
Felicia mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia lebih tertarik mengobrol dengan Kenzi untuk bertanya banyak hal tentang Kenzo. Felicia tidak tahu kenapa ia ingin tahu banyak hal tentang Kenzo, tetapi memang itulah yang sedang dirasakan diinginkan oleh Felicia.
Kini keduanya tengah duduk di sebuah cafe. Mereka duduk saling berhadapan. Untuk sejenak Felicia memperhatikan Kenzi, wajahnya mirip sekali dengan Kenzo, hanya saja Kenzi terkesan murah senyum.
"Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan tentang Kenzo?" tanya Kenzi.
"Tentang hubungannya dengan perempuan bernama Vera," jawab Felicia. "Sedekat apa mereka dulu?"
Kenzi menghela napasnya. Sejujurnya ia merasa tidak enak untuk membongkar masa lalu kakaknya dengan Vera. Namun, setelah berpikir menurutnya Felicia juga perlu tahu tentang Kenzo. Apalagi Felicia sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Vera adalah satu-satunya perempuan yang sangat dicintai oleh Kenzo," ucap Kenzi.
"Kalau Kenzo sangat mencintainya kenapa mereka tidak menikah saja?" tanya Felicia.
"Itu memang yang akan Kenzo lakukan dulu. Dua tahun yang lalu Kenzo ingin melamar Vera. Kenzo sudah menunggunya semalaman, tetapi pada saat itu Vera tidak datang. Sampai satu minggu setelah kejadian itu Kenzo baru tahu ternyata Vera sudah menikah dengan orang lain. Seorang pria dewasa," jelas Kenzi.
"Jadi pria yang tadi aku lihat bersamanya ... itu suaminya?" Felicia bicara dengan suara lirih, tetapi Kenzi masih bisa mendengarnya.
"Kamu melihatnya?" tanya Kenzi.
Felicia mengangguk. "Iya. Saat kami membeli cincin, secara tidak sengaja aku melihatnya."
Flora yakin sikap lembut dan manis yang ditunjukkan oleh Kenzo sebelumnya hanyalah untuk membuat Vera merasa cemburu.
"Tapi apa alasan Vera lebih memilih pria dewasa itu dibandingkan dengan Kenzo?" Felicia kembali bertanya pada Kenzi.
"Uang." Kenzi menjawab dengan singkat.
"Uang?" Felicia semakin tidak mengerti.
"Iya, uang. Vera butuh uang untuk membayar hutang keluarganya. Jadi ... ya dia memilih untuk menikah dengan pria itu," jelas Kenzi.
"Kenapa Vera tidak memberitahukan pada Kenzo tentang masalahnya. Kakakmu itu memiliki banyak uang, 'kan?"
"Harusnya seperti itu, tapi Vera tidak melakukannya. Dia justru lebih memilih menikah dengan pria itu," jawab Kenzi.
"Dan semenjak saat itu Kenzo berubah menjadi pria dingin. Bukan hanya itu saja, Kenzo berpikir jika semua perempuan sama seperti Vera," ucap Kenzi.
"Ini tidak adil untukku, aku tidak seperti Vera. Dia tidak berhak memusuhiku karena masa lalunya," protes Felicia.
"Bukan hanya aku saja yang sudah menjelaskan pada Kenzo. Tidak semua perempuan sama seperti Vera. Tapi dia tidak mau mendengarkan kami," ucap Kenzi.
"Jadi ini alasan Kenzo tidak ingin dekat dengan perempuan manapun? Hingga isu jika dia penyuka sesama jenis itu mencuat," ucap Felicia.
Kenzi tertawa mendengar isu mengenai kakaknya. "Tenang saja itu tidak benar. Kakakku masih normal."
"Atau memang benar ... jika Kenzo mau menikahiku untuk menghilangkan isu itu? Atau dia menikahiku hanya untuk membuat Vera merasa cemburu?" tebak Felicia.
__ADS_1
"Mungkin," ucap Kenzi. "Jujur saja aku tidak bisa menebak sikap Kenzo yang sekarang."
"Oh iya, ada satu hal tentang Kenzo yang harus kamu ketahui," ucap Kenzi.
"Apa itu?" Dari wajahnya saja sudah terlihat jika Felicia merasa sangat penasaran.
Kenzi meminta Felicia untuk mendekat. Kenzi mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Felicia. "Aku bisa menjamin jika Kenzo masih perjaka."
Felicia melebarkan matanya setelah mendengar bisikan Kenzi. Rona merah langsung muncul di kedua sisi wajahnya.
"Kenapa Kenzi mendadak bicara hal seperti itu padaku," batin Felicia.
Tawa Kenzi semakin jelas saat melihat rona merah muncul di wajah Felicia. Ia tahu kakak iparnya merasa malu.
"Kamu ini ada-ada saja," ucap Felicia.
Felicia menyangga dagunya dengan telapak tangannya. Sejenak ia memperhatikan wajah Kenzi. Meskipun wajahnya sangat mirip dengan Kenzo, tetapi ada banyak perbedaan di antara mereka.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kenzi.
"Kamu dan Kenzo itu memiliki wajah yang mirip. Tapi kenapa sifat kalian sangat berbeda," ucap Felicia.
"Meskipun wajah kami sangat mirip. Tapi kami adalah dua manusia yang berbeda begitu juga dengan sifat kami," ucap Kenzi.
"Tapi kayaknya aku lebih menyukaimu. Kenapa bukan kamu saja yang dijodohkan denganku?" gurau Felicia.
"Jika itu sampai terjadi aku akan langsung menolaknya," ucap Kenzi.
"Kenapa?" tanya Felicia.
"Kamu bukan tipeku," aku Kenzi. "Aku lebih suka perempuan yang memakai pakaian seksi."
"Hah, dasar kamu ini?" Felicia kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Kenzi.
"Baiklah obrolan kita tentang Kenzo sampai di sini saja. Apa kamu makan?" tanya Felicia.
"Boleh, tapi kamu yang traktir ya." Kenzi menaik-turunkan alisnya.
"Apa? Aku tidak percaya ini," ucap Felicia.
"Ayolah, anggap saja ini bayaran untukku karena aku memberitahumu tentang kakakku," ucap Kenzi.
"Iya baiklah. Aku akan mentraktirmu karena kamu sudah baik padaku," balas Felicia.
Felicia kembali memanggil seorang pelayan di cafe itu untuk memesan makanan. Pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa buku menu.
Felicia membuka buku menu untuk melihat makanan apa yang ingin ia pesan. Sama halnya dengan Kenzi. Ia juga melihat makanan apa yang ingin ia pesan.
__ADS_1
Setelah memilihnya keduanya sama-sama memberikan buku menu itu kembali kepada pelayan.
"Di tunggu pesanannya ya," ucap pelayan itu.
Felicia dan Kenzi kembali mengobrol sambil menunggu pesanan mereka.
"Sampai kapan kiranya kakakmu akan seperti itu?" tanya Felicia. "Jika kakakmu masih terjebak di masa lalunya itu tidak akan baik bagi kami nantinya."
"Aku juga tidak tahu. Tapi jika kamu bisa membuat Kenzo jatuh cinta padamu, mungkin itu akan lebih baik," ucap Kenzi.
"Apa yang kamu katakan?" ucap Felicia.
"Dengan membuat dia jatuh cinta padamu itu juga akan bisa membuat Kenzo melupakan Vera," jelas Kenzi.
"Hah, jangan bercanda." Felicia menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
Obrolan mereka terhenti saat makanan yang mereka pesan datang.
"Ayo kita makan dulu," ucap Felicia.
"Baiklah, selamat makan," ucap Kenzi.
*****
Felicia baru saja turun dari dalam mobil Kenzi. Adik iparnya itu benar-benar mengantarnya sampai ke rumahnya.
Felicia membungkukkan tubuhnya setelah Kenzi menurunkan kaca mobilnya. Ia melihat adik iparnya yang masih duduk di bangku kemudi.
"Kamu tidak mau mampir?" tanya Felicia.
"Tidak usah. Aku masih ada urusan," tolak Kenzi.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Dan sekali lagi terima kasih untuk waktunya," ucap Felicia.
Felicia melambaikan tangannya ke arah Kenzi bersamaan dengan mobil Kenzi yang mulai melaju. Setelah mobil Kenzi lenyap dari pandanganya, Felicia berjalan masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah Felicia menyapa Flora sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Sore, Mah," sapa Felicia.
"Sore, Sayang," sapa balik Flora. "Bagaimana tadi sama Kenzo?"
"Nanti saja, Mah ceritanya. Aku mau mandi," ucap Felicia.
"Baiklah," ucap Flora.
Felicia berjalan dengan berlari kecil di anak tangga. Sampai di dalam kamarnya Felicia duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kakinya yang berayun-ayun.
Pikirannya masih memikirkan tentang masa lalu Kenzo dan juga Vera. Felicia merasa kasihan pada Kenzo yang masih belum bisa move on dari Vera.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia teringat akan kata-kata Kenzi. Adik iparnya menyuruh untuk membuat Kenzo jatuh cinta pada dirinya. Itu hal yang mustahil.
Felicia bergidik ngeri. Membuat Kenzo jatuh cinta padanya adalah sebuah tantangan besar.