
"Vera," panggil Wibowo.
Vera menoleh ke arah Wibowo bersama dengan Felicia dan Kenzo tentunya.
"Mas," ucap Vera.
"Sedang apa kamu di sini?" Wibowo belum menyadari akan keberadaan Felicia dan Kenzo.
"Aku ...." Vera nampak bingung untuk menjawab alasan keberadaan dirinya di tempat itu.
"Selamat malam, Bapak Wibowo," sapa Felicia.
Wibowo menoleh ke asal suara. Ia melihat Felicia dan Kenzo ada di hadapannya.
"Oh, kalian. Selamat malam Tuan dan Nyonya Kenzo." Giliran Wibowo yang menyapa Kenzo dan juga Felicia.
"Selamat malam." Kenzo dan Felicia membalas sapaan Wibowo.
"Jadi kalian ada di sini juga. Wah ini kebetulan sekali," ucap Wibowo. "Tuan Kenzo —"
"Maaf jika saya menyela ucapan Anda, Tuan Wibowo," sela Kenzo. "Saya jauh lebih muda dari Anda. Usia saya sama seperti anak Anda. Jadi saya rasa tidak pantas jika Anda memanggil saya dengan sebutan 'tuan'. Panggil saja saya dengan nama saja."
"Baiklah, Kenzo," ucap Wibowo.
"Saya tahu masa lalu antara kamu dan Vera. Tapi semuanya sudah selesai jadi bisa kita lupakan ini?" ucap Wibowo.
"Selesai? Apanya yang selesai? Tidak tahu 'kah Anda jika Vera masih menginginkan suami saya," batin Felicia.
"Tenang saja, Tuan Wibowo. Saya juga sudah mengubur masa lalu saya itu," ucap Kenzo. "Saya merasa bahagia dengan kehidupan baru saya. Dan saya rasa Vera juga begitu."
"Baguslah. Kalau begitu ... bagaimana jika kita makan malam bersama," tawar Wibowo.
"Maaf saya tidak bisa." Kenzo langsung menolak tawaran Wibowo tanpa mau memikirkannya lebih dulu.
Kenzo mengulurkan tangannya dan meraih tangan Felicia yang ada di atas meja. "Malam ini saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama istri saya. Saya rasa Anda juga harus meluangkan banyak waktu untuk istri Anda."
"Ya saya rasa kamu benar, Kenzo." Wibowo merangkul pinggang Vera. "Saya pasti akan menghabiskan banyak waktu untuk Vera. Apalagi kandungan Vera sudah mulai besar."
"Luangkan banyak waktu untuk istri Anda, Tuan Wibowo. Isi hari-harinya dengan kasih sayang Anda. Jangan biarkan istri Anda memiliki waktu untuk memikirkan orang lain selain Anda." Felicia berucap dengan terus menatap Vera.
Felicia merasa sangat puas, dan ingin tertawa melihat reaksi Wibowo dan Vera setelah mendengar ucapannya.
__ADS_1