Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Lima Belas


__ADS_3

Kenzo merasa kesal melihat kedatangan Reza. Ditambah lagi kedatangan Reza sudah mengganggu waktunya dengan Felicia.


"Kenzo, lihat siapa yang datang?" Felicia menarik tangan Reza dan membawanya ke hadapan Kenzo.


Mendengar namanya saja Kenzo sudah merasa sangat kesal, apalagi saat istrinya menunjukkan wajah Reza ke hadapannya, rasa makin bertambah.


"Hai, Kenzo," sapa Reza. "Aku harap kedatanganku tidak mengganggumu."


"Tentu —" Ucapan Kenzo dipotong oleh Felicia.


"Tentu saja tidak," sela Felicia.


"Apa kamu bilang?" Kenzo menggeram tertahan. "Sudah jelas-jelas dia sudah mengganggu kita."


"Sudahlah, Suamiku. Jangan terus marah-marah. Nanti bisa muncul banyak kerutan di wajahmu," ledek Felicia.


"Aku tidak peduli," gerutu Kenzo.


"Ya sudah terserah kamu saja," ucap Felicia.


Kenzo mendengkus kesal saat Felicia tidak memperdulikannya lagi dan lebih memilih mengobrol dengan Reza. Kenzo duduk bersandar di sofa, menaruh satu kakinya di atas pangkuannya, serta melipat tangannya di depan dadanya. Matanya menatap tajam,


memperhatikan Felicia dan Reza mengobrol.


"Oh iya, Reza. Bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanya Felicia.


"Aku datang ke sini menggantikan papa yang tidak bisa datang ke acara ini," jawab Reza.


"Jadi maksud kamu, kamu datang ke sini sama tante Rossa?" tanya Felicia dan langsung dianggukki oleh Reza.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Felicia.


"Kebetulan aku sedang cuti, Felicia," jawab Reza.


"Bagus kalau begitu," seru Felicia. "Kita bisa bersenang-senang di sini. Iya, 'kan, Kenzo?"


Felicia menoleh ke arah Kenzo untuk meminta pendapat suaminya.


"Hmmm," sahut Kenzo.


"Tentu saja," balas Reza.


"Oh iya. Ini untukmu." Reza memberikan buket bunga mawar merah dan juga sekotak cokelat kepada Felicia.


"Wah, terima kasih," seru Felicia.


Felicia menerima bunga dan cokelat yang diberikan oleh Reza, tetapi tiba-tiba Kenzo merebutnya.


"Felicia tidak boleh makan cokelat. Dia sedang hamil." Kenzo meletakan dua benda yang diberikan oleh Reza untuk Felicia.


"Tapi setahuku tidak ada larangan wanita hamil untuk memakan cokelat," ucap Reza.


"Aku yang melarang istriku. Kenapa memang?" Kenzo menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Reza.


"Ohw." Reza menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Ayo kita pergi. Jangan buang-buang waktu di sini." Kenzo menjauhkan Felicia dari Reza.


"Ck, Kenzo ... jangan seperti ini," ucap Felicia.


"Sekarang jangan marah-marah. Ayo kita berangkat," ajak Felicia.


"Ayo, Reza," ajak Felicia.

__ADS_1


"Eh ... Feli!" Kenzo mendengkus saat Felicia memilih untuk melangkah bersama Reza dibandingkan bersama dirinya.


Kenzo mengikuti langkah Felicia dan Reza dengan bibirnya tidak berhenti menggerutu.


"Lihatlah, sahabatnya datang dan dia melupakan aku." Kenzo berucap lirih, tetapi Felicia dan Reza masih bisa mendengarnya.


Mendengar rasa kesal kenzo, Felicia dan Reza tertawa kecil seraya bertos dengan mengadu kepalan tangan mereka. Bohong jika Felicia tidak mengetahui kedatangan Reza ke kota itu. Karena sebenarnya Felicia sendiri yang memohon pada Reza untuk datang. Hanya saja Felicia tidak menyangka jika Reza datang ke kamarnya tepat saat Kenzo akan menciumnya.


"Felicia."


Felicia menoleh ke asal suara. Ia melihat seorang wanita seumuran ibunya.


"Tante Rossa," seru Felicia.


Felicia menjauhkan tangannya dari lengan Reza. Ia beralih memeluk ibu dari Reza serta saling mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.


"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Rossa.


"Baik, Tante. Tante sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Felicia.


"Baik, Sayang," jawab Rossa.


Pandangan Rossa beralih pada Kenzo dan bertanya pada Kenzo mengenai kabarnya.


"Kenzo, bagaimana kabarmu?" tanya Rossa.


"Baik, Tante." Kenzo menyalami tangan Rossa.


Kenzo memang sudah mengenal Rossa karena perusahaannya juga bekerja sama dengan perusahaan dari suami Rossa, tetapi Kenzo baru tahu jika Reza adalah Rossa.


"Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang," ajak Rossa.


"Ayo, Reza kita berangkat sekarang," ajak Rossa.


Sebelum Reza pergi dirinya lebih dulu mengacak-acak rambut Felicia. Apa yang dilakukan oleh Reza kembali membangkitkan rasa kesal Kenzo.


Felicia melihat rasa kesal di wajah Kenzo dan itu membuat Felicia merasa senang. Itu memang tujuan utamanya meminta Reza untuk datang.


"Reza sudah berangkat. Kita juga harus berangkat. Jangan sampai kita terlambat," ucap Felicia yang langsung dianggukki oleh Kenzo.


Felicia dan Kenzo melangkah masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke tempat pesta. Mereka pergi ke pesta tentunya bersama dengan dua orang kepercayaan Kenzo.


"Alan, cepat jalankan mobilnya," perintah Felicia.


"Baik, Bu." Alan melajukan mobilnya menuju tempat diadakannya pesta.


Jarak dari hotel tempat mereka menginap sampai ke tempat pesta hanya berjarak sekitar setengah jam. Sepanjang perjalanan Felicia tidak berhenti memandang ke luar mobil. Kata Kenzo malam itu adalah hari terakhir mereka di tempat itu. Padahal dirinya belum sempat berjalan-jalan di kota itu, tetapi suaminya justru akan mengajaknya kembali ke Ibu Kota. Felicia merasa tidak ikhlas untuk itu, tetapi mau bagaimana lagi.


Tidak lama mobil yang Alan kendarai berhenti, membuat renungan Felicia buyar.


"Apa kita sudah sampai?" Felicia bertanya seraya memandangi sekitarnya.


"Iya," jawab Kenzo.


"Ayo kita turun," ajak Kenzo yang langsung diangguki oleh istri dan kedua asistennya.


"Ayo," sahut Felicia.


Felicia dan Kenzo keluar dari dalam mobil melalui pintu yang berbeda. Sama halnya dengan Alan dan Nina. Saat mereka akan melangkah, mobil Honda city berwarna hitam berhenti tepat di samping mereka.


Felicia terus memandangi mobil itu. Dirinya merasa penasaran siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut.


Dua orang turun dari mobil barulah Felicia tahu siapa yang menaiki mobil itu.

__ADS_1


"Harusnya aku sudah bisa menebak itu adalah mereka," batin Felicia.


Felicia langsung memasang wajah cemberut saat melihat Vera. Rasa kesalnya datang saat Vera terus melihat ke arah Kenzo. Padahal lagi sama suaminya, tetapi Vera masih saja berani melihat laki-laki lain dan suaminya justru tidak bisa melihat itu.


Suaminya yang terlalu bodoh atau Vera yang sangat pintar berakting?


"Felicia."


Felicia menoleh saat suara Kenzo masuk ke dalam indera pendengarannya.


"I-ya," gagap Felicia.


"Kenapa masih saja berdiri di situ. Ayo kita masuk," ajak Kenzo.


Felicia mengangguk sebelum melangkah ke dekat suaminya.


"Pak Wibowo, kami duluan," ucap Kenzo.


"Iya, silahkan," ucap Wibowo.


"Dah, Nyonya Wibowo. Sampai jumpa di pesta." Felicia melingkarkan tangannya ke lengan Kenzo, sengaja memamerkan kemesraannya dengan Kenzo kepada Vera.


Felicia dan Kenzo masuk ke dalam pesta. Mereka langsung menjadi pusat perhatian semua tamu undangan. Apalagi saat mereka tahu jika Felicia memakai perhiasan yang harganya sangat fantastis.


Kenzo mengajak Felicia untuk menyapa rekan-rekan bisnisnya yang juga datang ke pesta. Semua orang yang disapa oleh mereka tidak berhenti memuji kemesraan keduanya. Felicia merasa sangat bahagia dengan itu, tetapi tidak dengan Vera. Mantan pacar Kenzo sangat membenci kemesraan Kenzo dan Felicia. Dirinya merasa sangat iri. Vera berpikir seharunya dirinya yang ada di posisi Felicia.


"Kenzo, aku mau ke kamar mandi." Felicia berbisik di telinga Kenzo.


"Baiklah, mau aku temani?" Kenzo balas berbisik di telinga Felicia.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar," ucap Felicia.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri," ucap Kenzo. "Nina, kamu temani ibu ke toilet ya."


"Baik, Pak," sahut Nina.


Felicia melangkah dengan diikuti oleh Nina. Mereka melangkah di sekitar tempat pesta untuk mencari keberadaan toilet. Setelah menemukannya Felicia dan Nina masuk ke dalamnya.


Beberapa saat berada di toilet dan setelah membenahi penampilannya Felicia mengajak Nina untuk keluar dari toilet.


Baru mereka akan melangkah ada orang yang masuk ke dalam toilet, yang ternyata Vera.


"Apa kamu mengikutiku? Setiap kali aku pergi ke manapun kamu selalu muncul di hadapanku," ucap Felicia.


"Aku hanya ingin melihat senyummu untuk yang terakhir kalinya," ucap Vera.


"Apa maksudmu?" tanya Felicia.


"Saat Kenzo nanti menyatakan perasaannya padaku. Senyummu dan kebahagian di dalam dirimu pasti akan hilang seketika," ucap Vera.


"Kenapa kamu begitu percaya diri jika Kenzo masih memiliki perasaan padamu?" Felicia tersenyum sinis.


"Padahal Kenzo sama sekali tidak pernah memperdulikanmu selama ini," ucap Felicia.


"Aku yakin Kenzo masih mencintaiku. Dan malam ini aku akan membuat Kenzo mengungkapkan isi hatinya padaku," ucap Vera.


"Oh ya." Felicia tersenyum miring seolah sedang mengejek Vera.


"Lihat saja, malam ini kamu akan sadar siapa yang sebenarnya Kenzo cintai," ucap Vera.


"Aku tidak sabar untuk mengetahuinya," balas Felicia.


Setelah mengatakan kalimat itu Felicia mengajak Nina keluar dari dalam toilet. Felicia merasa perutnya bergejolak ketika terlalu lama berada di tempat yang sama dengan Vera.

__ADS_1


__ADS_2