Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Tujuh Belas


__ADS_3

Pesta pembukaan hotel baru yang dihadiri oleh Felicia dan Kenzo sudah dimulai beberapa saat yang lalu. Pesta yang bertepatan dengan hari kasih sayang itu didominasi oleh balon berbentuk hati dengan warna merah dan merah muda terlihat begitu indah, ditambah bunga mawar merah yang menghiasi setiap sudut ruangan menambah suasana romantis.


Semua orang terlihat sangat bahagia dan senang dengan pesta itu, terutama Felicia. Menurut Felicia pesta itu membawa keberuntungan bagi hubungannya dengan Kenzo.Satu kata untuk menggambarkan perasaan saat Felicia adalah bahagia.


Bagaimana tidak bahagia? Suaminya sudah mengungkapkan kata cinta. Meksipun Kenzo tidak mengatakannya secara langsung padanya, tetapi itu sudah cukup membuat Felicia bahagia.


Bukan hanya Felicia, Kenzo juga sama bahagianya seperti Felicia. Meskipun sempat kesal dengan Vera, tetapi karena itu dirinya menjadi sadar dan yakin akan perasaannya kepada Felicia.


Sepanjang pesta, tangan mereka menyatu begitu erat. Tangan mereka menyatu mengisi setiap ruang pada sela-sela jari mereka, tidak ada ruang sedikitpun apalagi untuk orang ketiga.


"Ehemmm."


Felicia dan Kenzo menoleh ke asal suara. Mereka melihat Reza ada di dekat mereka. Felicia tersenyum melihat kedatangan Reza, tetapi tidak dengan Kenzo. Aura dingin selalu datang pada diri Kenzo saat melihat Reza.


"Hai, Reza," sapa Felicia.


"Bagus, aku mencari kamu dari tadi dan kamu ternyata sedang di sini. Bermesraan dengan suamimu," ucap Reza.


"Maaf —" Ucapan Felicia terpotong karena Kenzo menyelanya.


"Untuk apa kamu mencarinya?" Kenzo bertanya dengan nada ketus.


"Itu karena dia pergi begitu saja. Aku hanya mengkhawatirkan dirinya," jawab Reza.


"Ada aku di sini. Jadi aku rasa kamu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya," ujar Kenzo.


Reza sebenarnya tahu dari cara bicara Kenzo sudah terlihat jelas jika Kenzo tidak menyukai keberadaanya.


"Ya itu memang benar." Reza menggaruk pelipisnya menggunakan jari telunjuknya.


"Kalau begitu, kenapa kamu tetap di sini?" tanya Kenzo.


"Kenzo, kenapa kamu bersikap seperti itu pada Reza?" Felicia menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa. Apa sahabatmu itu senang menjadi orang ketiga," sindir Kenzo.


"Kenzo!" Felicia mendelikkan matanya mengisyaratkan agar Kenzo mau diam.


Melihat perdebatan suami-istri itu membuat Reza menjadi tidak enak hati sendiri. Maka Reza pun memutuskan untuk pergi saja.


"Oke, baiklah. Aku akan pergi. Kalian jangan berdebat lagi," ucap Reza.


"Lebih cepat, lebih baik," ucap Kenzo.


Reza hanya merespon perkataan Kenzo dengan senyum dan tawa kecil. Ia memahami sikap yang Kenzo tunjukkan kepadanya.


Pandangan Reza mengarah ke Felicia. Sebelum pergi Reza lebih dulu menyapa sahabatnya dari kecil.


"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa." Reza melambaikan tangannya kepada Felicia.


"Sampai jumpa." Felicia juga melambaikan tangannya kepada Reza.


Felicia memperhatikan Reza pergi. Saat teringat sesuatu Felicia memanggil Reza yang langsung membuat Reza berhenti melangkah dan kembali menoleh ke arahnya kembali.

__ADS_1


"Kenzo, aku ingin bicara dengan Reza sebentar," ucap Felicia.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan dia?" Kenzo mencegah Felicia untuk pergi.


"Bukan apa-apa," jawab Felicia.


Felicia melihat raut wajah suaminya nampak garang. Dirinya tahu jika suaminya pasti sedang merasa kesal.


"Ck, Sayang." Felicia mengusap sisi wajah suaminya agar suaminya tidak marah. "Aku hanya bicara sebentar dengannya."


"Baiklah, silahkan saja. Percuma aku melarangmu karena kamu juga tidak akan mendengarkan aku," ucap Kenzo.


"Kamu manis sekali jika sedang marah." Setelah mengatakan kalimat itu, Felicia melangkah untuk menghampiri Reza.


"Reza." Felicia menarik Reza untuk sedikit menjauh dari Kenzo.


"Ada apa, Feli?" tanya Reza.


"Aku ingin berterima kasih padamu," jawab Felicia.


"Terima kasih untuk apa?" Reza kembali bertanya kepada Felicia.


"Terima kasih karena sudah mau jauh-jauh datang ke sini. Maaf aku merepotkan dirimu," ucap Felicia.


"Terima kasih juga sudah mau membantuku untuk melakukan hal konyol itu," ucap Felicia.


"Felicia, sudah aku bilang jangan sungkan padaku. Jika aku bisa aku akan melakukan apapun agar jamu bahagia," ucap Reza.


"Tapi sekarang kita tidak perlu lagi melakukan itu," ucap Felicia.


"Tidak, Reza. Karena aku sudah mendengar sendiri, dia mengatakan jika dia mencintaiku," jelas Felicia.


"Benarkah?" tanya Reza.


Felicia mengangguk lalu ia menceritakan kepada Reza tentang apa yang terjadi di antara Kenzo dan Vera.


"Wow, itu bagus, Feli!" seru Reza.


Felicia menghela napas begitu lega. "Iya, Reza. Aku sangat bahagia."


"Selamat ya. Semoga kalian bahagia selalu." Reza mengusap sisi pundak Felicia.


Felicia dan Reza mengobrol sambil sesekali tertawa di sela obrolan mereka, tetapi keduanya tidak tahu jika tidak jauh dari tempat mereka berdiri Kenzo sedang menatap mereka dengan mata yang tajam. Kenzo terlihat begitu kesal saat melihat Felicia mengobrol dengan Reza. Amarah itu makin bertambah saat melihat Reza mengusap pundak Felicia. Tidak tahan melihat itu, Kenzo memilih untuk mendekati Felicia.


"Feli," panggil Kenzo.


Felicia menoleh ke asal suara, begitu juga dengan Reza.


"Saat kamu bersama sahabatmu yang satu ini, kamu jadi melupakan suamimu ini." Kenzo menarik Felicia ke sisinya karena tidak ingin istrinya berada dekat dengan Reza lebih lama lagi.


"Maaf," ucap Felicia.


"Apa kamu merasa cemburu padaku, Kenzo?" ledek Reza.

__ADS_1


Kenzo memilih diam. Dirinya terlalu gengsi untuk mengatakan jika dirinya memang cemburu.


"Melihat dari raut wajahmu aku bisa tahu jika kamu sedang cemburu," ucap Reza.


Kenzo tidak mengatakan apapun. Dirinya hanya mendengkus dan merasa kesal saja.


"Jangan lupa, Kenzo. Aku ini juga laki-laki. Jadi aku bisa tahu apa yang sedang kamu rasakan," ucap Reza.


"Sudah selesai bicara? Apa kami boleh pergi?" tanya Kenzo dengan nada bicaranya yang dingin.


"Oke, oke, silahkan. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Reza diikuti tawanya.


"Ayo, Feli. Aku ingin memperkenalkan dirimu pada rekan kerjaku yang lain," ajak Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.


"Dah, Reza." Felicia melambaikan tangannya kepada Reza dan dibalas oleh Reza.


Kenzo dan Felicia akan melangkah, tetapi langkah mereka terhenti saat mendengar lengkingan suara laki-laki dan seorang perempuan. Mereka adalah pembawa acara dari pesta itu.


"Selamat malam semua," seru dua pembawa acara.


Bukan hanya Kenzo dan Felicia, semua orang yang ada di pesta itu menoleh ke asal suara. Mereka semua fokus pada pembawa acara yang berdiri di panggung yang letaknya tidak jauh dari mereka.


"Bagaimana, apakah kalian menikmati pesta pada malam ini?" tanya pembawa acara itu pada semua orang.


"Ya!" Semua orang berseru untuk merespon pertanyaan dari pembawa acara itu.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan ke acara selanjutnya," ucap pembawa acara.


"Karena pesta ini bertepatan dengan hari kasih sayang. Maka kami ingin meminta beberapa dari kalian untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kalian kepada pasangan, sahabat, atau bisa juga kepada kedua orang tua," ucap pembawa acara.


"Tapi sebelum itu, kami ingin bertanya pada ...." Pembawa acara di pesta itu mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang akan dia berikan sebuah pertanyaan.


"Kepada Tuan Kenzo Pramuja." Pembawa acara itu menunjuk Kenzo.


Kenzo tentu saja merasa terkejut dan bingung karena pembawa acara itu menyebut namanya.


"Baiklah, Tuan Kenzo. Saya ingin bertanya pada Anda. Apa arti cinta menurut Anda?" tanya pembawa acara itu.


Hah!


Kenzo melongo mendengar pernyataan dari pembawa acara itu. Sial sekali dirinya! Kenapa juga pembawa acara itu bertanya mengenai pernyataan yang tidak bermutu seperti itu.


Salah satu pembawa acara turun dari panggung untuk menghampiri Kenzo.


"Ayo Tuan Kenzo kami ingin dengar pendapat Anda?" Pembawa acara memberikan mic kepada Kenzo.


Kenzo ragu-ragu untuk menerima mic yang diberikan oleh pembawa acara. Dirinya merasa ingin mengumpat dan kabur dari tempat itu detik itu juga. Namun, Kenzo tidak bisa melakukan itu. Banyak rekan bisnisnya yang hadir. Apa kata mereka nanti jika dirinya melakukan itu. Terpaksa Kenzo harus menjawab pernyataan yang terdengar mudah dan konyol, tetapi tidak dipungkiri sulit untuk dijawab olehnya.


"Ayo, Kenzo. Aku juga ingin mendengar pendapatmu," bisik Felicia.


Kenzo berdecak lebih dulu sebelum mendekatkan mic ke mulutnya.


"Ar-ti cin-ta ... menurutku ...." Kenzo merasa ragu dan bingung untuk menjawabnya.

__ADS_1


Saat semua orang ingin mendengar jawaban Kenzo, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu meredup. Belum hilang rasa keterkejutan mereka akan lampu yang tiba-tiba mati, mereka kembali dikejutkan dengan layar berukuran besar yang menyala. Di layar itu jelas memperlihatkan foto-foto masa lalu Kenzo dengan Vera.


Kenzo sendiri sangat terkejut dengan hal itu. Ia genggam tangan istrinya dengan erat. Kenzo berharap hati istrinya tidak terluka melihat semua gambar-gambar masa lalunya dengan Vera.


__ADS_2