Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Pernikahan Daniel dan Maura


__ADS_3

Persiapan pesta pernikahan  Daniel dan Maura sudah selesai sembilan puluh persen. Acara pernikahan itu rencananya akan berlangsung satu minggu lagi.


Esok hari Maura juga sudah akan tiba di tanah air. Semua orang sudah sangat menanti  kepulangan mempelai perempuan itu.


Flora dan Gio serta Seruni juga sudah ada di kediaman Mariana untuk kembali fitting baju mereka. Warna peach mereka pilih untuk pakaian yang mereka akan kenakan di acara pernikahan itu.


"Daniel mana Tante?" tanya Flora setelah selesai mencoba kebaya yang akan ia kenakan di pesta pernikahan Daniel.


"Tadi tante lihat ada di dapur. Dia lagi makan mangga," jawab Mariana.


"Makan mangga?" Flora mengulangi ucapan Mariana, karena merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya. Tante sampai heran beberapa hari ini dia senang sekali makan mangga yang masih belum terlalu matang, kalau gak dia suka minum minuman yang asam-asam," jelas Mariana.


Gio yang mendengar itu melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Gio jelas tahu sekali apa yang sedang terjadi pada adik sepupunya itu.


Flora mengerutkan keningnya melihat suaminya sedang menahan tawanya.


"Sayang, kenapa kamu tertawa?" tanya Flora.


Gio langsung mengalihkan pandangannya ke arah istrinya. "Daniel kaya orang ngidam."


"Ngidam?" batin Flora.


"Kamu jangan aneh-aneh, Gio. Masa Daniel ngidam," ucap Mariana.


"Iya kamu aneh-aneh saja," sambung Seruni.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia nerves karena hari pernikahannya semakin dekat," ucap Gio.


"Ya mungkin itu benar juga," sambung Mariana.


Selesai fitting pakaian, Gio dan Flora memutuskan untuk pulang lebih dulu. Karena Felicia juga sudah mulai rewel.


"Kalian pulang saja dulu. Ibu masih harus membantu pekerjaan tante kalian," suruh Seruni.


"Ya, Bu. Nanti aku suruh supir untuk jemput ibu," ucap Flora.


"Kalian tenang saja nanti tante akan antar ibu kalian pulang," sambung Mariana.


"Ya, Tante," sahut Flora.


"Kami pulang dulu," pamit Gio.


"Ya, kalian hati-hati di jalan," ucap Mariana. "Dah cucu tante yang cantik." Mariana lebih dulu mendaratkan kecupan di pipi Felicia yang terlihat seperti bakpao.


*****


Hari yang Daniel dan Maura tunggu akhirnya datang juga. Akad nikah akan berlangsung satu jam lagi.


Daniel tengah dirias di dalam salah satu kamar tempat berlangsungnya acara. Kamarnya masih terpisah dengan Maura.


Kondisi Daniel yang buruk bertambah saat Gio ada di tempat yang sama dengan dengan dirinya. Sepupunya itu bukannya membantunya, tetapi justru terus saja mengganggunya.


"Makanya jangan suka meledek orang. Sekarang kamu rasakan bagaimana tersiksanya saat aku mengidam dulu." Gio meledek Daniel saat mereka hanya berdua di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Berisik. Kalau gak mau diem mending keluar gih," usir Daniel.


"Yang lagi ngidam sensitif sekali," ledek Gio diikuti tawanya.


"Astaga!" Daniel mengusap wajahnya, ia sungguh merasa frustrasi dengan keberadaan Gio di tempat itu.


Lain halnya di tempat mempelai wanita. Maura sama sekali tidak merasakan mual seperti Daniel. Justru napsu makan Maura bertambah.


Hal itu membuat kecurigaan terasa pada diri Flora. Istri dari Giovanni itu terus memperhatikan Maura. Tidak bisa menahan rasa penasarannya Flora pun memberanikan diri untuk bertanya pada calon adik iparnya.


Saat di ruangan itu hanya ada dirinya dan Maura saja, Flora langsung bertanya pada Maura tentang apa yang ada di pikirannya.


"Maura ... boleh aku bertanya?" tanya Flora.


"Hmm, boleh." Maura menjawab tanpa ingin berhenti makan.


"Apa kamu sedang hamil?" tanya Flora.


Pertanyaan Flora berhasil membuat Maura tersedak. Flora yang melihat itu ikut terkejut. Segera Flora meraih gelas yang berisi air putih dan memberikannya kepada Maura.


"Maura ... kamu baik-baik saja?" tanya Flora seraya mengusap punggung Maura.


Maura menjawab dengan anggukan kepalanya. Setelah meminum air Maura meletakkan gelas itu ke meja di dekatnya seraya menarik napas panjang.


"Maaf jika pertanyaan dariku membuatmu terkejut atau menyinggung perasaanmu," ucap Flora.


Maura menggelengkan kepalanya sebagai pertanda jika ia baik-baik saja.


"Tidak, Flora. Aku tahu kamu pasti tahu karena kamu sebelumya pernah hamil," ucap Maura.


"Sebenarnya aku curiga karena Daniel ... dia seperti suamiku saat sedang mengidam dulu," ucap Flora. "Dia aneh sekali bahkan sering merasa mual."


Flora merespon perkataan Maura dengan anggukan kepalanya. Flora sudah bisa menebak jika suaminya pasti sudah mengetahui tentang kehamilan Maura dan kini suaminya itu pasti sedang mengganggu adiknya.


"Ya ampun, aku jadi merasa khawatir ... apakah Daniel bisa menyelesaikan Ijab Qobulnya dengan baik?" Raut wajah Flora mendadak merasa cemas.


"Flora ... jangan menakut-nakuti aku." Maura pun ikut merasa cemas.


Flora terkikik geli di dalam hatinya. Ternyata menggoda orang itu sangat menyenangkan.


Hotel bintang lima menjadi pilihan Daniel dan Maura untuk menggelar acara pernikahan mereka. Kini waktu untuk melangsungkan akad nikah akan segera tiba.


Daniel sudah duduk di hadapan seorang penghulu yang akan menikahkan Maura dengan dirinya. Rasa cemas mulai bersarang di dalam dirinya. Daniel takut jika dirinya akan kembali merasakan mual.


Akan tetapi saat melihat wajah tengil kakak sepupunya yang sedang meledeknya terlihat, rasa mual itu seakan lenyap dari dalam dirinya.


"Sudah siap, Nak Daniel?" tanya Penghulu.


Daniel lebih dulu manarik napasnya sebelum menganggukkan kepalanya. "Sudah."


Daniel menjabat tangan Penghulu dan mulai mengucapkan Ijab Qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Maura Larasati Wirawan Binti Diki Wirawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu.

__ADS_1


"Sah!" Seru semua orang.


Suara yang paling keras adalah suara Gio.


Daniel dan Maura merasa lega saat Penghulu itu sudah mengesahkan pernikahan mereka. Secara diam-diam Maura mengusap perutnya yang masih rata.


Malam datang begitu juga dengan resepsi pernikahan Maura dan Daniel. Pesta mewah benar-benar digelar untuk keduanya. Mengingat Daniel adalah anak tunggal dan Maura yang merupakan seorang model terkenal.


Kebahagiaan terpancar dengan begitu jelas di wajah semua orang terutama pasangan pengantin baru itu.


Sepanjang pesta Daniel menyambut para tamu tanpa menjauhkan tangannya dari pinggang Maura. Hal itu membuat banyak orang terutama mereka yang belum memiliki pasangan merasa iri dengan kemesraan mereka.


Di antara para tamu mata Daniel melihat Evano datang bersama istri, Violetta. Rasa cemburu bersarang di hati Daniel.


"Ehmmm, Evano datang tuh," bisik Daniel.


Maura tertawa kecil mendengar perkataan laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya. "Cie, masih cemburu juga. Padahal sudah mau jadi ayah."


Senyum yang awalnya mengembang di bibir Maura meredup, mengingat kedua orang tuanya belum tahu mengenai kehamilannya. Maura tidak bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya saat nantinya mereka mengetahui kehamilannya sebelum dirinya dan Daniel resmi menikah.


"Sayang, kita belum memberitahukan tentang kehamilan aku kepada orang tua kita," ucap Maura.


"Kita akan beritahukan hal ini pada mereka. Malam ini, Sayang," ucap Daniel.


Perkataan Daniel benar-benat ia lakukan. Saat pesta tengah sepi oleh para tamu, Daniel dan Maura mengajak kedua orang tua mereka ke sebuah ruangan. Ruangan itu hanya ada Daniel, Maura, dan kedua orang tua mereka.


"Ada apa? Kenapa kalian mengajak kami ke sini?" tanya Diki.


"Ada hal yang mau kami sampaikan pada kalian semua," jawab Daniel.


"Ada apa? Kenapa terlihat serius sekali?" Ardi bertanya pada anaknya.


"Pah, Mah ... Maura hamil," jawab Daniel.


"Apa? Hamil!"


Daniel dan Maura bisa melihat kedua orang mereka terkejut.


"Kamu hamil, Maura?" tanya Talita.


"Anak Daniel?" sambung Mariana.


"Iya, Mah." Maura menjawab dengan wajah yang tertunduk.


Maura menunduk, karena tidak berani melihat reaksi kedua orang tuanya.


"Akhirnya aku akan punya cucu lagi," seru Mariana.


"Selamat ya, Nak." Talita memeluk anaknya.


"Kalian tidak marah, 'kan?" tanya Maura.


"Tidak, Sayang," jawab Maura.


"Sebenarnya kami sudah merasa curiga dengan hal ini. Saat Daniel terlihat seperti sedang mengidam. Tapi kami ingin mendengarnya langsung dari kalian," terang Mariana.

__ADS_1


"Maaf ya jika kami membuat kalian kecewa," ucap Daniel.


"Tidak masalah. Semua juga sudah terjadi," jawab Diki. "Ambil hikmahnya saja. Kami jadi cepat memiliki cucu."


__ADS_2