Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 202


__ADS_3

Hari itu Kenzo berangkat bekerja dengan penuh semangat. Bagaimana tidak semangat paginya sudah berolah raga dengan istrinya di atas tempat tidur.


Wajah karismatik Kenzo hari itu dipenuhi oleh senyuman. Hal itu membuat banyak orang di perusahaannya merasa heran. Tumben sekali bos besar mereka yang biasanya bersikap dingin pagi itu murah senyum.


"Apa matahari terbit dari barat?" tanya Alan.


Sudah jelas pertanyaan dari Alan bermaksud untuk menyindir Kenzo.


Wajah senang Kenzo menyusut dan tergantikan dengan wajah masam. Ia memicingkan matanya ke arah asisten pribadi yang sedang menahan tawanya.


"Ada apa? Kenapa tertawa?" tanya Kenzo dengan nada dinginnya.


"Hanya sedang heran saja. Untuk pertama kalinya Anda tersenyum kepada semua orang," jawab Alan.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Kenzo.


"Itu sangat boleh, Bos. Justru itu akan lebih baik. Semua orang merasa senang melihat Anda seperti ini," ucap Alan.


"Jika aku bersikap lembut pada mereka, pasti mereka akan bersikap seenaknya di sini," ucap Kenzo.


"Tidak juga. Dengan Anda tersenyum seperti ini maka ketegangan dan ketakutan mereka pada Anda akan berkurang," jelas Alan.


"Apa aku ini buruk rupa hingga membuat mereka takut padaku," ucap Kenzo.


Alan tertawa kecil menanggapi perkataan dari atasannya.


"Sudahlah, hari ini aku sedang merasa senang. Jangan merusak hariku dengan mengatakan hal yang tidak penting." Kenzo merenggangkan otot-ototnya yang kaku lalu menaikan kedua kakinya ke atas meja kerjanya.


"Apa tidak ada lagi tugas untuk saya?" tanya Alan.


Kenzo bergumam sambil memikirkan tugas apa yang harus Alan kerjakan.


"Sepertinya tidak ada," ucap Kenzo.


"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Alan.


"Hmmmm," sahut Kenzo seraya memejamkan matanya dan kembali mengkhayalkan tentang istrinya yang pagi tadi mengajaknya bercinta.


*****


'Kenzo aku ingin bercinta'


Kata-kata itu masih terngiang di kepala Felicia. Setelah suaminya berangkat bekerja barulah Felicia sadar dengan apa yang sudah dirinya lakukan.


"Ya ampun bagaimana bisa aku meminta hal seperti itu," batin Felicia.


Pada saat itu Felicia sendiri tidak tahu kenapa dirinya sangat menginginkan belaian dari suaminya. Namun, tidak dipungkiri juga Felicia merasa senang dan puas setelahnya.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Selesai mandi Felicia memilih untuk turun ke lantai dasar. Suaminya melarangnya untuk pergi ke kantor dan menyuruhnya untuk tetap istirahat di rumah. Hal itu membuat Felicia merasa bosan.


Langkah Felicia menuju ke halaman belakang rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosannya.


"Aku siram tanaman sajalah," ucap Felicia.


Felicia melangkah ke taman belakang rumah. Terdapat berbagai tanaman hias di tempat itu. Ia ambil selang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah menyalakan keran air Felicia mengarahkan selang itu pada tanaman yang ingin ia siram.

__ADS_1


Belum juga ada lima menit dirinya menyiram tanaman, tukang kebun di rumahnya datang dan melarangnya melakukan itu.


"Ibu lagi ngapain?" Tukang kebun itu mengambil selang dari tangan Felicia.


"Aku lagi siram tanaman, Pak," jawab Felicia.


"Sudah jangan, Bu. Nanti kalau bapak sampai tahu saya bisa dimarahin," larang tukang kebun itu.


"Memangnya kenapa? Saya cuma menyiram tanaman," tanya Felicia.


"Bapak tadi pesan sama saya, jangan biarkan Ibu melakukan pekerjaan apapun," jelas Tukang kebun bernama Agus.


Eh?


"Sekarang Ibu masuk saja dan banyak-banyak istirahat," ucap Agus


"Saya mohon ya, Bu," mohon Agus.


"Baiklah saya akan masuk." Felicia akhirnya memilih untuk tidak pergi. Kasihan juga tukang kebun itu sampai memohon-mohon seperti itu.


Setelah mendapatkan larangan dari tukang kebunnya, Felicia memilih untuk duduk pada bangku yang ada di taman sambil memperhatikan tukang kebunnya menyiram tanaman. Baru beberapa menit duduk di tempat itu Felicia sudah kembali merasa bosan. Akhirnya ia masuk ke dalam rumah untuk membantu bibi memasak untuk makan siang.


Sampai di dapur Felicia tidak mendapati keberadaan bibi. Mungkin bibi masih beberes.


"Masih jam segini pasti bibi belum mulai masak," ucap Felicia.


"Aku siapin dulu bahan-bahannya saja," imbuh Felicia.


Felicia mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia masak dari dalam lemari pendingin. Baru saja Felicia akan mencuci sayuran bibi datang dan menghentikannya.


"Ibu sedang apa di sini?" tanya bibi.


Bibi tidak tinggal diam. Sayuran yang ada di tangan Felicia bibi ambil dan menaruhnya di wadah. Bibi lalu menarik Felicia keluar dari dapur.


"Sudah, Ibu duduk santai saja di sini." Bibi menuntun Felicia untuk duduk di ruang tengah.


"Tapi, Bi —"


"Bapak tadi sudah pesan sama Bibi, katanya jangan biarkan Ibu tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Kalau Ibu bantuin bibi masak nanti bibi yang kena marah," ujar Bibi.


"Ya Bibi jangan kasih tahu bapak," ucap Felicia.


"Kalau bapak nanya bagaimana? Masa Bibi harus bohong," ucap Bibi. "Sudah Ibu duduk di sini saja. Nanti bibi bawain buah sama susu buat Ibu."


"Tapi, Bi ...." Felicia menghela napasnya saat melihat bibi pergi begitu saja.


Felicia tidak tahu kenapa suaminya begitu posesif. Dirinya hanya hamil bukan sakit parah yang harus banyak-banyak beristirahat.


Sudah hampir satu jam Felicia duduk di ruang tengah sambil menonton acara di layar televisi. Segelas susu dan satu piring buah sudah Felicia habiskan. Semua itu tidak mengurangi rasa bosan dalam dirinya.


"Ck, aku merasa bosan. Apa aku telepon mamah saja ya," batin Felicia.


Tidak menunda lagi Felicia mengangkat gagang telepon yang ada di sampingnya. Ia tekan nomor rumah orang tuanya. Beberapa saat menunggu akhirnya panggilannya dijawab oleh mamahnya sendiri.


Rasa bosan Felicia sedikit berkurang saat mengobrol dengan mamahnya. Senyumnya mengembang saat mamahnya mengatakan sedang memasak makanan kesukaannya.

__ADS_1


Felicia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak pergi ke rumah orang tuanya, tetapi ia lebih dulu meminta izin pada suaminya.


Ternyata tidak mudah untuk meminta izin pada suaminya. Suaminya akan lebih dulu mengajaknya berdebat sebelum akhirnya mengizinkannya pergi. Itu pun dengan satu syarat, dirinya harus mau diantar oleh Alan. Felicia tidak bisa menolaknya, ia menerima syarat yang diajukan oleh suaminya.


Satu jam kemudian suara mobil Alan terdengar di depan rumahnya. Asisten pribadi suaminya datang bertepatan dengan dirinya yang sudah selesai bersiap.


"Bi, saya pergi dulu," pamit Felicia.


"Tapi, Bu ... bapak ...." Bibi mencoba menghentikan majikannya untuk pergi.


"Bibi tenang saja, saya sudah izin sama bapak. Tuh saya dijemput juga sama asisten bapak." Felicia menunjuk Alan yang sedang berdiri di samping mobil.


"Kalau begitu Ibu hati-hati di jalan," pesan bibi.


"Iya, Bi. Bibi juga hati-hati di rumah ya," balas Felicia.


Felicia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Alan. Tidak lama mobil itu melaju meninggalkan rumah besar itu.


"Apa Kenzo sedang sibuk di kantor?" tanya Felicia.


"Lumayan, Bu," jawab Alan.


"Alan," panggil Felicia.


"Ya ada apa, Bu," sahut Alan.


"Kamu sudah lama mengenal dan bekerja dengan suami saya, 'kan?" tanya Felicia.


"Iya, Bu. Memang kenapa ya?" Alan merasa bingung maksud di balik pertanyaan ibu bos-nya.


"Berarti kamu sudah mengenal baik suami saya dong?" Felicia kembali bertanya dan makin membuat Alan merasa bingung.


"Lumayan, Bu," jawab Alan.


"Mmmmmmm, apa Bos kamu itu orangnya posesif banget ya?" tanya Felicia.


"Oh itu ...."


"Setahu saya bapak Kenzo akan posesif jika sudah menyangkut orang yang beliau sayangi," jelas Alan.


"Jadi maksudnya ... Kenzo sayang sama saya gitu?" tanya Felicia diselimuti oleh keraguan.


"Kalau dari yang saya lihat bapak bukan hanya sayang sama Ibu, tetapi sudah mendekati level jatuh cinta sama Ibu," jelas Alan.


"Kenapa kamu begitu yakin? Dia sendiri selalu mengatakan jika dia tidak peduli padaku," ucap Felicia.


"Dari cara bapak Kenzo memperlakukan Ibu sekarang saya sangat yakin jika beliau sudah mulai membuka hatinya untuk Ibu. Hanya saja bapak Kenzo malu untuk mengakuinya," ucap Alan.


Felicia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ada perasaan senang yang melintas saat mendengar ucapan Alan. Dengan mengusap perutnya yang masih rata Felicia berharap jika yang Alan katakan semuanya benar.


Keinginan Felicia dari dulu juga sangat sederhana, dirinya hanya ingin dicintai oleh seorang laki-laki yang kelak akan menjadi ayah dari anaknya.


"Alan ...," panggil Felicia.


"Ya, Bu," sahut Alan.

__ADS_1


"Tolong apa yang saya katakan jangan beritahukan pada bos-mu," pinta Felicia.


"Baik, Bu."


__ADS_2