Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 188


__ADS_3

Felicia baru saja selesai meeting saat Yuna yang merupakan sekertarisnya mengatakan jika ada seorang wanita yang ingin bertemu dengannya.


"Siapa wanita yang ingin Bertemu denganku, Yuna?" tanya Felicia.


"Bagian reseptionis mengakan jika wanita itu bernama Vera," jawab Yuna.


Vera?


Alis Felicia terangkat sebelah mendengar jika mantan kekasih dari suaminya ingin menemui dirinya.


"Ada apa Vera ingin menemuiku?" batin Felicia.


Sebenarnya Felicia merasa malas bertemu dengan perempuan dari masa lalu suaminya, tetapi rasa penasarannya membuat Felicia harus menemui Vera.


"Yuna, di mana wanita itu sekarang?" tanya Felicia.


"Di ruang tunggu yang ada di lantai bawah," jawab Yuna.


Felicia menganggukkan kepalanya. Ia diam seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Tania," panggil Felicia.


"Iya, Bu." Tania menyahut panggilan dari ibu bosnya.


"Kamu jemput nyonya Wibowo di bawah dan bawa ke ruangku," perintah Felicia.


"Baik, Bu. Segera saya laksanakan." Tania membungkukkan badannya sebelum pergi dari tempat itu.


Felicia memilih untuk masuk ke dalam ruangannya. Rasa gelisah dan gugup muncul di dalam diri Felicia. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba menyerang dirinya.


"Ck, ada apa? Kenapa aku jadi gugup seperti ini?" batin Felicia.


Felicia berjalan mondar-mandir dan mencoba menebak sendiri alasan kedatangan Vera ke tempatnya. Namun, semakin Felicia berpikir kepalanya menjadi pusing.


"Dasar bodoh kenapa aku harus memikirkan alasan kenapa Vera datang ke sini. Biarkan saja dia datang, aku hanya perlu mempersiapkan diriku jika kedatanganya membawa maksud yang buruk," gerutu Felicia.


Felicia menghirup udara yang ada di ruangannya lalu mengembuskannya melalui mulutnya. Ia kembali melakukan itu secara berulang-ulang untuk meredam kegugupannya.


Tok tok tok


Felicia menoleh ke arah pintu ia mengambil posisi duduk di balik meja kerjanya dan mengatur posisinya.


"Masuk," ucap Felicia.


Meskipun tidak melihat secara langsung Felicia tahu jika ada orang yang masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ia berpura-pura tidak peduli dan tetap berpura-pura sibuk.


"Maaf, Bu. Nyonya Wibowo sudah datang," ucap Tania.

__ADS_1


Felicia menaruh berkas yang ada di tangannya ke atas meja. Matanya menatap langsung ke arah Vera. Sudah lama ia tidak bertemu dengannya dan perut Vera terlihat sudah menonjol. Terakhir kali mereka bertemu saat dua orang pria memaksa Vera untuk pulang.


Felicia memperhatikan Vera dari tempat duduknya. Ia sengaja memasang wajah dingin, posisi duduknya pun Felicia buat se-anggun mungkin.


"Hai, Vera," sapa Felicia.


"Hai, Felicia." Vera membalas sapaan dari Felicia.


"Silahkan duduk." Felicia mempersilakan Vera untuk duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerjanya.


"Tania tolong bawakan minuman untuk nyonya Wibowo. Tapi ingat berikan dia minuman yang sehat karena dia sedang mengandung." Ucapan Felicia setengahnya mengandung sindiran untuk Vera.


"Baik, Bu." Tania pamit undur diri dari ruangan kerja atasannya.


Pandangan Felicia masih mengarah ke arah Tania. Ia terus memperhatikan Tania sampai bayangan asisten pribadinya menghilang di balik pintu ruangan kerjanya.


"Kenapa Anda tidak duduk. Cepatlah duduk, tidak baik bagi perempuan hamil berdiri terlalu lama." Felicia berucap tanpa mengubah posisi duduknya.


"Terima kasih." Vera mendudukkan bokongnya pada kursi tepat di hadapan Felicia.


Felicia masih pada posisi duduknya. Punggungnya bersandar pada punggung kursi yang sedang ia duduki, posisi kakinya menyilang dengan satu kaki di atas kaki yang lain, wajahnya ia buat setenang mungkin. Ia ingin menunjukan pada Vera jika dirinya adalah perempuan yang memiliki wibawa.


"Bagaimana kabarmu dan juga Kenzo?" tanya Vera.


"Kami baik-baik saja," jawab Felicia.


"Saya pemimpin di perusahaan ini. Jadi ... ya saya pasti selalu sibuk. Tapi jangan khawatir, saya akan meluangkan waktu untuk Anda, Nyonya Wibowo." Felicia sengaja menekankan kata 'nyonya Wibowo'.


"Panggil saja aku dengan namaku. Aku lebih suka dengan itu," suruh Vera.


Pandangan Felicia bertemu langsung dengan pandangan Vera. Felicia bisa melihat rasa ketidaksukaan Vera pada dirinya, tetapi Felicia juga sangat yakin jika Vera juga bisa melihat rasa ketidaksukaan dirinya kepadanya.


"Apa alasan Anda ingin menemuiku?" tanya Felicia.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Vera.


"Apa yang ingin Anda bicarakan denganku? Nyonya Wibowo?" tanya Felicia.


Brak!


Entah apa yang membuat Vera kesal dan tiba-tiba menggebrak meja. Felicia sangat terkejut, tetapi Felicia mencoba untuk mengendalikan dirinya. Ia berusaha untuk tetap tenang.


"Sudah aku katakan jangan memanggilku dengan sebutan itu! Namaku Vera, bukan nyonya Wibowo!" tekan Vera.


Felicia masih duduk di posisinya yang sama. Kursi yang sedang ia duduki sengaja Felicia goyangkan untuk menutupi kegugupannya. Pandangannya tetap mengarah ke wajah Vera dengan menunjukan senyuman seolah sedang mengejek Vera.


"Tenanglah Vera, jangan berteriak. Ingat kamu sedang mengandung," ujar Felicia.

__ADS_1


Felicia tersenyum miring setelah Vera duduk kembali di tempatnya yang semula. Matanya terus memperhatikan Vera. Felicia melihat tarikan napas Vera tidak beraturan, terlihat sekali jika Vera sedang emosi.


"Kenapa saya merasa jika Anda tidak suka dengan sebutan itu, Vera?" tanya Felicia.


"Bukan tidak suka, tapi aku sangat tidak suka," ujar Vera. "Aku membencinya."


"Aku merasa tidak salah memanggilmu dengan sebutan itu. Karena pada kenyataannya kamu adalah istri dari bapak Wibowo. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak beliau." Felicia menunjuk perut Vera yang sudah membuncit.


"Apa kamu yakin jika ini anak dari Wibowo?" Vera bicara dengan menunjukkan senyum jahatnya.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" Felicia merasakan firasat buruk dari perkataan Vera yang selanjutnya.


"Bagaimana jika aku mengatakan jika anak yang sedang aku kandung ini anak dari Kenzo?" ujar Vera.


Kening Felicia mengernyit. Perkataan Felicia bagai peluru yang Vera tembakan dan tepat mengenai jantungnya. Felicia merasa sangat kesal mendengar perkataan Vera. Tangannya menggenggam erat-erat pegangan kursi yang sedang ia dudukki.


"Benarkah anak yang sedang Vera kandung itu anaknya Kenzo," batin Felicia.


"Kenapa diam? Kamu tidak percaya? Bukankan kamu tahu jika kami ini masih saling mencintai. Kami selalu bertemu secara diam-diam," ucap Vera.


"Itu tidak mungkin. Kenzo memang tidak mencintaiku, tapi rasanya Kenzo tidak akan berbuat hal hina seperti itu di belakangku," batin Felicia.


Felicia menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran negatif tentang suaminya. Felicia menarik napas lalu mengembuskannya kembali untuk meredam kecurigaannya kepada suaminya.


"Bagaimana jika aku tidak percaya?" Felicia menatap Vera. Tatapan matanya seolah sedang menantang Vera.


"Itu urusan kamu sendiri." Vera menaikkan kedua bahunya dan bersikap biasa saja seolah ia tidak pernah melakukan kesalahan.


"Aku minta kamu tinggalkan Kenzo. Biarkan kami untuk bersama," ucap Vera.


"Lalu bagaimana dengan suamimu?" Felicia bertanya dengan pandangan masih menatap Vera.


"Aku juga akan segera berpisah dengan dia," jawab Felicia.


Felicia memandang Vera dengan tatapan menghina. Ia tidak menyangka jika Vera bisa se-hina itu.


"Baiklah, Vera pembicaraan kita sepertinya sudah cukup. Aku sangat sibuk. Kita lanjutkan lain waktu saja," ucap Felicia.


"Pintu keluarnya ada di sana. Jadi silahkan keluar dari ruanganku," usir Felicia.


"Baik, aku juga harus memeriksakan kondisi anak ini." Vera sengaja mengusap perutnya yang buncit di hadapan Felicia. Tindakan yang Vera lakukan sengaja untuk membuat darah Felicia mendidih.


"Baiklah aku pergi. Sampai jumpa di acara reuni nanti malam. Tapi aku berharap jika kamu tidak datang." Vera keluar dari ruangan kerja Felicia dengan tawanya. Ia merasa sangat puas sudah membuat Felicia merasa kesal.


Sementara itu Felicia masih memikirkan tentang perkataan Vera. Ia merasa takut jika semua yang dikatakan oleh Vera adalah kebenaran. Akan tetapi Felicia mencoba untuk percaya kepada suaminya. Ia juga tidak ingin ber-asumsi sendiri.


"Aku harus menanyakan hal ini kepada Kenzo," ucap Felicia.

__ADS_1


__ADS_2