Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 184


__ADS_3

"Kenzo ... ada apa?" Nada bicara Felicia terdengar begitu gugup.


"Kamu sengaja mau menggoda aku dengan memakai pakaian tipis ini?" Kenzo bicara dengan setengah berbisik.


"Tidak," jawab Felicia. "Aku sudah mengatakan tadi. AC di kamarku mati. Jadi ... aku sengaja memakai ini," jelas Felicia.


"Benarkah?" Ucapan Kenzo seolah ingin menggoda Felicia.


"Iya." Felicia menjawab dengan wajah terduduk.


Kenzo menarik pinggang Felicia untuk makin mempersempit jarak di antara mereka.


"Kenzo ...." Felicia merasa terkejut saat Kenzo menariknya sampai begitu dekat. Bahkan dadanya sampai bisa merasakan detak jantung Kenzo yang berdetak begitu kencang.


Kini Felicia dan Kenzo berdiri saling berhadapan. Jarak mereka hanya dibatasi oleh kain yang menempel di tubuh mereka. Wajah mereka pun sangat dekat, hanya tinggal beberapa centimeter saja bibir mereka akan menyatu.


Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya sama-sama mendekatkan wajah mereka seolah ada magnet yang menarik mereka.


Bibir mereka menyatu dengan sempurna. Keduanya saling mengecup dengan gerakan lembut. Mata mereka terpejam, terlihat sekali mereka sangat menikmati kebersamaan itu.


Makin lama kecupan lembut itu berubah jauh lebih menuntut. Keduanya sama-sama menarik diri saat merasakan pasokan oksigen di paru-paru mereka mulai menipis.


Felicia dan Kenzo mencoba mengatur napas mereka sendiri sebelum kembali menyatukan bibir. Kening mereka menyatu, hembusan napas bisa mereka rasakan satu sama lain. Kenzo menyentuh kedua lengan Felicia membuat tubuh Felicia merinding.


"Boleh aku melakukannya, Feli?" Kenzo berucap setengah berbisik.


Mata Felicia masih menatap lurus ke wajah Kenzo. Suaminya meminta izin pada dirinya untuk menyentuhnya. Akan sangat berdosa jika dirinya tidak mengizinkannya. Apalagi sejujurnya Felicia juga sudah dikuasai oleh hasratnya. Hatinya menginginkan lebih dari sekedar berciuman.


Felicia memutuskan pandangan itu. Ia rebahkan kepalanya di dada suaminya seraya menganggukkan kepalanya.


"Lakukan apa yang kamu mau," cicit Felicia.


Kenzo tidak lagi membuang waktu, ia angkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamarnya. Kenzo merebahkan tubuh Felicia ke atas tempat tidur. Mereka kembali bercumbu di tempat itu.


Ini Gila!


Kenzo merasa dirinya sudah kehilangan akal. Untuk pertama kalinya dirinya tidak bisa mengendalikan hasratnya pada seorang perempuan.


Lenguhan kecil keluar dari mulut keduanya saat tubuh mereka menyatu sempurna. Tidak seperti waktu malam pengantin, mereka melakukan hubungan suami-istri karena Kenzo dikuasi oleh obat perangsang. Kini untuk pertama kalinya keduanya melakukan hubungan suami-istri dengan kesadaran dan keinginan masing-masing.


Memang belum ada rasa cinta yang terungkap dari dalam diri mereka. Hubungan itu terjalin karena adanya daya tarik dan hasrat yang menguasai diri mereka sebelumnya.


Felicia membungkam mulutnya sendiri untuk menahan suara laknat yang memaksa ingin keluar. Namun, Felicia tetap tidak bisa menahannya. Suara laknat itu keluar dengan nyaringnya, menggema di ruangan yang minim cahaya.


Sudah berapa lama mereka bergulat di atas ranjang, mereka sendiri juga tidak tahu. Mereka tidak ingin cepat mengakhiri kebersamaan mereka. Rasanya terlalu indah untuk segera mereka akhiri. Rasa nikmat yang mereka rasakan benar-benar membuat mereka hampir kehilangan akal. 


Mereka terbuai dalam pergulatan panas itu hingga pergulatan itu sampai pada puncaknya. Lenguhan panjang keluar dari dalam mulut keduanya saat merasakan gelombang dahsyat mengalir dari dalam tubuh mereka.

__ADS_1


Mereka berdiam diri sejenak dengan posisi yang sama. Napas mereka masih tersengal-sengal seolah habis berlari begitu jauh. Kening mereka menyatu seraya berlomba meraup udara sebanyak mungkin untuk menambah pasokan oksigen di dalam paru-paru mereka.


"Terima kasih." Kenzo memberikan kecupan di kening Felicia sebelum memisahkan penyatuan mereka.


Kenzo berguling ke samping Felicia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sang istri yang masih sama-sama polos. Keduanya tidur dengan posisi miring dan saling berhadapan. Pandangan Felicia dan Kenzo kembali bertemu, tetapi mereka masih saling diam.


"Kamu lelah?" tanya Kenzo.


"Iya, sedikit." Felicia mengangguk dengan wajah tertunduk.


Entah mengapa rasanya Felicia merasa canggung saat berada dalam jarak sedekat itu dengan suaminya.


"Kalau begitu tidurlah," suruh Kenzo yang langsung disambut anggukan kepala oleh Felicia.


Kenzo membawa Felicia masuk ke dalam dekapannya. Apa yang dilakukan oleh Kenzo berhasil membuat Felicia terkejut, tetapi Felicia tidak menghindarinya. Karena perasaan nyaman dan hangat bisa Felicia rasakan.


Sisi wajah Felicia menempel tepat di dada Kenzo. Ia bisa merasakan degup jantung suaminya yang berdetak begitu kencang, yang mungkin sama dengan apa yang sedang ia rasakan. Rasa lelah, nyaman, dan hangat membuat Felicia terlelap dengan begitu cepatnya.


Kenzo sendiri masih terjaga. Tangannya masih sibuk mengusap sisi pundak polos istrinya. Jantungnya kembali berdegup kencang, ia berharap istrinya tidak mendengarnya.


"Feli ...," panggil Kenzo.


Tidak ada sahutan.


Kenzo menjauhkan sedikit tubuhnya, ia melihat mata Felicia sudah terpejam.


Untuk sejenak Kenzo memandangi wajah Felicia. Istrinya terlihat sangat damai. Kenzo mengusap bibir Felicia yang baru saja ia kecup. Tidak tahu kenapa setiap kali berada dekat dengan Felicia jantungnya berdegup begitu kencang. Rasa ingin selalu dekat dengan Felicia pun sering menghantuinya.


Berbeda sekali saat dirinya masih bersama dengan Vera. Memang hatinya merasa bahagia, tetapi dirinya tidak sampai kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri. Beruntung dirinya dan Felicia sudah menikah.


"Hoaam." Kenzo menguap saat rasa kantuk itu menghampiri dirinya.


Kenzo mengecup kening istrinya sebelum matanya mulai terpejam dan menyusul istrinya ke alam mimpi.


*****


Keesokan harinya


Felicia bangun dari tidurnya, matanya mulai terbuka. Yang pertama kali Felicia lihat adalah dada telanjang suaminya.


Eh?


Felicia berdiam diri sejenak, ia masih betah memandangi suaminya yang masih terlelap. Tarikan napasnya masih begitu teratur pertanda suaminya masih tidur nyenyak. Setelah puas memandangi wajah suaminya Felicia menyingkirkan tangan suaminya yang masih melingkar di tubuhnya.


Secara perlahan Felicia bangun dan beranjak dari atas tempat tidur. Belum juga kaki Felicia menyentuh lantai Kenzo sudah lebih dulu memanggilnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kenzo.

__ADS_1


Felicia menoleh ke sampingnya dan mendapati suaminya sudah membuka matanya.


"Eh kamu sudah bangun," ujar Felicia.


"Hmm." Kenzo bangun lalu mengambil posisi duduk.


"Ini sudah siang. Aku harus segera berangkat ke kantor," jawab Felicia.


"Semalam kamu bilang sedang tidak enak badan, 'kan? Jadi ... istirahatlah dulu," ucap Kenzo.


"Tapi —"


"Feli, perusahaan besarmu itu tidak akan bangkrut jika kamu libur untuk beberapa hari saja," ucap Kenzo. "Sekarang lebih baik jaga kesehatanmu."


"Baiklah. Aku akan mengabari Tania untuk menghandle pekerjaanku," ucap Felicia.


"Kenzo," panggil Felicia.


"Ada apa?" tanya Kenzo.


"Bisakah kamu memalingkan wajahmu? Aku ingin memakai pakaianku," jawab Felicia.


"Setelah apa yang sudah kita lakukan semalam kamu masih merasa malu," ucap Kenzo.


"Ck, Kenzo ... please," mohon Felicia.


"Baiklah. Aku akan menutup mataku saja," ucap Kenzo.


Felicia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tangannya meraih ****** ******** dan pakaiannya. Segera Felicia memakai pakaiannya kembali seraya memastikan jika Kenzo tidak akan mengintip.


"Kamu sudah bisa membuka matamu," perintah Felicia.


Sesuai perintah istrinya Kenzo membuka matanya. Ia melihat istrinya sudah memakai pakaiannya kembali.


"Kamu mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu," ucap Felicia yang langsung diangguki oleh Kenzo.


Felicia keluar dari kamar suaminya setelah menyiapakan pakaian kerja untuk suaminya. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Percintaan dengan suaminya semalam masih begitu terasa.


Selesai mandi Felicia memakai pakaiannya dan keluar dari kamarnya untuk menyiapakan sarapan. Felicia berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya menuju ke dapur.


Masih ada beberapa bahan makanan di lemari pendingin. Untuk sarapan pagi Felicia memilih untuk membuat roti bakar saja.


"Felicia," panggil Kenzo.


Felicia menoleh saat mendengar suara Kenzo. Alisnya terangkat sebelah saat melihat suaminya berdiri di belakangnya dengan pakaian santai.


"Kamu belum bersiap?" tanya Felicia.

__ADS_1


Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Hari ini aku memutuskan untuk libur. Aku ingin menghabiskan waktu ... bersamamu."


__ADS_2