Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Pelajaran Untuk Mariana


__ADS_3

"Silahkan dimakan, Non," ucap mbak Asih.


Flora tersenyum canggung pada mbak Asih saat beliau menyiapakan makanan untuk dirinya.


"Terima kasih, Bu. Tapi saya bisa mengambil sendiri makanannya jadi Ibu tidak usah melayani saya seperti ini," ucap Flora.


"Gak apa-apa ini sudah menjadi tugas saya," ucap mbak Asih.


Flora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi saya yang gak enak, Bu. Saya lebih muda dari Ibu. Jadi ... tidak pantas jika ibu memperlakukan saya seperti ini."


Mbak Asih rasanya hampir tidak percaya dengan yang baru saja Flora katakan. Tentu saja, mbak Asih merasa kali ini Gio membawa perempuan yang baik.


Tidak seperti sebelum-sebelumnya Gio selalu membawa perempuan yang tidak pernah berlaku sopan padanya.


"Bu Asih kenapa bengong?"


"Eh gak, Non. Saya cuma heran, tumben teman perempuan Den Gio baik sama saya," ucap mbak Asih.


"Maksudnya?" tanya Flora tidak mengerti maksud ucapan mbak Asih.


"Perempuan yang selalu Den Gio bawa ke sini jarang sekali berlaku sopan pada saya seperti ini," jawab mbak Asih.


Pasti perempuan yang mbak Asih maksud itu Bianka dan Rossa.


"Ya sudah saya ke dapur dulu, sebentar lagi Den Gio pulang."


"Gio mau pulang?" tanya Flora kaget.


"Iya, Non. Tadi bagi Den Gio bilang mau pulang pas makan siang," sahut mbak Asih.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu saya makan nanti saja nunggu Gio," ucap Flora.


Dan tidak lama orang yang sedang mereka bicarakan datang, tetapi ternyata Gio tidak sendiri melainkan bersama Farhan.


Mata Flora terbelalak melihat atasannya datang. Segera Flora beranjak dari kursi dan memberi hormat pada Farhan dengan membungkukkan tubuhnya.


"Selamat siang, Bapak Farhan," sapa Flora.


"Selamat siang, Flora. Bagaimana keadaanmu?" tanya Farhan.


"Saya sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Flora.


"Gio sudah cerita semua pada saya tentang kejadian kemarin. Saya benar-benar malu atas tindakan adik iparnya saya." Farhan benar-benar menyayangkan tindakan Mariana yang sudah kelewat batas pada Flora.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya baik-baik saja berkat anak Bapak," ucap Flora.


Gio membusungkan dadanya seraya menepuk dadanya merasa bangga pada dirinya.


Melihat kelakuan Gio Flora dan Farhan menyunggingkan tawa kecil mereka.


"Ngobrolnya dilanjut nanti saja. Lebih baik kita makan siang dulu, aku sudah kelaparan," ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora serta Farhan.


Ketiganya sama-sama menarik kursi di meja makan. Beruntung mbak asih masak lumayan banyak dan cukup untuk mereka bertiga.


"Flora setelah ini kamu ikut aku ke suatu tempat," ajak Gio.


"Ke mana?" tanya Flora.


"Akan aku beritahu nanti saat kita di jalan," sahut Gio.


"Oke."


Mereka bertiga melanjutkan makan siangnya. Tidak ada yang bersuara lagi, mereka fokus pada makanan yang sedang mereka makan sampai selesai.

__ADS_1


Farhan selesai lebih dulu. Beliau mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan yang ada pada bibirnya.


"Gio papa langsung kembali ke kantor," ucap Farhan.


Farhan kemudian beranjak dari meja makan.


"Kita berangkat bersama-sama, Pah." Gio pun melakukan hal yang sama seperti papanya.


"Tidak, Abi sudah menunggu papa di bawah. Kalian langsung pergi saja," ucap Farhan.


"Maaf Bapak, saya tidak masuk kerja hari ini," ucap Flora.


Pandangan Farhan mengarah pada Flora.


"Tidak apa-apa, saya mengerti. Dalam kondisimu yang sekarang tidak mungkin bagimu untuk berkonsentrasi dalam pekerjaan. Saya memberimu cuti tiga hari dan setelah itu saya harap kamu bisa kembali bekerja seperti biasa," ucap Farhan.


"Terima kasih banyak atas pengertiannya." Flora kembali membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada atasnya.


"Flora kamu bersiaplah aku akan mengantar papaku dulu," suruh Gio.


Meskipun masih penasaran kemana Gio akan membawanya, namun Flora mencoba untuk percaya pada Gio.


"Baiklah," sahut Flora.


Flora kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tidak lama Flora kembali turun dan menghampiri Gio yang sudah menunggu dirinya di ruang tamu.


"Gio aku sudah siap," ucap Flora.


"Hmm, ayo kita berangkat," ucap Gio.


Mereka berdua melangkah bersama keluar dari apartemen itu.


"Kita mau ke mana sebenarnya, Gio?" tanya Flora ketika mereka berada di dalam lift.


"Bermain-main, Sayangku," jawab asal Gio.


"Nanti juga kamu akan tahu." Seringai Gio tunjukkan pada Flora membuat gadis itu bertambah tidak mengerti.


Flora mendesah pasrah karena Gio belum juga mau memberitahukan kemana mereka akan pergi.


Kini Flora dan Gio sudah masuk ke dalam mobil yang sama. Mobil itu juga sudah melaju di jalanan yang ramai dengan kendaraan.


"Gio beritahu padaku kita mau ke mana?" pinta Flora.


"Ck, kamu sungguh tidak sabaran," ucap Gio.


"Gio ...." Flora memicik tajam ke arah Gio.


Gio berdecak saat melihat lirikan tajam Flora. "Oke aku katakan. Kita akan pergi ke rumah Daniel."


"Hah! Apa?" jerit Flora.


Beruntung Gio tidak menginjak rem secara mendadak karena merasa terkejut dengan jeritan Flora.


"Apa kamu tidak bisa bersikap tidak berlebihan seperti itu?" balas Gio. "Mengagetkan saja," gerutunya.


Flora sama sekali tidak ingin meminta maaf. "Untuk apa kita ke sana?"


"Kamu bilang ingin memberi pelajaran pada kedua orang tua Daniel, 'kan!"


Flora menundukkan wajahnya. "Aku tidak serius dengan ucapanmu waktu itu. Saat itu aku hanya marah."


"Tidak masalah, tapi kita tetap harus ke sana," ucap Gio.

__ADS_1


"Tapi ...."


"Flora ...."


"Baiklah terserah padamu saja," ucap Gio pasrah.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka.


Gio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan juga sudah mulai padat. Tidak lama mobil yang Gio kendarai berhenti tepat di depan rumah yang begitu besar.


Flora ingat betul pernah masuk sekali ke rumah itu. Ia pernah mengatakan tidak akan pernah masuk lagi tetapi kali ini justru Gio membawanya masuk ke rumah mantan kekasihnya.


"Ayo turun!" ajak Gio.


"Kamu yakin?" tanya Flora.


"Tentu saja," sahut Gio.


Mereka akhirnya keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Langkah Flora terasa sangat berat saat memijakkan kakinya kembali ke rumah itu. Jika saja Gio tidak mengandeng tangannya rasanya Flora ingin sekali berbalik.


Berapa saat kemudian, mata Flora terbuka lebar saat melihat ada mobil polisi yang terparkir di halaman rumah itu.


"Ada polisi?" tanya Flora.


"Ya. Tante Mariana harus merasakan akibat dari perbuatannya."


"Tapi ...."


Gio menghentikan langkahnya begitu juga dengah Flora. Gio mengubah arah pandangnya.


"Kamu masih ingat 'kan apa yang yang dilakukan oleh tante Mariana kemarin?" tanya Gio dan Flora langsung menganggukinya.


Ingatan Flora kembali pada kejadian satu hari yang lalu. Dirinya sempat hampir kehilangan kesuciannya gara-gara ibu dari mantan kekasihnya.


Segara Flora mengusap cairan bening yang jatuh ke pipinya.


"Ayo, Gio! Wanita itu harus mendapatkan pelajaran."


Keduanya masuk ke dalam rumah itu. Tiba di ruang tamu, mata mereka melihat Daniel dan kedua orang tuanya. Ada juga dua orang Polisi dan dua orang Polwan serta tiga laki-laki yang sempat akan menodai Flora


Gio merasakan genggaman tangan Flora yang begitu erat. Ada sebuah amarah dan ketakutan pada genggaman tangan itu dan Gio pun tahu hal itu. Gio melepaskan genggaman tangannya lalu membawa Flora ke salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


Flora duduk bersama dengan cairan bening terus saja keluar dari mata Flora meskipun sudah berusaha Flora usap.


"Dasar kamu, tega sekali melaporkan keluargamu sendiri ke kantor polisi," teriak Mariana pada Gio.


"Jika saja Tante tidak bertindak keterlaluan, aku juga tidak akan bertindak seperti ini," balas Gio.


Mariana ingin kembali mengeluarkan kata-katanya namun segera ditahan oleh salah satu Polwan yang ada di ruangan itu.


"Maaf, Nyonya ... saya mohon hentikan dulu! Kita dengar perkataan dari nona Flora dulu," ucapnya.


Mendengar perkataan Polwan itu, Mariana berdecak kesal. Bukan hanya itu terlihat jelas ada kecemasan, kekhawatiran, dan amarah pada diri Mariana.


Polwan itu segera mengubah arah pandangnya menuju ke arah Flora.


"Nona Flora benarkah ketiga laki-laki yang ada di belakang saya ini adalah laki-laki yang berusaha menodai anda?" tanya salah satu Polwan yang duduk di sebelah sofa yang Flora duduki.


Flora menatap pada Polwan dan ketiga laki-laki yang pernah akan menodainya secara bergantian dengan mata basahnya.


"Jangan takut, Nona. Katakan saja yang sejujurnya," lanjut Polwan itu.


"Benar, Bu ... mereka yang sudah berusaha menodai saya," jawab Flora dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


"Baiklah semua bukti yang sudah kami terima serta keterangan dari korban dan ketiga pelaku ini sudah cukup untuk membawa Anda ke kantor polisi, Nyonya Mariana," ucap Polwan itu.


Kemudian Polwan itu menyuruh salah satu rekannya untuk membawa Mariana ke dalam mobil polisi yang sudah terparkir di halaman rumah besar itu.


__ADS_2