
Kabar kecelakaan Kenzo sudah sampai ke telinga kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Felicia. Mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kenzo. Sama seperti Felicia yang sangat terkejut dan mengira jika Kenzo terluka parah, mereka juga terpikir hal yang sama. Akan tetapi setelah mereka melihat Kenzo dalam keadaan baik-baik saja, mereka merasa sangat lega.
Di kamar rawat Kenzo, suasana sedikit ramai. Kedua orang tua dan juga mertuanya berada di tempat itu. Mereka masih menanyakan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Kenzo masih menjawabnya sama seperti saat Felicia bertanya.
Beberapa saat kemudian, mereka dikejutkan dengan dua orang dari petugas kepolisian datang ke ruangan itu. Kenzo tahu alasan kedatangan mereka. Dengan segera Kenzo mencari cara agar Felicia menghindar dari dua orang dari petugas kepolisian itu.
"Feli, sebaiknya kamu pulang dulu. Dari semalam kamu belum pulang, 'kan?" suruh Kenzo.
"Tapi aku masih mau nemenin kamu di sini," tolak Felicia.
"Tapi kamu juga butuh istirahat, Sayang," bujuk Kenzo.
Kenzo tahu jika istrinya pasti akan bersikeras untuk tetap berada di rumah sakit. Kenzo memutar isi kepalanya, mencari cara lain untuk membujuk Felicia.
"Mah, tolong bujuk Felicia untuk pulang. Dia juga butuh banyak istirahat. Apalagi dia baru saja sembuh," pinta Kenzo pada ibu mertuanya.
"Baik, Nak," sahut Flora.
Flora berjalan mendekat ke tempat Felicia, ia mencoba membujuk anaknya untuk pulang.
"Ayo, Nak. Dengarkan perkataan suamimu. Ini demi kebaikan kamu dan anak kalian," bujuk Flora.
"Tapi jika aku pergi, siapa yang akan menjaga Kenzo?" Felicia masih bersikeras untuk tidak meninggalkan rumah sakit.
"Ada Papa, Feli. Dan ada juga yang lainnya nanti," ucap Gio.
"Kamu dengar itu, 'kan? Jangan khawatir, semua orang akan menjagaku. Lebih baik sekarang kamu pulang bersama Mamah saja," suruh Kenzo.
"Ck, baiklah." Meskipun berat hati, Felicia akhirnya mau juga untuk pulang.
"Ya sudah, aku aku pulang dulu," pamit Felicia.
"Hati-hati di jalan. Kabari aku jika kalian sudah sampai," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
Felicia pulang bersama ibu dan juga ibu mertuanya. Di ruangan itu hanya tinggal Kenzo, ayahnya dan juga ayah mertuanya, ada juga Alan dan Kenzi, serta dua orang yang merupakan petugas kepolisian.
Setelah Felicia keluar dari ruang rawatnya, Kenzo meminta pada Alan untuk memastikan jika Felicia sudah menjauh dari tempat itu.
"Apa mereka sudah pergi jauh?" tanya Kenzo pada Alan.
"Mereka sudah masuk ke dalam lift, Pak," jawab Alan.
Kenzo melihat ke arah dua petugas kepolisian. Suasana mendadak berubah menjadi serius.
__ADS_1
"Jadi ... bagaimana? Apa hasil dari penyelidikan Bapak tentang kecelakaan saya?" tanya Kenzo.
"Tunggu, ini ada apa sebenarnya. Memangnya ada masalah apa? Bukankah tadi kamu bilang kecelakaan itu karena kamu kurang hati-hati?" tanya Gio.
"Papa tahu ada masalah yang sedang kamu sembunyikan, Kenzo. Papa tahu kamu bukan orang yang ceroboh seperti apa yang kamu katakan tadi," ucap Evano.
Kenzo mendesah, dirinya memang harus jujur pada dua orang tua itu. "Ya, Pah. Memang bukan seperti itu kejadiannya," aku Kenzo.
"Lalu?" Gio merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dalam perjalanan pulang tiba-tiba rem mobil yang Kenzo kendarai tidak berfungsi. Padahal mobil itu baik-baik saja saat aku dan Alan pergi ke bandara. Bahkan saat kami kembali ke kantor juga mobil itu masih dalam keadaan baik," jelas Kenzo.
"Jadi aku berfikir pasti ada orang yang sudah mensabotase rem mobil itu," ucap Kenzo.
"Itu benar, Pak. Kami menemukan kabel rem di mobil Anda putus. Seperti sengaja dipotong," imbuh salah satu petugas kepolisian.
"Lalu kenapa tadi kamu kamu berbohong?" tanya Gio.
"Aku sengaja berbohong sebelumnya, aku tidak mau Felicia sampai tahu akan hal ini. Dia pasti akan sangat cemas," ucap Kenzo.
"Kamu tahu kira-kira siapa yang melakukan ini?" tanya Evano.
"Aku belum tahu, Pah. Aku juga sudah menyuruh Kenzi dan Alan untuk mencari tahu," jawab Kenzo.
"Aku dan Alan sudah melihat rekaman cctv di gedung kantor kamu. Kami melihat memang ada yang mensabotase rem mobilmu." Kenzi meminta pada Alan untuk menyerahkan rekaman dari cctv yang sudah mereka dapatkan.
Alan mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya. Ia menunjukan bukti rekaman cctv kepada salah satu dari petugas kepolisian.
Dilihat dari rekaman itu, ada orang yang mengendap-endap di sekitar mobil yang sering Kenzo gunakan. Dari postur tubuhnya, jelas dia seorang pria. Pakaiannya memakai seragam OB kantornya dan itu mungkin yang tidak membuat orang curiga.
Wajah orang itu tidak terlihat oleh kamera cctv, sepertinya dia sudah tahu keberadaan cctv di tempat itu sehingga orang itu mampu menyembunyikan wajahnya dari kamera cctv.
"Jadi ada ular di tempat kantorku?" Rahang Kenzo mengeras saat melihat sendiri rekaman cctv itu.
"Aku yakin orang itu pasti sudah merencanakan ini," tebak Kenzi
"Dia benar-benar melakukan pekerjaannya dengan sempurna," imbuh Kenzo.
"Kami akan membawa bukti ini ke kantor polisi. Kami akan terus mencari siapa orang yang berniat mencelakai Anda," ucap polisi tersebut.
"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya," ucap Kenzo.
"Kami permisi," ucap salah seorang petugas polisi.
__ADS_1
Setelah dua orang petugas kepolisian itu pergi, Gio kembali mengintrogasi Kenzo.
"Jadi apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Gio.
"Saat ini belum, Pah," jawab Kenzo.
"Pah, aku minta tolong. Jangan sampai Felicia tahu masalah ini. Aku takut di akan merasa cemas," pinta Kenzo pada ayah mertuanya.
"Baiklah, kamu jangan khawatir," ucap Gio.
"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah mencari cara untuk menemukan dalang di balik masalah ini," ucap Gio dianggukki setuju oleh semua orang.
"Oh ya, Pah." Kenzi memangil Evano, papanya.
"Ada apa?" sahut Evano.
"Papah kan raja jalanan. Pasti Papah bisa dong nemuin orang itu dengan cepat." Kenzo menaik-turunkan kedua alisnya.
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Evano. Ada tatapan penuh harap di mata mereka.
"Itu kan dulu. Sekarang Papah sudah tua. Papah sudah tidak ada urusannya lagi dengan semua itu," jawab Evano.
Mendengar perkataan Evano semua justru kompak memberikan tatapan tajam pada Evano.
Melihat tatapan tidak bersahabat dari semua orang yang ada di ruangan itu, membuat Evano menyerah.
"Baiklah Papah akan bantu. Tapi untuk urusan lapangan kalian kerjakan sendiri," ucap Evano.
"Beres, Pah." Kenzi mengacungkan jempolnya.
"Aku baru tahu ternyata besanku, raja jalanan," ledek Gio yang langsung membangkitkan tawa semua orang.
*****
Siang sudah berganti malam, cahaya matahari sudah tergantikan dengan cahaya rembulan, tetapi sayangnya pada malam itu rembulan tidak menampakan diri. Sepertinya rembulan bersembunyi di balik awan gelap. Tidak adanya rembulan membuat malam itu terasa sunyi.
Sama seperti hari Felicia yang sepi tanpa kehadiran Kenzo. Malam itu Felicia harus menerima akan ketidakadaan Kenzo di sisinya. Suaminya masih harus dirawat di rumah sakit.
Felicia berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan malam yang ada di taman belakang rumah. Rasanya begitu sepi, ia mendesah kecewa, tetapi beberapa saat kemudian jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, senyuman merekah begitu indah di bibirnya. Alasannya adalah orang yang sedang memeluknya dari belakang. Meskipun tanpa melihat secara langsung Felicia tahu jika orang itu adalah Kenzo.
"Kenapa kamu pulang?" Felicia bertanya tanpa menoleh ke belakang.
"Karena aku tahu kamu tidak akan bisa tidur tanpaku," jawab Kenzo seraya mengusap perut Felicia dimana ada anak mereka.
__ADS_1