
Selesai makan malam Flora membersihkan peralatan makan yang sudah kotor. Namun lagi-lagi ia melamun. Gio yang sedari tadi memerhatikan Flora tahu apa yang sedang Flora pikirkan, segera Gio mencari akal agar pikiran Flora bisa teralihkan.
"Hei, kerja yang benar awas saja jika piring mahalku itu pecah," ucap Gio.
Lamunan Flora langsung buyar setelah mendengar pernyataan Gio.
"Kamu mengatakan sesuatu?" ucap Flora.
Gio melangkah mendekati Flora. "Aku bilang kerja yang benar jangan melamun awas saja jika piring mahalku pecah."
Flora mendengus sambil bergumam, "Menyebalkan."
"Kamu mengatakan sesuatu?" Kini Gio balik bertanya pada Flora.
"Tidak, Tuan Gio," sahut Flora.
"Kalau begitu lanjutkan kerjamu! Awas saja jika banyak melamun lagi."
Setelah mengatakan itu Gio kembali ke ruang tengah, sedangkan Flora melanjutkan cuci piringnya sambil menggerutu.
"Bukannya membantu malah dia menyuruh-nyuruh aku seenaknya saja," gerutu Flora. "Memang dia pikir aku ini pembantunya."
Belum selesai mencuci piring bunyi bel terdengar bersamaan dengan teriakan Gio.
"Flora, ada yang datang … buka pintunya!" teriak Gio.
"Ya ampun apa dia tidak bisa membuka pintunya." Flora mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan tisu.
"Flora." Teriak Gio sekali lagi.
"Iya, iya, aku datang." Flora berjalan cepat dari dapur menuju pintu apartemen itu.
Matanya terbelalak saat melihat Gio sedang duduk sambil menonton acara bola di layar TV.
"Apa kamu tidak bisa membukanya sebentar?" tanya Flora kesal.
"Aku sedang sibuk," sahut Gio membuat Flora langsung memutar bola matanya jengah.
Bunyi bel terdengar kembali membuat Flora mempercepat langkahnya.
"Iya ... sebentar," ucap Flora.
Flora menarik gagang pintu, saat pintu terbuka sempurna mata Flora melihat Mutya dan Abi ada di hadapannya.
"Kalian?" Flora nampak bingung dengan kedatangan Abi dan juga Mutya.
"Mas Gio yang menyuruhku datang untuk menemaninya nonton bola," sahut Abi.
__ADS_1
Flora bergeser untuk memberi Abi jalan untuk masuk. Kini tinggal ada Mutya dan Flora di pintu masuk apartemen itu. Flora terkejut saat Mutya langsung memeluk tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Flora?" tanya Mutya.
Flora bisa menebak jika Mutya sudah tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya.
"Kamu tahu?" tanya Flora dengan wajah tertunduk.
"Tadinya aku menolak untuk ikut ke sini, tapi setelah mas Abi memberitahukan apa yang terjadi padamu ...." Mutya tidak ingin melanjutkan perkataannya.
Flora menggeleng. "Aku sungguh beruntung karena Gio cepat menemukan aku. Jika saja dia terlambat datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku," ucap Flora.
Air mata Flora yang sempat sebelumnya mengering kini kembali mengalir ketika Mutya menyinggung kejadian buruk yang beberapa jam yang lalu Flora alami.
"Sabar ya, yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja." Mutya mengusap lengan Flora.
"Hei, apa yang sedang kalian lakukan di sana? Cepat kemari dan buatkan kami kopi," teriak Gio.
Flora segera mengusap air matanya. "Dengar, 'kan? Dia tadi menolongku dan sekarang dia sedang menindas ku. Beruntung kamu datang ke sini aku jadi punya teman mengobrol," ucap Flora disambut tawa kecil Mutya.
"Hei cepatlah!" Sekali lagi Gio berteriak.
"Iya, iya, sebentar. Kamu tidak sabaran sekali." Flora mengajak Mutya masuk ke dalam apartemen.
"Itu karena kalian bergosip terus makanya kerja kalian lama," ucap Gio.
"Apa aku ini pembantu mu yang bisa seenaknya kamu suruh-suruh? Kamu harus ingatnya aku ini tamu di sini dan tamu adalah raja," ucap Flora.
"Kamu 'kan yang membawa aku ke sini?" sahut Flora tidak kamu kalah.
"Aku tidak mengajakmu, kamu sendiri yang ingin ikut denganku. Dan jika kamu tidak mau menuruti perintah dariku aku bisa menendang mu keluar dari sini sekarang juga." Ada seringai licik tergambar pada bibir Gio.
"Kamu ... dasar menyebalkan." Flora menggeram seraya mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali Flora memukul wajah Gio yang terlihat menyebalkan.
"Sudahlah Flora, ayo aku akan membantumu," ucap Mutya.
Flora tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Gio, setalah menghentakkan kakinya Flora melangkah kembali ke dapur diikuti oleh Mutya.
Di dapur Flora kembali melanjutkan cuci piringnya selagi air yang sedang ia masak mendidih. Mulut Flora tidak berhentinya menggerutu membuat Mutya menahan tawa merasa lucu dengan tingkah Flora dan juga Gio.
"Aku tidak mengira kamu dan bapak Gio bisa sedekat itu," ucap Mutya.
"Apa ... dekat? Kami bahkan jarang sekali akur jika kami berada pada satu tempat yang sama," jawab cepat Flora.
"Benarkah? Tapi mungkin itu cara dia memerhatikan dirimu Flora," ucap Mutya.
"Hah! Jangan bercanda, Mutya."
__ADS_1
Selesai dengan piringnya, kini Flora beralih pada kopi yang diminta oleh Gio. Flora menuang air mendidih ke dalam dua cangkir yang sudah berisikan kopi dan gula. Setelah mengaduknya Flora membawa dua cangkir kopi panas ke tempat Gio dan Abi.
Flora meletakan kopi di meja yang ada di hadapan Gio tanpa bicara apapun. Lagi pula kedua laki-laki sedang fokus pada pertandingan bola yang ada di layar TV.
"Terima kasih," ucap Gio.
Flora sedikit terkejut saat mendengar ucapan terima kasih dari Gio.
"Sama-sama." Flora kembali ke meja makan dan duduk di sana bersama Mutya.
Flora menarik kursi di sebelah Mutya, matanya tidak berhenti untuk terus memperhatikan Gio dan juga Abi. Kedua laki-laki itu nampak sangat heboh, apa yang seru dari melihat pertandingan bola di tv itulah yang sedang Flora pikirkan saat itu.
"Siapa yang sedang kamu perhatikan, bapak Gio atau asistennya bapak Farhan yang dingin itu?" pertanyaan Mutya lebih terkesan meledek Flora.
"Aku hanya heran para laki-laki selalu heboh sendiri jika menyangkut pertandingan bola," ucap Flora.
Mutya mengangkat kedua bahunya untuk merespon ucapan Flora.
"Ayo kita ke kamar, aku juga belum menghubungi ibu jika aku menginap di sini," ucap Flora.
"Ayo kita ke kamarmu, aku juga akan menginap di sini," ucap Mutya.
"Benarkah?"
"Ya aku sudah mendapatkan izin menginap dari bapak Gio."
Mata Flora benar-benar berbinar dan merasa lega dirinya tidak hanya berdua dengan Gio di tempat itu. Detik itu juga Flora menyadari jika Gio sengaja menyuruh Abi untuk membawa Mutya ke apartemen itu untuk menemani dirinya.
Sekilas Flora melihat ke arah Gio dengan senyuman di wajahnya.
Terima kasih, Gio.
Keduanya beranjak dari kursi meja makan dan pergi lantai atas di mana kamar yang akan mereka berada.
"Wow kamar yang rapi." Pandangan Mutya melihat setiap sudut di kamar itu.
Sangat rapi semua benda seolah berada di tempat yang sesuai.
"Istirahatlah Mutya ini sudah malam besok kamu kerja, 'kan!" ucap Flora. "Aku akan menghubungi ibuku dulu," lanjut Flora.
"Kamu juga istirahat. Tenangkan hatimu dan pikiranmu," ucap balik Mutya dan Flora langsung menganggukinya.
Mutya merebahkan tubuh mereka ke atas tempat tidur sedangkan Flora mengambil ponselnya untuk menghubungi ibunya. Flora menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menekan nomor ponsel ibunya.
"Hallo, Ibu ...."
Flora mulai berbicara pada ibunya di sambungan telepon. Sebisa mungkin Flora menetralkan perasaannya agar tidak membuat ibunya curiga jika dirinya sedang menahan tangisnya.
__ADS_1
"Baiklah, Bu, ini sudah malam ibu istirahatlah, jangan bekerja terlalu keras."
Setelah ibunya merespon dari seberang sana, Flora mengakhiri sambungan telepon itu. Flora menghembuskan nafas lega setelah berbicara dengan ibunya. Sudah beberapa kali Flora menguap dan ia pun memutuskan untuk beristirahat, Flora menaruh ponselnya ke meja nakas dan matanya melihat Mutya sudah tertidur pulas.