
Empat hari sudah Flora dirawat di rumah sakit. Gio juga selalu menjaganya meski kadang ia pergi karena ada urusan. Flora begitu senang saat Gio kembali seperti dulu. Dan tepat pada hari itu Flora sudah diperbolehkan untuk pulang.
Flora masih ada di runag rawat inapnya dengan ditemani oleh Seruni. Semua barang-barangnya sudah dibereskan hanya tinggal menunggu Gio yang sedang mengurus administrasinya.
“Kamu beneran sudah merasa baik-baik saja, Nak?” tanya Seruni.
“Iya, Bu. Aku baik-baik saja kok. Ibu jangan khawatir ya,” ucap Flora.
Seruni mengusap kepala Flora seraya menyungginkan senyumannya.
Tidak lama setelah itu, pintu kamar inap itu terbuka dan muncul Gio dari baliknya.
“Sudah siap?” tabya Gio.
“Sudah,” jawab Flora diikuti anggukan kepala Seruni.
“Yuk kita pulang sekarang!” ajak Gio.
Gio mengambil koper berisikan barang-barang miliknya dan juga Flora. Mereka pun keluar dari kamar inap itu dan melangkah ke lobby rumah sakit.
“Ibu pulang dulu ya,” pamit Seruni.
“Loh, ibu gak ikut aku ke rumah?” tanya Flora.
“Tidak, ibu masih ada urusan. Lagi pula sudah ada Gio 'kan yang jagain kamu,” ucap Seruni.
“Ibu ....”
Seruni mengusap kepala Flora. “Jangan manja gitu sama ibu. Kalau mau manja-manjaan sama suami kamu saja.”
“Ck, Ibu ....” Flora jadi salah tingkah saat ibunya menggodanya.
“Ya sudah, ibu pamit dulu taksi ibu juga sudah datang.” Pandangan Seruni mengarah pada Gio. “Gio, ibu nitip Flora ya. Ibu minta tolong jagain anak ibu,” ucap Seruni.
“Pasti, Bu,” ucap Gio.
Flora dan Gio menyalami Seruni secara bergantian sebelum Seruni masuk ke dalam taksi.
“Dah, Ibu.” Flora melambaikan tangannya ke arah ibunya.
Flora menghela napas berat saat melihat ibunya pergi. Padahal sebenarnya dirinya masih ingin menghabiskan waktu bersama ibunya.
“Jangan sedih gitu dong. Masih ada aku, 'kan.” Gio mengusap sisi wajah Flora.
Bersamaan dengan itu pula, mobil yang menjemput mereka datang.
“Ayo kita pulang,” ajak Gio.
Abi keluar dari mobil dan memasukan barang-barang bawaan bosnya ke bagasi mobil.
“Semuanya sudah siap?” tanya Gio pada Abi.
“Sudah, Mas,” sahut Abi.
__ADS_1
Flora yang mendengar pembicaraan dua laki-laki itu merasa heran. Apa yang sedang dua orang itu rencanakan?
“Apa yang sedang kamu rencanakan dengan mas Abi?” Akhirnya Flora bertanya pada suaminya karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Nanti juga kamu tahu,” sahut Gio. “Sudah jangan mikir yang macam-macam. Cepat masuk.” Gio membukakan pintu mobil untuk Flora.
“Tapi —”
“Tidak ada tapi-tapian, Sayangku. Cepat masuk atau kita akan terlambat.”
Flora pun harus meredam rasa penasarannya dan masuk ke dalam mobil.
Mobil Mercedes-Benz berwarna hitam itu melaju meninggalkan area rumah sakit. Flora duduk di samping Gio dengan menyenderkan kepalanya ke pundak laki-laki berstatus suaminya itu. Pikirannya melayang memikirkan tentang Dini dan Tina.
Rencana yang ia susun untuk Dini dan Tina batal karena kecelakaan yang menimpanya.
“Aku harus bicarakan ini dengan tante Ana lagi,” ucap Flora dalam hatinya.
“Huffff.” Flora menarik napas lalu menghembuskan kembali.
Karena melamun memikirkan hal apa yang akan terjadi, Flora sampai tidak menyadari ke mana mobil itu membawanya. Flora menyadari itu saat Gio meminta mereka untuk segera turun.
“Gio, kenapa kita ada di sini?” Flora meras heran saat mobil itu berhenti di pelataran bandara.
“Sudah ikut saja,” ajak Gio.
“Tidak, jika kamu tidak mengatakan kenapa kita akan ke bandara,” ucap Flora.
“Gio, aku serius.” Mata Flora melotot menunjukan wajah galaknya.
“Aku sangat merindukan wajah galakmu ini.” Gio menarik hidung Flora.
“Hiss, Gio ini sakit.” Flora memukul tangan Gio yang dengan seenaknya menarik hidungnya.
“Sudahlah, ayo kita turun. Aku akan memberitahkan nanti,” ucap Gio.
“Janji.”
“Iya, Sayangku. Aku berjanji,” balas Gio.
“Baiklah, ayo kita turun.”
Flora dan Gio turun dari mobil. Setelah itu mereka masuk memasuki area bandara dengan diikuti oleh Abi.
“Aku sudah check in. Kalian tinggal masuk saja. Barang-barang kalian juga sudah aku masukan ke bagasi,” ucap Abi seraya memberikan tiket pesawat kepada Gio.
“Terimakasih, Abi,” ucap Gio.
“Sama-sama. Selamat bersenang-senang,” ucap Abi sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
“Ayo kita ke ruang tunggu.” Gio merangkul pundak Flora dan membawanya ke tempat di mana mereka menunggu keberangkatan pesawat.
“Gio kamu belum mengatakan ke mana kita akan pergi,” ucap Flora.
__ADS_1
“Aku pernah menjanjikan kamu sesuatu saat kita di Bali dulu. Apa kamu masih ingat?” tanya Gio.
Flora berpikir sejenak untuk mengingat apa yang sudah Gio janjikan pada dirinya. Mungkin karena luka di kepalanya atau mungkin memang lupa, Flora sama sekali tidak ingat dengan janji itu.
“Sudah ingat?” tanya Gio.
Flora menggeleng, “Tidak.”
Gio mendesah seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya sudah kalau tidak ingat.”
“Gio ....” Flora mendelik seraya mencubit perut Gio merasa gemas dengan sikap tengilnya yang tidak hilang juga.
Gio memekik seraya tertawa melihat rasa kesal yang muncul diri istrinya.
“Kenapa sih kamu nyebelin banget,” omel Flora.
“Tapi bikin kangen, 'kan?” goda Gio.
“Isssh, percaya diri banget sih,” cibir Flora.
Gio dan Flora menghentikan candaan mereka saat tiba di ruang tunggu bandara. Tidak lama mereka pun di arahkan untuk masuk ke dalam pesawat.
Flora dan Gio duduk bersebelahan di dalam pesawat. Flora memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar pesawat nantinya. Jujur Flora benar-benar merasa penasaran ke mana Gio akan membawa dirinya pergi.
“Gio, sebenarnya kamu mau membawa aku ke mana sih.” Flora terus memohon agar suaminya mau memberitahukan ke mana tujuan mereka.
Gio merangkul pundak Flora dan membisikan sesuatu di telinga Flora. “Aku pernah berkata padamu ... aku akan membawamu kembali ke Bali untuk berbulan madu. Dan aku akan melakukanya sekarang.”
Serpihan ingatan Flora waktu di Bali bersama Gio kembali seketika. Rona merah muncul di kedua sisi wajah Flora dan itu terlihat di mata Gio.
“A-pa harus sekarang?” tanya Flora gugup.
“Menangnya aku harus menunggu berapa lama lagi. Kita sudah menundanya kemarin karena masalah yang terjadi di antara kita,” ucap Gio.
“Tapi ....” Flora meredam ucapannya.
“Tapi apa, Flora?” tanya Gio. “Apa kamu masih ada yang sakit?”
“Tidak. Hanya saja aku merasa ... malu.” Flora menyembunyikan wajahnya di dada Gio.
Gio tertawa melihat tingkah lucu istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Sayangku, kamu tidak akan berniat untuk kabur nantinya, 'kan?” goda Gio.
Mendengar perkataan Gio, Flora pun mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah suaminya.
“Sepertinya itu ide yang bagus,” ledek Flora.
Gio membulatkan matanya dan langsung memberikan tatapan tajam pada Flora.
“Aku tidak akan membiarkanmu lolos dengan mudah.”
Hayoo bagaimana reaksi Dini sama Tina pas tahu Gio sama Flora mau bulan madu.
__ADS_1