
Felicia kembali ke kamar hotel tempat dirinya menginap dengan rasa kesal yang sudah sampai ke ubun-ubun. Sampai di dalam kamar Felicia mendaratkan bokongnya ke atas tempat tidur. Bibirnya tidak berhenti menggerutu dan memaki perempuan yang bernama Vera.
"Dasar perempuan tidak tahu malu! Sudah ditolak, tapi masih berharap!" maki Felicia.
Napas Felicia naik turun dan tidak beraturan. Sadar jika tidak baik baginya untuk marah-marah dalam kondisi dirinya yang sedang hamil Felicia pun mencoba menarik napas lalu menghembuskan kembali untuk menetralkan rasa kesalnya.
"Huff, Felicia ... tenang. Ingat kamu sedang hamil. Kamu tidak boleh marah-marah." Berulang kali Felicia menarik napasnya untuk menetralkan rasa kesalnya.
Setelah rasa kesalnya mereda Felicia memilih untuk naik ke atas tempat tidur. Ia duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
Apa yang dipikirkannya ternyata benar. Vera akan membuat harinya di tempat itu sangat buruk.
Baru satu hari mereka bertemu di tempat itu Vera sudah mengajaknya bertengkar di tempat umum.
"Apa sih maunya dia?" Felicia mengambil bantal dan meletakkannya di atas pangkuannya.
Felicia sungguh tidak habis pikir ada perempuan yang tidak tahu malu seperti Vera. Sudah jelas-jelas Kenzo menolaknya, tetapi Vera masih bisa mengatakan dengan penuh rasa percaya diri jika Kenzo masih mencintainya.
Felicia juga tidak percaya jika Kenzo pernah mencintai perempuan seperti itu.
Akan tetapi ada satu hal yang Felicia pikirkan. Bagaimana jika Kenzo benar-benar masih memiliki perasaan terhadap Vera?
Bagaimana jika Kenzo kembali bersama Vera?
Lalu bagaimana nasibnya dan calon anak yang masih ada di dalam kandungannya?
Semua pertanyaan itu muncul di benak Felicia.
"Tidak! Kenzo tidak akan sebodoh itu," batin Felicia.
"Lagi pula selama ini Kenzo sangat baik padaku. Meskipun tidak mengatakannya aku tahu dia sangat peduli padaku. Dia bahkan cemburu saat melihat aku dekat dengan pria lain saat itu," batin Felicia.
"Vera pasti hanya ingin menanamkan keraguan di dalam diriku untuk Kenzo lagi," ucap Felicia. "Aku tidak boleh terpengaruh. Aku harus tetap yakin pada Kenzo."
"Ck, menyebalkan!" gerutu Felicia.
Merasa gelisah Felicia memutuskan untuk berendam saja. Mungkin dengan berendam dirinya akan merasa lebih baik. Felicia meninggalkan kamar tidur dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Pertama yang Felicia lakukan adalah mengisi bak mandi besar dengan air hangat. Setelah bathtub terisi setengah Felicia menuang sabun berbetuk cair ke dalam bathtub. Setelah itu Felicia mengaduk air hangat yang sudah diberikan sabun di dalam bathtub. Tidak lama muncul banyak busa lembut di dalam bathtub.
"Selesai." Felicia berdiri lalu menanggalkan seluruh kain yang menempel di tubuhnya.
Tubuh Felicia sudah terendam busa sampai batas leher. Setelah itu Felicia memejamkan matanya menikmati air hangat dan busa lembut beraroma terapi. Pikirannya mulai tenang saat air air hangat merendam tubuhnya dan saat hidungnya mencium harumnya aromaterapi yang menenangkan pikirannya.
Entah berapa lama Felicia berendam di bathtub. Saat air mulai terasa dingin Felicia menyudahi acara berendamnya. Dengan hati-hati Felicia keluar dari bak mandi berukuran raksasa.
Felicia melangkahkan ke tempat mandi dengan hati-hati karena kakinya yang basah. Keran air Felicia nyalakan. Tidak lama air keluar dari shower dan mengguyur tubuhnya yang dipenuhi oleh busa. Saat sedang mandi samar-samar Felicia mendengar pekikan seseorang.
"Siapa itu? Tadi sepertinya itu suara Kenzo?" Felicia menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Felicia langsung mematikan keran air. Setelah itu Felicia kembali dikejutkan dengan suara benda jatuh.
"Kenzo! Apa itu kamu?" Felicia merasa khawatir. Ia takut terjadi sesuatu dengan Kenzo.
Dengan segera Felicia menarik handuk kimono yang tergantung tidak jauh dari tempat mandi. Setelah memakainya Felicia keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kenzo." Felicia lebih dulu menyumbulkan kepalanya untuk memeriksa kondisi di dalam kamar.
Felicia mengedarkan pandangannya. Ia melihat Kenzo sedang sedang berdiri di dekat meja sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenzo, ada apa?" Felicia keluar dari kamar mandi lalu berjalan mendekati Kenzo.
"Panas sekali," pekik Kenzo.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Felicia melihat ke sekeliling Kenzo. Di meja ada tumpahan air berwana putih. Sepertinya susu dan juga sendok yang tergeletak di lantai.
"Kenapa semuanya berantakan?" tanya Felicia.
"Bibi tadi telepon. Katanya kamu lupa tidak membawa susu yang biasa kamu minum. Jadi tadi aku pergi ke supermarket untuk membeli susu yang biasa kamu minum," jawab Kenzo.
"Lalu kenapa bisa berantakan seperti ini?" tanya Felicia.
"Aku ingin membuatkan susu untukmu. Saat aku pegang ternyata susunya terlalu panas. Jadi ... ya seperti yang kamu lihat. Berantakan ...." Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf," cicit Kenzo.
Felicia tertawa melihat wajah lucu suaminya. "Jadi ... ini susu yang kamu buat?"
Tampa berpikir panjang Felicia mengambil segelas susu di atas meja. Ternyata benar-benar panas. Karena rasa panas menyengat kulitnya Felicia menaruhnya kembali ke atas meja.
"Ini panas sekali!" pekik Felicia.
"Aku, 'kan sudah bilang tadi. Ini sangat panas. Kenapa kamu justru memegangnya? Ceroboh." Kenzo meniup ujung jari tangan Felicia yang nampak sedikit memerah.
"Sini duduklah. Aku akan membantumu meminum susu ini." Kenzo menarik Felicia, membawanya untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
Kenzo menyendok susu menggunakan sendok. Ia meniupnya sebelum menyodorkannya ke mulut Felicia.
"Coba rasakan, masih panas atau tidak." Kenzo menyodorkan sendok berisi susu ke hadapan mulut Felicia.
Felicia menyesap sedikit susu yang ada di sendok. Setelah memastikan susu di sendok sudah tidak panas, Felicia membuka mulutnya lalu meminum susu yang ada di sendok.
"Terima kasih. Sudah repot-repot membuatkan ini untukku," ucap Felicia diikuti tawanya.
"Sama-sama. Lain kali aku akan bertanya dulu cara membuatnya padamu." Kenzo tertawa kecil.
Keduanya saling memandang dan berbalas senyuman. Felicia merasa senang dengan perhatian kecil Kenzo.
"Ayo minum lagi." Ucapan Kenzo memutuskan pandangan mereka.
"Iya." Felicia mengangguk.
Kenzo kembali menyendok susu dengan sendok lalu meniupnya untuk menghilangkan hawa panas pada susu yang dibuatnya.
Awalnya ia menikmati dan sabar untuk memanjatkan Felicia, tetapi makin lama kesabarannya habis.
"Ya Tuhan! Jika kamu minum susu dengan cara seperti ini, susu ini tidak akan habis sampai besok pagi," keluh Kenzo.
Felicia tertawa mendengar omelan Kenzo. "Kamu yang memiliki ide seperti ini."
"Sudahlah, hentikan ini dan
__ADS_1
pakai pakaianmu. Setelah itu kita makan malam." Kenzo meletakan susu di tangannya ke atas meja.
"Ma-kan ma-lam?" tanya Felicia.
"Iya. Kamu belum makan malam, kan?" ucap Kenzo.
Felicia menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Baiklah aku mandi dulu. Bersiaplah." Kenzo beranjak dari sofa sambil mengacak-acak rambut Felicia.
Felicia beranjak dari sofa setelah Kenzo masuk ke dalam kamar mandi. Ia melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian miliknya dan untuk menyiapkan pakaian suaminya.
Dress berwarna biru toska dengan panjang sampai batas lutut menjadi pilihan bagi Felicia. Segera Felicia memakaikan dress itu ke tubuhnya.
Selesai dengan itu Felicia duduk di depan meja rias untuk merias wajahnya. Sedikit bedak dan lipstik berwarna soft sudah cukup bagi Felicia.
Bersamaan dengan selesainya Felicia bersiap Kenzo juga keluar dari kamar mandi. Felicia memperhatikan pantulan tubuh atletis suaminya dari cermin yang ada di hadapannya. Tidak memungkiri tubuh suaminya sangat menggiurkan.
"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Aku menaruhnya di atas tempat tidur," ucap Felicia.
Setelah menunggu beberapa saat Kenzo juga sudah selesai bersiap. Felicia beranjak dari meja rias. Ia mendekatkan dirinya dengan Kenzo.
"Aku selalu suka melihat wajahmu. Aku ingin anak kita nantinya mirip denganmu." Felicia berucap sambil menyisir rambut Kenzo.
"Tentu. Dia anakku. Dia pasti akan mirip denganku." Kenzo mengusap perut Felicia. "Aku tidak mau anak kita nanti mirip denganmu. Sudah galak, cerewet lagi."
Felicia mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya tertawa.
"Aku mencintaimu, Kenzo." Felicia memeluk tubuh Kenzo.
Kenzo makin mengeratkan pelukannya saat mendengar kalimat cinta yang lagi-lagi Felicia ucapan. Kenapa perempuan yang ada di pelukannya sangat ringan saat mengungkapkan perasaannya.
"Felicia ...," panggil Kenzo.
"Hmm, ada apa?" tanya Felicia.
"Kenapa kamu bisa sangat mudah mengatakan kata cinta padaku?" tanya Kenzo.
Felicia menarik dirinya dari pelukan itu, meletakan kedua tangannya di pundak Kenzo. Ia menatap mata Kenzo dalam-dalam.
"Karena memang aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku," jawab Felicia.
"Dan jika kamu memang mencintaiku. Kamu pasti bisa mengatakan kata cinta padaku dengan mudah," jelas Felicia.
Kenzo kembali menarik Felicia masuk ke dalam pelukannya seraya memberikan kecupan di ujung kepala Felicia.
"Terima kasih sudah mau mencintaiku dengan sepenuh hatimu," ucap Kenzo.
Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Tidak ada yang bersuara. Keduanya masih saling memeluk seolah tidak ingin berpisah satu sama lain.
Tidak berselang lama Kenzo lebih dulu menarik diri dari pelukan itu. Matanya masih menatap istrinya yang terlihat cantik. Lalu tangannya bergerak untuk menyelipkan rambut Felicia ke belakang telinganya.
"Ayo kita pergi sekarang," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
"Jika kita terlalu lama di sini, aku tidak yakin akan bisa mengendalikan diriku." Kenzo mengedipkan satu matanya untuk menggoda Felicia.
__ADS_1