
Flora berdiri di depan ruang ICU seraya memandang tubuh Farhan yang masih terbaring di ruangan ICU. Matanya melihat beberapa alat medis masih terpasang di tubuhnya. Cairan bening terus menetes dari matanya tanpa ingin berhenti. Flora sangat berharap ayahnya bisa kembali seperti sediakala.
Sudah terhitung dua hari ayahnya terbaring dan masih belum sadarkan diri. Flora juga sudah mengubungi Gio. Namun, laki-laki itu mengabaikan panggilannya. Flora juga sudah mengirim pesan, tetapi Gio juga belum membalasnya. Flora sangat berharap Gio segera datang dan menemui Farhan.
"Bagaimana keadaan papa?"
Flora tersentak saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Segera Flora membalik tubuhnya dan melihat Gio berdiri di hadapannya.
"Gio," gumam Flora.
Flora merasa sangat bahagia melihat Gio datang. Akhirnya laki-laki yang selama ini Flora rindukan berdiri di hadapannya. Flora langsung berlari dan memeluk Gio.
"Akhirnya kamu pulang juga. Kamu ke mana saja selama ini?" Flora benar-benar merasa sangat bahagia.
Flora memeluk gio untuk mencurahkan perasaannya. Namun, Gio langsung menyingkirkan tubuh Flora.
"Bagaimana kabar papa?" Gio mengulangi pernyataannya pada Flora.
Sebelum menjawab pertanyaan Gio, Flora lebih dulu mengusap air matanya dan menarik napasnya.
"Keadaan beliau masih sama, belum ada perubahan," jawab Flora.
"Gio, kamu apa kabar?" tanya Flora.
"Aku mau menemui papa." Gio pergi dari tempat itu tanpa menjawab pertanyaan dari Flora.
Mata Flora menatap punggung Gio yang masuk ke dalam ruang ICU setalah memakai pakai khusus. Ada banyak pertanyaan yang mendadak muncul di dalam benak Flora.
Ada apa dengan Gio. Kenapa sikap Gio jadi seperti ini?
Flora merasakan perubahan sikap Gio. Meski merasa heran, tetapi Flora mencoba untuk memahaminya. Mungkin Gio sedih mengetahui keadaan papanya.
Flora duduk tidak jauh dari ruang ICU, tidak lama Seruni pun datang dan menghampiri Flora. Ternyata bukan hanya Seruni, Daniel dan keluarganya pun datang.
Seruni merasa tidak nyaman dengan adanya Mariana, mengingat perseteruan antara dirinya dan Mariana beberapa tahun yang lalu. Jika saja keadaannya memungkinkan Seruni ingin sekali menghindari wanita itu.
Demi Flora, Seruni akan berusaha untuk tetap di tempat itu.
"Bagaimana keadaan ayah kamu, Nak?" tanya Seruni.
"Masih sama, Bu," jawab Flora. "Gio juga ada di dalam," lanjut Flora.
"Gio sudah kembali?" tanya Daniel dibalas anggukan Flora.
"Aku tidak menyangka ya jika ternyata kamu itu selingkuhan Farhan." Ucapan Mariana membuat semua orang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Mah, cukup. Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahas masalah ini," ucap Daniel.
Mariana pun memilih diam setelah melihat dirinya jadi pusat perhatian orang-orang di dekat mereka.
Beberapa saat kemudian semua orang itu melihat Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU, segera Flora dan yang lainnya menyusul mereka.
Sampai di depan ruang ICU mereka melihat Gio keluar dari dalam ruangan itu.
"Gio apa yang terjadi dengan papa kamu?" tanya Ardi.
"Gio juga gak tahu, Om. Tadi Gio lihat papa kesulitan bernapas," jawab Gio,
Mereka masih berdiri di depan ruang ICU dengan rasa cemas di dalam diri mereka masing-masing. Flora sendiri berdiri di samping ibunya, tetapi mata Flora terus memperhatikan Gio. Kini Flora yakin jika sikap Gio padanya memang berubah.
Pintu ruang ICU terbuka dan semua orang langsung mendekat.
"Sus, ada apa? Apa yang terjadi dengan ayah saya?" tanya Flora.
"Keadaan pasien masih kritis," jawab perawat itu. "Maaf, siapa di sini yang bernama Ardi?" tanya Perawat itu.
"Saya, Sus." Ardi melangkah maju ke hadapan perawat itu.
"Mari ikut saya! Pasien ingin bertemu dengan anda," ucap perawat itu yang langsung diangguki oleh Ardi.
Ardi masuk mengikuti langkah perawat. Sampai di dalam Ardi langsung menghampiri Farhan yang sudah tersadar, tetapi keadaanya masih sangat lemah.
"Baik, Mas Farhan ... saya akan melakukannya sekarang juga," ucap Ardi.
Ardi keluar dari ruangan ICU dan langsung menghubungi seseorang. Setelah selesai menelpon, Ardi kembali bergabung dengan yang lainya.
"Om Ardi bagaimana keadaan papah?" tanya Gio.
Ardi menarik napas berat, ia memajukan langkahnya dan menjejerkan Flora dengan Gio. Kedua tangan Ardi memegang sisi pundak Gio dan Flora.
"Papa kamu meminta agar kalian menikah hari ini juga," ucap Ardi.
"Apa? Flora dan Gio menikah? Ini tidak mungkin, Pah. Mereka saudara kandung." Mariana merasa sangat terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya.
"Sebenarnya Gio bukan ...." Ucapan Ardi terhenti karena Gio menyelanya.
"Saya sudah tahu, Om. Tante Dini sudah menceritakan semuanya pada saya," ucap Gio.
"Baguslah, Nak. Kamu harus segera menikahi Flora, ini permintaan papa kamu," ucap Ardi.
Gio melihat sekilas ke arah Flora, sebelum menganggukan kepalanya.
__ADS_1
-
Flora duduk di samping tempat tidur di mana Farhan masih terbaring. Tangannya menggenggam erat tangan Farhan. Laki-laki paruh baya itu masih terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit. Meksipun sudah siuman, tetapi keadaannya masih kritis. Tetesan demi tetesan cairan bening keluar dari matanya melihat keadaan sang ayah.
Flora sangat berharap jika ayahnya akan segera sembuh seperti sedia kala.
"Flora ...," panggil Farhan.
Meksi suaranya lirih, tetapi Flora masih bisa mendengarnya.
"Ayah baik-baik saja," lanjut Farhan. "Jangan khawatir."
Bagaimana tidak khawatir, Flora melihat ayahnya dalam keadaan yang begitu sangat lemah. Flora berharap Farhan bisa kembali seperti sediakala. Ia ingin masih ingin menghabiskan waktu bersama ayah yang selama ini ia cari.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mereka melihat Ardi datang bersama seorang penghulu.
Ardi lebih dulu menghampiri Farhan dan membisikan sesuatu. Beberapa detik kemudian, Farhan menganggukan kepalanya.
"Mari, Pak ... kita mulai sekarang," ucap Ardi.
Flora dan Gio duduk berdampingan di hadapan penghulu. Penghulu itu menjabat tangan Gio dan mulai melangsungkan ijab qobul. Dan setelah itu resmilah Gio dan Flora menjadi sepasang suami istri.
"Selamat kalian sudah resmi menjadi suami istri yang sah," ucap penghulu itu.
"Gio ...," panggil Farhan dengan suara lirihnya, tetapi semua orang masih bisa mendengarnya.
"Ya, Pah," jawab Gio.
Gio meraih tangan Farhan lalu mengenggamnya.
"Gio," panggil Farhan lagi.
"Ya, ini Gio, Pah," sahut Gio.
"Papa minta tolong jagain Flora buat papa. Sayangi dia selalu," pinta Farhan.
"Ya, Pah," jawab Gio.
"Papa sudah lelah." Suara Farhan terdengar sangat lemah.
"Ayah pasti akan baik-baik saja. Flora masih ingin banyak berbicara dengan Ayah," ucap Flora diiringi tangisannya.
Beberapa saat kemudian Farhan terlihat kesulitan untuk bernapas. Dokter yang ada diruang itu langsung memeriksa keadaan Farhan. Napas Farhan berhenti bersamaan dengan munculnya garis lurus di layar monitor.
"Maaf, pasien sudah tiada," ucap Dokter.
__ADS_1
"Tidak ... ayah." Flora terus memanggil ayahnya berharap ayahnya akan bangun. Namun, tidak! Ayahnya sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Detik itu juga tangis histeris Flora terdengar di ruangan itu. Ayah yang selama ini ia cari dan akhirnya ia temukan kini pergi meninggalkannya untuk selamanya.