Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Maura


__ADS_3

Kedekatan Daniel dan Maura sudah tidak diragukan lagi. Meskipun tidak ada kata cinta yang pernah mereka ucapkan, tetapi perhatian dan sikap keduanya menunjukan jika mereka saling mencintai.


Hari pertunangan keduanya pun hanya tinggal satu minggu lagi. Sesuai janji Daniel, ia akan mempertemukan calon istrinya itu dengan mantan kekasihnya yaitu Flora.


Di sebuah cafe kini ketiganya duduk bersama dan saling berbincang. Sebelumnya Maura merasa khawatir jika Flora akan merasa tidak nyaman jika mereka bertemu dengannya, tetapi saat itu yang terlihat jelas jika dirinya lah yang merasa tidak nyaman bertemu Flora. Dan Daniel menyadari itu.


"Aku senang melihatmu bahagia dengan Maura, Daniel," ucap Flora


"Terima kasih, Flora. Aku juga senang melihatmu bahagia dengan Gio," balas Daniel. "Kita akan jadi saudara sepupu nanti."


"Iya itu benar," ucap Flora.


"Baiklah jam makan siangku sudah habis. Aku harus kembali ke kantor atau bosku akan marah nanti," ucap Flora diikuti tawa kecilnya.


"Baiklah, Flora ... sampai jumpa," ucap Daniel. "Jangan lupa datang ke acara pertunangan kami," ucap Daniel.


"Tentu, aku pasti akan datang," sahut Flora.


Pandangan Flora mengarah pada Maura. Sejujurnya ia merasa tidak enak terlalu lama bersama mereka. "Maura aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu."


"Aku juga senang bertemu denganmu, Flora," balas Maura.


Flora beranjak kursinya dan keluar dari dalam cafe.


Sementara itu Maura masih memperhatikan Flora dari dalam cafe. Entah mengapa ia merasa sangat cemburu pada mantan kekasih Daniel itu. Padahal Flora tidak melakukan apapun pada dirinya.


"Sepertinya yang merasa tidak nyaman bertemu bukan Flora, tetapi kamu. Aku melihat kamu dari tadi hanya diam saja," ucap Daniel.


Tebakan Daniel memang benar adanya.


"Entahlah, aku merasa cemburu padanya," aku Maura.


"Kenapa kamu harus cemburu? Dia sudah bahagia bersama kakakku," ucap Daniel.


"Mungkin aku cemburu karena kamu pernah sangat mencintai dirinya," ucap Flora.


"Aku memang sangat mencintainya. Tapi itu dulu, Maura. Sebalum ada kamu dan sekarang aku sangat mencintai dirimu," ucap Flora.


Maura menolehkan pandangannya ke arah Daniel. Senyumnya mengembang saat telinganya mendengar kata cinta yang baru saja keluar dari mulut Daniel.


Daniel mengerutkan keningnya saat melihat Maura tersenyum sendiri. "Kenapa kamu tersenyum?" tanya Daniel.


"Aku baru sekali ini mendengar kata cinta dari mulutmu," jawab Maura.


"Kamu benar mencintaiku atau kamu hanya ingin menghiburku?" tanya Maura.


"Apa karena aku tidak pernah mengatakan cinta padamu kamu tidak percaya jika aku sangat mencintaimu?" tanya Daniel.


"Apa sikap dan perhatian yang selama ini aku tunjukan padamu belum cukup untuk membuktikan jika aku sangat mencintaimu?" ucap Daniel.


"Aku juga butuh sebuah ucapan untuk meyakinkan diriku jika kamu sangat mencintaiku," ucap Maura.


"Baiklah, kamu sudah mendengarnya tadi. Kamu sudah puas, 'kan?" ucap Daniel.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi," pinta Maura. "Please."


"Aku sangat mencintaimu." Daniel berbisik di telinga Maura dan itu langsung membuat senyum Maura mengembang.


"Sekarang aku juga ingin mendengar kata cinta darimu. Kamu juga belum pernah mengatakan jika kamu sangat mencintaiku," pinta Daniel.


Maura hampir saja tersedak minuman yang sedang ia minum saat mendengar permintaan dari Daniel.


"Aku tidak mau," tolak Maura.


"Kenapa tidak mau? Atau sebenarnya kamu selama ini hanya menjadikan aku pelarian? Karena laki-laki yang sangat kamu cintai itu sudah menikah," tuduh Daniel.


"Bukan begitu. Kenapa tuduhanmu itu sangat kejam." Maura merasa kesal degan tuduhan Daniel yang menurutnya sangat kejam.


"Lalu kenapa kamu tidak mau mengatakan jika kamu mencintaiku?" Daniel menahan tawanya saat menggoda Maura.


"Aku hanya malu. Kita sedang ada di tempat umum," jawab Maura.


Daniel percaya jika memang Maura merasa malu. Itu terlihat jelas dengan adanya rona merah di wajah Maura.


"Baiklah ayo kita cari tempat di mana hanya ada kita berdua. Biar kamu bisa bebas mengatakan cinta padaku," ucap Daniel.


Daniel dan Maura keluar dari cafe dan masuk ke dalam satu mobil yang sama. Daniel melajukan mobilnya ke arah apartemen pribadinya.


Mobil yang Daniel kendarai berbelok ke dalam gedung apartemen. Daniel menghentikan laju mobilnya saat mereka tiba di basemant.


"Ayo kita turun," ajak Daniel.


"Kita mau ngapain ke sini?" Nada bicara Maura terdengar begitu gugup.


"Agar kita bisa berdua saja," jawab Daniel. "Aku ingin mendengar kata cinta darimu."


"Haruskah?" ucap Maura.


"Harus," ucap Daniel. "Sekarang kita sudah berdua. Mau mengatakannya sekarang."


"Hah, sekarang?"


"Ya. Jika kamu memang mencintaiku kamu tidak akan kesulitan mengatakannya. Lain jika kamu memang tidak mencintaiku, itu akan —" Ucapan Daniel dipotong oleh Maura.


"Daniel aku mencintaimu," ucap Maura. "Aku sangat mencintaimu."


Senyum Daniel mengembangkan saat mendengar ucapan cinta dari Maura.


Daniel menggerakkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Maura. Pandangan keduanya bertemu pada titik satu yang sama.


"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Daniel.


Daniel mulai mendekatkan wajahnya ke dekat Maura. Sebuah kecupan Daniel berikan di bibir Maura.


Maura pun menyambutnya dengan dengan senang hati. Maura mulai membalas kecupan yang Daniel berikan pada dirinya.


Keduanya sama-sama memejamkan matanya seolah sangat menikmati kebersamaan mereka. Saat pasokan oksigen pada paru-paru mereka menipis, keduanya sama-sama menarik diri.

__ADS_1


Daniel dan Maura masih saling melihat satu sama salin sebelum akhirnya mereka menyatukan kening mereka. Kini keduanya yakin jika mereka sudah sama-sama move on dari masa lalu mereka.


"Aku sangat mencintaimu, Maura," ucap Daniel.


"Aku juga sangat mencintaimu, Daniel," balas Maura.


*****


Hari pertunangan Daniel dan Maura akhirnya di gelar. Pesta pertunangan itu begitu mewah dan juga besar. Pesta pertunangan saja semewah itu apalagi pesta pernikahan mereka nanti.


Dalam pesta Maura mencari keberadaan Daniel yang mendadak menghilang entah ke mana.


Maura masih berjalan di sekitar tempat pesta untuk mencari Daniel. Tidak sengaja matanya melihat Daniel dan Flora sedang berdua saja di balkon.


Maura merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh keduanya sampai-sampai Flora menangis. Rasa kesal dan cemburu muncul di dalam diri Maura saat Daniel dan Flora saling memeluk.


Ingin rasanya Maura menarik Flora, memisahkannya dari Daniel. Namun, Maura mencoba menahan diri.


Ternyata keinginannya itu dilakukan oleh Mariana. Calon ibu mertuanya itu memisahkan Daniel dan Flora.


Saat Flora sudah pergi Maura berjalan menghampiri ibu dan juga calon suaminya.


"Daniel," panggil Maura. "Kamu di sini rupanya. Aku dari tadi mencarimu."


"Maaf. Aku ada urusan tadi," jawab Daniel.


"Ya sudah saya tinggal dulu. Kalian ngobrol saja berdua," pamit Mariana.


"Iya, Mah," sahut Daniel.


Setelah ibu mertuanya menjauh, barulah Maura bertanya pada Daniel tentang Flora.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Flora tadi?" tanya Maura.


"Kamu melihatnya?" Daniel balik bertanya.


"Bahkan aku melihat kalian berpelukan," balas Maura.


Daniel bisa mendengar nada bicara Maura yang terdengar sangat kesal.


"Sayang, jangan berpikiran buruk tentang aku dan Flora. Kami —" Perkataan Daniel langsung dipotong oleh Maura.


"Bagaimana aku tidak berprasangka buruk melihat kamu dan Flora berpelukan," ucap Maura.


"Maura dia kakak sepupu aku. Dia juga anaknya om Farhan," ucap Daniel.


"Apa yang kamu katakan. Om Farhan itu papanya Gio 'kan? Lalu bagaimana bisa Flora juga anaknya om Farhan?" tanya Maura.


"Akan aku jelaskan nanti setelah pesta berakhir," ucap Daniel.


"Baiklah," sahut Maura.


Daniel menyunggingkan senyumnya lalu menangkup kedua sisi wajah Maura. "Sekarang jangan marah lagi, oke."

__ADS_1


Maura menganggukkan kepalanya. "Iya."


__ADS_2